(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Kesembilan



Sesuai dengan ucapan dari Grace, Felitha kemudian ke ruang santai yang terletak di bagian tengah lantai 1, ruangan yang biasa digunakan sebagai tempat untuk berkumpulnya Keluarga Sagara saat sedang bersantai. Tidak perlu waktu lama, kaki Felitha sudah sampai diruangan tersebut, dan benar saja. Disana terlihat Alto sedang duduk bersantai membelakangi Felitha, gadis itu menoba melangkah mendekat.


“Kau datang lebih awal, dari perintahku. Felitha..”


Ucapan itu membuat Felitha begitu kaget dan bingung, dia tidak pernah menyangka Alto akan langsung mengenali orang yang datang, tanpa mengeluarkan suara.


“Suara langkah kakimu, menunjukkan identitas mu, sebelum kau mengeluarkan suara.” Lanjut Alto membuat Felitha menjadi paham. Jadi, Alto memusatkan seluruh indera pendengarannya, sehingga lelaki itu bisa mengetahui apapun yang terjadi melalui gelombang suara. Benar-benar hebat.


“Bo..boleh aku bertanya, tuan ?? kenapa anda memanggil saya kemari ??”


Alto bangkit berdiri dari kursinya dan mulai melangkah mendekatinya, Felitha sedikit khawatir mengingat mimpi buruk yang terjadi semalam ditambah sosok dengan pisau berdarah itu adalah Alto, tapi perempuan itu meyakinkan diri jika itu hanyalah sebuah mimpi buruk saja. Dia yakin, jika Alto bukanlah orang yang jahat.


“Apakah aku bisa mempercayaimu, Felitha ??”  Alto bertanya dengan nada serius saat berada di depan Felitha, gadis itu terkejut dengan perkataan dari Alto, dan dengan mantab gadis itu menjawab.


“Tentu saja, tuan. Kau bisa percayakan padaku.”


Alto terdiam mendengarkan jawaban tersebut, tapi dalam hatinya menyeringai licik mendengarkan jawaban polos dari Felitha yang benar-benar membuatnya merasa terhibur. Terima kasih kepada ibu mereka, membawakan seekor domba manis dan polos yang mungkin akan menjadi bulan-bulanan permainan serigala cacat ini.


Benar kata Adnan, gadis itu sangat polos. Andai aku bisa melihat, aku penasaran seperti apa wajahnya. Batin Alto dengan diam, sembari berfikir rencana apa yang harus dia jalankan kepada gadis Felitha itu.


“Ehm.. Tuan Alto.. Anda baik-baik saja ??”


“Hmm.. Ya.. Aku baik-baik saja.”


Alto sedikit berdehem, meskipun dalam hatinya kesal karena terlalu sibuk memikirkan rencana, malah dia berfikiran yang tidak-tidak mengenai Felitha, dengan sedikit mengumpat kesal karena malu ketahuan sedang melamun, meskipun tidak akan terlihat dia sedang melamun ataupun tidak.


“Felitha, aku akan memberikanmu tugas dan kau harus menjalankannya atas perintahku. Dan itu berhubungan dengan kondisi mataku.”


Felitha terdiam, Alto tidak akan menyuruhnya untuk mencongkel mata seseorang,untuknya ?? ah !! kenapa Felitha terus memikirkan mimpi buruk yang semalam ?! Tapi ekspresi dingin dan datar milik Alto terus membuatnya teringat sosok Alto psikopat buta yang menyiksa dan menyuruhnya mencongkel mata orang lain. Tidak !! Felitha harus melupakan mimpi buruk yang terjadi.


“Tentu saja, apa itu Tuan ??”


“Pertama, jangan panggil aku dengan sebutan tuan, aku belum terlalu tua. Panggil saja aku, Kak Alto.”


“Ba..baik kak.”


“Juga dengan saudaraku lainnya, kami berlima baru berusia 30 tahun. Jadi panggil kami dengan sebutan kak.”


Fakta itu membuat Felitha hampir kaget, 30 tahun ?!?! mereka terlihat masih sangat muda, bahkan Felitha berfikir usia mereka antara 25 tahunan, tapi ternyata mereka berusia 30 tahun ?! ini gila !! itu berarti jarak usianya dengan Alto adalah 9 tahun ?! astaga !!


“Jadi untuk tugas yang harus kau lakukan adalah memberikan obat di bagian mataku, sehari selama tiga kali, apakah kau bisa ??”


