
"Tuan, saya datang memberikan sebuah kiriman kado dari seseorang untuk anda."
Perkataan itu membuat seorang lelaki yang duduk di kursinya, kemudian sedikit mengangkat alisnya bingung, siapa yang memberikan kado kiriman untuknya kali ini ??
"Baiklah, taruh di meja dan bukalah."
Dia menyuruh anak buahnya untuk membuka, karena merasa khawatir jika kado tersebut berisikan sesuatu yang berbahaya. Karena tidak hanya sekali ini saja, dia menerima barang yang berbahaya yang akan melukainya hanya dengan membukanya saja. Lelaki muda itu mengangguk, membuka kado tersebut dan setelah di buka lelaki itu bahkan terkesima dan kaget dengan isinya.
Bahkan tuannya itu hampir tidak bisa berkata apapun lagi saat ini, melihat kepala orang dengan penuh darah itu di kirim sebagai hadiah untuknya, dan juga sebuah tulisan yang dikirim sebagai ucapan di sana.
'Tuan Randy, ini adalah hadiah istimewa dari kami sebagai tanda terimakasih telah mengirim pembunuh bayaran kemari. Jika sampai kau melakukan hal yang sama, maka kepala putrimu yang akan kami kirim kepada anda :)'
Lelaki itu, Randy Sarawijaya hanya bisa mengeram kesal, dia tahu jika bermain dengan Keluarga Sagara tidak akan semudah membalikkan telapak tangan, dan tidak semudah dia menghancurkan saingan bisnis lainnya. Bagaimanapun, banyak yang mengetahui sisi gelap Keluarga Sagara, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun, karena selama ini Tuan Tirta Sagara sangat bisa memainkan akting handal, serta tidak pernah membuat kesalahan kepada pemerintah sendiri.
Sementara lelaki muda itu hanya bisa berdiam tapi dalam hatinya tidak terlalu panik. Dia tahu seberapa hebat Keluarga Sagara, dan jujur saja dia yakin pembunuh bayaran yang di sewa tuannya, hanyalah preman biasa yang bertingkah sok berani dan sok kuat. Bukan pembunuh bayaran yang hebat dan kuat, jadi maklum saja jika Keluarga Sagara mampu mengatasinya dengan mudah.
"Aku tidak akan mudah menyerah..."
Lelaki muda itu menoleh ke arah atasannya yang terkejut dengan perkataan dari Randy, bosnya. Apakah bosnya sedang gila atau apa ?? Melawan Keluarga Sagara sama saja mencari mati, dan menantang maut. Katakan saja, Keluarga Sagara seperti malaikat kematian yang nyata bagi siapapun yang berani menyentuh atau bahkan melakukan sesuatu kepada salah satu anggota keluarganya.
"... Aku akan berusaha bagaimanapun untuk bisa menghancurkan mereka.. Ini berarti adalah perang."
Lelaki muda itu berharap jika dirinya bisa melarikan diri dan berhenti dari pekerjaannya. Dalam hatinya membatin Tuhan aku tahu aku orang berdosa, tapi berikan aku perlindungan untuk keluargaku. Sebesar itukah dosaku hingga mendapatkan hukuman untuk bekerja pada monster ini Batin nya dalam hati, tapi wajahnya biasa saja dan bahkan terkesan datar saja.
"Blaise... Berikan aku ide bagus untuk masalah ini."
Mati aku Batin lelaki yang di panggil Blaise itu, secara lelaki itu sebenarnya enggan ikut campur urusan yang berkaitan dengan Keluarga Sagara itu sendiri. Dia berfikir lebih baik mati bunuh diri dan tidak merepotkan keluarganya daripada menantang sang malaikat maut yang mungkin akan membunuh siapapun kerabatnya.
"Maafkan aku tuan, tapi... Aku pernah mendengar dia sempat memiliki masalah dengan Aarav, Keluarga Cashelito. Kenapa anda tidak mencoba menggunakan peluang ini ??"
Aduhh... Kenapa mulut ku malah menyebutkan nama Aarav, tapi mungkin tidak ada salahnya memberikan ide gila. Bos tidak mungkin akan menuruti ide gila ini kan-
"Ide yang bagus, aku mungkin akan menghubunginya untuk bisa menyelesaikan semua ini."
