(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Lima puluh satu



"Kau sedang bersantai ??"


Felitha yang tadinya sedang duduk bersantai di atas kursi sembari menikmati novel di tangannya menoleh melihat ke arah Adnan yang datang menghampiri dan bertanya kepadanya.


"Kak Adnan ?? Aku mendapatkan novel cukup bagus di perpustakaannya Kak Arya." Ujarnya menunjukkan sebuah novel berisikan sebuah percintaan tapi dengan nuansa gelap dan mengenai hubungan yang tidak sehat, antara seorang psikolog dan pembunuh sadis yang menjadi korbannya. Sepertinya Felitha mulai menyukai cerita dark romance. Mungkinkah karena dia mulai dekat dan menyukai kelima lelaki yang juga sadis dan beringas ??


Adnan kemudian duduk bersebelahan dengan Felitha, lelaki itu memandangi perempuan yang sepertinya sudah benar-benar menggaet hatinya.


"Hey, Felitha.."


"Ya ??"


"Ehm.. Aku ingin bertanya.. Jadi.. Apa kau masih merasa trauma ??"


"Trauma.. ??"


"Ye...Yeah, penculikan Aarav kepadamu.. Dia.. Dia tidak melakukan apapun, bukan ??"


Felitha menggelengkan kepalanya, dia sudah tenang dan jauh lebih baik, karena itu dia tidak terlalu panik jika di tanya mengenai penculikan yang menimpa dirinya beberapa hari lalu.


"Aku sudah tidak trauma lagi, hanya saja.."


"Hanya saja.. ??"


"Dia sempat.. mencium.. bibirku."


Mendengarkan perkataan Felitha membuat Adnan terkejut, sekaligus sedikit marah. Lelaki itu kemudian mulai melangkah mendekati Felitha membuat perempuan itu terkejut bukan main, hingga wajah mereka berdua begitu dekat bahkan hanya berjarak satu inchi saja. Felitha sedikit gugup, karena tatapan tajam Adnan mengarah pada bibirnya.


"Kak.. Adnan.."


"Berani sekali bajingan itu menyentuh bibirmu. Aku akan memotong dan merobek bibirnya !" Ujar Adnan pelan tapi penuh dengan penekanan, terdengar seperti desisan ular yang berbahaya.


"K..Kak Adnan.. ??"


"Felitha, biarkan aku.. Menghapus jejak bajingan itu di tubuhmu."


Adnan semakin mendekat dan bahkan hendak mendekati wajah dan bibir Felitha, gadis itu terkejut bukan main tapi kemudian dia berfikir, mungkin tidak ada salahnya juga membiarkan kekasihnya mencium bibirnya, lagipula... Aarav saja sudah melakukan hal tidak senonoh kepadanya, bukan ?? Dan lagipula Felitha masih berusaha menjaga dirinya sendiri.


"Baiklah.." Ujar Felitha antara ragu dan juga pasrah, membuat Adnan tersenyum senang.


Adnan mendorong tubuh Felitha hingga bersandar pada sofa, dan Adnan langsung berada di atasnya setengah menindihnya meskipun tidak benar-benar menindihnya, bahkan tubuh Adnan tidak benar-benar menyentuh tubuh Felitha di sana, kecuali tangannya yang bersiap untuk menahan kepala Felitha.


Karena tidak ada orang lain di ruangan itu, membuat suasana sangat cocok dengan Felitha dan Adnan yang begitu dekat, kedua orang itu menutup mata mereka dan bersiap, Adnan semakin mendekati bibir Felitha..


Dan..


"Hey, Kak Adnan !! Kak Alto memanggil- eh ??" Damar yang datang tidak melihat suasana yang ada, langsung terpaku pada pemandangan yang ada di depannya. Ucapannya bahkan terpotong sendiri melihat wajah Adnan dan Felitha begitu dekat, dan Adnan melihatnya dengan tatapan tajam dan kesal, sementara Felitha memalingkan wajahnya dan malu.


"Kau menganggu ku !!" Ujar Adnan dengan kesal.


"Hey, ayolah bersabarlah menunggu hingga lamaran atau tunangan, jangan melakukannya sekarang !! Kasihan Felitha !!" Ujar Damar menceramahi Adnan untuk tidak berbuat aneh-aneh kepada gadis itu, kasihan sekali gadis polos itu hampir di perkosa oleh kakaknya.


