(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketiga puluh tujuh



"Kak Alto, aku bawakan minumannya-"


Felitha membuka pintu kamar Alto, sembari membawa sebuah nampan berisikan gelas dengan jus buah yang segar. Gadis itu hanya menatap datar ke arah Alto yang duduk sembari tangannya mengelap senjata berupa pistol yang berlumuran darah menggunakan kain basah. Dia sudah tidak terkejut dengan perbuatan Alto itu.


"Kak Alto, bagaimana jika ada orang yang melihat selain aku ?!" Ujar Felitha setengah memarahi lelaki itu, sementara yang menjadi sasaran hanya tersenyum dan terkekeh pelan mendengarkan suara Felitha yang terdengar imut baginya.


"Kemari, sayangku."


Felitha menaruh nampan tersebut ke atas meja lalu kemudian mendekati Alto dan membawa sebuah tissue ditangannya.


"Ini, Kak Alto lap dulu wajahnya pakai tissue."


"Gimana caranya, sayang ?? mending pakai tangan kamu aja."


"Modus !! Tadi lap pistol aja bisa ?!"


"Lap wajah sama pistol itu beda, ayo sini." Alto menarik Felitha untuk semakin mendekat dengannya. Gadis itu hanya bisa menghela nafasnya berat, menghadapi Alto yang mulai menunjukkan sifat manjanya kepada Felitha.


Dengan perlahan, tangan Felitha mengelap bagian wajah Alto yang terkena cipratan darah itu. Dan Alto tampak sangat puas dengan sentuhan dari Felitha. Tanpa di sadari oleh Felitha, lelaki didepannya memberikan seringaian licik di balik wajah datarnya itu, dasar pria licik !!


Tangan Alto menarik Felitha untuk semakin mendekati nya, dan membuat wajah mereka begitu dekat. Felitha tersedikit terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Alto, tapi kemudian dia memandang wajah lelaki itu melalui matanya.


"Kak.. Alto.. ini terlalu dekat."


"Kenapa ?? Bukankah kamu senang memandangi wajahku, Felitha sayang ??"


Felitha terdiam, tangan Alto bergerak perlahan membelai bagian rambut gadis itu.


"Kau jarang sekali menghabiskan waktu bersamaku, Felitha."


"Maaf, Kak Alto..."


"Apa kau melupakanku ??"


"Eh ??" Felitha tersentak, saat wajah Alto semakin dekat dengan wajahnya.


"Apa kau melupakanku dan memilih dengan saudara ku lainnya ??"


"Ti..tidak Kak Alto.. Aku tidak berniat untuk itu."


"Benarkah ??"


"Benar, aku sama sekali.. tidak berniat untuk melupakanmu."


Di..dia sangat dekat, apakah.. Apakah dia hendak mencium bibirku ?? Batin Felitha dengan gelisah, bingung dan malu karena wajah Alto begitu dekat dengannya. Pertanyaan itu terus terucap di benak Felitha, hingga..


"Felitha.."


"Ya ??"


"Apakah aku boleh mencium bibirmu ??"


Pertanyaan itu membuat Felitha terdiam di tempatnya, dan kaget serta malu bukan main. Wajahnya memerah malu, beruntung Alto menutupi matanya dengan kain, sehingga lelaki itu tidak mungkin akan mengetahui wajahnya yang kini sudah mirip seperti kepiting rebus. Ah, Felitha lupa lelaki didepannya tidak memiliki kemampuan melihat.


"Ke..kenapa ??"


"Apakah tidak boleh ??"


"A..err.. a... Ja..Jangan berkata seperti itu.."


Perkataan Felitha sebenarnya ingin membuat Alto tertawa geli, mendengarkan suara bergetar itu membuat sosok lelaki itu membayangkan wajah cantik yang memerah malu di hadapannya itu, benar-benar sangat lucu dan menggemaskan. Tapi Alto tetap diam dan tidak berekspresi apapun.


"Kenapa sayang ?? Aku adalah kekasihmu, apakah salah meminta ciuman di bibir ??"


"Kau sangat imut dan menggemaskan sayang, teruslah menghabiskan waktu disini denganku. Hmm ??"


"Tapi kenapa ??"


"Aku merindukan kekasihku yang imut dan lucu ini." Ujar Alto sedikit menggoda dan itu membuat Felitha lagi-lagi merasa malu, tapi kali ini jantungnya berdetak tak karuan karena perasaan dalam dirinya seakan meledak.


