(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Keduapuluh dua



"Apakah bermasalah jika kita berbicara saat aku melukis seperti ini ??"


"Tentu saja tidak, Kak Altan. Tapi.. Apakah pembicaraan kita tidak menganggu konsentrasi mu ??"


"Sama sekali tidak."


Seperti sebelumnya, Felitha hari ini membantu dan mendapatkan jadwal untuk melakukan konseling dengan Altan, tapi lelaki itu meminta ijin agar dia bisa berbicara sembari melukis, dan Felitha tidak mempermasalahkan untuk hal seperti itu. Bagi Felitha hal seperti ini sama sekali bukan masalah besar, justru jika lawan bicara nya sedang dalam kondisi santai dan tidak tegang, maka gadis itu juga bisa menikmati pembicaraan mereka.


Benar saja, Altan berbicara dengan santai dengan tangan yang memegang kuas berwarna dan mulai menggambar sesuatu di depan kanvas putih tersebut. Pembicaraan santai, dan pertanyaan di berikan dari Altan kepada Felitha, ya anggap saja sebagai perkenalan lebih dalam.


"Hey, Felitha apakah kau pernah memiliki kekasih ??"


"Eh.. Jangan tertawa ya.. Aku sebenarnya belum pernah berpacaran sejak sekolah dulu." Ujar Felitha dengan rasa malu, ya mau bagaimana lagi. Perempuan seusianya, bahkan sudah memiliki pasangan, ada yang bertunangan, ada juga yang sudah menikah. Felitha sendiri tidak tertarik dengan hal seperti itu, dia sendiri lebih fokus untuk menjadi perawat.


"Tentu saja tidak, aku juga tidak pernah memiliki kekasih sejak dulu." Ujar Altan tersenyum.


"Entahlah Kak, bagiku memiliki kekasih bukan hal utama untukku."


"Tapi kalau ada yang suka sama kamu, terus terobsesi sama kamu, gimana ??"


"Hah ?? kok serem gitu, Kak ?? janganlah, masa iya terobsesi. Kalau cuma sekedar suka sih ada, tapi kalau jatuhnya obsesi serem banget." Felitha bergidik merinding mendengar ucapan dari Altan, siapa perempuan yang tidak merasa ngeri dengan kalimat obsesi. Felitha ingat, kasus lelaki yang terobsesi pada perempuan, bisa berujung menjadi stalker atau bahkan pembunuhan karena rasa obsesi yang besar.


"Hahahahahaha aku cuma tanya kok, lagian kan siapa tahu kalau si Anthony itu terobsesi sama kamu."


"Hah ?! Kak Altan tahu darimana nama Anthony ?? kayanya itu udah lama banget, kejadiannya sama Kak Arjun."


"Memang, Arjun udah cerita sama aku. Ya, penasaran aja sama reaksi mu kalau ada yang suka terus terobsesi sama kamu."


"Udah ah, kemarin Kak Arya bahas masalah psikopat, ini Kak Altan malah bahas masalah obsesi. Kok serem semua topiknya." Ujar Felitha sedikit merinding mendengar kata atau istilah psikopat, kenapa sih kedua saudara ini membahas sosok yang menyeramkan itu.


Altan malah tertawa geli mendengarkan perkataan itu, dia lalu kemudian melanjutkan ucapan dan perkataannya dengan topik yang berbeda, takut membuat gadis manis itu ketakutan lagi, atau bisa-bisa Altan hanya sibuk tertawa dan melupakan lukisan didepannya itu. Sementara Felitha memandang kagum hasil lukisan yang memang belum sempurna, gambar mawar berwarna hitam itu tampak sangat indah tapi juga memiliki arti yang misterius.


"Kak Altan, suka warna hitam ya ??"


Altan mengangguk, "Warna hitam itu misterius dan tertutup. Dari dulu warna paling menarik buat aku, cuma hitam. Kedua ada warna merah."


"Kenapa merah ?? Karena lambang keberanian ya ??"


"Karena darah warnanya merah."


