
Malik masuk ke dalam restoran yang terletak tidak jauh dari kantornya. Malik memilih satu meja berisi empat kursi yang berada di sudut lestoran. Tadi Nirmala menghubunginya, mengajak malik untuk bertemu karna Nirmala khawatir dengan keadaan ayu juga adiknya.
"Bagaimana dengan keadaan ayu lik? "Nirmala baru saja datang dan langsung menanyai ke adaan ayu.
Nirmala menarik kursi yang berada di depan malik kemudian duduk sambil memandangi malik intens.
" Mas Radit____"omongan Malik langsung di potong oleh Nirmala karna ia tau arah pertanyaan malik.
"Mbak sengaja ngga ngajak mas Radit, mbak takut nanti kalian ribut. "
"Jadi gimana keaadaan ayu? "tanya Nirmala lagi.
" Ayu....."
" Ayu kenapa lik? "Nimala yakin terjadi sesuatu pada ayu melihat ekspresi adiknya yang cemas bercampur takut.
" Ayu... Ayu pergi mbak" jelas malik terbata-bata.
"Kenapa?." ucapan malik membuat nirmala panik juga marah pada adiknya karna lagi-lagi adiknya tidak bisa menjaga ayu dengan baik.
"Apa karna Aleta kembali?" tebak Nirmala.
Malik menganguk ia tidak berani menatap mata kakaknya.
"Kamu masih bela-belain perempuan ngga tau diri itu? "ucap Nirmala meninggikan nada bicaranya.
"Ayu juga ngajuin gugutan cerai. "ucap malik mengabaikan tanya nirmala tadi.
Nirmala semakin kaget dengan ucapan malik, separah itukah pengaruh aleta kembali?.
" Kenapa ayu ngelakuin itu, apa yang kami lakuin sama ayu kali ini? "
Malik diam sebentar, Kakaknya pasti akan sangat marah jika ia mengatakan ini. Malik yakin itu.
"Dulu aku membuat surat perjanjian, jika aleta kembali ayu akan pergi dan menceraikan aku mbak. Dan ayu menyetujui itu. "
"Jadi selama ini kalian hanya bersandiwara di depan kami?"
Malik diam tidak menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Dan Sekarang ayu pergi mbak ayu ngelakuin semua isi surat perjanjain itu." air mata malik menetes begitu saja tanpa ia sadari.
"Ayu pergi di saat aku tau semua kebusukan Aleta mbak. "Malik menggenggam tangan Nirmala yang terletak di atas meja malik memberanikan diri menatap mata nirmala.
" Ayu pergi di saat aku sadar, betapa berartinya dia dalam hidup aku mbak. Aku cinta sama ayu mbak"
Nirmala menatap malik dengan pilu, ia ikut meneteskan air mata. Baru kali ini malik menangis sebegitunya. Terlihat jelas malik sangat menyesali perbuatkannya. Malik benar-benar tulus mencintai ayu.
"Aku udah cari dia kemana-mana tapi, tapi ayu ngga ketemu juga. Aku harus apa mbak?"ucap malik yang terisak.
Nirmala mengusap bahu malik, padahal tadinya ia ingin sekali marah pada malik, tapi melihat malik seperti ini membuat nirmala menjadi sedih.
Tiba-tiba malik mendongak membuat nirmala kaget juga heran. Ada satu tempat terlintas di otak malik yang belum ia kunjungi.
Nirmala mengerutkan keningnya, Nirmala sedikit ragu ayu di sana karna rumah orang tua ayu dulu sangat sederhana dan juga sudah tua mungkin sekarang ini rumah itu sudah roboh dan tidak dapat di tempati lagi.
" Mbak ragu kalo ayu ke sana.Karna mungkin rumah itu udah roboh sekarang."ucapan Nirmala kembali membuat wajah malik murung.
"Tapi dulu ayu sempat bilang ke mbak kalau dia dapet besiswa S2 ke Amerika. Mungkin aja ayu ke Amerika ?."
"Nggak, ayu ngga mungkin pergi sejauh itu mbak. "malik mencoba menyangkal ucapan Nirmala.
" Aku akan tetep cari ayu ke rumah orang tuanya dulu mbak. Aku mau mbak ngirimin alamatnya ke henphone aku. Aku mau pergi sekarang, aku pastiin ayu akan pulang sama aku."Setelah mengatakan itu malik pergi meninggalkan Nirmala. Tujuan malik kali ini adalah Bandung hati malik yakin ayu ada di sana bukan Amerika seperti yang di katakan kakaknya.
...**********...
" Gimana dengan keadaan putri saya dok? Tanya vina saat dokter keluar dari ruang UGD.
Dokter itu diam kemudian menggeleng" Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi apadaya tuhan berkehendak lain. Kami turut berduka "
" NGGA, BILANG KE SAYA KALAU PUTRI SAYA MASIH HIDUP DOK!" Vina histeris tidak terima dengan ucapan dokter.
Herman memeluk vina berusaha menenangkan vina yang meronta-ronta menyuruh dokter berkata sebaliknya.
" Mama tenang ma!!!, Mungkin Tuhan sayang dengan Aleta,makannya tuhan ambil aleta dari kita. Mama harus bisa ikhlasin kepergian Aleta."
Vina meraung-raung, menangis di pelukan suaminya. Arka juga ikut memeluk mama dan papanya ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu kematian.
Vina melepas pelukan suaminya, ia berlari masuk ke dalam UGD menemui Aleta berharap anaknya itu tidak benar-benar meninggal.
"Aleta ini mama sayang, kamu harus bangun kamu ngga boleh nyusul papa kamu!!! "Vina memeluk tubuh Aleta mengoyang- goyangkannya berharap anaknya itu bangun.
" Mama minta maaf, mama janji ngga akan maksa kamu lagi. Tapi kamu harus bangun, kamu bangun Al."
" Mama bakal nurutin apapun keinginan kamu, kamu mau nikah sama malik mama akan izinin sayang, kamu mau batalin semua kontrak kamu? Mama bakal batalin tapi kamu harus bangun!!!"
Herman yang melihat vina meraung-raung memeluk tubuh aleta langsung mengangkat tubuh vina dan menenangkannya.
" Mama mama jangan kayak gini ma mama harus ikhlasin aleta. Mama harus terima kepergian Aleta"
Vina menepis pelukan herman"Aleta masih hidup pa, Aleta itu cuma tidur. "ucap Vina tidak terima dengan ucapan suaminya.
" Mama jangan kayak gini, Aleta akan sedih jika mama kayak gini!" tegas Herman menyadarkan istrinya yang masih tidak terima dengan kepergian aleta.
Vina menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan herman" Aleta cuma tidur, aleta... Aleta belum menig______"
"Ma, mama!! "herman panik saat istrinya tidak sadarkan diri.
.
.
.
Bersambung..