
Hari ini akan menjadi sesuatu yang tidak pernah Felitha pikirkan sebelumnya. Setelah mereka bercanda gurai di dapur, tiba-tiba saja rumah mereka di datangi oleh pihak kepolisian, dan beruntung saja ada Nyonya Cantika yang langsung berada di ruang depan, untuk menemui para polisi itu secara langsung.
Sementara Felitha, Grace, Damar, dan juga Altan langsung menyusul dan melihat serta mendengarkan percakapan Nyonya Cantika dan salah seorang kepala polisi.
"Permisi, maaf menganggu anda, Nyonya Cantika. Saya mendapatkan laporan, mengenai hilangnya seorang perempuan bernama Lia Aby."
"Maaf, Lia Aby ?? disini memang ada pelayan bernama Lia, tapi.. Dia mengatakan kepada kami, jika dia bernama Lia Sally. Jika boleh tahu, bisa anda menunjukkan gambar wajahnya ??" Dengan sopan dan halus, Nyonya Cantika berbicara dan menjawab pertanyaan polisi itu. Tapi ada rasa bingung juga, karena nama orang yang disebutkan hanya mirip bagian depannya.
Lalu polisi itu menunjukkan gambar dan itu membuat yang ada di sana terkejut bukan main, kecuali Felitha yang masih tidak tahu wajahnya. Grace menutup mulutnya dan kaget, sementara Damar ?? entahlah ekspresinya sedikit bingung dan juga kaget, entah mana yang benar. Sementara Altan langsung maju dan berbicara kepadanya.
"Maaf, menganggu, memang benar dia bekerja disini sebagai pelayan. Dan dia memang sudah menghilang beberapa hari, mungkin anda bisa melihat ke kamarnya, jika menemukan sebuah petunjuk di sana." Ujar Altan mengusulkan, dan sepertinya usul itu diterima dengan baik.
Altan kemudian menunjukkan beberapa polisi untuk menuju ke arah kamar yang diduga milik Pelayan Lia. Disisi lain, Nyonya Cantika kemudian kembali berbicara dan bertanya kepada beberapa polisi yang tersisa di sana.
"Maaf, kalau boleh bertanya. Tapi apakah pelapor atas kehilangan Lia, adalah keluarga dari korban sendiri ??"
Polisi itu mengangguk, "Iya, orang yang melapor adalah ibu dari Lia Aby, yaitu Patmawati Aby."
Mendengar nama itu, Damar sedikit sinis dan berdecih seakan tidak suka, sementara Grace sendiri masih hampir tidak percaya, jika rekannya itu benar-benar menghilang ?? seperti ditelan bumi ?? benarkah ?? Felitha menatap Grace sembari bertanya.
"Grace.. Bukankah.. Dia adalah pelayan yang menjadi rekanmu ??"
"Iya, aku tidak percaya dia hilang begitu saja. Tapi.." Grace memotong ucapannya sendiri, dan membuat Felitha menjadi merasa penasaran dan bingung.
"Tapi kenapa ??"
"Memang sebelum dia hilang, dia sempat berkata kepadaku jika dia merasa tidak nyaman dan takut. Aku tidak tahu, jika itu menjadi ucapan terakhirnya sebelum hilang."
Felitha mengangguk, dia tahu siapa yang membuat pelayan Lia menghilang dan kemungkinan sudah meninggal. Yup, Felitha yakin jika itu adalah ulah kelima lelaki kembar itu, hanya saja Felitha tidak mungkin akan mengatakan dengan lantang kepada para polisi di sana, apalagi dihadapan Nyonya Cantika sendiri. Ditambah Felitha tidak memiliki bukti yang kuat, bisa-bisa dia dijebloskan ke penjara.
Tidak butuh waktu lama, para polisi dan Altan kembali menemukan beberapa petunjuk yang mengarah kepada hilangnya, Pelayan Lia. Kepala polisi itu kemudian kembali menatap ke arah Nyonya Cantika, dan juga Altan.
"Terima kasih atas kerjasama, Nyonya Cantika dan saudara Altan, ponsel dan beberapa catatan ini bisa menjadi bukti yang akan kami selidiki lagi. Tapi mohon maaf, karena mungkin kami akan masih harus menyelidiki di rumah ini, karena disini tempat terakhir korban sebelum menghilang."
