
"Jadi, bagaimana sekarang ??"
"Aku berubah rencana."
"Apa ?! Tapi kenapa ?!"
"Sepertinya permainan ini semakin menarik, sebaiknya kita memanfaatkan kesempatan emas ini terlebih dahulu."
"Tidakkah sebaiknya kita juga ikut melangkah, dengan begitu kita bisa mengambil kesempatan emas untuk merebut Felitha."
"Kau benar, baiklah kita jalankan rencana awal."
…
Pyar !!
Sebuah suara dari kaca jendela pecah begitu saja, membuat Felitha yang tadinya bersantai tertidur, kini malah terbangun kaget dan melihat ke arah sumber suara. Matanya menatap dengan bingung dan was-was karena dia bisa melihat sebuah kaca jendela kemudian pecah di dalam kamar.
Saat ini Felitha sendirian, karena Aarav mengerjakan sesuatu di depan, dan meninggalkannya sendirian disini. Tapi kemudian sebuah suara membuat Felitha kembali was-was dan juga merasa bingung dan takut. Ketakutan semakin membesar, saat seseorang menyekap mulutnya dan menahan gadis itu agar tidak berteriak.
Felitha menolehkan kepalanya, melihat sebuah wajah yang sangat tidak asing baginya, hingga matanya terbelalak kaget dan bingung.
"Kak.. Arjun.."
Lelaki itu, Arjun kemudian tersenyum tapi dia menempelkan jarinya pada bibirnya seakan memberikan kode kepada Felitha, agar gadis itu terdiam. Ssttt...
Felitha mengangguk, dan merasa sedikit lebih tenang. Dia kemudian menghela nafasnya lega, Arjun dengan penampilan tertutup seperti jaket dan bertudung itu, benar-benar tampak sangat mengejutkannya. Arjun melepaskan dekapan di mulut Felitha, kemudian memberikan kertas yang sudah di tulis olehnya sebelumnya.
'Ayo kita pergi dari sini, sebelum dia datang.'
Felitha membaca tulisan tersebut mengangguk senang, tapi dia menunjukkan tangannya yang masih terborgol. Dengan cepat, Arjun melepaskan borgol itu dan menggendong Felitha dengan kedua tangannya. Gadis itu terkejut, dengan kekuatan Arjun yang sangat kuat hingga bisa mengangkat tubuhnya dengan enteng.
Saat keduanya hendak keluar dari jendela, tiba-tiba pintu kamar itu di ketuk dari luar.
"Felitha ?? kau baik-baik saja, sayang ??"
Felitha yang mengetahui suara itu kemudian menjawabnya dari dalam kamar dengan suara agak keras, "Iya, tolong jangan masuk dulu. Aku sedang.. berganti pakaian !!"
Arjun hanya menggelengkan kepalanya, alasan macam apa itu. Tapi cukup masuk akal juga, tidak semua orang selalu berganti baju di dalam kamar mandi, jadi tidak mungkin Aarav akan curiga begitu saja.
"Baiklah kalau begitu, jika ada sesuatu panggil aku !!"
"Oke."
Lalu suara langkah kaki mulai menjauh, membuat Felitha dan Arjun menghela nafasnya dengan lega. Keduanya secara perlahan kemudian berhasil keluar dari jendela, dan menyelinap melalui semak-semak di sekitar. Hingga mereka mendengarkan sebuah suara dari luar tempat persembunyian mereka. Berniat bersembunyi, keduanya memilih diam di tempat, sekaligus mendengarkan pembicaraan beberapa orang.
"Sesuai rencana dari Anthony, kita harus menculik dan mengambil kembali gadis itu."
"Kau benar, apalagi yang harus kita lakukan ??"
"Selanjutnya, kita mulai hancurkan dan membuat kegaduhan di dalam sana ?!"
"Kau gila !!"
"Atau.. kita bakar saja dari kamar itu, dan membiarkan api merambat dari dalam sana ?!"
"Ide bagus !!"
Lalu suara langkah beberapa orang mulai menjauh, Felitha sedikit bingung dan heran. Siapa perempuan yang mau mereka culik ?? Jangan-jangan itu adalah dia ?! yang benar saja, kenapa semua orang berusaha menculiknya ?! Setelah di rasa cukup aman, Arjun menggandeng tangan Felitha untuk berjalan melalui tempat persembunyian mereka, dan mengamati sekitar.
