(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Keduapuluh delapan



"Jadi, gadis itu sudah mengetahui sisi gelap kalian ??"


"Anand, kau sudah bertanya hampir 10 kali lebih, dan kami sudah menjawab dengan kalimat yang sama ?!" Ujar Adnan dengan ketus, mendengar pertanyaan sama yang diajukan lebih dari 10 kali.


"Bagaimana tidak ?! Aku benar-benar kaget, ada perempuan yang masih betah dengan 5 iblis kejam seperti kalian." Anand hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tahu sisi buruk kelima lelaki itu, tapi dia tidak mengatakan kepada siapapun, dan lagipula dia sudah lama mengenal kelimanya.


"Kita memang iblis kejam, tapi kita memiliki pesona kuat untuk mengikat semua orang itu kepada kami." Ujar Altan dengan sombong dan angkuh, sebenarnya itu semua adalah candaan semata dan tidak memiliki maksud menyindir satu sama lain.


"Aku tidak tertarik dengan kalian." Ujar Anand meledek mereka.


"Aku bilang gadis, bukan kau !"


"Tidak, kau bilang 'semua orang' tapi aku tidak." Anand menjulurkan lidahnya meledek Altan, dan sosok yang diledek hanya memutar matanya malas menatap ke arah Anand, sembari memberikan jari tengah.


"Sudahlah, kalian berdua." Ujar Arya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua lelaki itu berdebat konyol di tengah pembicaraan mereka.


"Oh iya, apakah penyihir perempuan itu masih hidup ??" Tanya Anand dengan sedikit penasaran.


"Tentu saja, dia sengaja mengirim putri kesayangannya kemari, dan kami mengirimnya ke neraka." Ujar Arya sembari menyeringai licik menunjukkan pisau miliknya itu.


"Jangan lupa, kirim ibunya juga ke neraka. Biarkan mereka berkumpul bergembira dalam lava panas."


"Tentu saja, tinggal menunggu waktu."


"Lihat, sudah aku bilang kalian iblis kejam. Tapi.. Bagaimana bisa gadis itu menutup mulut, dan bisa terjebak dalam pesona buruk kalian ?! Jangan-jangan kalian ke dukun, buat melet itu gadis ?!" Anand menunjuk ke arah Adnan, Altan dengan tatapan penuh curiga, meskipun sebenarnya itu hanyalah candaan untuk menggoda dan membuat marah mereka.


"Sembarangan !!" Adnan langsung memukul kepala Anand dengan dokumen di tangannya, kesal. Seenaknya saja, ke dukun buat melet Felitha, bahkan dengan satu tatapan saja sudah membuat para gadis berlomba-lomba untuk mendapatkan mereka. Apalagi kalau tahu, kondisi fisik mereka sudah tertutupi dengan teknologi milik Anand yang canggih dan begitu maju.


"Kita pasang foto di instagram aja, pasti like nya jutaan. Ngapain pakai dukun, coba." Ujar Altan.


"Udah.. Udah.. Mending sekarang, kita diskusi hal yang penting." Ujar Arya menengahi kembali kedua saudara dan Anand dalam berdebat.


"Oh iya, Arjun... Aku minta maaf, sebenarnya sih aku ada alat yang mungkin bisa membantumu mendapatkan kembali suara."


"Lha ?! Arjun emang kehilangan suara ?! Ini anak ngelindur kayanya."


"Eh bentar.." Anand terdiam, mengingat kembali apa yang terjadi pada Arjun.


Mohon maklum, pasien Anand tidak hanya mereka berlima saja, ada ribuan penyandang disabilitas yang membutuhkan teknologi buatannya, seperti tangan buatan, kaki buatan, dan bahkan alat bantu pendengaran. Jadilah, Anand terkadang lupa mengenai kondisi fisik, dan juga penyebab mereka mengalami semua itu.


"Oh iya.. hehehehe.. Maaf Arjun, tapi untuk sementara belum ada cara untuk mengobatimu." Anand tertawa kaku saat ketiga lelaki itu menatapnya datar, sementara Arjun hanya bisa menepuk wajahnya sendiri.


Dokter hebat sih, tapi kadang kumat Batin Arjun dengan mengelus dadanya sendiri, mendapati dokter pikun didepannya itu.


"Kumat lagi, dah pikunnya." Celetuk Arya.


"Ya maaf, pasien aku gak cuma kalian berlima. Sorry, aku udah selingkuh ribuan kali dari kalian." Ujar Anand dengan nada dibuat-buat, membuat Altan, Arjun, Arya, dan Adnan menatapnya dengan tatapan jijik.


"Masih suka Felitha ya.." Ujar Arya dengan menenangkan dirinya sendiri.


"Bodoh amat, udah sana tidur sama puluhan orang, gak masalah sih." Sinis Altan kepada Anand.


"Tunggu bentar.. Anand.. Kamu dapat informasi sesuatu dari penyihir itu ??" Akhirnya, Alto membuka suaranya setelah sekian lama diam mendengarkan celotehan tidak bermanfaat dari ketiga saudaranya yang dia anggap sedikit gila dan tidak waras.


"Gak terlalu yakin sih, cuma.. Hati-hati aja, dia kayanya ada kerjasama si Anthony itu. Btw Anthony itu siapa sih ??" Ujar Anand mendengar nama Anthony sebagai kepala preman, tapi bukan orang sembarangan.


"Lho, belum tahu informasi ??"


"Emang sejak kapan kalian memberikan informasi mengenai penyihir itu. Sekalinya ngasih kabar yang ditanyain masalah, 'Kapan datang ke Jakarta ??'." Ujar Anand sedikit berdecih, ya memang tugas dia itu sebagai dokter sih, hanya saja..


Anand juga punya pekerjaan sampingan lain.


"Ya maaf, jadi Anthony itu putra kesayangan kanjeng ratu Patmawati Aby." Ujar Altan dengan nada penuh sindiran di sana.


"Wihh.. saudara kalian dong, salam dulu ntar kalau ketemu."


"Najis." Ujar Arya dengan ketus, dan itu membuat Anand malah terkekeh pelan di sana.


"Jadi.. Anand kau mengetahui kedekatan mereka berdua ??" Tanya Alto dengan serius.


Sepertinya hanya sosok Alto saja yang terlihat serius dan lebih memilih untuk membicarakan misi dan tugas mereka, sementara lainnya terkadang sibuk bercanda dan menghina satu sama lain. Astaga, memang hanya Alto yang cukup waras disini.


"Yup, seperti yang sudah kau tahu. Aku menyelidiki kedekatan mereka, meskipun tidak terlalu detail. Ada apa ??"


"Aku ingin kau terus menyelidiki mereka. Karena Patmawati mulai mengibarkan bendera perang." Ujar Alto dan membuat tanda tanya besar bagi Anand.


Barulah Altan menceritakan kejadian pagi tadi, dimana para polisi datang dan adanya laporan hilangnya pelayan Lia yang tidak lain adalah putri Patmawati yang sengaja dikirim dengan misi khusus. Tapi sayang, misi itu gagal setelah kelimanya membunuh dan menyiksa secara sadis gadis malang itu. Anehnya, pihak polisi sama sekali tidak mencurigai siapapun, terlebih akting Altan yang benar-benar memuaskan.


Anand mendengarkan cerita itu dengan seksama, dan tampak menikmati peperangan yang mungkin akan mulai terjadi di sana. Ahh~ Andai saja Anand bagian dari keluarga Sagara, dia bisa langsung mengajukan perang khusus kepada Patmawati.


"Para polisi itu kalah pintar dengan Felitha, gadis itu bahkan langsung mengetahui siapa pelaku dibalik menghilangnya pelayan sialan itu." Ujar Altan mengingat ekspresi lucu Felitha memergokinya.


"Tentu saja, dia tahu sisi gelap kalian ! Kalau para polisi tahu mengenai sisi gelap kalian juga, mungkin dia akan langsung memasukkan kalian berlima ke penjara." Ujar Anand dengan memutar matanya malas, yang benar saja.


"Iya, Anand sayang~ aku tahu kau cemburu."


"menjijikan." Kini Anand yang memberikan ekspresi jijik pada Altan yang menggunakan nada menggoda dibuat-buat kepadanya.


Bahkan jika dia perempuan, Anand pasti akan menampar langsung wajah Altan yang menyebalkan itu dengan tangannya.


"Anand." Panggil Alto yang duduk di tengah-tengah sana.


"Ya ??"


"Aku punya misi khusus untukmu."


~ ~ ~


*Hahahahaha Author putus dulu ya disini..


BTW, Guys.. jangan bingung dengan nama tokoh yang semuanya pakai huruf A di bagian depannya.


Gak papa, suka aja ngasih nama A semua. Ntar kalian biar bingung 😂✌️


Oh iya, sebelumnya aku minta maaf, cuma bisa update sehari sekali aja. Tapi aku usahain biar bisa update setiap hari, cuma ya sehari update satu chapter.


Udah sekian aja dari aku ya..


Salam*