(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Keempat belas



Apakah kita tidak terlalu terbuka pada gadis itu ??”


“Yeah, aku yakin dia pasti akan merasa bingung dan segera mencari tahu.”


“Terutama Altan dan Adnan yang terang-terangan menggoda dengan nada pedofil, kalau Arjun mah caranya masih romantis dan sweet.”


Ucapan Arya membuat Altan dan Adnan memandangnya dengan tajam, tapi yang ditatap hanya mengacuhkan tidak peduli pada tatapan kedua saudara kembarnya itu, toh apa yang dikatakan oleh Arya adalah kebenaran. Dan ya, meskipun begitu sebenarnya kelima lelaki itu memang memiliki sisi yang sangat misterius.


Sementara Arjun hanya berdiam memandang datar pada ketiga saudaranya yang memang sering bertengkar kecil, itulah saudara kalau bertemu berantem kadang kek kucing sama anjing, tapi kalau dipisah pasti saling mempertanyakan satu sama lain, aneh memang tapi itulah hubungan yang manis antar saudara terutama kepada saudara laki-laki.


“Jadi.. intinya kita berlima mendekatinya..??” Tanya Alto mendengarkan ucapan dari ketiga lelaki saudaranya itu.


“Well, bisa dikatakan seperti itu.. Arjun tadi ngajak Felitha, terus Altan tadi juga sempat godain, Alto kamu sendiri juga, kan ??”


Alto mengangguk, “Yeah, aku mencoba bertanya padanya, dan hasilnya.. benar-benar luar biasa, aku sedikit tertarik pada gadis polos itu.” Ujar Alto sembari menyeringai licik, dia teringat akan jawaban gadis polos nan unik itu. Rasanya dia benar-benar ingin menggoda gadis itu terus menerus.


“Dan.. bagaimana reaksinya mengetahui rahasia gelap kita masing-masing ??” Tanya Adnan sedikit penasaran, bagaimana reaksi Felitha nantinya mengetahui semua rahasia gelap kelima lelaki itu. Apakah dia akan kabur sama seperti perawat lainnya seperti sebelumnya ??


“Kau benar, aku rasanya ingin menunjukkan padanya betapa hebatnya kita, bahkan dengan segala keterbatasan fisik yang kita miliki.” Ujar Arya kesal dengan menandatangkan perawat seakan mereka berlima adalah orang lemah yang tidak bisa apa-apa, padahal disamping itu mereka hanyalah orang hebat yang tertutupi dengan kondisi fisik mereka.


“Tenang saja, dia pasti akan mengetahui rahasia kita tidak lama lagi.. tapi aku pastikan, dia tidak akan pernah bisa lari dari kita.” Ujar Alto menyeringai licik, sepertinya sosok itu sudah memiliki sebuah rencana sendiri yang mungkin akan segera dia laksanakan.



Lagi dan lagi, Felitha merasa sangat kekenyangan akibat makan malam yang membuatnya terpaksa harus makan dengan banyak karena majikan mereka memesan banyak menu dengan porsi jumbo. Astaga lagi-lagi Felitha harus kembali ke kamar dengan kondisi begitu kekenyangan, terpaksa jika dia harus duduk di dalam kamarnya menunggu sampai perutnya tidak terlalu kekenyangan.


Felitha kemudian melihat ke arah handphone dan berfikir untuk memberikan kabar kepada teman-temannya, tidak disangka baru satu hari bekerja disana, Felitha sudah mendapatkan banyak pesan dari teman-temannya. Daripada bosan, sebaiknya dia membalas semua pesan dari teman-temannya satu persatu. Terkadang dia tertawa membaca pesan penuh drama dari Cindy, dan Puja. Juga beberapa teman yang mengirim beberapa kegiatan mereka dengan anak-anak yang sempat dirawat oleh Felitha itu sendiri.


Ada rasa rindu, dan juga sedih mengenang dirinya harus bekerja pada orang lain dan meninggalkan anak-anak manis itu di rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, tugasnya kini harus berada di tempat lain dan membantu kelima lelaki bersaudara itu- tunggu..


Felitha teringat akan ucapan dari Altan yang menawarinya untuk menjadi model lukisannya, dan menyatakan jika dia dan kelima saudara lainnya sebenarnya tidak membutuhkan seorang perawat, tapi kenapa dia malah di sewa dan di pekerjakan disana ?? sebenarnya dia ingin menanyakan hal ini lebih lanjut kepada kelima saudara atau Damar, atau mungkin Nyonya Cantika sendiri.


Tapi Nyonya Cantika sering sibuk saat siang hari, karena perempuan itu memiliki beberapa usaha seperti butik, produksi kosmetik, juga salon spa kecantikan yang sudah terkenal dengan nama dan bertaraf internasional. Untuk kelima saudara itu, Felitha merasa sangat tidak nyaman dan merasa takut didekat mereka, kecuali Arjun. Kalau Damar sendiri.. Felitha mungkin bisa berbicara pada Damar besoknya. Iya, Damar.


Felitha kemudian mematikan handphone nya dan segera bergegas untuk beristirahat dan tertidur. Dia segera membaringkan tubuhnya tidur di kamar itu, mengingat peristiwa terjadi hari ini seakan seperti diluar nalar, Felitha berfikir akan membantu Arya dengan mendorong kursi rodanya ke taman, atau membantu Alto untuk berjalan dan menuntunnya, diluar dugaan kelima lelaki itu bahkan mampu melakukan apapun sendirian tanpa bantuan dari orang-orang sekitar.


“Kalau ingat perkataan Damar, aku cuma bantuin secara psikis aja, kenapa gak manggil psikolog ??” Ujar Felitha pada dirinya sendiri, antara bingung, heran dan juga penasaran. Tapi melihat reaksi seluruh atasannya, mereka terlihat orang yang sebenarnya cukup baik dan menghargai semua orang bahkan kepada pelayan atau orang yang bekerja padanya.


“Udah ah, kalau mikir terus ntar malah gak tidur-tidur.”


Kebiasaan Felitha yang jika dia berfikir terlalu keras maka gadis itu bisa mengalami kesulitan tertidur selama hampir beberapa jam bahkan semalaman penuh dia akan tetap terbangun hingga pagi hari. Tapi Felitha tidak bisa sembarangan, kali ini dia memiliki jadwal dipagi hari yaitu memberikan obat kepada Alto.