(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Keenam



Suara sendok dan garpu yang saling beradu menjadi sebuah pengisi di acara makan malam yang sederhana itu, tapi tidak bagi Felitha. Gadis itu hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Awalnya, Nyonya Cantika mengatakan hanya mengadakan makan malam sederhana, sebagai bentuk penyambutan Felitha yang bekerja disana, tapi nyatanya ini bukanlah makan malam sederhana saat melihat menu yang membuat dompetnya menangis.


Bagaimana tidak, disana disediakan steak daging sapi dengan ukuran besar untuk masing-masing setiap orang, ada lagi menu ingkung ayam goreng yang begitu besar, ingkung bebek bakar yang tersedia disana. Tidak lupa ada nasi yang juga tersedia di atas meja makan. Felitha menggelengkan kepalanya, sederhana apanya ?! ini sudah termasuk makan malam mewah.


“Felitha, Grace ambillah sebanyak yang kalian mau, tidak perlu merasa sungkan.” Ujar Cantika dengan ramah, dan sepertinya Felitha paham darimana sifat ramah dan rendah hati dari Damar. Yup, Nyonya Cantika benar-benar sosok yang sangat baik, lembut, dan juga ramah kepada siapapun, perempuan yang sudah berumur namun tetap terlihat cantik itu selalu menghormati dan menghargai siapapun yang ada didepannya.


“Mah, tidakkah ini terlalu banyak ?? mereka berdua bisa gendut nanti.” Ujar Damar yang sepertinya juga terkejut dengan hidangan besar yang tersedia di depan matanya, Damar memang sepertinya memiliki selera humor yang cukup baik.


“Katakan pada orang, yang menghabiskan hampir 5 piring saat makan malam kemarin.” Sindir Adnan, syukurlah anak itu tidak lupa menggunakan alat bantunya lagi, jadilah mereka tidak perlu menggunakan bahasa isyarat atau membawa kertas untuk berbicara padanya. Err.. kecuali Arjun.


“Kemarin adalah masa lalu, dan sebaiknya masa lalu di kubur bukan di kenang.” Ujar Damar sok bijak, padahal aslinya hanya untuk menutupi aib nya yang dibuka oleh Adnan di depan Felitha dan Grace.


“Sudah..sudah.. Daripada berdebat, lebih baik kita makan.” Ujar Tuan Tirta mulai melerai kedua putranya sebelum yang lain ikut-ikutan, dan beruntung perdebatan kali ini, Arya tidak ikut join. Bisa bahaya jika lelaki yang satu itu ikutan acara debat. Mereka baru bisa menikmati makanan setelah satu jam, jika itu terjadi.


Dan setelah itu ketenangan kembali melanda mereka, masing-masing tampak sibuk dengan makanan mereka, tapi yang membuat Felitha heran adalah Alto yang bisa melakukan kegiatan seperti normal seakan dia tidak memiliki keterbatasan fisik apapun. Disisi lain, Alta yang menikmati makanan dengan perlahan dan terlihat sedikit kaku. Sebenarnya dalam pikiran Felitha sudah sedikit menangkap apa saja yang di derita oleh kelima lelaki itu, tapi dia masih belum mengetahui kondisi secara jelas. Mungkin dengan berjalannya waktu dia bisa mendapatkan petunjuk, atau mungkin bertanya lebih dalam kepada Damar.


Setelah menyelesaikan makan malam, Felitha dan Grace sebenarnya ingin segera kembali ke kamar mereka, karena masih merasa tidak nyaman dengan kedudukan status mereka yang hanya seorang pekerja di rumah ini, tapi Nyonya Cantika memang sengaja menyuruh keduanya untuk tetap tinggal di meja makan.


Dan sepertinya rutinitas biasa setelah makan, adalah perbincangan antara anggota keluarga dari satu dan yang lainnya. Anehnya kenapa Felitha dan Grace malah tetap ditahan jika mereka hendak membicarakan masalah keluarga ??


“Alto… Keluarga Sarawija mengatakan telah mendapatkan pendonor untukmu.” Ujar Tuan Tirta mencoba berbicara pada putra pertamanya itu, tapi yang di ajak bicara tetap cuek dan tidak tertarik.


“Lalu ??”


“Mereka menawarimu untuk-“


“Tidak.”


