
Saat memasuki apartemen milik Ji-bin, Ji-bin sudah tergeletak dan darah mengalir di seluruh ruangan itu , Senja yang pertama masuk langsung syok dan terjatuh ke lantai , meringis dan menangis melihat tubuh Ji-bin yang sudah berlumuran darah tersebut.
"kenapa .... kenapa ...."
Rey dan Chun-seok langsung mengangkat tubuh Ji-bin dan membawanya ke bawah , ambulans tiba dengan cepat sebab telepon yang diterima dari mereka.smeua orang menatap dan menyaksikan hal tersebut , Senja , ji-ah dan juga Chun-seok mengikuti di belakang ambulans sedangkan Rey ikut bersama Ji-bin di dalam ambulans .
Sesampainya di rumah sakit , Chun-seok langsung diperiksa , dan ternyata Ji-bin mengalami luka pada kepala nya karena benturan dan bisa jadi kalau Ji-bin sengaja menghempas dirinya dengan pot bunga yang terdapat di sebelah nya sewaktu di angkat tadi , untungnya tidak terlalu dalam dan hanya luka daging saja . tetapi hal lain terjadi di tangan nya ternyata tangannya juga ikut terluka karena goresan yang sengaja dia perbuat , Ji-bin sengaja mengikis tangannya sendiri menggunakan pisau tajam yang membuat tangannya harus di periksa lebih baik lagi .
Senja , ji-ah ,Rey dan juga Chun-seok harus berada di rumah sakit menjaganya sedangkan ayah dari Ji-bin datang dengan tangisan yang meronta ronta "Bagaimana dengan putraku ...."ucapnya sambil menoleh ke arah para sahabat dari putra nya itu .
Chun-seok mendekati ayah Ji-bin dan menenangkan nya "Ayah tidak usah khawatir Ji-bin pasti akan baik baik saja , itu sering terjadi di dunia artis , kamu akan menjaganya dengan baik "ucap Chun-seok.
Senja dan ji-ah juga mendekati ayah Ji-bin dan berpelukan padanya "Ayah.... kami takut ...."ucap mereka yang sudah sedari tadi menangis .
Ayah Ji-bin menepuk tepuk pundak ji-ah dan juga Senja sambil berkata "Ji-bin pasti akan baik baik saja bukan ? dia anak yang kuat bukan ? putraku yang juga sahabat kalian pasti kuat bukan ??"
Beberapa jam kemudian
Ji-bin sudah berada di ruangan segera mereka semua masuk dan menjaganya dengan baik , Samali malam tiba ayah Ji-bin pulang untuk mengambil beberapa pakaian yang harus Ji-bin pakai nanti , sedangkan semua sahabat nya menunggu nya di ruangan itu , Senja dan Ji-ah yang tertidur di sebelah Ji-bin sedangkan Chun-seok dan Rey tertidur di sofa .
Ji-bin terbangun kemudian menatap kesana kemari dan melihat sahabat sahabat nya kemudian tersenyum melihat mereka , ada Rey dan Chun-seok yang bertanding ngorok sedangkan ji-ah tertidur sambil mengeluarkan air liur nya Sedangkan Senja tertidur pulas dengan baik , hari sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi hari .
Senja bangun terlebih dahulu dan melihat Ji-bin yang sudah terbangun "Owh... kamu sudah bangun "ucapnya sambil memperbaiki rambutnya yang sudah acak .
"hah?? apa ?"ucapnya kemudian terbangun dan berkaca , Ji-ah langsung lari masuk kedalam toilet dan membersihkan wajahnya yang penuh air liur itu .
Rey dan Chun-seok juga terbangun dan segera menuju ke ranjang Ji-bin, "Ya ... kamu membuat kami takut saja !!"ucap Chun-seok.
"Kukira Rey sudah pulang , bukankah waktunya kamu pulang ke Indonesia??"ucap Ji-bin.
"ya bagaimana bisa aku pulang kalau kamu begini , ngapain pakai pot sih , gak sekalian terjun dari apartemen mu sampai ke bawah saja ,biar mati sekalian!!"ucap Rey .
Ji-ah datang dan langsung memukul kepala Rey "aih pikir kalau mau ngomong , jangan asal ngomong doang !!"ucap Ji-ah kemudian duduk di sofa .
"aku bisa berbicara berdua dengan Ji-bin"ucap senja .
"boleh tentu saja , iya kan ??"ucap Chun-seok dan mengajak yang lainnya untuk keluar dan meninggalkan Senja bersama Ji-bin di dalam .
"Apa kamu tidak berpikir untuk melakukan hal itu ??"tanya Senja sambil menatap pada Ji-bin.
Ji-bin menunduk lalu menjawab "Bukannya aku tidak berpikir senja tapi ...aku sudah berpikir sampai berapa kali pun tetap saja pikiran itu yang membunuh ku "ucap Ji-bin sambil menangis .
Senja mendekatinya kemudian memeluknya sambil berkata"Semua ada masanya Ji-bin...."