
"SUSTER! "
'' SUSTER! "
"SUSTER!!! "teriak malik begitu sampai di depan rumah sakit.
Para Suater yang berada di situpun langsung berlari ke arah malik sambil membawa brankar.
Malik lngsung menggendong tunuh ayu keluar dari mobilnya. Malik membaringkan tubuh ayu di brankar yang di bawa oleh para suster.
Dengan cepat para suster itu langsung mendorong brankar ayu ke ruang UGD untuk di tindak lanjuti oleh para dokter.
Maaf bapak tidak bisa masuk biarkan kami dan para dokter yang memeriksa ke adaan istri bapak!! "ucap Suater itu menahan malik untuk tidak masuk ke dalam ruang UGD.
Tapi saya mau liat keadaan istri saya sus." ucap malik tidak ingin di halangi.
"Kami akan memberi tahu bapak setelah dikter selesai memeriksa. "jawab suster tersebut kemudian menutup rapat pintu UGD.
" Ayu kamu harus kuat jangan tingalin saya!" ucap mlik menangis di depan pintu UGD.
...********...
"Harusnya kalo sakit itu ngga usah maksa untuk kerja. Lagian saya masih mampu buat mencukupi kebutuhan kamu" celoteh malik di samping ranjang UGD. Memarahi ayu yang baru saja sadar.
Ayu terbaring lemah dengan selang okaigen di hidungnya dan juga aliran infus yang melekat di tangan ayu.
"Maaf mas"
"Pokoknya mulai hari ini dan seterusnya kamu ngga boleh kerja lagi! "
"Tapi mas____"
"ssssttt diem. Seorang istri harus nurut kata suaminya!!"
Ayu tidak bisa menjawab karna yang di bilang malik adalah benar. Walaupun pernikan mereka terpaksa tapi tetap saja status ayu saat ini adalah istri. Dan istri harus ikut kata suami.
"Maaf mas, bu ayu akan segera di pindahkan ke kamar rawat." ujar suster yang masuk, memecahkan semua percakapan mereka.
"Iya mbak"jawab malik mempersilahkan suster itu.
...**********...
“Anda tidak perlu tau siapa saya, yang perlu anda tau bahwa wanita yang baru saja anda peluk adalah istri sah saya. Dan perlakuan anda terhadap istri saya itu sangat kurang hajar.“
Elvan teringat dengan kejadian tadi pagi. Elvan merasa sangat sakit hati. wanita yang bertahun-tahun ia cintai telah menikah dengan laki-laki lain bahkan tanpa ia tau.elvan sangat kecewa dengan sikap ayu, elvan meresa ayu tidak pernah menganggapnya. Bahkan hal yang sangat penting ini ayu rahasiakan darinya. Ayu telah membohongi dia dan semua rekan kerja.
"Aaakhh...." pekik elvan membanting barang-barang yang ada di atas mejanya.
...*********...
"Istri bapak menderita penyakit asma kronis, dilihat dari kondisinya sepertinya istri bapak ini tidak pernah meminum obatnya lagi.jika dibiarkan maka penyakit istri bapak akan sering kambuh dan bahkan bisa menyebabkan kematian."
"Ini kwitansi pembayarannya pak"Malik tersadar dari bayangannya saat seorang perawat memberikan secarik kertas berwarna putih ke hadapannya.
Malik mengambil kwitansi pembayaran itu" Makasi sus"ucapnya beranjak pergi menuju kamar inap ayu.
Sepanjang koridor malik masih bertanya-tanya tentang jalan fikir ayu. Malik tidak mengerti kenapa ayu menyiksa dirinya sendiri dengan tidak meminum obatnya.
"Kamu udak balik mas? "tanya ayu saat malik baru saja sampai di kamar rawat VVIP yang di pesan malik.
" He em" jawab malik seadanya sembari duduk di atas sofa yang tidak jauh dari ranjang ayu.
Setelah pertanyaan itu keduanya hening tidak ada yang memulai percakapan apapun lagi. Malik sibuk dengan layar henphonenya sendangkan ayu berbaring menatap langit-langit rumah sakit.
