Accident Wedding

Accident Wedding
Bab 34.Terbongkar



"Morning bee.Pagi ini aku ke kantor kamu ya, aku bakal bawain kamu sarapan. Kita sarapan bareng, Aku jamin kamu akan suka sama makanan yang aku bawa nanti. Sampai jumpa di kantor beee. I love you"


Pesan itu dari aleta ayu baru sadar ketika ia selesai membacanya. Ternyata malik benar-benar kembali pada Aleta. Harusnya saat ini ayu bahagia karna tak lama lagi ia akan bebas dari malik, tapi entah kenapa ayu merasa sangat sakit. Ia tak pernah merasa sesakit ini,ada apa dengan dirinya.


Ayu segera menghapus air matanya ketika pintu kamar inap ayu terbuka , ayu yakin kalu itu malik. Dengan cepat ayu kembali meletakkan ponsel malik di tempatnya semula.


"Kamu kenapa? "Malik memergoki ayu yang sedang menghapus air matanya. Langkah kaki malik terlalu cepat untuk ayu membersihkan seluruh air matanya.


Ayu terperanjak, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


" Aku ngga papa mas," jawab ayu serak. Pesan ayu yang baru saja nangis terlihat sangat jelas apalagi dengan suara ayu yang serak membuat malik semakin hawatir.


Malik berdiri tepat di arah pandang ayu, entah kapan malik berjalan sampai tiba-tiba sudah ada di hadapan ayu. "ngga-ngga, kamu habis nangis?." nada khawatir malik semakin jelas, malik memegang pipi ayu dengan kedua tangannya. malik menatap mata ayu yang yang sembab.


"Bilang sama saya kamu kenapa? "ucap malik penuh penekanan.


Ayu melepaskan kedua tangan malik dari wajahnya." Aku ngga papa mas. Aku cuma terharu karna sangking senengnya bisa pulang ke rumah"jawab ayu dengan senyum yang ia paksakan. Ayu tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada malik. Karna ayu tidak punya hak apapun untuk mengatur hidup malik.


Ayu sadar ia hanya istri yang tidak di inginkan yang kebetulan terlibat dalam kehidupan malik.


Malik menghela nafas lega, malik percaya pada ucapan ayu. Karna malik tau ayu memang mudah menangis dengan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia.


"Kita pulang sekarang!" ucap malik mengenggam tangan ayu kemudian mengambil ponsel juga tas pakaian ayu. Bukan hanya ayu yang senang, jauh di lubuk hati malik saat ini ia juga sangat bahagia. Karna mulai hari ini ia bisa memandang wajah ayu yang ceria dan sambutan penuh kehangatan ayu saat ia pulang kerja. Aaah rasanya malik sudah tidak sabar dengan semua hal itu.


...************...


Aleta sudah menunggu dari dua jam yang lalu di dalam ruangan malik tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda malik akan datang. Aleta semakin resah makanan yang ia bawa tadipun sudah dingin. Padahal Aleta sengaja segera bersiap-siap dan langsung membeli makanan faforit malik di Restoran tadi pagi dan segara membawanya ke kantor malik untuk ia makan bersama .


Aleta mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk menelfon malik.


"Bee angkat dong bee!! "ucap Aleta yang mondar- mandir sambil memegang ponsel di telinganya.


Di sisi lain malik yang sedang mengendarai mobil mengabaikan telfonnya saat tau orang yang menelfon.


" Kenapa ngga di angkat mas?" tanya ayu yang memperhatikan malik dari tadi.


" Ngga papa, nanti saya telfon lagi. Saya mau fokus sama jalan." Jawab malik yang di angguki oleh ayu.


Sumpah serapah keluar dari mulut aleta, mengutuk malik karna tidak mengangkat telfonnya. Aleta sangat kesal dengan sikap malik.


...*********...


Setelah selesai berganti pakain malik langsung terburu-buru masuk ke dalam mobilnya lagi bahkan malik tidak berpamitan pada ayu. Ayu sempat mengejar dan memanggil malik tapi langkah kaki ayu kalah cepat dengan larian malik yang cepat bahkan malik tidak menghiraukan panggilan ayu. Entah suara ayu yang kecil atau malik yang memang sengaja mengabaikan ayu.


Malik melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Malik baru ingat kalau hari ini ia punya rapat penting dengan para pemegang saham, sekretaris malik mengabarinya agar cepat datang ke kantor tadi saat malik berniat tidak jadi ke kantor. kalau saja sekretarisnya tidak mengabari pasti malik akan lupa dan kehilangan para pemegang saham.


