(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketiga puluh dua



Felitha kemudian mengelap bagian wajah Altan yang terkena cipratan darah dengan kain yang sudah di basahi dengan air di ember. Setelah bersih, gadis itu tersenyum senang. Tumben sekali, lelaki itu sedikit menurut Felitha, biasanya dia enggan dan merasa risih jika wajahnya disentuh terlalu lama.


"Sudah, nah lebih enak dipandang kaya gini. Kalau tadi penuh darah, kan serem."


"Tapi tetep ganteng, kan ??"


"Enggak, siapa bilang ganteng. Kalau penuh darah kaya gitu, mirip psikopat di film."


"Beda."


"Apa bedanya ??"


"Kalau psikopat difilm itu jelek, kalau aku ganteng."


"Yee !!" Felitha menjitak kepala Altan dengan lembut karena rasa kesal, tapi juga gemas dengan perkataan Altan yang terlalu percaya diri.


"Iya, kan sayang ??"


"Gak ada !!"


"Yakin, masa calon suami sendiri gak dipuji.."


"Ihh !! Kak Altan, jangan gitu !!" Felitha kini memerah malu karena godaan kecil dari Altan. Astaga, kenapa sih kelima lelaki itu sangat suka menggodanya, padahal Felitha adalah orang yang mudah sekali salting. Bahkan tanpa digoda sekalipun, dia bisa merasa malu dan memerah jika melakukan kesalahan. Entah, wajah Felitha yang terlalu polos sehingga ekspresi nya terlukis jelas di sana.


Tidak lama, sebuah langkah kaki berjalan mendekati mereka. Felitha yang tadinya duduk di sofa berhadapan dengan Altan di ruang kumpul mini, tiba-tiba saja seseorang memeluk Felitha dari arah yang berbeda dan menarik gadis itu mendekatinya.


Oh iya, di rumah ini terdapat dua ruang kumpul, satu ruang kumpul besar yang ada di lantai 1, dan ruang kumpul mini yang ada di lantai 2. Alasannya adalah, ruang kumpul besar digunakan untuk pertemuan besar dengan banyak orang, sementara ruang kumpul mini hanya digunakan untuk bersantai dan berbicara satu sama lain.


"Felitha~"


Tanpa harus menoleh, Felitha sudah tahu siapa pelaku yang memeluknya dari belakang.


"Kak Adnan, jangan ganggu dulu !!"


"Kenapa ?? aku cuma mau peluk kamu, sama manja sama kamu." Ujar Adnan tidak memperdulikan rengekan kesal dari Felitha.


Ya, semakin hari, Felitha tahu betapa manjanya kelima lelaki itu. Mereka terkadang bertingkah seperti memeluk, meminta Felitha untuk membelai rambut mereka, bahkan tertidur di kaki Felitha. Benar-benar manja, seperti seekor kucing yang minta kasih sayang.


"Kak Adnan !! Eh-"


Felitha yang kesal akhirnya menatap ke belakang, dan terkejut bukan main mendapati Adnan memeluknya tanpa menggunakan pakaian, hanya celana pendek, dengan handuk kecil di bahunya. Tapi anehnya, lelaki itu sama sekali tidak peduli dengan penampilannya sendiri dan memilih untuk tetap memeluk kekasihnya itu.


"KAK ADNAN PAKAI BAJU DULU !!" Felitha menutup matanya, menyadari matanya sudah memandang bagian perut dan dada Adnan yang tercetak dengan jelas. Astaga, inikah yang disebut oleh Tania dengan istilah roti sobek yang menggoda ?? Betapa malunya Felitha, gadis itu langsung menutup wajah dan matanya sendiri.


"Ck, ganggu aja sih. Lagian pakai acara pamer tubuh !!" Ujar Altan kesal, karena perhatian Felitha teralihkan ke arah Adnan yang baru datang.


Ucapan Altan hanya di balas juluran lidah oleh saudaranya, yang sepertinya memang sengaja memperebutkan perhatian khusus Felitha kepada mereka, dan ini tidak hanya terjadi sekali, bahkan beberapa kali. Biasanya yang sering mendapatkan perhatian adalah Arjun dan Arya. Karena keduanya lebih sering mendapatkan waktu bersama dengan Felitha, daripada yang lain. Terlebih lagi, Alto yang jarang sekali menghabiskan waktu bersama Felitha.


"Jangan ditutup gitu, sayang~"


"Ihh !!! Kak Adnan, mesum !! Kenapa gak pakai baju dulu sih ?!" Ujar Felitha yang masih enggan untuk menatap ke arah Adnan.


