
"Rumah kamu bagus"puji malik saat ia sudah masuk dan duduk di ruang tamu rumah ayu.
Ayu meletakkan secangkir teh di atas meja kemudian tersenyum ke arah malik.
" Ini bukan rumah aku ini rumah kedua orang tuaku yang aku renovasi mas." jelas ayu.
Malik mengangguk sambil memperhatikan sekeliling, rumanya sangat rapi nuansa putih sangat lekat di sana.
"Pates, ngga sama kayak yang di sebutin mbak mala."
Ayu mengerutkan keningnya tak mengerti maksud malik.
"Maksud mas? "
Malik tersadar dan langsung menggeleng.
" Bukan apa-apa." jawab malik.
Suasana di dalam rumah tiba-tiba terasa canggung terlebih setelah mereka berpelukan tadi.
Mereka berdua diam tak ada yang memulai percakapan setelah percakapan basa-basi yang terlontar di mulut malik sampai akirnya ayu menanyakan maksud kedatangan malik.
"Kamu kenapa jauh-jauh ke sini mas? "tanya ayu, sebenarnya ayu tidak enak menanyakan itu tapi hatinya terlalu penasaran sehingga memberanikan diri untuk bertanya.
Tadi ayu terlalu senang sampai-sampai memeluk malik dan menangis dalam pelukannya.
" Saya ke sini mau jemput istri sayalah."
Lagi-lagi ayu mengerutkan keningnya, bukankah ayu sudah mengajukan gugutan cerai tapi kenapa malik masih menganggap ayu sebagai istrinya. Lalu bagaimana dengan Aleta?.
"Saya mau bawa kamu pulang dan batalin gugatan cerai itu. Saya mau hidup sama kamu. Dan memulai rumah tangga yang bahagia bersama kamu."
Ayu diam dan menunduk ayu mencerna baik-baik ucapan malik barusan ayu tidak ingin cepat bahagia ayu takut jika nantinya ia yang sakit hati sendiri dengan harapannya yang terlalu tinggi.
Malik memegang tangan ayu erat" Aku ingin memperbaiki rumah tangga kita. Kamu mau kan? "
" Tapi..." ayu beralih menatap malik"Bagaimana dengan Aleta? "
Malih menghela nafas "Aku salah mencintai wanita yang ternyata hanya memanfaatkanku dan mengabaikan wanita yang dengan tulus mencintaiku. " jelas malik.
Bahkan ayu sampai tak sadar jika sekarang malik menggunakan kata aku kamu di pembicaraannya.
Mata ayu berkaca-kaca ayu senang malik memilihnya tapi ayu juga khawatir dengan keadaan Aleta.
" Besok kita kembali ke jakarta, kamu mau kan? Kak Mala dan semua keluarga pasti senang melihat kamu telah kembali. "Ayu mengangguk air mata bahagia kembali bercucuran di pipinya.
Malik memeluk ayu kali ini ia akan menjaga ayu dan menjadi suami yang baik untuknya.
...************...
Malik membantu ayu mengemas barang-barangnya kembali, mereka akan pulang ke jakarta pagi ini. Tadi malam malik juga sudah menghubungi Nirmala bahwa dia sudah bersama ayu di bandung.
"Kamu ngga jadi berangkat ke Amerikakan? "Tanya malik membuat ayu berhenti memasukkan pakaiannya ke dalam koper.pasalnya dari mana malik tau ia akan berangkat ke amerika?.
Malik terus memperhatikan ayu berharap jawaban ayu sesuai dengan yang ia mau.
Ayu membalas tatapan malik, kemudian tersenyum" Aku ngga akan pergi ke mana-mana mas,karna di sisi aku sekarang sudah ada kamu"malik mengembangkan senyuman lebarnya senyuman yang siapa saja yang melihatnya pasti terkesima.
"Makasi sayang" ucapan malik, sontak saja memunculkan rona merah di pipi ayu, begitu bahagia di panggil seperti itu oleh malik.
Ayu tersenyum simpul kemudian kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ayu akan semakin malu jika malik melihat pipinya yang kini sedang merona.
...**********...
Tangan kiri malik memegang tangan ayu yang duduk di smpingnya sedangkan tangan kanannya mengemudi mobil.
"Kita makan dulu ya sayang"
Oh no lagi - lagi malik memanggilnya dengan panggilan sayang membuat pipi ayu kembali merona dan salah tingkah.
"Sayang"panggil malik lagi karna tidak ada jawaban dari ayu.
"Iya"jawab ayu sedikit gugup yang di senyumi oleh malik. Malik tau istrinya kini sedang salah tingkah karna panggilannya. Malik sengaja berpura-pura tidak melihat, kapan lagi malik melihat pipi merah dan salah tingkah ayu yang terlihat begitu menggemaskn seperti itu.
Malik memberhentikan mobilnya di depan restoran, ayu dan malik akan makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke Jakarta.