"Aduhh ini kok pada diem-dieman sih? "lirih seorang perawat yang masuk membawa makanan untuk ayu.
" loh, harusnyakan kalo suami istri itu harusnya ya mesra-mesraan terlebih istrinya kan lagi sakit. Bukan main henphone kayak gitu nanti istrinya tambah sakit loh mas"
Perawat itu memberikan nampan bersisi makanan itu pada malik" Ini mas di suapin istrinya, jangan di cuekin terus. Nanti kalo istrinya mati baru nangis! "ujar perawat itu sembari melenggang pergi.
Malik melirik makanan yang di berikan perawat dan melihat sekilas ke arah ayu.
" Kalo kamu ngga mau, aku bisa makan sendiri kok mas" ucap ayu melihat gelagat malik yang tidak nyaman.
"siapa bilang. Kamu itu jangan sok tau, lagian saya masih punya hati nurani. Ngga mungkin saya biarin kamu makan sendiri dengan tangan yang terinfus dan kondisi yang lemah kayak gitu" Malik bangkit kemudian berjalan dan duduk di kursi samping ranjang ayu.
"Au... "rintih ayu saat bubur yang di suapi malik menyentuh bibirnya.
" Kamu kenapa?" tanya malik menyengitkan keningnya.
" Panas mas" jawab ayu memegangi bibirnya yang memerah.
"Maaf saya ngga tau" malik mengambil segelas air putih dan memberikannya ke ayu"ini di minum dulu biar bibir kamu ngga melepuh"
Ayu mengambil air itu kemudian meminumnya sesekali ayu juga membasahi bibirnya dengan air.
Malik menyendok bubur itu dari mangkok meniupnya hingga benar-benar dingin kemudian menyuapkannya kepada ayu. Aktifitas itu malik lakukan sampai bubur yang ada di mangkok habis.
"Ini obatnya"Malik memberikan dua buah pil obat kepada ayu setelah selesai makan.
Ayu melihat dua buah pil obat itu dengan tatapan menolak. Ayu sudah meyakinkan dirinya untuk tidak mengonsumsi obat-obatan itu lagi sudah cukup rasanya ayu meminum obat itu selama belasan tahun.
"Kenapa? Kamu masih ngga mau minum? "
Ayu mendongak melihat ke arah malik. Ayu merasa malik kini sudah tau semuanya.
"Kamu mau mati? Apa kamu seneng nyiksa diri kamu sendiri kayak gini? "
Ayu mengalihkan padangannya ke arah jendela matanya berkaca-kaca.
"Kenapa yu? Apa kamu ngga mikir dengan orang yang kamu tinggalin nanti? "pertanyaan malik semakin memejokkan ayu.
" Jawab !!!"
Tidak da respon apapun dari ayu. Ayu masih menatap nanar keluar jendela.
" Ayu jawab!" tegas malik meninggikan nada suaranya.
" Aku cuma ingin ketemu sama orang tua aku mas. Aku udah cape hidup dengan semua penyakitku yang hanya bisa merepotkan orang lain. Aku merasa menjadi beban untuk orang lain. Sekuat apapun aku berusaha untuk ngga nyusahin orang lain tapi tetap aja pada akirnya aku nyusahin juga mas"jawab ayu tanpa mengubah pandangannya. Ayu tidak berani menatap mata malik, ayu tidak ingin malik mengasihaninya.
Malik diam membisu dengan jawab ayu, malik tidak tau apa yang harus ia katakan lagi. Malik merasa beban hidup ayu begitu berat. Malik tidak tau beban apalagi yang ia pikul sendiri selin permasalahan ini. Malik mengerti kenapa ayu sampai berfikiran seperti itu. Malik tidak patut menyalahkan ayu dan memojakkannya seperti tadi.
"Maaf, karna jalan pikir kita tidak sama"ucap malik kemudian pergi dari ruangan ayu. Malik merasa ayu perlu waktu sendiri saat ini.
.
.
.
.
.
Bersambung...