"Kalian ngapain astaga, itu juga Adnan malah gak pakai baju. Hadeehh punya saudara bucin amat." Ujar Damar datang ke sana, dan menatap kedua kakaknya kini memperebutkan perhatian dari Felitha sendiri. Damar hanya menggelengkan kepalanya, padahal dia sebenarnya hanya ingin menyampaikan sebuah pesan dari Alto saja.


"Berisik ?! Ngapain kesini ??" Ujar Adnan tidak suka, karena waktu untuk berduaan dengan Felitha terganggu dengan saudaranya yang muncul secara tiba-tiba.


"Tuh, sama Felitha aja lembut banget, giliran saudara sendiri kasarnya kaya macan. Tapi aku tetap terima dengan lapang dada kok, perlakuan kalian." Ujar Damar dengan nada sok dramatis sembari memegang dadanya dengan kedua tangannya.


"Najis !!" Ujar Altan dengan nada jijik disana.


"Oh iya, tadi Kak Alto ngasih pesan khusus buat Felitha, katanya nanti di suruh ke ruangannya." Ujar Damar menyampaikan pesan dari Alto.


"Udah kan ?? Udah sana !!" Ujar Altan kesal, melambaikan tangan bergerak seakan mengusir ayam.


"Eh, bentar, satu lagi.."


"Kenapa lagi sih astaga, udah diusir juga." Ujar Altan kesal saat Damar kembali lagi, sementara yang di usir malah tertawa geli dengan perkataan dari Altan yang kesal.


"Bentar doang, jadi Felitha nanti kalau ke kamar Kak Alto jangan lupa bawain minuman ya.." Ujar Damar kepada Felitha


"Minuman apa ??"


"Kayanya dia udah siapin deh di kulkas, coba tanya aja sama Grace."


"Oke, Kak Damar." Ujar Felitha tersenyum manis kepada Damar dan itu membuat Altan dan Adnan sedikit cemburu dan auranya mulai menggelap di sana.


Lalu Damar pergi dari sana, tanpa mengetahui rasa cemburu yang dirasakan oleh kedua saudaranya itu. Sementara..


"Eh, Kak Altan dan Kak Adnan kenapa ??"Felitha merasa bingung melihat kedua lelaki itu memberikan ekspresi kesal dan marah, sejenak kedua lelaki itu kemudian berbicara dengan nada sedikit tidak suka disana.


"Felitha.."


"Jangan pernah tersenyum."


"Atau menyapa lelaki lain.."


"Karena itu hanyalah milik kami !" Ujar keduanya dengan nada kesal, dan membuat Felitha sedikit terkejut dan juga bingung, tunggu sebentar mereka cemburu karena dia tersenyum pada Damar ??


"Kalian cemburu ?? Astaga, Damar bukannya saudara kalian, kenapa cemburu ??" Tanya Felitha sedikit tertawa geli, meskipun di dera cemburu dan kesal, kedua lelaki itu terlihat sangat imut dan menggemaskan baginya.


"Tidak peduli, kami tidak suka jika kau tersenyum pada lelaki lain." Celetuk Altan dengan cemberut.


"Iya deh, aku gak bakalan tersenyum lagi ya.." Lalu kedua tangan Felitha membelai bagian rambut kedua lelaki itu secara bersamaan, begitulah seperti ucapan Felitha tadi..


mereka berlima sangat manja, mirip seperti kucing.



"Sanny, aku ingin kau melakukan tugasmu."


"Apa itu, Nyonya ??"


"Kau dapatkan informasi dari orang yang sudah aku kirimkan datanya kepadamu."


"Baiklah, Nyonya."


"Jika bisa, secepatnya. Karena aku membutuhkan segera."


Telephon ditutup, kemudian sosok itu duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang terlihat gelisah dan bingung.


"Jika begini, kemungkinan aku juga akan ikut turun tangan. Sebelum mereka melakukan sesuatu sebaiknya aku mempersiapkan semuanya terlebih dahulu."


~ ~ ~


***hayoo siapa itu yang akhir.. Kok akhir-akhir ini cerita mulai kurang seru ya, ya udah ntar kedepannya banyak adegan actionnya aja..


Untuk masalah adegan Romance nya agak dikurangin, dan antagonisnya mana nih, gak keluar-keluar ?!


Hahahaha iya sabar ya.. Ntar juga keluar kok. Udah sekian dari aku***..