"Kamu mau makan apa sayang? "
OMG pliss jangan panggil kayak gitu, ayunya kan jadi tambah salting itu pipinya udah merah. Ini malik sengaja kali ya?.
"Apa aja mas. "jawab ayu singkat, susah payah ayu menetralkan sikapnya di hadapan malik.
" Kalo gitu aku samain aja sama pesanan aku ya?" ucap malik memandangi ayu dengan senyum.
" Nggak papakan sayang?" tanya malik lagi karna tidak ada jawaban dari ayu.
Malik memanggil pelayanan kemudian memesan dua porsi makanan dan juga minuman yang sama.
...********...
" Kamu kenapa? Makanannya ngga enak ya?" tanya malik melihat ayu yang tidak berselera makan.
"Ngga papa mas, makanannya enak kok. "jawab ayu gelagapan. Ayu bukan tidak berselera makan tapi ayu risih terus-terusan di tatap oleh malik dengan senyuman.
" Kalo gitu kamu makan, aku ngga mau liat kamu sakit lagi." ucap malik mengusap pucuk kepala ayu dengan sayang.
Jantung ayu serasa mau copot di perlakukan begitu oleh malik. Ayu lebih suka prilaku malik yang dingin dan cuek kepadanya.
"Aku ke toilet dulu ya mas." jantung ayu bisa benar-benar copot kalau terlalu lama bersama malik di sini.
"iya, hati-hati ya sayang"
"I--iya mas"jawab ayu kemudian langsung pergi ke toilet.
Drettt.. Drettt..... Dretttt
" Halo mbak" jawab malik mengangkat telfonnya. Ketika tau telfon itu dari Nirmala.
"Lik, apa kamu udah tau kabar tentang Aleta?"
Malik mengerutkan keningnya, kenapa kakaknya tiba-tiba membahas tentang Aleta.
"Aku ngga tau mbak, aku juga ngga mau tau tentang perempuan itu. Yang aku pentingin sekarang adalah ayu." Malik baru saja berbaikan dengan Ayu, malik tidak ingin ayu pergi lagi darinya hanya gara-gara perempuan seperti Aleta.
"Berarti kamu belum tau kalau Aleta meninggal?"
Malik terbelalak, apa maksud kakaknya tentang Aleta yang telah meninggal.
"Maksud mbak apa? "
"Aleta meninggal bunuh diri di kamarnya kemarin dan sekarang akan di kebumikan. "
Seketika malik langsung mematung, tatapannya kosong. Ponsel yang ia genggampun terjatuh begitu saja dari tangannya.
"Malik, malik kamu ngga papa kan? "
"Malik "
"Malik"
Ayu yang baru saja keluar dari toilet langsung berlari menghampiri malik yang terlihat sangat syok.
"Mas,..... Mas Kamu kenapa mas? "
Malik tetap diam malik begitu syok mendengar kabar aleta meninggal.
"Mas! "ayu menggoyang-goyangkan bahu malik. Namun tetap tidak ada jawaban dari malik hanya air mata yang mengalir di pipi malik dengan tatapan kosong juga badan yang mematung.
Ayu mengambil ponsel malik yang masih tersambung dengan penelfon.
" Mas malik kenapa ma? "tanya ayu panik, dan mengetahui orang yang menelfon suaminya adalah Nirmala.
" Aleta,... Aleta meninggal yu"
Ayu menutup mulutnya dengan tangan, air matanya ayu bercucuran ayu tau kesedihan yang di rasakan malik sehingga ia bisa sesyok itu.
...*********...
Ayu dan malik langsung ke pemakaman aleta begitu sampai di jakarta.tadi ayu yang membawa mobil malik, ayu tidak mau malik yang membawa mobil dalam ke adaan syok dan terpukul seperti itu.
"Malik"ucap vina, memeluk malik yang baru saja datang.
Malik terus menatap batu nisan yang bertulisakan Aleta Quenby Elvina binti Marchel abraha. Malik tidak percaya dengan kepergian aleta yang begitu mendadak.
Malik bersimpuh di samping batu nisan Aleta setelah Vina melepas pelukannya. Tangis malik pecah di pemakaman aleta. Bukan ini yang malik maksud agar aleta tidak muncul di hadapannya. Bukan ini yang malik mau, bukan dengan cara bunuh diri seperti ini yang malik inginkan. Malik hanya ingin aleta sadar akan kesalahannya. Malik hanya ingin mengajari aleta apa arti sebuah cinta yang sesungguhnya.
"Malik, tate nemuin ini di atas tempat tidur aleta. Kayaknya ini buat kamu.
Malik menerima selembar kertas yang di berikan oleh vina, kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. Malik masih sangat terpukul dengan kepergian aleta, malik tidak ingin membaca surat itu sekarang, pikiran malik sangat kacau saat ini.
Ayu ikut berjongkok di samping malik, ayu mencoba menenangkan malik yang masih sangat terpukul. Diikuti dengan keluarga malik yang lainnya yang ikut menabur bunga di atas pemakaman Aleta sebagai penghormatan terakir.
.
.
.
Bersambung...