(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Kedelapan



“Huft… aku terlambat !!”


Felitha bangun terlalu siang, apa yang terjadi padanya hingga terbangun saat jam 12 siang, dan anehnya dia tidak mendapati siapapun. Tapi Felitha tidak peduli, yang harus dia lakukan adalah menuju ke dalam ruangan milik Alto, sesuaii janji kemarin malam dengan lelaki itu. Beruntung jarak antara ruangan kamarnya dengan ruangan pribadi milik Alto tidak jauh, sehingga Felitha tidak merasakan terlalu lelah. Dia segera mengetuk pintu ruangan itu, dan memanggil sosok lelaki itu.


“Tuan Alto..?? eh ??”


Pintu ruangan itu terbuka, saat Felitha hendak mengetuknya, dengan perlahan Felitha membuka pintu ruangan dan terkejut melihat apa yang ada di depan matanya itu. Di depan sana terlihat Alto berdiri membelakanginya, dan di menatap ke arah tengah ruangan. Disana terlihat sosok perempuan yang tidak dikenali oleh Felitha, sedang terikat kuat dengan tatapan menangis dan memohon ke arah Alto, mulutnya tersumpal oleh kain sehingga dia tidak bisa berkata apapun.


“Akhirnya.. kau datang Felitha..”


Sosok itu membalikkan badannya, terlihat pakaian milik Alto yang berwarna serba putih itu ternodai oleh banyak bercak darah, Felitha menyadari jika Alto tidak menggunakan kain penutup matanya, tapi sosok itu memejamkan matanya dengan kelopak mata miliknya, dan tersenyum miring sembari mengangkat sebuah pisau yang sudah berlumuran darah. Felitha menutup mulutnya dan terlihat sangat takut dan panik, tidak hanya itu.


Felitha menyadari jika di dinding terdapat 5 kanvas kosong yang sudah terkena bercak darah, dan juga lantai ruangan dipenuhi dengan darah disana. Gadis itu berusaha keras untuk tidak berteriak meskipun rasa takut menjalar dalam tubuhnya, ketakutan itu terjadi saat Alto menjulurkan pisau ke depan seakan meminta Felitha mendekatinya dan menerima pisau itu.


“Felitha.. lakukan tugas pertamamu, congkel mata wanita itu.”


“A..apa ??”


“Untuk.. Menggantikan mataku.”


Alto membuka matanya memperlihatkan bola matanya yang hanya berwarna putih tanpa ada pupil, membuat Felitha tidak bisa menahan diri dan kemudian berteriak dengan keras.


 


“AAHHHHHH !!!”


 



“Astaga !!”


Felitha membuka matanya dan menyadari, itu adalah mimpi. Felitha kemudian mengatur nafasnya sendiri karena merasakan sensasi yang benar-benar terasa nyata. Matanya menatap waktu menunjukkan jam 4 pagi, dan dia sudah mendapatkan mimpi seburuk ini.


“Aku pasti lupa berdoa sebelum tidur.” Lirih Felitha dengan rasa panik yang menjalar dalam dirinya sendiri. Ini benar-benar gila !! batin Felitha saat mengingat mimpi buruk yang aneh itu. Gadis itu kemudian mematikan AC yang masih hidup di kamarnya.


Jangan salah, bahkan mungkin kamar pelayan juga disediakan pendingin ruangan seperti ini, sepertinya Keluarga Sagara terlampau kaya dan sukses sehingga mereka tidak pelit untuk membagikan sedikit kemewahan bagi para pelayan atau pekerja di rumah itu.


Felitha berfikir, untuk ke dapur, karena mimpi buruk itu membuatnya merasakan rasa haus yang luar biasa. Gadis itu kemudian bangkit dari kasur dan segera keluar dari kamarnya sendiri. Terlihat suasana yang masih sepi dan gelap karena masih belum ada mentari dijam seperti itu. Matanya melirik ke arah pintu ruangan pribadi milik Alto, tapi dia kemudian menggelengkan kepalanya. Dan tetap yakin jika itu hanyalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi. Kakinya kemudian menuju ke arah tangga dan menuruni setiap anak tangga.


Singkat saja, Felitha berhasil sampai di dapur dan mendapati Grace sudah berada di dapur untuk mempersiapkan bahan memasak. Gadis pelayan itu terkejut melihat Felitha sudah terbangun di jam yang masih pagi buta seperti ini.


Felitha mengangguk, “Aku mimpi buruk, jadi kebangun dan gak bisa tidur lagi.”


