(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Kesebelas



Chapter 11


Seperti janjian sebelumnya, Felitha dan Arjun benar-benar berjalan di sebuah taman umum, yang tidak terlalu ramai. Disana Felitha dan Arjun mulai menikmati suasana yang cukup sepi, karena beberapa orang disana hanya berlalu lalang, jika ada yang sedang duduk disana mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing. Kedua orang itu berjalan menikmati pemandangan yang sangat indah dan sejuk karena disana banyak ditumbuhi oleh pohon besar, jadilah sinar matahari tidak terlalu terasa begitu panas. Hingga mereka akhirnya memutuskan untuk segera duduk sebuah kursi taman panjang yang berada di bawah pohon.


“Huft.. aku lupa membawa minuman, kau mau minum ?? mungkin aku akan membeli minuman boba.”


Arjun mengangguk, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, dan menyerahkannya pada Felitha, gadis itu terkejut bukan main menerima barang dari Arjun yang ternyata adalah black card. Felitha tahu lelaki itu orang kaya, tapi..


Masa iya, membeli boba yang hanya serharga Rp10.000,00 harus memakai black card, mana mereka di taman umum, gak mungkin ada mesin gesek untuk kartu kaya gini, Felitha menyerahkan kembali kartu itu kepada Arjun.


“Ada uang receh aja gak ?? harganya Cuma 10 ribu, disini juga gak ada mesin gesek.”


Arjun kemudian mengambil kartu Black Card itu, kemudian dia meraih sesuatu dari kantong saku jaketnya dia, dan mengeluarkan selembar uang berwarna merah, dan menjulurkannya pada Felitha, gadis itu berfikir, dengan uang seratus ribu, apakah akan ada kembalian nanti ??


“Gini aja, ini belinya pakai uangku dulu. Soalnya takut gak ada kembalian, kalau pakai uang seratusan.”


Arjun kemudian menulis sesuatu di kertas miliknya, dan kemudian memberikannya kepada Felitha.


‘Ya udah, tapi uangnya tetep diterima. Anggap aja sebagai ganti uang minuman.’


Gila !! orang kaya memang berbeda, batin Felitha membelikan minuman 10 ribu, diganti dengan uang 100 ribu. Tapi tidak apalah,lagipula Arjun terlihat sangat bersungguh-sungguh memberikan uang itu. Felitha mengangguk pelan.


“Oke.. tunggu disini ya, eh iya kamu pesen rasa apa ??”


Arjun menunjuk ke arah Felitha, beruntung dia sedikit demi sedikit memahami bahasa isyarat simple yang biasa digunakan sehari-hari oleh mereka yang memiliki keterbatasan fisik dalam berbicara.


“Oh.. sama kaya aku ?? Okee, tunggu dulu disini ya..”


Felitha kemudian berjalan meninggalkan Arjun yang duduk dan menikmati udara disana, berlalu dari sana mencari seorang penjual minuman yang biasanya dekat dengan kursi para pengunjung. Tapi anehnya, dia tidak mendapati penjual minuman disekitar sana. Malah penjual makananlah yang jumlahnya begitu banyak dan ramai. Felitha hanya berharap dia tidak akan lupa arah untuk kembali ke tempat duduknya itu. Hingga matanya berbinar menemukan penjual minuman boba yang dia cari, beruntung antrian disana tidak terlalu banyak bahkan hanya Felitha yang membeli minuman itu. Setelah memilih rasa yang dia sukai yakni Chocolate Milk Boba, dan menunggu minuman jadi. Tidak butuh waktu lama, bahkan hanya dalam waktu 5 menit, minuman nya sudah jadi. Setelah membayar menggunakan uang miliknya, Felitha membawa dua gelas minuman dengan hati-hati karena ada banyak orang yang berjalan di depannya.


Anak-anak yang berlarian dan ada beberapa pesepeda, juga orang menggunakan sepatu roda membuat Felitha harus bisa berhati-hati. Tapi karena Felitha terlalu menghindari beberapa orang yang menggunakan sepeda,membuatnya tidak berhati-hati dan akhirnya tersandung batu di tengah jalan dan membuatnya jatuh.


Bugh !!


Masalah belum sampai disana, Felitha tidak pernah menduga minumannya jatuh mengenai orang yang ada didepannya itu, dan yang bagus adalah orang di depannya adalah preman yang biasa memalak orang-orang di taman. Felitha kemudian menyadari kesalahannya, saat melihat minumannya mengenai pakaian dari bos preman di depannya.


