Accident Wedding

Accident Wedding
Bab 7.Pulang



Malik melirik jam tangannya, hari menunjukkan pukul sembilan malam. baru kali ini malik merasa bosan berada di tempat karoke dirinya serasa ingin cepat-cepat pulang. Akhirnya malik memutuskan untuk keluar dan pulang.


Sepanjang perjalanan pulang Malik banyak menemukan pedagang-pedagang kaki lima yang berjualan di emperan kota ada rasa iba di hati malik ketika melihat seorang pria paruh baya penjual martabak yang duduk termenung di samping gerobaknya menunggu pembeli.


Pria tersebut kemungkinan seusia dengan papanya, malik memberhentikan mobilnya tepat di depan gerobak penjual itu malik memesan satu martabak manis.


"Martabak manisnya satu ya pak"pesan malik dari balik kaca mobilnya. Penjual itupun menganguk kemudian langsung membuatkan pesanan malik.


Beberapa menit kumudian martabak yang di pesan oleh malik pun selesai di buat. Malik mengeluarkan beberapa helai uang berwarna merah kemudian memberikannya ke penjual bersamaan dengan mengambil pesanannya.


Setelah memberikan uang malik langsung mengendari mobilnya cepat malik tak ingin mendengar ucapat terima kasih atau pun protes dari bapak itu.malik melirik pedagang itu dari spion mobilnya berteriak-teriak menyuruhnya kembali.


Malik memang bertampang sadis dan berhati dingin namun sebenarnya malik adalah sosok pria yang sangat peduli terlebih kepada orang-orang yang kurang mampu. Malik juga sosok orang yang dermawan dan juga lembut.


" Nih"Malik menyodorkan satu kantong plastik ke arah ayu ketika baru saja masuk kedalam rumah.


" ini apa mas? "tanya ayu heran. Ayu mengambil kantong plastik yang di berikan malik.


"punya matakan?"malik menjeda sebentar" liat sendiri"sambung Malik kemudian pergi menuju kamarnya.


Ayu mengelus dada, menguatkan diri terhadap kelakuan suaminya.Ayu membuka kantong plastik yang di berikan oleh malik tadi.


"Martabak?" ayu tersenyum, ayu kembali mengingat perkataan malik yang akan membelikannya makanan ketika berpamitan dengan Nirmala tadi pagi.


"Ternyata kamu ngga lupa mas"Ayu bersyukur setidaknya ada sedikit perhatian yang di berikan malik kepadanya.


...*********...


" Ayu ini kontrak model baru tolong kamu urus ya! "ucap Rania atasan ayu.


Hari ini ayu begitu sibuk banyak kontrak-kontrak para model yang harus di urus oleh ayu dari pagi sampai siang tadi ayu sibuk dengan komputernya bahkan untuk makan siangpun ayu tidak sempat sangking inginnya untuk menyelesaikan pekerjaan. Ayu memang terkenal dengan ketelatenan dan keuletannya dalam bekerja semua pekerjaan yang di berikan kepadanya selalu selesai dengan cepat.


Ayu melirik jam tangannya, beberapa menit lagi adalah jam pulang kantor syukurlah pekerjaan ayu sebentar lagi selesai.


"Huh..... Akirnya" ayu menggoyang-goyangkan tangannya utuk meredakan otot-otot yang kaku karna seharian mengetik.


ayu merapikan semua map-map kontrak para model yang telah ia selesaikan. Ayu bangga bisa menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu walaupun perutnya terasa perih karna tidak makan.


Ayu memegangi perutnya yang perih sembari terus berjalan keluar dari ruanggannya dan turun ke lantai bawah menggunakan lif. Ruangan ayu terletak di lantai lima belas perlu waktu sekisar lima menit untuk sampai di lantai bawah.


Drettt.. Drettt.... Drettt


Deringan ponsel ayu terdengar jelas ketika ayu baru saja masuk ke lif, kebetulan ayu hanya sendiri di dalam lif. Ayu melihat siapa yang menelfonnya.


"Halo, assalamualaikum van"ucap ayu ketika tau jika yang menelfonnya adalah Elvan.


" waalaikum salam, kamu di mana yu? "


" ini, aku lagi di lif mau pulang. Emangnya kenapa?"


