(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketujuh belas



Felitha berjalan dengan santai, kini dia memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kelima lelaki itu, kemarin dengan Arya, gadis itu juga mulai dekat dengan sosok lelaki yang memang sedikit dingin, saat Arya mengalami kesulitan karena barangnya terjatuh didepannya, Felitha membantunya dan sejak itu dia juga mulai dekat dengan lelaki yang mengalami kelumpuhan dibagian kaki. Untuk Altan, ya Felitha sempat menolak ajakannya untuk menjadi model lukisan dan tetap menjalankan misi sebagai perawat yang membantu mereka secara psikis atau fisik, meskipun mereka cukup diakui sosok lelaki yang sangat mandiri, jarang sekali mereka meminta bantuan Felitha, tapi mereka terkadang membutuhkan bantuan dari Felitha.


Adnan juga mulai terkadang mengajak bicara dan mulai berdekatan juga dengan Felitha. Jujur sedikit demi sedikit hubungannya cukup baik dengan berjalannya waktu. Disaat yang bersamaan, Felitha mulai merasakan hubungan antara Grace dan juga Damar, keduanya mulai terlihat sering berbicara satu sama lain. Anehnya, Nyonya Cantika justru mendukung hubungan Damar dan Grace secara tidak langsung, dengan terkadang menyuruh Grace untuk membantu Damar yang hendak membereskan gudang, dan beberapa pekerjaan lainnya. Pekerjaan yang sudah dia jalani selama hampir 2 bulan ini terasa mulai menyenangkan, meskipun… beberapa hal aneh juga terjadi, tapi Felitha terkadang berfikir terlalu positif sehingga dia melupakan beberapa kejadian aneh yang juga berada disana.


Seperti halnya masalah pistol dan botol racun yang ditemukan dalam laci milik Alto, Felitha masih belum mendapatkan jawaban yang pasti mengenai kedua benda berbahaya yang ada di dalam ruangan milik Alto.Tapi Felitha mencoba tidak mengambil pusing masalah keanehan yang terjadi, dan memilih untuk menikmati pekerjaan yang ternyata lebih mudah dari yang dia pikirkan, meskipun beberapa hal misterius itu cukup membuatnya merinding ketakutan. Kakinya melangkah dengan santai, hingga..


Bruk.


Astaga, lagi-lagi aku menabrak seseorang batin Felitha, meskipun dia tidak terjatuh dan tabrakan itu tidak terlalu kencang, bahkan mungkin lawan yang menjadi korban tabrakan tidak terjatuh,tapi tetap saja Felitha merasa sangat tidak enak, dia kemudian menundukkan kepalanya, was-was jika sosok yang dia tabrak marah kepadanya.


“Maafkan aku.. aku benar-benar tidak sengaja.” Ujar Felitha dengan penuh rasa bersalah.


“Tidak apa.” Suara asing yang tidak pernah dia dengar, Felitha mengangkat kepalanya, dan melihat ternyata pelayan lain yang sedang dia tabrak. Pelayan yang tidak pernah dia tahu, karena terkadang pelayan lain jarang sekali muncul, entah kenapa. Hanya Grace yang tampak aktif kesana dan kemari, tapi bukan berarti semua pekerjaan dilimpahkan pada Grace, sosok itu hanya diberikan tugas yang tidak terlalu berat seperti membereskan gudang kecil, menyapu, mengepel, memasak, untuk masalah kebun dan juga lantai atas, semua dikerjakan oleh pelayan lain yang tidak pernah terlihat secara langsung oleh Felitha.


“Kalau begitu, aku permisi.” Felitha sedikit tidak nyaman dengan tatapan dari pelayan itu, entah kenapa membuatnya sedikit takut dan khawatir. Gadis itu berfikir akan segera berlalu darinya, tapi sebuah suara dari pelayan itu membuatnya merasa heran dan bingung.


“Jangan tertipu dengan sifat baik mereka, kau tidak akan pernah tahu apa yang akan mereka lakukan padamu.”


