
Di luar dugaan, Aarav justru bersifat manis dan baik kepada Alto dan semuanya. Bahkan dia tidak memperdulikan, mengenai cacat fisik yang di miliki kelima lelaki kembar itu. Aarav bahkan meminta maaf kepada Alto mengenai masa lalu mereka di masa lalu.
"Aku benar-benar menyesal, seharusnya aku tidak bertingkah seperti anak brengsek kepadamu dulu."
Alto sendiri sedikit bingung dengan perubahan perilaku Aarav, tapi tetap menaruh curiga dalam hatinya. Tidak mungkin, anak itu benar-benar berubah seratus persen, meskipun ya Alto akui dia bertingkah manis didepannya.
"Tidak masalah, lagipula itu sudah masa lalu. Bukankah kita seharusnya mengubur masa lalu." Ujar Alto dengan santai.
Tidak hanya itu, Aarav sendiri memperlakukan Keluarga Sagara dengan sangat baik, dia tidak sedikitpun menyinggung atau mengatakan perkataan ketus kepada Arya yang jelas sekali seorang penyandang disabilitas. Aarav menghargai mereka semua, tapi ada hal aneh yang dirasakan oleh Felitha.
Terutama saat lelaki itu memegang tangannya dan memberikan tatapan yang sulit di artikan melalui bola matanya kepada gadis itu. Felitha jujur saja sedikit merasa takut kepada lelaki itu.
"Anda benar-benar cantik, Nona Felitha."
"Te... Terima kasih.."
"Tuan Alto benar-benar pandai memilih seorang perempuan, bukan ??"
Felitha mengangguk dan sedikit kaku disana, karena Aarav menahan tangan Felitha yang masih bersalaman dengan tangannya. Jujur itu membuat Felitha sedikit takut.
Selain itu, Aarav sama sekali tidak memperdulikan status Grace yang dulunya adalah seorang pembantu tapi beruntung karena di sukai oleh Damar, dan mungkin akan berganti status menjadi Nyonya Sagara ke depannya. Aarav malah memuji Grace dan senang dengan pembicaraan mereka. Tapi entah kenapa, Alto dan keempat saudaranya merasa curiga dan bingung di sana. meskipun Aarav terlihat sangat manis, ramah, dan terbuka.
"Aku sangat senang berkenalan dengan anda, Tuan Aarav."
"Begitu pula dengan aku, terima kasih banyak mau menghadiri acara makan malam ini. Kehadiran anda dan keluarga anda benar-benar suatu kehormatan besar bagiku."
Perkataannya sangat sopan membuat Tirta dan Cantika merasa sangat di hormati dan berfikir jika memang lelaki di depannya adalah sosok yang sopan dan baik. Berbeda dengan Damar yang malah merasa curiga dengan sosok Aarav tersebut, juga kelima lelaki dan Felitha itu sendiri yang merasa sangat bingung dan penasaran juga tidak percaya dengan perkataan manis dari Aarav sendiri.
"Hey, Kak Alto.. Aku ijin dulu ke kamar mandi." Bisik Felitha kepada Alto.
"Baiklah, jangan terlalu lama."
Felitha mengangguk, dia kemudian berpamitan dengan sopan kepada semua yang ada di sana. Felitha memang sudah mulai diajarkan sopan santun, dan memang itu membuat daya tarik tersendiri baginya. Perkataan sopan Felitha tanpa sadar malah membangunkan sisi berbeda dari Aarav sendiri.
Cantik, sopan dan menawan Batin Aarav memandang kagum ke arah Felitha, tapi dia kemudian memutuskan tatapan itu dengan cepat dan bertingkah normal berbicara sopan kepada mereka.
…
Felitha sendiri saat ini sedang dalam kamar mandi, menatap bayangannya sendiri di depan cermin. Tangannya yang basah setelah mencuci di depan wastafel, wajahnya sedikit mengingat tatapan menyeramkan yang ditunjukkan oleh Aarav kepadanya saat sedang berjabatan tangan membuat Felitha merasakan aura sendiri dari Aarav.
Kenapa gelap sekali ?? Batin Felitha saat melihat sekelilingnya, hingga dia matanya menangkap sesuatu di belakangnya.