Setelah di rasa cukup aman, dan mulai dekat dengan mobil yang di tuju. Arjun kemudian berniat untuk mengajak Felitha keluar dari tempat persembunyian. Lagipula, dia sudah cukup jauh dari rumah milik Aarav, tidak mungkin lelaki itu bisa mendengar atau mengetahui Felitha yang kabur.
Sesuai rencana, Arjun mengajak Felitha berjalan keluar, tapi semua tidak sesuai keinginannya. Karena niat mereka di ketahui oleh beberapa orang, beruntung hanya tiga lelaki yang menghadang mereka.
"Hey, kalian !!!"
Arjun menoleh melihat ke arah lelaki berbadan besar tersebut, datang berlari ke arah mereka. Dengan segera, Arjun mengeluarkan pistol dan menembak ketiga lelaki yang hendak menangkap mereka.
Dengan keahlian menembaknya, Arjun berhasil melumpuhkan ketiganya dengan menembak bagian kepala mereka. Kenapa ?? Karena Arjun tidak mau, sampai anak buah Anthony menyadari orang yang berhasil merebut Felitha adalah dirinya.
Setelah aman, Arjun langsung menarik Felitha yang sempat shock melihat ketiga lelaki mati terkapar tak berdaya di hadapannya itu. Gadis itu memang masih sedikit trauma dan bingung dengan kematian dan juga suara tembakan. Tapi dia tidak mau terpaku terlalu lama pada ketiga lelaki itu, dan mengikuti arah langkah Arjun.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan segera bergegas pergi dari sana sebelum semua peristiwa menyeramkan terjadi. Felitha yang berada di perjalanan menghela nafasnya lega, mobil mereka sudah keluar dari wilayah perumahan Aarav. Barulah gadis itu mulai bertingkah normal.
Felitha mengambil sebuah botol air dan bertanya kepada Arjun.
"Aku boleh minum air ini, Kak ??"
Arjun mengangguk, membuat Felitha tanpa berfikir panjang langsung meminum air putih tersebut dengan cepat karena merasa sangat kehausan dan kepanasan. Di tempat penyekapan, Felitha memang di berikan air dan makanan, tapi tetap saja dia merasa tidak nyaman dan sempat takut jika minuman di campur obat oleh Aarav.
Felitha ingat betapa menyeramkan lelaki itu, dan bahkan creepy. Gadis itu berfikir, apakah Aarav akan menyebarkan gambar yang dia miliki kepada orang-orang ?? Berharap saja semua bisa teratasi dengan baik.
Arjun menoleh melihat gadis itu tampak sangat ketakutan dan khawatir. Andai dia bisa berbicara, mungkin dia setidaknya bisa menenangkan menggunakan kata-kata dari mulutnya, tapi...
Felitha terkejut menerima sebuah kertas dari Arjun.
'Jangan takut, kau aman bersamaku. Aku akan segera membereskan semua ini.'
Felitha tersenyum dalam hatinya, dia kemudian menatap Arjun dan mengangguk.
"Terima kasih banyak."
...…...
"Dia... Dia tidak ada disini ?!"
"Lalu bagaimana sekarang ??"
"Bakar ruangan ini ???"
"Heh, dasar bodoh jika kalian merencanakan sesuatu kepadaku, sebaiknya pikirkan berulang kali !!"
Beberapa orang, menatap ke arah sumber suara. Disana, berdiri Aarav sembari bersandar pada dinding dan menyeringai ke arah anak buah Anthony yang mencoba menghancurkannya.
"Kau... ?!"
"Kalian pikir aku takut ?! Kemarilah, tunjukkan kemampuan kalian ?!" Ujar Aarav menyeringai dan menantang kelima lelaki itu.
Dengan maju satu persatu, orang-orang itu mencoba menyerang Aarav, tapi tidak di sangka lelaki itu sangat pandai bertarung dan bahkan para lelaki itu tidak mampu menyentuh tubuh Aarav sedikitpun.
"Hanya begini kemampuan kalian ?? Heh, Anthony sangat bodoh karena mengirim kalian kemari !!" Ujar Aarav kembali menyerang, dan berhasil menghabisi kelima lelaki itu dengan lincah dan begitu pandai.
***Bugh !!!!
Bugh !!!
Bugh*** !!!!
Hingga menyisakan satu orang yang merupakan pemimpin mereka.
"Katakan, kemana kalian membawa kekasihku ?!" Ujar Aarav dengan kesal, sementara lelaki itu malah bingung bukankah gadis yang mereka tuju tidak ada disana, kenapa malah Aarav bertanya kepadanya.
"A...aku tidak tahu.. Saat kami sampai disini, gadis itu sudah tidak ada..."
"Ck !!"