Felitha berfikir jika dia akan mendapatkan tugas yang sangat berat dan begitu sulit, tapi nyatanya tugas itu sangatlah ringan ?? hanya memberikan obat untuk bagian matanya ??


“Bisa, Kak Alto.”


“Baiklah, kalau begitu.. ayo ikut aku.”


Lagi-lagi Felitha hanya bisa menjadi ekor dan mengikuti Alto yang sepertinya akan membawa Felitha menuju ke arah ruangan pribadinya. Dengan penuh rasa penasaran dan tanda tanya, Felitha ingin sekali menanyakan beberapa hal kepada Alto, tapi dia berfikir jika sebaiknya dia menjalin hubungan yang baik dengan kelima lelaki bersaudara itu terlebih dahulu, dan menjadi dekat dengan mereka. Barulah dia akan bertanya semua rahasia yang dia ingin tahu.


Setelah beberapa menit, mereka sampai di ruangan pribadi Alto, lelaki itu membuka pintu ruangannya sendiri, dan menyalakan tombol lampu yang memang sudah dia ketahui sejak awal posisinya. Felitha yang ikut masuk ke dalam kamar, memperhatikan sekitarnya dan melihat beberapa kanvas putih kosong yang berjumlah 5 terpasang di dinding persis seperti dalam mimpinya, hanya saja kanvas itu masih putih bersih disana.


“Felitha, tolong ambilkan beberapa obat milikku di laci kedua di meja nakas.” Alto menunjuk sebuah meja nakas dengan cermin yang terletak di bagian pojok ruangan. Meja nakas yang berbahan dasar kayu jati, serta ukiran itu terletak di bagian pojok ruangan.


“Ambil yang berwarna hijau muda, hijau tua, dan kuning. Aku harus keluar sebentar, nanti aku akan kembali.”


Alto kemudian keluar dari ruangan, sementara Felitha kemudian menuju ke arah meja nakas yang ditunjuk oleh Alto. Felitha sedikit bingung dan menduga jika itu adalah meja rias perempuan berbahan dasar kayu jati, tapi itu adalah meja rias perempuan. Kenapa Alto malah memiliki meja rias seperti ini ?? batin Felitha dengan sedikit penasaran.


Segera saja, gadis itu membuka laci kedua, tapi kemudian matanya menangkap sesuatu yang aneh. Laci ketiga tampak belum tertutup dengan rapat, dan terlihat sebuah benda berwarna hitam disana. Dengan rasa penasaran yang tinggi sebagai sosok manusia. Felitha menarik sedikit laci itu, dan….


“Aku kembali.”


Suara dari Alto menghentikan niat Felitha, gadis itu dengan segera membuka laci kedua dan melihat beberapa botol obat disana. Sesuai perintah, Felitha mengambil tiga botol yaitu Botol berwarna hijau muda, hijau tua, dan kuning. Tunggu… Felitha memeriksa ada satu botol yang aneh, tangannya meraih botol itu dan membaca dalam hati botol yang terlihat mencurigakan itu.


Hmm… Racun Botulinum… ?!?! Felitha terkejut bukan main, kenapa dia malah menemukan sebuah racun paling berbahaya di ruangan milik Alto..?? tidak mungkin, kan ?? Felitha menatap ke arah Alto yang sedang mempersiapkan diri dengan duduk di atas sofa.


“Bagaimana ?? Kau sudah menemukan, obatnya bukan ??”


“I..iya, Kak Alto.”


“Baguslah, kemari.”


Felitha menaruh kembali racun itu pada tempatnya, dan membawa 3 botol obat mendekati Alto dengan rasa was-was dan begitu khawatir, mungkinkah ini ucapan Adnan ?? tapi.. itu mustahil, dan sulit dipercaya. Bagaimana Alto bisa memiliki racun yang begitu berbahaya itu ?? Ataukah itu racun yang sengaja diberikan dalam laci Alto mengingat lelaki itu tidak bisa melihat dunia ?? Apa-apaan ini, kenapa malah pikiran Felitha menjadi sangat negatif, mungkin saja kebetulan berada di laci milik Alto, mungkin saja..


Felitha menaruh ketiga obat itu di depan meja kecil yang berada di hadapan Alto, lelaki itu kemudian memberikan perintah kepada gadis itu.


“Sekarang, bisa kau lepaskan ikatan kain dimataku, dan kemudian teteskan semua obat itu ke bagian mataku secara bergantian.” Ujar Alto memberikan perintah.