Tuan Tirta hanya menghela nafasnya, ini sudah kepuluhan kalinya, putranya enggan untuk menerima bantuan pendonor mata, padahal ayahnya mencoba memperbaiki kondisi dari putranya itu agar mendapatkan hidup lebih baik, tidak hanya Alto, bahkan kelima lainnya selalu menolak tawaran pendonoran dari orang lain.


“Tapi.. Ini demi kebaikanmu juga.”


“Kebaikan ?? apakah mereka benar-benar tulus padaku ?? apakah mereka bersedia memberikan pendonor tanpa syarat apapun di belakangnya ??” Ujar Alto sedikit tidak suka dengan ucapan ayahnya itu.


“Mereka bersedia memberikan pendonor mata itu, jika aku menikahi putri mereka, bukan ?? tidak sudi ! aku lebih baik hidup dalam kegelapan daripada harus menikah dengan perempuan itu !!” Lalu Alto berdiri dari kursinya dan kemudian beranjak pergi dengan sedikit emosi kepada ayahnya.


“Kau terlalu keras padanya, sebaiknya jangan memaksanya. Bukankah kau tahu, Alto paling tidak suka di paksa.” Dengan lembut, Nyonya Cantika sedikit menghibur suaminya yang memang selalu saja berakhir dengan emosi saat membicarakan masalah pendonoran dan masalah perjanjian pernikahan.


Disaat itulah, Felitha sedikit mengaggumi sosok majikannya sendiri, yang memiliki sifat lembut, baik dan ramah. Sepertinya Felitha harus belajar banyak dari Nyonya Cantika jika dia menikah dengan seseorang.


 



“Hey !!”


Sebuah suara menghentikan pergerakan langkah kaki Felitha yang hendak menuju ke arah tangga, setelah selesai makan malam. Rasa perutnya benar-benar sangat penuh dengan makanan, berharap saja dia tidak memuntahkan kembali makanan yang dia makan. Gadis itu menolehkan kepalanya mendapati sosok lelaki yang sudah dia kenal, yaitu Adnan. Akhirnya salah satu dari mereka mulai berbicara dengan Felitha, tapi gadis itu masih sedikit sangsi untuk bisa mendekati Alto yang terlihat menakutkan saat sedang marah.


“I..iya tuan ??” Sebaiknya dia tetap bertingkah sopan, takut jika nantinya dia akan terkena masalah mengingat kelima lelaki itu terlihat cuek dan datar. Adnan saja yang berbicara padanya juga terlihat acuh.


“Apa kau yakin dengan pekerjaan ini ??”


Felitha mengangguk dengan mantab, mendengarkan pertanyaan dari lelaki di depannya. Iya, gadis itu sudah memantabkan tekadnya, apalagi mendengarkan ucapan dari Damar yang begitu mengharapkan bantuan dari Felitha.


“Aku yakin !”


Pernyataan dari Felitha membuat sedikit rasa terkejut dari Adnan, tapi lelaki itu kemudian memberikan senyuman yang bisa dikatakan sebagai seringaian kecil ke arah Felitha, dan jujur itu membuat gadis itu sedikit merasa takut (??)


“Baiklah, tapi-“


Adnan memotong ucapannya sendiri dan kemudian berjalan mendekati Felitha, sedikit ada atmosfer yang berbeda saat Adnan mendekati Felitha, sosok lelaki itu kemudian berbicara dengan nada setengah berbisik kepadanya di depan wajah Felitha, dan lagi-lagi senyuman miring penuh misteri itu terlukis disana.


“Aku hanya ingin memperingatkan, kami tidak sebaik yang kau kira.”


Perkataan itu membuat reaksi bingung, penasaran dan juga sedikit merinding. Siapa yang dimaksud kami ?? apakah lima bersaudara kembar itu ?? atau seluruh Keluarga Sagara ?? tapi apa maksud perkataanya itu ??


“Jadi, berhati-hatilah.. Felitha~”


Lalu Adnan pergi berlalu dari hadapan Felitha yang membuat gadis itu merasa jauh lebih aneh dengan perkataan dan ucapan dari salah satu sosok lelaki itu. Gadis itu terpaku di tempat, tapi tidak menutup kemungkinan jika nanti akan ada banyak rintangan dan halangan untuk melakukan tugas ini. Ah biarlah !! Felitha tidak akan peduli dengan rintangan apapun, dia tetap akan melaksanakan tugas dan pekerjaan ini.