“Lupa doa nih, makanya mimpi buruk. Ya udah, duduk dulu aja. Aku sediain segelas susu.”


“Eh.. gak usah.”


“Gak papa, santai aja. Aku kadang juga ngambil minuman kok, mau anget atau dingin ??”


“Dingin aja, gak papa.”


Felitha duduk di sebuah kursi di meja makan mini, sepertinya itu meja khusus untuk makan para pelayan dan pembantu yang ada disana, karena bentuknya yang kecil dan hanya terdiri dari 4 kursi saja.  Tidak lama, Grace datang membawakan sebuah segelas susu putih yang dingin, dan menaruhnya di depan Felitha.


“Eh, Grace, pelayan yang lain kemana ?? kok aku cuma tahu, kamu yang kerja disini ??” Ujar Felitha dengan rasa penasaran karena tidak melihat pelayan lainnya.


“Ada kok, cuma ya… mereka tuh pendiam dan gak terlalu suka nunjukin diri.” Ujar Grace menjelaskan dengan sedikit rasa bingung diakhir.


“Masalahnya aku juga baru kerja disini, baru 2 mingguan lah, tapi aku juga heran sih. Jarang banget ketemu pelayan lainnya, berpapasan aja cuma beberapa kali.” Ujar Grace yang sepertinya sedikit bertanya dan menjelaskan keanehan pelayan lainnya yang jarang sekali, atau bahkan tidak pernah bertemu sejak pertama Felitha masuk disini.


“Kalau sifat Tuan Alto, atau  lainnya, kaya gimana ??” Tanya Felitha dengan sedikit meneguk segelas susu di depannya sembari menunggu jawaban dari Grace yang tampak memberikan ekspresi seperti berfikir sejenak, dan memberikan jawaban yang memang belum pasti.


“Kalau menurut aku sih, mereka itu baik kok. Emang kesannya kek dingin, angkuh, dan cool gitu. Tapi baik, gak pernah marah, bentak. Seumur hidup kerja sebagai pelayan atau pembantu, kerja di sini itu enak banget, kita termasuk beruntung kerja di Keluarga Sagara.” Ujar Grace tersenyum dengan riang, dia berfikir sepertinya memang perlakuan mereka itu adil kepada siapapun, dan ramah kepada orang lain.


Tapi tidak menutup fakta, disini terlihat sisi misterius yang sangat kuat dan entah kenapa itu membuat Felitha semakin penasaran dan bingung. Terlebih tingkah dari kelima lelaki itu, apakah mereka bersifat sok misterius hanya untuk membuat Felitha tidak betah bekerja disana ?? atau memang menyimpan sesuatu dari balik topeng yang dingin dan acuh itu. Mata Felitha memandang ke arah Grace yang tengah memotong sayuran dengan pisau dan seakan mempersiapkan masakan untuk sarapan nanti.


“Itu.. yang masak, cuma kamu ??” Tanya Felitha menunjuk ke arah bahan makanan yang ada di depannya.


Grace mengangguk, “Pagi ini yang sarapan Cuma Tuan Tirta sama Nyonya Cantika, dan berpesan minta di buatin soup buat dua orang. Lagian pelayan lain tugasnya membersihkan dan membereskan beberapa ruangan.”


Felitha mengangguk, dia kemudian kembali meminum susu di depannya. Pikiran yang terlalu kacau membuat Felitha tadi sempat tidak bisa menikmati segarnya susu putih dingin di depannya itu. Meskipun masih pagi buta, tapi karena memasuki musim panas, membuat Felitha tidak kedinginan hanya karena minuman dingin. Grace yang melihat Felitha sudah menghabiskan susu di gelasnya hanya terkekeh pelan, ada rasa senang saat mendapati sosok perawat yang bekerja disini ternyata masih sangat muda dan bersifat ramah, jadilah Grace tidak merasa kesepian lagi. Apalagi pelayan lainnya tampak cuek, acuh dan juga tidak pernah berbicara padanya.


“Taruh aja gelasnya disitu, ntar aku cuci sekalian habis masak. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja, ntar aku kasih lagi.” Ujar Grace saat melihat Felitha menaruh gelas yang sudah kosong itu di meja.


“Okee, makasih ya.. . eh, Tuan Alto biasanya bangun jam berapa ?? aku sebenarnya ada panggilan di suruh keruangannya pagi ini.”


“Biasanya sih, ini udah bangun. Coba cek di ruang santai, biasanya dia udah nyantai disana.”


“Oke.. makasih Grace..”