"seperti biasa nawarin pulang bareng, siapa tau kali ini kamu mau. "


" elvan Arka baskara udah berapa kali aku nolak sih udah ngga kehitung lagi loh dan kali ini jawaban aku tetep sama"kekeh ayu tertawa kecil.


" Yaelah yu namanya juga usaha"


"usaha sih usaha tapi kan kamu tau kalo........."


BRAKK..


Keadaan bertambah panik ketika lif itu berhenti di tengah-tengah lantai sepuluh. Pintu lif itu tidak bisa terbuka lampu di dalamnya pun juga padam nafas ayu sesak berkali-kali ayu mencoba untuk membuka pintu tapi tetap saja tidak bisa. Ayu semakin panik pikirannya melayang kemana-mana.


"Yu... Ayu. Kamu kenapa yu?..... Ayu. "panik elvan dari dalam telfon yang masih terhubung.


Ayu memegang pegangan yang ada di lif kuat badan ayu terasa sangat lemah perutnya semakin perih rasa cemas sekaligus sakit tercampur menjadi satu. Sebisa mungkin ayu berusaha untuk memencet tombol darurat yang ada di dalam lif untuk menghubungi pengatur lif.


"Ayu..... "karna tidak ada jawaban dari ayu Elvanpun berlari menuju lif. Petugas yang di hubungi ayu tadi pun juga ikut berlari menuju lif bersamaan dengan elvan.


" Ini kenapa pak?" tanya Elvan.


"Ada masalah dengan lifnya mas"jawab petugas itu.


" Pak buruan pak!" ucap elvan lagi, mendesak petugas untuk segera mengeluarkan ayu dari dalam lif. Elvan terus-terusan mondar mandir di depan lif, elvan juga berusaha menelfon hp ayu kembali tapi tidak di angkat oleh ayu.


Lima belas menit waktu berselang akirnya pintu lif dapat di buka oleh petugas.


"AYU...... "teriak elvan mendapati ayu dalam keadaan syok berat. Tangan kiri ayu memegang erat besi pegangan lif sedangkan satunya lagi memegangi dadanya yang sesak.Ayu berjongkok, menenggelamkan wajah pucatnya.


Pelan-pelan elvan membantu ayu berdiri dan keluar dari lif.


"Kamu ngga papa kan yu? "tanya elvan yang masih memapah ayu.


" A... Ak.. Aku ngga papa" jawab ayu terbata-bata.


Elvan tau ayu berbohong sangat jelas di wajah ayu kalo ayu sangat ketakutan tangannyapun masih gemetar. Tanpa pikir panjang Elvanpun membawa ayu ke mobil untuk mengantarnya pulang.


"Kamu tunggu di sini bentar ya yu! "ucap elvan meninggalkan ayu di mobil. Elvan berjalan menuju sebuah restoran membelikan ayu sebungkus sanwich dan sebotol air mineral.


" Ini, diminum dulu!" elvan memberikan sebotol air mineral kepada ayu. Ayu mengambil air tersebut kemudian meminumnya sedikit demi sedikit. Elvan juga memberikan sanwich yang ia beli tadi kepada ayu setelah itu elvan mengemudikan mobilnya mengantar ayu pulang.


...*********...


"Makasi van, maaf udah ngerepotin"ucap ayu setelah sampai.


"ngga ngerepotin ayu. malah aku seneng bisa bantu kamu soalnyakan selama ini aku selalu di tolak kalau nawarin bantuan"ucap elvan sembari tertawa kecil. elvan menepuk pundak ayu pelan"kejadian tadi ngga usah diinget-inget ya yu anggap aja itu semua cuma mimpi buruk"ayu tersenyum kecil mengiyakan kata-kata elvan.Elvan memang selalu handal dalam hal menenangkan. Pantas bayak wanita yang mengejar bahakan tergila-gila dengannya.


"Yaudah kalo gitu aku pulang dulu. Daaaa"elvan berjalan masuk kedalam mobilnya kemudian pergi melajukan mobil meninggalkan halaman rumah ayu.


Tak jauh dari mobil Elvan datanglah Malik yang baru pulang dari kantornya.


" Di anterin kamu" ucap malik sedikit sensi berbicara kepada ayu yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.


"Iya mas tapi itu cuma temen ngga lebih"jelas ayu mengikuti langkah malik masuk kedalam rumah.


" Kalau lebihpun saya juga ngga peduli"jawab malik santai kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan ayu.


.


.


.


.


Bersambung...