Malik berlari kencang menuju ruangan kantornya ada berkas-berkas penting yang harus malik siapkan sebelum rapat itu di mulai. Malik sudah memegang gagang pintu untuk ia buka, tapi ia urungkan saat mendengar pembicaraan seorang gadis yang suaranya sangat familiar oleh malik.


"Apa lagi sih ma, aku kan udah bilang aku ngga mau lanjutin kontrak aku lagi. Pllise jangan paksa aku udah cukup selama ini aku manfaatin malik untuk kemajuan karir aku ma. Aku mau serius sama malik, aku ingin nikah dan hidup bahagia. Jadi plise ma jangan paksa-paksa aku lgi buat lanjutin kontrak aku. Karna aku udah capek. "


Gadis itu mematikan telfonnya secara sepihak kemudian dengan raut wajah yang kesal ia memasukkan ponselnya dengan kasar ke dalam tasnya.


Kenapa sih punya mama ngga ngertiin anaknya banget" ucap Aleta dengan nada kesal. Aleta membalikkan badannya berniat untuk pergi dari kantor malik karna sudah berjam-jam ia menunghu malik di sini tapi orang yang ia tunggu tak kunjung datang.


Aleta terperanjak saat melihat malik yang sudah berdiri di belakangnya.Entah kapan pria itu masuk dan berdiri di belakangnya. Malik menatap Aleta dengan tatapan menusuk ditambah dengan raut wajah datar membuat Aleta takut. Aleta memilih untuk menunduk ia sangat takut dengan tatapan malik jujur selama ia berpacaran dengan malik aleta tidak pernah melihat ekspresi malik seperti ini kepadanya. Badan Aleta semakin bergetar saat suara bentakan malik masuk ke indra pendengarannya.


"Jadi selama ini kamu cuma MANFAATIN AKU?! "Malik sengaja meninggikan nada suaranya saat menyebut kata manfaatin Agar orang yang ia bentak sadar.


" Maksud kamu apa bee?" ucap Aleta tak mengerti. Aleta mencoba mengingat-ngigat perkataannya saat ia bertelfonan dengan mamanya tadi. Mata Aleta membulat saat ia ingat dengan perkataannya. Apa malik mendengar semua perkataannya tadi di telfon dengan mamnya?. Jika iya habis lah Aleta.


"Ck.... "Malik mengacak-ngacak rambutnya ia sangat frustasi dengan perempuan yang berada di hadapannya ini. Jika saja Aleta tidak perempuan mungkin malik sudah menghabisinya dari tadi bahkan membunuhnya.


" Ngga usah pura-pura lagi. Aku udah denger semuanya Al. Termasuk MANFAATIN AKU HANYA DEMI KARIR DAN KESUKSESAN KAMU." Mata Malik memerah menahan semua amarahnya. Malik merasa telah menjadi pria paling bodong di dunia ini. Ia kira Aleta adalah cinta sejati yang ia cari selama ini tapi nyatanya ia tak lebih dari cewek Matre, murahan dan sampah. Malik menyesal telah memberikan seluruh hatinya pada aleta yang pada akirnya hanya di permainkan dan di sakiti seperti ini olehnya.


"Bee dengerin aku dulu bee! "ucap Aleta mencekal pergelangan tangan Malik. Aleta setengah bersujud memohon agar malik mau mendengarkannya. Air mata aleta berjatuhan, aleta tau ia salah tapi cintanya lada malik bukanlah sebuah kesalahan. Dan aleta tidak ingin malik meninggalkannya di saat aleta menyadari betapa berartinya malik di hidupnya.


Malik menghempas tangan aleta kasar membuat gadis itu jatuh kelantai.Malik tidak melihat bahkan menolongnya sedikitpun.Bagi malik sakit hempasan yang di rsakan aleta tidak sebanding dengan hancurnya hatinya saat ini.


"Aku bersyukur tidak menikah dengan perempuan seperi kamu. Tapi aku sangat menyesal karna telah mempercayai hati aku buat kamu. "


Malik menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya lagi.


"Jadi mulai sekarang jangan pernah kamu memperlihatkan wajah sampah kamu lagi di hadapan saya. Anggap kisah cinta kita tak pernah terjadi dan ngga pernah ada." ucap malik penuh penekanan. Setelah mengatakan itu mik pergi meninggalkan aleta yang terisak - isak.


" kamu ngga boleh ningalin aku kayak gini aku ngga terima. Beeee... MALIKKKKK AKU CINTA SAMA KAMU"


.


.


.


Bersambung...