"Apa maksudmu ?! aku hanya ingin mencium bibirnya !!"


"Tetap tidak boleh !! Stay halal, brother !!" Ujar Damar seperti seorang ustad yang menceramahi jemaatnya, membuat Adnan jengah, sejak kapan lelaki sadis itu menjelma menjadi sosok suci penuh agama. Padahal kalau sedang marah, dia bisa menghabisi orang tanpa ampun.


"Itu beda."


"Beda apanya ??"


"Mereka memancing emosi, itu artinya mereka setan. Dalam agama manapun, setan halal di bunuh." Ujar Damar dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi, membuat Felitha yang tadinya menolehkan wajahnya kini membalik menatap ke arah Damar seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Sejak kapan manusia bisa membunuh setan ?? Sepertinya Damar juga kurang sehat untuk kali ini, astaga kenapa diantara semua keluarganya yang terlihat sadis dan menyeramkan, hanya Damar yang terlihat lucu dengan tingkah polosnya itu.


"Ajaran sesat manalagi itu ?!"


"Ajaran baik. Udah, sana Kak Alto bilang ada urusan penting !! Daripada menodai Felitha dengan tidak sopan, lebih baik menunggu hingga halal."


"Sekali lagi, kau membicarakan hal itu akan aku pukul kau ?! Lagipula aku tidak ada niatan buruk sama sekali, pikiran mu saja yang kotor !!"


"Tidak ada niatan, tapi mau cium bibir ?! Sama aja !! Daripada aku ngadu ke mama, mending datangin Kak Alto sana !!'


" Cih, iya-iya !!"


Dengan ogah-ogahan, akhirnya Adnan menuruti saja ucapan dari Damar. Bukan karena dia takut di adukan oleh Nyonya Cantika, melainkan karena suasana yang romantis itu sudah hilang lenyap setelah kedatangan Damar yang menganggu keromantisan keduanya. Ini Benar-benar menyebalkan bagi Adnan, dan hari paling buruk baginya tapi bagi Damar ini adalah hal menyenangkan, karena berhasil menyelamatkan Felitha dari saudaranya itu.


Adnan kemudian berlalu dari ruangan dengan menahan rasa kesal, sementara Damar memasang wajah penuh kemenangan.


"Akhirnya aku menyelamatkan Felitha dari saudaraku yang mesum itu." Ujar Damar dengan penuh rasa bangga, sementara Felitha malah tertawa geli melihat perilaku Damar.


"Jangan khawatir Felitha, aku akan menolong mu sebagai calon saudara ipar mu." Ujar Damar.


Felitha kemudian teringat suatu hal yang ingin dia tanyakan kepada Damar. Gadis itu kemudian berbicara, kepada Damar yang masih berada di ruangan yang sama.


"Aku akan pergi dulu, dan-"


"Hey, Kak Damar !! Tunggu !!"


"Iya ??"


"Apa.. Apa yang dikatakan.. Kak Adnan benar ??"


"Yang mana ?? Jangan salah paham, aku bukan orang yang mendalami agama. Aku hanya mengatakan itu untuk menggoda kakakku, dia sangat lucu saat marah." Ujar Damar dengan iseng, dia sangat suka menjahili atau membuat kelima kakaknya yang mudah sekali marah atau kesal karenanya.


"Bukan itu."


"Lalu ??"


"Err.. Kata Kak Adnan tadi, Kak Damar sempat mukulin orang sampai sekarat ?? Emang bener ya kak ??"


Damar tertawa geli di sana, padahal awalnya dia sangat penasaran dan bingung mengenai apa yang di pertanyakan oleh Felitha, tapi setelah dia mendengarkan pertanyaan itu membuat Damar merasa geli, dia pikir adalah pertanyaan serius.


"Eh.. Kenapa Kak Damar tertawa ?? Apakah ada yang lucu ??" Tanya Felitha dengan bingung.


"Hehehehe.. tidak.. sama sekali... Jadi, masalah itu.. Kau bisa mencari tahu sendiri ya." Ujar Damar dengan nada jahilnya, membuat Felitha merasa kenapa semua orang di rumah itu seperti menyimpan rahasia dari masing-masing dalam kepribadian mereka ?? Apakah semua orang, termasuk Damar juga adalah sosok psikopat yang kejam dengan topeng lugu nya ??


Sulit di percaya.