"Tentu saja, anda bisa datang kemari jika penyelidikan diperlukan. Aku berharap jika korban akan ditemukan dengan kondisi yang baik." Ujar Nyonya Cantika dengan senyum ramah.
Percakapan keduanya berhenti, saat kepala polisi itu mulai berpamitan dan kemudian keluar dari sana. Sepertinya ini bukan pertama kali, rumah mereka kedatangan polisi, karena Nyonya Cantika tampak sangat tenang dan bahkan ekspresinya seperti sudah terbiasa dengan kondisi yang terjadi.
Disisi lain, Felitha, Grace, Damar, dan Altan kemudian beranjak beralih dari sana. Grace kemudian mulai kembali ke dapur untuk menjalankan tugasnya yaitu memasak, sementara Felitha sendiri penuh selidik dan tanda tanya, kenapa Altan dengan mudah memberikan bukti berupa handphone dan juga catatan dan bahkan memperbolehkan pihak polisi masuk ke dalam kamar bekas pelayan Lia.
Felitha menatap dan memberikan ekspresi penasaran serta memberikan tatapan tajam ke arah Altan di sana. Lelaki itu hanya terkekeh pelan dan menyeringai licik melihat tingkah Felitha yang mulai berani kepadanya, dan menjadi tantangan tersendiri.
"Ada apa sayang ??"
Felitha menatap tajam, "Masalah hilangnya pelayan Lia.. Apakah itu juga.. Karena ulahmu ??"
Altan kemudian memojokkan dan mengurung Felitha dengan dinding dan tubuhnya, kedua tangannya di samping kanan dan kiri seakan menutup jalan keluar dari sana. Altan kemudian berbisik dengan nada rendah di telinga Felitha, dan itu membuat sensasi geli pada tubuh gadis itu.
"Kau sangat pintar, sayang~ Tapi itu bukan hanya ulah ku saja."
"Ke..kenapa ??" Felitha berusaha menahan rasa takut dan geli dalam dirinya dan berusaha menatap mata indah yang mirip seperti warna mata Alto, yang terlihat indah tapi menyimpan sisi gelap yang menakutkan.
"Kau akan tahu nanti, sayang~"
Lalu Altan melepaskan Felitha, setelah mengecup bagian keningnya dengan perlahan. Lalu meninggalkan Felitha disana. Gadis itu hanya bisa menyentuh kening yang dicium Altan dengan rasa malu dan wajahnya memerah padam.
Sebenarnya Felitha mulai menyukai bahkan jatuh hati pada kelima lelaki itu, tapi sisi gelap dan psiko mereka membuat gadis itu sedikit ada perasaan takut, bagaimana jika mereka berlima akan melukainya atau melakukan hal buruk padanya ?? Tapi disisi lain, Felitha tetap ingin bersama dengan mereka, dan berusaha untuk memperbaiki sisi mental mereka yang rusak.
"Aku akan berusaha memperbaiki sifat kalian, dan merubah mereka." Ucap Felitha pada dirinya sendiri dengan menguatkan dirinya untuk tetap berada di samping kelima lelaki itu.
"Felitha, astaga !! aku mencari mu." Ujar Grace tidak lama datang, dan menemui sahabatnya itu.
Grace tampak membawa sebuah kotak paket dengan ekspresi terburu-buru karena sedari tadi mencari Felitha, dan tidak mendapati dimana gadis itu berada. Saat menemukan sahabatnya, rasanya Grace begitu senang dan bahagia bahkan sedikit berlari kecil untuk menemui gadis itu.
"Aku menerima paket, atas namamu." Ujar Grace.
"Terima kasih, Grace."
Felitha memang membeli buku secara online, buku psikologis yang meneliti jiwa, mental serta perilaku seorang psikopat. Di sana juga ada, bagaimana cara untuk menyembuhkan penyakit mental pada diri seseorang, yang berakhir membuat mereka kehilangan simpati dan empati.
~ ~ ~
***kayanya untuk cerita romance kurang kerasa ya, bumbunya.
lebih banyak mengenai sisi gelap si kembar, ya gimana kalian mau adegan romantis ?? yang suap-suapan ala-ala pasangan baru gitu ??
entar aku pikirin lagi coba ya, untuk adegan kaya gitu.. Oke sekian dari aku buat kalian semua.. Makasih :D***