Ini sangatlah gila, jika Felitha adalah wanita murahan maka dia pasti tidak akan menunggu lama, akan langsung mencium dan memeluk Alto yang sudah sangat dekat dengannya. Tapi, Felitha bukan tipe perempuan seperti itu, bahkan berdekatan seperti ini membuat jantungnya hampir meledak.


"Ih, Kak Alto udah, nanti kalau ada yang liatin gimana ?!" Ujar Felitha sedikit kesal, tapi sebenarnya itu hanyalah cara agar gadis itu bisa melepaskan diri dari Alto.


Sayangnya, lelaki itu masih enggan melepaskan Felitha. Lihat saja, suara merajuk gadis itu malah membuat Alto semakin gemas dan semakin ingin menggoda gadis itu. Tapi sepertinya, rencananya harus berhenti sejenak, karena seseorang datang mengetuk pintu menganggu kedua pasangan yang sepertinya sedang memadu kasih satu sama lain.


"Kak Alto.. Boleh masuk gak ?? Ada hal penting nih."


"Cih, ganggu aja." Ujar Alto dengan kesal, saat mendengarkan suara yang dia rasa begitu cempreng dan mampu menulikan telinganya seketika itu juga.


"Jangan gitu, mungkin Kak Damar memang ada urusan penting." Ujar Felitha.


"Tapi, aku masih pengen sama kamu."


"Iya, habis ini aku disini ya sama kamu."


"Gak usah pergi, kamu disini aja sampai nanti sore."


"Hah, lha Kak Damar.. ??"


"Biarin aja."


Felitha akhirnya menurut saja, Alto melepaskan Felitha dan lelaki itu memanggil Damar yang berada di depan pintu ruangannya. Setelah itu, Damar masuk ke dalam ruangan, sementara Felitha membereskan dirinya sendiri dan terlihat tidak mencurigakan meskipun tadi Damar sempat menunggu di depan. Sepertinya saudara tiri Alto itu selalu berfikir positif, sehingga tidak mencurigai apapun meskipun Felitha juga ada di dalam ruangan dengan Alto.


"Ada apa ??"


"Ini.. Ada Felitha, gak papa ??" Tanya Damar menunjuk Felitha dengan matanya, dan berbicara sedikit berbisik ke arah Alto. Lelaki itu mengangguk, membiarkan mengenai keberadaan Felitha yang berada di dalam ruangan.


"Jadi.. Para polisi nanti siang kesini."


"Urusan apa ??"


"Bisnismu.. Ada yang melaporkan mengenai bisnis mu."


Felitha terdiam, meskipun dia memandang ke arah handphone miliknya. Tapi telinganya mendengarkan pembicaraan antara Damar dan Alto, dengan penuh tanda tanya di dalam hatinya. Bisnis apa ?? Bukankah Alto itu memiliki kekurangan fisik, bagaimana dia bisa menjalankan bisnis ?? Apakah berkaitan dengan sisi gelap mereka itu ?? Tapi Felitha berfikir tidak akan mencampuri urusan kelima lelaki itu, meskipun dia adalah kekasih mereka.


"Begitukah ?? si ****** Patmawati itu, pasti yang mengatakan mengenai semuanya."


"Kemungkinan sih, kemarin juga Mom ketemu sama dia lagi jalan sama Gita."


"Cih, seharusnya aku ikut saja, dan menampar wajah kedua perempuan murahan itu."


Felitha bisa mendengarkan nada penuh kebencian Alto kepada Patmawati. Sosok yang ternyata adalah ibu kandung yang melahirkan mereka tapi sekaligus sosok yang membuat kelima anak itu menjadi pengidap disabilitas. Felitha tidak tahu, seperti apakah raut wajah Patmawati itu, apakah sosok perempuan dengan wajah garang, atau perempuan cantik yang terlihat centil seperti Gita ??


Karena Felitha yakin, tidak mungkin ekspresi serta wajah Patmawati mirip dengan Nyonya Cantika. Mungkin dia bisa bertanya kepada Grace besok, seperti apa raut wajah dan perilakunya. Karena Nyonya Cantika bertemu dengan sosok itu di supermarket, dan Grace juga ikut menemani majikannya berbelanja di sana.


~ ~ ~


***Hay semua.. Apa kabar kalian, semoga baik ya..


Hehehehehe.. Btw aku ini gusinya bengkak, adakah yang tahu obat atau cara biar nyerinya hilang ?? sakit banget soalnya..


Oke sekian dari aku, makasih buat kalian semua***..