(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Lima puluh dua



"Jadi.. Ada apa ini ??"


Adnan mendekati keempat saudaranya yang kini berada di ruangan santai, dan sepertinya sedang membahas sesuatu yang penting di sana. Jadilah dia datang karena ucapan Damar yang mengatakan jika Alto memanggilnya.


"Aku mendengar perkelahian Anthony dan Aarav kemarin, dan sepertinya Anthony mengalami cidera yang parah hingga masuk ke rumah sakit."


"Lalu ?? Apa hubungannya dengan kita ??" Ujar Adnan dengan acuh mengenai kondisi dari Anthony yang notabenenya adalah musuh dari mereka juga.


"Aarav, dia mengetahui jika kitalah yang telah membawa Felitha pergi." Ujar Arya.


"Ralat, kita hanya mengambil apa yang sudah sepantasnya milik kita, bukan membawa Felitha." Ujar Adnan.


"Dan dia berencana akan melakukan sesuatu kemari, malam ini." Lanjut Arya membuat Adnan mendengus kesal, apalagi rencana gila lelaki itu, dan tunggu.. Bagaimana mereka tahu rencana si gila itu ??


"Bagaimana kalian tahu ??"


"Rahasia." Ujar Altan kali ini menjawab membuat Adnan memutar matanya malas.


"Ya, aku tahu. Mata-mata kecil itu, bukan ?? Dasar licik !!" Ujar Adnan berbicara sok ketus dan kesal kepada para saudaranya.



"Ayo cepat dobrak !! Dan selidiki semuanya, pastikan kalian mendapatkan perempuan itu !!"


"Baik, tuan."


Suara pintu di depan di dobrak dengan keras, dan beberapa orang masuk ke dalamnya dan menyerbu bagian dalam, tapi suasana di dalam rumah begitu gelap seperti tidak ada cahaya yang masuk bahkan cahaya bulan sekalipun. Hingga seluruh lampu menyala dan memperlihatkan kelima lelaki itu berdiri seakan menyambut mereka dengan tangan terbuka meskipun di belakang mereka terlihat beberapa lelaki memandang tajam ke arah musuh yang berani datang masuk ke rumah tuan mereka.


"Selamat datang, Tuan Aarav. Ah, senang sekali menyambut mu kemari." Ujar Alto dengan nada ramah meskipun suasana di sana begitu sengit dan tidak bersahabat.


"Cukup berbasa-basi nya !! Dimana Felitha ?!"


"Oh, ada urusan apa kau dengan calon istri kami ??" Ujar Altan dengan santainya, semakin membuat suasana di sana semakin memanas dan emosi.


"Calon istri kalian ?? Sejak kapan Felitha adalah tunangan kalian ?!"


"Well, belum sekarang tapi aku harap kau datang pada tanggal 25 besok, dan aku akan memberikan undangan kepadamu." Ujar Arya dengan santainya, dan memberikan senyuman meremehkan dan tatapan sinis kepada Aarav.


Disisi lain.


"Maaf Felitha, aku harus membuatmu masuk ke dalam kehidupan kami." Ujar Tuan Tirta menyetir mobil berisikan, Nyonya Cantika, Felitha dan juga Grace.


Mereka tahu mengenai penyerangan yang akan terjadi, karena itu mereka segera menyelamatkan Felitha dan Grace untuk pergi dari rumah, dan membiarkan kelima lelaki juga Damar mengurus Aarav.


Disisi lain juga, Aarav tergila-gila kepada Felitha, dan dari sana juga lelaki itu akhirnya mengibarkan bendera pertarungan antara dia dan Keluarga Sagara. Felitha merasa sangat tidak enak, karena ulahnya membuat Keluarga Sagara bahkan harus merelakan rumah indah mereka menjadi tempat pertarungan. Tapi Felitha yakin, jika kelima lelaki pasti bisa menghadapi Aarav.


"Jangan begitu, cantik. Aku dan putraku tidak pernah berfikir kau pembawa bencana, justru sebaliknya aku merasa kasihan karena begitu banyak orang jahat yang menginginkanmu." Ucap Cantika dengan lembut dan rendah hati.


Felitha dan Grace semakin melupakan sisi gelap Cantika saat bertarung dengan pembunuh bayaran yang dikirim oleh Keluarga Sarawijaya. Kedua gadis itu selalu melihat sisi baik dan lembut Cantika kepada siapapun, karena memang sisi itulah yang lebih bersinar daripada sisi gelapnya. Semoga saja, setelah menikah sang ibu mertua lebih banyak memberikan sisi terang, daripada sisi gelapnya.