“Heh !! kalau jalan itu pakai mata ?! lihat noh, gara-gara minuman Lo pakaian Gue jadi basah kek gini !!”


Duh.. gimana ini, mana aku gak sama si Tania kan bisa enak, dia yang bakalan bantuin batin Felitha meraung nangis, jika bersama sahabatnya itu, dia bisa aman dan tenang. Karena Tania adalah seorang mantan beladiri taekwondo. Dan jelas saja, Tania bisa menghajar preman di depannya dengan mudah, tapi sekarang ??


“Ma..Maaf bang..”


Dan suasana semakin mencekam orang-orang disekitar malah berhenti beraktivitas dan malah membuat mereka menjadi bahan pertunjukkan. Ini orang-orang pada ngapain sih ?! maling aja digebukin sampai mati, giliran preman mau nyakitin cewek malah didiemin, malah dijadiin bahan tontonan lagi.


“Gi..gini aja bang.. kalau misalnya aku gantiin baju yang lebih bagus lagi, gimana ?? gimana ??” Terpaksa dengan sangat Felitha sedikit menggunakan nada manis dan memelasnya itu, tanpa menyadari jika kondisi itu membuatnya semakin terdesak dan mungkin lebih buruk.


Lelaki yang diketahui bernama Anthony yang merupakan kepala preman yang cukup terkenal sadis dan kejam. Anthony melihat ekspresi dari Felitha mengeluarkan seringaian liciknya, memandangi seekor domba lemah yang ada di hadapannya sepertinya tidak berdaya, apa salahnya memanfaatkan kesempatan ini.


“Kalau buat kesepakatan aja gimana ??”


“Kesepakatan ??”


“Yup, Gue akan bebasin, dan gak akan mempermasalahin masalah baju dan masalah Lo nabrak Gue.”


Felitha tampak senang, akhirnya bisa berakhir damai dengan seorang preman, sepertinya dia akan menandai preman di depannya ini sebagai preman baik hati.


“Dengan syarat, Lo jadi pacar Gue.”


Oke, Felitha tarik pujiannya tadi, apa-apaan itu ?! jadi pacar ?! dari sosok menyeramkan dan mengerikannya itu. Ya memang sebenarnya kalau dilihat-lihat preman didepannya ini lumayan ganteng sih, dan keren. Untuk wajah gak terlalu burik lah, tapi tetep aja. Preman itu menyeramkan bagi Felitha, malah dia memikirkan jika dirinya mungkin bisa saja diperkosa atau malah diperlakukan kasar oleh Anthony jika menjalin hubungan dengannya.


“Pa..pacar ??”


“Mau gak ?!” Ujar Anthony sedikit tidak sabar.


“Err.. sebenarnya-“


Ucapan Felitha langsung terpotong merasakan seseorang menariknya kebelakang. Dan ternyata itu adalah Arjun menarik Felitha ke belakang tubuhnya seakan melindungi gadis itu di punggungnya. Tatapan tajam Arjun ke arah Anthony membuat sosok ketua preman itu terkejut bukan main, tapi sepertinya ini akan menjadi sebuah drama baru berkepanjangan karena Anthony dan Arjun saling mengenal satu sama lain.


“Oh.. Jadi pacar itu, Lo ?!” Ujar Anthony dengan sedikit sinis, dan seperti dugaan dari Felitha jika Anthony dan Arjun adalah musuh bebuyutan.


Felitha sepertinya merasakan sebuah ketegangan yang jauh lebih menyeramkan daripada cewek yang kepergok selingkuh sama pacar cowoknya, dan ini lebih menakutkan daripada marahnya mertua galak di dalam sinetron. Astaga kenapa malah membahas masalah sinetron seperti ini sih, lebih baik Felitha berdoa agar terjadi hujan secara tiba-tiba untuk membubarkan pertikaian di taman ini.


“Kasihan banget nasib tuh cewek, dapat cowok cacat kek Lo-“


Bugh !!


Nafas semua orang berhenti seketika, saat Arjun secara tiba-tiba melayangkan pukulan, dan dengan sigap bisa ditangkis oleh Anthony. Felitha semakin yakin, jika nama Anthony sebagai ketua preman Jakarta memang bukan kaleng-kaleng, dan menguasai beberapa taman dijakarta, bahkan mungkin satpol PP dan satpam taman saja bisa dihabisi dengan mudah.


Aura membunuh dari Arjun begitu kuat, dan di balas seringaian licik meremehkan dari Anthony yang membuat suasana penuh ketegangan terus menghiasi kedua lelaki yang masih pada posisi mereka masing-masing. Felitha tidak tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya.