
***warning !! adegan berdarah !! Author masih warning sebelumnya !!
dan maaf Author nyalain tanda untuk dewasa, karena berisikan adegan pembunuhan sadis*** !!
Sebuah ruangan yang cukup gelap, hanya sebuah lampu yang menerangi satu lokasi, dan penerangan lampu yang tidak terlalu terang memperlihatkan kondisi yang cukup mengenaskan dan mengerikan, disana terdapat beberapa alat atau benda tajam seperti pisau lipat, pisau daging, serta beberapa senjata seperti kapak berukuran kecil hingga besar, beberapa alat lainnya juga ada dan seluruh benda mengerikan itu berlumuran dengan darah, bahkan lantai dibagian bawah juga digenangi dengan darah yang membuat aroma amis tercium kuat disana. Terlihat sosok perempuan dengan tubuh mengenaskan begitu banyak luka berdarah seperti cambukan dan juga sayatan pisau yang membuat seragamnya robek sana sini dan berwarna merah akibat darah, bahkan satu kakinya pincang tidak bisa digerakkan.
Perempuan itu memandang pelaku yang telah melakukan penyiksaan kejam itu kepadanya, sosok itu tidak bergeming dan hanya terdiam.
“Kau… manusia iblis !!” Perempuan itu memandang tajam sosok lelaki didepannya yang tidak bergeming sedikitpun disana, lalu sosok itu berbicara dengan nada rendah dan tersenyum miring seakan mengejek.
“Benarkah ?? bagaimana denganmu ?? seorang pelayan yang berusaha meracuni majikannya sendiri ?! jangan berfikir karena aku tidak bisa melihat, bukan berarti aku bodoh. Nyatanya aku lebih berbahaya dari seekor ular.” Ujar lelaki yang tidak lain adalah Alto sendiri yang terkekeh licik disana.
Ruangan yang mereka tempati saat ini adalah ruang bawah tanah, yang dimana memang dibuat untuk melakukan penyiksaan yang begitu kejam dan sadis, inilah sisi gelap kelima lelaki kembar itu, meskipun mendapatkan julukan sebagai (un)perfect pandhawa, karena kondisi fisik mereka yang tidak sempurna, tidak ada yang bisa menduga sosok yang dianggap lemah karena keterbatasan fisik dan kemampuan adalah sosok iblis kejam, yang tidak mengenal ampun, dan bahkan berjiwa psikopat yang tinggi.
Bagi mereka darah, dan suara jeritan kesakitan adalah sesuatu yang sangat mereka senangi dan juga gemari. Entah apakah keluarga yang lain mengetahui kebiasaan mereka atau tidak, tapi yang jelas mereka berlima sangatlah kompak dalam hal ini.
“Kau.. iblis biadap !!”
“Kau salah ! aku iblis sempurna, yang tertutupi dengan kondisi fisikku.” Ujar Alto dengan senyuman meremehkan miliknya.
Tidak berhenti sampai disana, tiba-tiba sosok Adnan muncul dari belakang mendekati perempuan itu, dan dengan kakinya menginjak bagian pergelangan kaki perempuan itu hingga terdengar suara patah tulang.
Krekk !!
“Akhh !!” perempuan itu berteriak kesakitan setengah menangis, merasakan sebuah kaki menginjak tepat dibagian tulangnya, dan itu membuatnya menundukkan kepalanya.
Adnan kemudian merendahkan tubuhnya, menjambak rambut perempuan dengan sangat kasar hingga kepalanya mendongak ke atas.
“Aku suka suara rintihan kesakitanmu, benar-benar sangat merdu. Aku bersyukur Anand memberikanku alat ini.” Ujar Adnan sembari tertawa kecil terlihat sangat puas dengan reaksi perempuan itu.
“Felitha benar-benar mengalami kesialan karena bertemu iblis biadap seperti kalian !!!”
Sebuah tawa kecil terdengar dari kegelapan terlihat sosok Arya, Altan, dan Arjun yang berada disana, Arjun meskipun tidak bisa mengeluarkan ucapan atau perkataan yang menyatakan sesuatu pada adegan kesukaannya itu, tapi lelaki itu tersenyum lebar seakan puas bisa mendengarkan suara rintihan, terlebih jika korbannya mengumpati mereka berlima entah kenapa kesenangan itu semakin meningkat.
“Kau salah besar, justru Felitha sangatlah beruntung. Karena gadis manis itu tidak akan mengalami nasib sial sepertimu.” Ujar Altan dengan tatapan penuh rasa puas melihat darah yang terus menerus keluar dari tubuh perempuan itu.
“Dan nikmatilah kehidupan terakhirmu, pelayan Lia~” Ujar Arya dengan nada menggoda yang dibuat-buat dan itu menambah kesan menyeramkan pada sosok lelaki itu.
“Ehm.. Grace.. apa kau mengetahui dimana Kak Alto dan yang lainnya ??”
Felitha merasa bingung karena hari ini dia tidak mendapati kelima lelaki bersaudara itu, gadis itu segera menemui Grace, berfikir jika mereka berlima pergi dari pagi buta dan menitipkan pesan kepada Grace atau perintah untuk Felitha melakukan tugas apa hari ini ?? tapi sayang sepertinya kelima lelaki itu memang sedang pergi dan tidak memberikan pesan apapun karena mungkin mereka hanya pergi sebentar.
“Aku juga tidak tahu, oh iya.. Pelayan Lia juga gak ada.”
“Eh.. Pelayan Lia ?? siapa dia ??” Jujur dari semua pelayan, hanya Grace saja yang dikenali oleh Felitha, lainnya tidak.
“Iya, dia sebenarnya pelayan yang cukup lama tinggal disini, dia sebenarnya ada tugas sih memasak sama aku, hari ini. Tapi pas aku cari, dia gak ada.” Ujar Grace dengan bingung. Dia sebenarnya mendapatkan sebuah tugas untuk memasak dengan sosok pelayan yang sudah dia kenal bernama Lia, tapi pelayan itu tidak ada, dan Grace sudah mencarinya hingga ke seluruh ruangan.
Felitha berfikir mungkinkah pelayan bernama Lia itu yang sempat menabraknya dan memberikan peringatan kepada Felitha, untuk tidak terpana akan kebaikan mereka, tapi entah siapa sosok yang dimaksud oleh pelayan itu. Karena Felitha merasa seluruh Keluarga Sagara semuanya baik dan ramah, tidak ada satu dari mereka yang memberikan sisi misterius kecuali kelima lelaki kembar, terlebih Alto yang sempat dia temukan pistol dan racun, juga Altan yang menawarinya pekerjaan menjadi model lukisan. Hanya itu saja, selanjutnya tidak ada lagi sisi misterius yang dia temukan.
“Kalau gak salah, kamu pernah ketemu sih. Ingat gak yang ngasih tahu perintah Kak Adnan untuk ikut makan malam, nah dia Pelayan Lia namanya.” Ujar Grace melanjutkan untuk menjelaskan masalah mengenai pelayan Lia.
Felitha kemudian berdiam, ternyata bukan. Tapi entah kemana pelayan yang memberikan peringatan kepadanya itu. Mungkin Felitha juga harus mencari tahu mengenai pelayan itu, dan bertanya lebih lanjut mengenai ucapannya. Sayang selama 2 bulan ini, Felitha tidak pernah menemui pelayan itu, sayang dia tidak mempertanyakan mengenai nama dari pelayan tersebut, dan anehnya Felitha juga jarang sekali menemui pelayan lainnya, seakan mereka hilang ditelan bumi. Meskipun bertemu beberapa pelayan, tapi entah kenapa Felitha hanya beberapa kali saja dalam sehari kecuali Grace.
Lalu sebuah suara keran air menyala, Felitha melihat seorang pelayan yang sangat misterius dan jarang sekali terlihat. Seorang pelayan berambut cokelat pendek itu tampak sedang mencuci piring tanpa menghiraukan Felitha dan Grace yang berbicara disana. Felitha kemudian menanyakan sembari menunjuk pelayan itu melalui matanya kepada Grace.
“Oh.. dia namanya Pelayan Mina. Dia itu juga seorang tunawicara kaya Kak Arjun. Tapi Pelayan Mina itu dia ansos dan takut sama orang, aku pernah sih mau tanya ke dia, tapi dia menghindar kaya ketakutan gitu.” Ujar Grace dengan heran dan merasa sedih. Padahal niatnya untuk mengajak pelayan lain menjadi temannya, malah sosok pelayan itu terlihat takut dan menghindari Grace, entah kenapa.
Hal ini menjadi sedikit membuat Felitha semakin penasaran, kenapa pelayan lain terutama mereka yang sudah bekerja lama disini, bersifat aneh, seperti ansos, dan seakan menghindari Felitha dan Grace. Satu-satunya pelayan yang terlihat sangat ramah dan terbuka hanya Grace, karena dia baru disana.
“Lha.. kamu tahu nama dia darimana ?? bukannya kamu bilang dia takut sama kamu ??”
“Aku tanya Kak Damar sih, kalau gak tanya, aku mungkin gak bakalan tahu nama dia, bahkan kalau dideketin aja langsung menghindar.” Celetuk Grace yang sedikit bingung juga dengan perilaku aneh pelayan bernama Mina itu.
“Mungkin dia pemalu.” Celetuk Felitha dan hanya dijawab Grace dengan mengangkat bahunya bingung dan juga penasaran sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, sosok pelayan itu benar-benar tidak mau atau tidak suka didekati oleh orang lain.
Tiba-tiba Damar datang mendekati kedua perempuan yang berada di dapur.
“Hai gadis-gadis cantik, terutama Grace.” Ujar Damar menyapa sekaligus menggoda Grace, sementara Felitha yang menjadi pihak terabaikan memutar matanya malas.
“Duhh.. pagi-pagi Kak Damar udah ngegombal !!” Ujar Felitha dengan malas, sementara Damar terkekeh geli, dan Grace menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
“Oh iya, Felitha. Kak Arya nyuruh kamu ke perpus. Udah sana berduaan sama Kak Arya, biar gak jadi jones.” Ujar Damar dengan nada kelakarnya.