
Nirmala mengetuk pintu kamar mandi takut terjadi sesuatu pda ayu karna mendengar ayu yang terdengar sedang muntah-muntah.
"Ayu kamu ngga papa kan? "tanya nirmala mengetuk- ngetuk pintu kamar mandi.
" Ayu?" panggil Nirmala lagi.
Nirmala sangat memghawatirkan keadaan anaknya.
Ayu keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan badan yang lemas.
Nirmala memegangi tubuh ayu," kamu kenapa yu? Kamu sakit?" tanya nirmala mencemasi keadaan anaknya ity.
"ngga tau ma dari kemaren badan aku lemes banget, juga mual banget." jelas ayu.
Nirmala membawa ayu untuk duduk di sebuah kursi dekat toilet tersebut. "kamu udah minum obat?"
Ayu mengangguk, "udah ma, paling bentar lagi aku juga udah enakan ma."
"Kamu yakin?"
"Iya ma. "
***********
"Halo" jawab seorang pria yang berusia sekitar empatpuluh tahun.
"Kami baru saja menemukan seorang gadis di tepi sungai pak. Ciri-ciri gadis ini sangat mirip dengan Alana putri bapak "ucap orang tersebut.
" Apa dia masih hidup? "tanya pria itu.
" Masih pak, namun wajah gadis ini rusak parah pak sehingga kami tidak bisa memastikan jika ini non alana atau bukan. "
" Itu pasti anak saya, pokokny kalian harus segera bawa gadis itu ke rumah sakit! "perintah pria tersebut.
" Baik pak. "ucapnya mengakiri telfon.
" Akirnya kamu ketemu sayang, kamu masih hiduo." gumam pria tersebut terswnyum bahgia.
*********
Nirmala mengatar ayu kembali ke ruang keluarga. Tadi nirmala sempat menyuruh ayu untuk pergi ke dokter agar penyakitnya tidak semakin parah namun anaknya itu terlalu keras kepala ia masih saja menolak permintaan mala dan bersikeras jika ia akan lekas membaik.
Malik melihat kedatangan ayu dan mala, padangan malik terfokus pada ayu yang terlihat sangat pucat.
"Ayu kamu sakit? "tanya malik yang langsung terlihat sangan cemas mekihat wajah istrinya yang saat ini sangat pucat.
" Iya, mbak udah berulang kali nyuruh ayu untuk pergi kerumah sakit tapi istri kamu ini keras kepala dia tetep ngga mau." saut nirmala.
Malik mengusap wajah ayu sembari mengecek ke adaannya, "kita kerumah sakit sekarang ya!" ucap malik.
"Ngga usah mas aku cuma masuk angin biasa paling bentar lagi juga baikan. "ayu masih saja keras kepala dan tetap menolak untuk di bawa kerumah sakit.
'' Udah lik kalo istri kamu ngga mau jangan di paksa lagian ayu pasti juga bosen terus-terusan di bawa ke rumah sakit apa lagi belum lama ini ayu baru saja keluar dari rumah sakit masak kamu suruh ayu ke rumah sakit lagi. "bela sinta agar kedua anaknya itu bisa mengerti apa yang ayu rasakan.
'' Tapi ma kalo ayu kenapa - napa gimana?" ucap malik masih khawatir dengan kondisi istrinya.
" Ayu ngga bakal kenapa-napa!" jawab sinta lagi.
Sinta berdiri dan mengajak ayu untuk pergi ke kamar agar ia bisa beristirahat.
"Lebih baik kita ke kamar, biar mama yang antar!" ajak sinta memegang tangan ayu dan berjalan menuju kamar malik .
Malik beserta semua orang yang ada di diruang keluarga pun hanya melihat apa yang di lakukan sinta tanpa mengomentari sedikitpun. Kecuali malik yng masih kesal dengan mamanya karna membawa ayu begitu saja. Padahala ia belum selesai membujuk ayu untuk ikut ke rumah sakit bersamanya.
Ayu membaringkan tubuhnya, ia berharap dengan ia beristirahat lemas dan mual yang ia rasakan bisa hilang dan dia bisa kembali sehat seperti sediakala.
"bulanan kamu udah dateng? Karna bisa aja kamu mual dan ngga enak badan kayak gini karna kamu mau datang bulan." ucap sinta yang masih merapikan selimut ayu.