"Itu benar, Felitha. Kau tidak perlu khawatir, lagipula Keluarga Sagara dan Keluarga Cashelito tidak begitu akur dulunya, tapi kemudian aku menemukan Daniel Cashelito sendirian di rumah sakit." Ujar Tuan Tirta sedikit menceritakan mengenai salah satu anggota keluarga Cashelito yang sempat Felitha kenali.


"Aku mengenalnya, dia dulu pasien di rumah sakit ku, karena mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan. Tapi, dia kemudian di pindahkan ke rumah sakit berbeda setelah mengalami koma." Ujar Felitha menceritakan sedikit pengalamannya.


"Itu karena ulah Aarav." Ujar Cantika, membuat Felitha dan Grace terkejut bukan main.


"Daniel Cashelito bukanlah anak dari Nyonya Falma Cashelito, melainkan anak hasil perselingkuhan ayahnya. Aarav merasa sakit hati dan marah, karena ibunya malah menerima secara terbuka anak hasil perselingkuhan ayahnya." Ujar Tuan Tirta menjelaskan sedikit masalah keluarga yang dialami oleh Keluarga Cashelito.


"Awalnya aku merasa kasihan pada anak itu, pasti merasa tertekan karena mendapatkan adik dari perempuan lain selain ibunya. Tapi rasa kasihan dan iba ku hilang setelah mengetahui Aarav sendiri yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya, dan membuat saudaranya kecelakaan dan koma."


Cerita panjang itu membuat Felitha dan Grace merasa tertegun. Betapa menyeramkan nya seseorang ketika di rasuki perasaan dendam dan emosi, bahkan mereka menjadi buta dan menghabisi nyawa kedua orang tuanya sendiri. Kalau masalah hubungan Aarav dan Daniel mungkin memang tidak mudah, apalagi Aarav tahu siapa Daniel, dan siapa ibu kandungnya. Tapi melihat Aarav menghabisi nyawa kedua orang tuanya.. ?? Tidakkah itu terlalu berlebihan ?!


"Dia menjadi buta karena emosi dan dendam yang dia rasakan, padahal ibunya menerima Daniel dengan tangan terbuka, hanya saja Aarav yang masih belum mau menerimanya." Ujar Tirta menanggapi cerita dari istrinya itu.


"Ta..Tapi dimana Daniel ??"


"Dia masih koma, tapi dokter memperkirakan kesehatannya kembali normal. Mungkin besar dia bisa bangkit dari koma dalam waktu dekat. Karena itu, aku berjaga-jaga dengan memberikan bodyguard khusus untuk menjaganya." Ujar Tirta kembali menjawab sembari menyetir, hebatnya fokus lelaki itu bisa sempurna menjawab dan menyetir melihat ke arah depan.


"Kenapa harus di jaga ??" Tanya Grace kali ini merasa penasaran.


"Karena Aarav berencana menghabisi Daniel jika lelaki itu sadar dari koma."


Felitha dan Grace tidak percaya ini, dia masih belum puas dengan apa yang dia lakukan dan masih mengincar saudaranya itu ?? Tapi Felitha tahu betapa tidak waras nya lelaki itu, saat mendengarkan perkataan serta tatapan nya.


Itu membuat Felitha ingat, betapa berbahayanya lelaki itu dengan kegilaannya.


"Beruntung sekali, Felitha kau baik-baik saja saat bersamanya." Ujar Grace mengingat sahabatnya pernah di tangan sosok yang tidak waras itu, sementara Felitha terkekeh.


"Aku berterimakasih pada tubuhku, karena memberikan masa haid saat bersama dengannya." Ujar Felitha mengingat perutnya yang merasa nyeri dan sakit.


"Itu berarti satu-satunya musuh yang menghalangi adalah Aarav." Ujar Felitha mengingat bahaya terbesar mereka, dan untuk masalah Anthony, sepertinya Aarav bisa menyingkirkannya dengan mudah.


"Tidak juga, kau ingat Keluarga Sarawija ?? Dia yang dulu keras kepala ingin menikahkan Alto dengan putri mereka. Sepertinya dia juga akan kembali datang." Ujar Cantika menjelaskan musuh yang akan datang dengan nada santai, dan itu membuat Felitha dan Grace menggelengkan kepalanya, ada berapa banyak yang ingin menghancurkan mereka ?!