Lalu pelayan itu pergi berlalu dari sana, ada apa dengan ucapan dan kata-kata itu. Dan siapa yang dia maksud, apakah kelima lelaki itu ?? Damar ?? atau Tuan Tirta dan Nyonya Cantika ?? karena hampir semua yang ada di dalam rumah itu sangat baik dan ramah. Jadi siapa yang dia maksud ?? Felitha tidak mau berfikir terlalu lama, jadilah dia segera menuju ke ruangan yaitu perpustakan mini milik Arya, rupanya lelaki itu diam-diam sangat suka membaca, tidak hanya Arya tapi juga Adnan hanya saja buku favorit mereka itu berbeda. Arya sangat suka membaca mengenai pengetahuan tentang kesehatan dan juga tertarik pada hal-hal berbau sains. Bahkan sempat ingin membuat laboratorium mini untuknya tapi di tolak oleh keempat saudara kembarnya, mereka khawatir jika Arya mungkin akan malah menciptakan bahan peledak seperti bom dari bahan kimia.


Alasan cukup konyol memang, tapi kenyataannya banyak yang tidak terima dan merasa keberatan, jadilah laborat mini itu akhirnya ditunda, tapi Arya masih suka membaca buku dan bahkan meminta perpustakaan mini untuk menyimpan buku dan beberapa dokumen penting. Dan biasanya, Felitha akan membantu membereskan beberapa dokumen yang berserakan tidak menentu, seperti saat ini.


“Akhirnya kau datang, aku pikir Alto kembali mencegatmu kemari.” Ujar Arya menutup buku di depannya saat melihat Felitha datang.


“Yeah, hanya saja kali ini cukup banyak. Aku akan membantumu, jika kau kesulitan.”


“Ti..tidak perlu, Kak Arya. Biarkan aku saja yang melakukannya.” Ujar Felitha, dia teringat bagaimana kesulitannya saat Arya terjatuh dari kursi rodanya, dan Felitha tidak bisa membantu lelaki itu untuk kembali ke kursi rodanya.


“Huft.. andai saja Anand bisa membuatkan aku kaki palsu, mungkin aku tidak akan kesulitan melakukan aktivitas seperti saat ini.” Ujar Arya, jujur saja dia mendengarkan nama Anand beberapa kali tapi tidak pernah melihat sosok yang disebutkan namanya itu.


Setiap dia bertanya, maka mereka akan menjawab sebagai dokter hebat yang membantu menciptakan beberapa alat bantu, seperti tangan palsu Altan, lalu alat bantu pendengaran bagi Adnan. Sayang dia belum bisa menciptakan alat untuk membantu Arjun dalam berkomunikasi, membantu Alto untuk bisa setidaknya mengetahui kondisi di depannya, dan kaki palsu untuk Arya. Tapi dari ucapan kelima lelaki itu, Anand memang jarang sekali datang kesana, sebelum dia bisa menciptakan alat lagi untuk membantu yang lain


Felitha merasa sangat penasaran akan sosok Anand yang dikatakan oleh kelima lelaki dan juga Damar sendiri. Kalau dari ucapan mereka, sosok Anand memiliki sifat dan karakter seperti Damar, yang ramah dan baik serta begitu menyebalkan bagi Alto, dan Altan.


“Tidak apa, Kak Arya aku bisa sendiri. Kau disini saja..” Ujar Felitha seakan dia tidak mau Arya kembali mengalami sesuatu yang buruk disana, Arya tersenyum tipis dan berbicara dengan nada rendah.


“Andai saja aku menikah denganmu, betapa beruntungnya aku.” Arya berbicara pada dirinya sendiri dengan nada rendah, bahkan Felitha tidak mendengar dengan jelas ucapan itu.


“Eh, Kak Arya ngomong apa tadi ??”


“Oh aku cuma bilang, andai saja aku bisa berjalan bebas sepertimu, betapa beruntungnya aku.”


“Aku yakin, pasti Kak Arya bisa berjalan normal seperti sedia kala.” Ujar Felitha tersennyum polos bak anak kecil, dan itu membuat Arya tertawa pelan.


Perilaku unik dari Felitha terkadang menjadi hiburan tersendiri bagi kelima lelaki itu, juga Arya yang mulai menyukai sisi polos dan lugu dari Felitha.