"Emangnya sekarang tanggal berapa ma? "tanya ayu yang malah balik bertanya.
" Sembilan belas." jawab sinta,
" Sembilan belas?" kaget ayu.
" Aku udah telat lima hari ma." jawab ayu.
" Oh ya?" sinta terlihat sangat gembira begitu ayu mengatakan itu. '' jangan - jangan kamu hamil?" Tebak sinta.
"Hamil? "jelas saja dugaan sinta tidak pernah terpikirkan sedikitpun oleh ayu, ia tidak pernah menduga hal itu sedikitpun.
" Iya, kamu lemes dan mual-mual itu salah satu pertanda orang hamil. "jelas sinta yang sudah sangat gembira karna sebentar lagi ia akan mendapatkan cucu.
Ayu masih terkejut dengan dugaan semntara mamanya itu.
" Mama harus bilang ini ke malik! "sinta langsung berdiri dan hendak pergi untuk memberitahukan semua ini pada malik juga semua anggota keluarga.
Ayu menahan tangan mamanya" Ma ngga mungkin ayu hamil, mungkin ini cuma masuk angin biasa. "bantah ayu yang takut jika dugaan mamanya itu salah.
" Lagian..... ngga mungkin ayu hamil.'' gumam ayu pelan sembari menunduk.
"Apanya yang ngga mungkin ayu, kaliankan kemarin habis hanimunkan? . "sontak ucapan mamanya langsung membuat pipi ayu merona.
" Pokoknya mama haru suruh malik untuk beli tespek untuk kamu buat mastiin kamu hamil atau bukan."ucap Sinta yang kemudian melepaskan cekalan tangan mertuanya itu.
" Ma...." ayu malah menjadi takut jika dugaan mamanya itu salah dan ia malah membuat semua orang kecewa apalagi malik suaminya.
Sinta berjalan cepat kembali ke ruang keluarga ia tidak sabar memberitahukan kabar gembira ini kepada anak serta suaminya.
"Malik!" ucap sinta yang sedikit berlari menuju tempat malik duduk.
Malik melihat mamanya heran, "mama kenapa?" tanya malik begitu mamanya duduk di sampingnya.
Sekarang juga kamu beli tespek, buruan! "ucap sinta dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
" Tespek, kamu hamil ma?" ranya nugraha yang terkenut saat istrinya mengatakan itu.
Ih... Papa bukan untuk mama." kesal sinta karna suaminya itu bicara ngasal.
Lalu kalau bukan untuk kamu untuk siaoa?" heran nugraha.
"Buat ayu pa. "jawab sinta.
" Ayu hamil ma? Tanya malik nirmala juga radit yang bertanya hampir bersamaan.
Sint mengangguk. "Kayaknya gitu, makannya untuk memastikannya mama syruh malik untuk beli tespek!" jelas sinta.
"Aku ma? "tany mlik yang jujur saja i tidak tau alat apa yang di katakan eh mamanya itu.
" Iya siapa lagi kan kamu suaminya" ucap sinta.
"Iya lagian cuma tespek lik bukan pembalut. Mas aja di suruh beli pembalut sama kakak kamu biasa aja tuh. "saut Radit.
" Ya iyalah jadi suami itu harus siap siaga harus mencukuoi dan menuruti kemauan istri." jawab nirmala.
" Sudah-sudah lebih baik sekarang kamu beli tespek untuk ayu biar kita bisa memastikan ayu hamil atu bukan!"pinta sinta lagi yang mendesak anaknya itu untuk segera bergerak.
" Tapi ma malik ngga tau itu apaan." keluh malik.
"Kamu tnya aja sam orang apotik pasti di kasih! "saut nirmala.
" Kenapa ngga mbak aja yang beli mbakkan yang lebih ngerti." jawab malik.
"Yang jadi suaminya ayukan kamu jadi kamu yang harus beli. "jawab Mala yang sebenarnya bisa saja ia ikut dengan malik namun mala ingin sekalian mengerjai adiknya itu supaya ia sadar bagaimana menjdi suami yang bisa bertanggung jawab.
" Tapi mbak"
" Sudah - sudah lebih baik kmu pergi sekarang! "Ucap sinta mendorong tubuh anaknya gar segera berangkat.
.
.
.
Bersambung