"Si..Siapa kau-" Ucapan Felitha terpotong saat sosok itu menyekapnya dengan kain di mulutnya, gadis itu berusaha memberontak tapi usahanya gagal, dia kemudian jatuh pingsan karena kain itu mengandung obat bius membuat kesadarannya menghilang.
Setelah itu, sosok itu mengangkat tubuh Felitha, dia sempat menaruh sebuah kertas berisikan pesan lalu kemudian membawa Felitha pergi dari sana. Menghilang di kegelapan.
…
"Ehm.. Grace bisa kau menemui Felitha ?? Dia sudah hampir 15 menit di kamar mandi." Ujar Cantika mulai merasa sedikit aneh dan gelisah karena Felitha tidak kunjung datang.
"Baiklah, ibu."
Sebenarnya agak kaku, Grace memanggil Nyonya Cantika dengan sebutan ibu, tapi dia tidak mungkin akan memanggilnya dengan sebutan nyonya, dia memang dipesan harus memanggil Cantika dengan sebutan ibu atau mama. Grace memilih memanggilnya ibu.
Grace kemudian pergi dari sana meninggalkan Keluarga Sagara dan juga Aarav yang sedang berbicara dengan Damar.
Acara makan malam yang awalnya begitu indah, dan tampak akrab itu berakhir, saat Grace kembali dengan ekspresi wajah gelisah membawa sebuah kertas yang dia temukan di kamar mandi, Grace bahkan menemukan tas berisikan handphone milik Felitha sendiri yang berada di sana tanpa mengetahui dimana Felitha berada.
Setelah Grace datang dengan wajah gelisah, dia membawa kertas tersebut.
"Gawat... Felitha.. aku tidak menemukannya."
"Apa maksudmu tidak menemukannya ??" Alto berbicara dengan nada bingung, dan sedikit tidak percaya.
"Aku menemukan surat ini." Ujar Grace memberikan surat itu kepada Damar yang kebetulan langsung mendekati kekasihnya. Damar membuka dan membaca isi surat itu dengan perlahan.
...***Jika kau ingin Felitha kembali, maka kau harus menuruti apa keinginanku. ...
Patmawati Aby***.
"Sialan, perempuan itu lagi ?!" Ujar Damar kesal setelah membaca surat tersebut, tidak hanya itu seluruh Keluarga Sagara begitu marah untuk saat ini.
"Patmawati ?? Dia juga mencari masalah dengan kalian ??" Ujar Aarav mulai berbicara mengenai sosok yang tertulis di surat tersebut.
"Yeah... Dia selalu saja menganggu kehidupan kita." Ujar Altan menimpali dengan kesal.
"Kalau begitu musuh kita sama, dia jugalah yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuaku." Ujar Aarav dengan sedikit kesal di bagian akhirnya.
"Begitu kah ??"
Aarav mengangguk, "Bagaimana jika kita bekerja sama ?? Aku akan membantu kalian untuk membaca Felitha kembali kepada kalian, dan kalian bisa membantuku menyeretnya ke penjara."
Tidak ada salahnya bukan, bekerjasama dengan orang yang sama-sama tersakiti oleh satu orang yang sama ?? Tuan Tirta berfikir jika sebaiknya dia menerima saja permintaan bekerja sama Aarav, daripada harus hidup terus di buntuti oleh mantan istrinya itu.
Disisi lain, kelima lelaki itu sedikit mengeram kesal karena lagi-lagi sosok ibu kandung yang sangat mereka benci, datang dan kembali menghancurkan hidup mereka. Benar-benar menyebalkan sekali.
Grace juga menyerahkan barang-barang yang di bawa oleh Felitha, seperti tas, handphone yang masih berada di kamar mandi. Mereka meyakini jika Felitha di culik secara diam-diam, atau malah mereka saat ini sedang dibuntuti oleh mereka ??
"Aku akan menelfon anak buah ku, untuk bisa segera menyelidiki pergerakan mereka. Kemungkinan besar, kita bisa menyelamatkan Felitha sebelum mereka membawanya." Ujar Aarav kemudian mengeluarkan handphone nya dan mulai menelfon nomer yang tertulis di sana.
Sementara Cantika sendiri memang sudah kesal sejak awal dengan Patmawati terutama saat dia berbicara dengan perempuan itu di supermarket, tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia khawatir dan begitu takut dengan kondisi Felitha.