"Ih, Kak Altan dari tadi bahas yang serem. Tadi masalah psikopat, sekarang malah bahas darah. Kan serem !!" Ujar Felitha membuat Altan tersenyum geli, tanpa menyadari adanya sisi lain Altan yang tampak puas dengan reaksi polos dan lugu milik Felitha.


"Tapi masa Kak Altan belum pernah pacaran sih ?? Wajah Kak Altan termasuk ganteng, dan keren lho." Ujar Felitha berbasa-basi, karena mereka sudah mulai akrab satu sama lain.


"Masa ??"


Felitha mengangguk mantab, memang dia melihat sosok kelima lelaki itu terlihat sangat tampan, keren dan sempurna aja.


"Tergantung."


"Tergantung apa ??"


"Kalau Felitha mau pacaran sama aku, boleh kok."


"Eh ?! Kok malah sama Felitha ?! Cewek yang lebih cantik banyak lho di luar, pasti mau sama Kak Altan."


"Kalau maunya sama kamu, gimana ??"


"Ish~ Kak Altan jangan gitu !!" Felitha memalingkan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus akibat gombalan murahan dari Altan. Disisi lain, Altan tertawa geli melihat tingkah laku dan perbuatan dari Felitha yang terlihat semakin menggemaskan dan imut.


Tidak lama, terdengar ketukan pintu dari balik ruangan tersebut. Di sana terlihat seorang pelayan, membawa nampan berisikan dua gelas minuman sirup berwarna merah. Tapi sosok pelayan itu tidak mengatakan sesuatu sedikitpun, dan hanya menatap Altan dengan penuh tanda tanya, seakan bertanya, minumannya mau ditaruh dimana ??


Felitha teringat akan, pelayan Mina yang diceritakan oleh Grace sebagai sosok pelayan tunawicara yang berada di rumah itu. Mungkinkah dia pelayan Mina yang disebutkan oleh Grace ?? Karena pelayan yang dikatakan memiliki kekurangan fisik, adalah Pelayan Mina itu saja.


"Taruh saja dimeja." Ujar Altan tersenyum ramah, dan itu membuat sosok pelayan itu sedikit ketakutan disana, segera pelayan itu melangkah secara perlahan dan menaruh nampan itu di meja yang berada dekat dengan Felitha.


Setelah menaruhnya, pelayan itu menundukkan kepalanya lalu pergi keluar dari sana dengan terburu-buru. Aneh, batin Felitha padahal Kak Altan sendiri tersenyum ramah dan berbicara dengan nada begitu baik, kenapa perempuan itu malah ketakutan dan langsung keluar ?? Mungkin dia merasa bersalah akan kekurangan fisiknya yang membuatnya tidak bisa berbicara, dan terlihat sombong disana.


"Kau bisa meminum minumannya, aku menyediakan untuk kita berdua."


"Ah, baiklah terima kasih, Kak Altan." Ujar Felitha dengan senang, sebenarnya dia tidak enak karena merepotkan pekerjaan pelayan lainnya, tapi karena ini perintah dari Kak Altan, tentu saja siapa yang bisa menolaknya.



"Hahh.. Akhirnya, hari ini pekerjaan beres !!" Ujar Felitha merenggangkan tubuhnya, karena merasakan sedikit kelelahan.


Sebenarnya bukan kelelahan karena pekerjaan berat, tapi karena Felitha seharian menemani Altan yang duduk di kursi tanpa sandaran, dan ternyata rasanya begitu melelahkan tapi juga puas. Dia akhirnya bisa dekat dengan Kak Altan, padahal awalnya lelaki itu dingin, sedingin kulkas sekarang menjadi sedikit hangat dan mulai terbuka. Dia berencana akan kembali melanjutkan untuk membaca dokumen yang dia simpan di dalam kamar. Rasanya tidak sabar mendapatkan informasi lebih banyak dari kelima lelaki itu.


Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang, dan membuat Felitha merasa bingung dan kaget, sekaligus takut. Malam yang gelap, dan hanya dia sendiri, lalu siapa pemilik tangan di belakangnya ini.. ??