Blaise mengangguk, dalam hatinya kaget bukan main. Apakah segila ini tuannya kepada harta kekayaan Sagara hingga dia berani melakukan hal gila yang bisa mengancam nyawa nya dan keluarganya sendiri ?? Argh !! Apalagi ini, dasar mulut sialan yang memberikan ide seperti ini !!
…
"Jadi, bagaimana dengan hadiah yang aku kirim ??"
"Sudah di terima dengan baik oleh Keluarga Sarawijaya, tuan." Ujar anak buahnya, membuat Tuan Tirta hanya bisa terkekeh pelan dan merasa puas dengan apa yang telah dia lakukan.
Tuan Tirta sangat suka mempermainkan calon mangsanya itu, sebelum menghabisinya hingga meninggal di tangannya. Astaga, kalau begini sekarang kita tahu darimana kebengisan kelima lelaki kembar itu berasal, karena dari Keluarga Sagara sendiri memiliki karakter yang benar-benar luar biasa, sementara ibunya sendiri Patmawati..
Err wanita itu sebenarnya tidak terlalu kejam, hanya terkenal licik saja dan bisa menipu. Itupun karena dia perempuan, yang bisa menggunakan wajah dan tubuhnya untuk menipu siapapun. Sementara Tuan Tirta menggunakan otak dan akalnya untuk menipu atau mempermainkan seseorang. Ini benar-benar sangat gila, Felitha tidak tahu apakah dia termasuk gadis beruntung atau malah tidak ?? Jika gadis itu tahu, seberapa gila Keluarga yang akan menjadi calon mertuanya, apakah dia bisa hidup dengan tenang ??
"Baguslah... Aku sudah mengirim mata-mata di keluarga mereka. Berharap saja, dia tidak menyadari secepat itu. Oh iya, terus awasi pergerakan tikus kecil itu."
"Baik tuan, anda tidak perlu khawatir masalah itu."
Disisi lain...
Alto, keempat saudara, dan Damar sedang berkumpul dalam satu ruangan yang sama. Mereka sedang membahas permasalahan yang mereka hadapi saat ini, berbeda dengan ayahnya.
Keenam lelaki itu malah membahas masalah Aarav dan juga Anthony yang saat ini sedang bertarung. Meskipun mereka tidak ikut, dan tidak datang tapi mereka sudah mengawasi dan mengintai pertarungan yang terjadi kemarin malam. Sungguh, ini menjadi tontonan besar, kedua musuh mereka di adu domba satu sama lain. Bodohnya lagi, mereka tidak menyadari Keluarga Sagara yang sudah berhasil membawa Felitha datang kemari.
"Apa mereka benar-benar tidak menyadarinya ??" Tanya Arya yang masih tidak habis pikir.
"Entahlah, otak mereka diisi oleh kebodohan sepertinya." Ujar Altan dengan ketus.
"Well, mereka mungkin saat bersekolah hanya mengintip gadis-gadis di kamar mandi. Jadilah, otak mereka tidak bekerja dengan baik." Ujar Adnan dengan nada sinis dan ketus tapi justru membuat Damar tertawa geli di sana.
"Astaga, jika bersama Felitha apakah kalian akan mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu ??" Tanya Damar saat dia berhasil mengontrol tawanya.
"Jika kami berkata seperti itu, kemungkinan gadis itu akan takut." Ujar Arya memikirkan perkataan dari Damar.
"Dia bahkan sangat kaget mengetahui semua rahasia gelap, yang ternyata dimiliki oleh kita semua." Ujar Adnan.
"Apalagi kalau tahu, seperti apa sosok Damar yang di pikir seorang humoris dan suka bercanda ini pernah memukuli orang hingga sekarat di rumah sakit." Ujar Alto menanggapi, membuat Damar hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
~ ~ ~
***Beberapa Chapter gak ada kalimat penutup ya.. hehehehe.. maaf ya kemarin gak update..
Author sebenarnya banyak ide di otak, tapi baru dua yang di tulis di sini..
Gak tau dah, bakalan publish cerita lagi atau gak..
BTW, Semangat ya puasanya*** !!!