(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Kesepuluh



Felitha membuka penutup mata kain itu secara perlahan, dan terlihat sebuah mata berwarna cokelat terang, dan tampak berkilau saat terkena pantulan sinar matahari. Felitha sudah tahu, jika mata seorang yang buta memang memiliki warna mata yang sama, hanya saja penglihatan mereka saja yang menghilang. Bola mata yang indah, pantas saja Alto enggan menerima donor mata dari orang lain, lelaki itu mungkin terlalu menyayangi warna dari bola matanya itu.


“Mataku begitu buruk, bukan ??” Ujar Alto dengan nada sedikit berbeda dari sebelumnya.


“Tidak.. Warna mata anda, sangat indah.” Ujar Felitha penuh kagum dengan warna dari bola mata itu.


“Benarkah ?? Tapi dia sangat membenciku.” Ujar Alto secara tidak langsung sedikit bercerita mengenai masa lalu mereka.


Dia ?? Felitha bertanya dalam hatinya, siapa yang membencinya ?? Felitha melihat seluruh anggota keluarga mereka sangatlah harmonis, Tuan Tirta juga sangat peduli padanya, begitu pula Nyonya Cantika yang sangat memperdulikannya, Damar ?? lelaki itu juga sangat dekat dengannya. Lalu siapa ??


“Itu tidak benar, mereka peduli padamu.”


“Begitukah ?? Bagaimana denganmu ?? Apakah kau peduli padaku, atau hanya karena kewajibanmu sebagai seorang perawat ??”


Ini pertanyaan menjebak yang selalu digunakan oleh para pasien saat Felitha melayani mereka, ini bukan hal bodoh atau pertanyaan biasa melainkan ini bersangkutan dengan jiwa kepedulian dan kasih sayang seseorang. Selama bertahun-tahun hidup dengan segala cacian makian, dan kemudian seseorang datang ke mereka dan membantu mereka dengan tulus, maka pertanyaan ini akan diajukan sebagai cara untuk memastikan apakah mereka yang datang benar-benar peduli atau hanya kasihan.


“Jika aku menjawab, ‘aku peduli’ apakah kau percaya ??”


“Tidak.”


“Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab menggunakan kata-kata melainkan dengan tindakan. Sama halnya, dengan pertanyaan, ‘apakah kau mencintaiku ?’. Orang bisa menipumu menggunakan kata, ‘ya’ tapi dalam hati tidak. Untuk bisa menjawab pertanyaanmu itu, apakah kau mau memberikanku kesempatan untuk membuktikan dan memberikan jawaban yang pasti ??”


Alto tersenyum merasa tertantang dengan jawaban itu, dia tidak menyangka dibalik kepolosan dan keluguannya, Felitha ternyata jauh lebih cerdik dari yang dia duga. Sepertinya ibunya memberikan seorang pilihan perawat yang tepat untuknya. Dengan jawaban itu, Alto merasa sangat puas.


“Baiklah, bagaimana jika aku memberikanmu waktu selama 6 bulan, untuk bisa membuktikan jika kau benar-benar peduli dan mampu merawat aku dan seluruh saudaraku.”


“Deal.”


Dan dari sejak itu pula, pekerjaan Felitha terasa semakin seru dan menyenangkan. Melihat sosok Alto yang sepertinya mulai bisa terlatih dan mulai tertarik dengan Felitha. Gadis itu tahu, cara untuk bisa dekat dengan mereka adalah, buatlah mereka tertarik padamu. Dan jangan sampai membuat kesan seakan kau datang hanya karena pekerjaan, atau rasa kasihan saja karena itu bisa membuat kepercayaan mereka padamu akan luntur.


Dalam bekerja di rumah sakit, Felitha belajar banyak jika hubungan antara perawat dan pasien menghilang atau luntur maka akan menjadi sebuah kesalahan yang sangat besar. Karena pada dasarnya Rumah Sakit Penuh Cinta didirikan bukan hanya untuk merawat para pengidap disabilitas saja, mereka juga sebagai rumah sementara bagi mereka yang memiliki kekurangan fisik yang ditinggalkan oleh keluarga mereka, hingga mereka mendapatkan keluarga baru, atau jika mereka yang sudah berusia lanjut, bisa tinggal di rumah sakit itu untuk selamanya agar mendapatkan perawatan dan lingkungan yang layak.


Dan seperti mendapatkan telur emas, Felitha senang pada akhirnya dia tidak perlu bersusah payah untuk bisa mendekati Alto, karena menurut Damar, Alto adalah sosok paling dingin dan angkuh, sehingga Felitha membayangkan betapa susahnya dia untuk bisa mendekati bahkan berbicara pada Alto, tapi sepertinya Tuhan memang membantunya dan membuat sosok dingin itu sendiri yang mulai membuka diri, lihat saja Felitha melangkah dengan riang gembira, tanpa menyadari dari arah berlawanan terlihat sosok yang sedang bermain handphone dan tidak melihat sekeliling, dan..


Bruk !!


Kedua orang itu bertabrakan, tapi hanya Felitha yang jatuh, sementara sosok lainnya masih tetap berdiri dengan kokoh, Felitha mengusap kepalanya yang seperti terbentur sesuatu yang besar dan keras, hingga sebuah tangan pun terjulur ke depan untuk membantunya berdiri. Dengan bantuan sosok yang entah siapa, Felitha bisa bangkit dari posisinya, dan kemudian menunduk meminta maaf.


Tidak ada jawaban apapun dari sosok didepannya, membuat Felitha berfikir jika sosok itu marah padanya atau mungkin enggan untuk berbicara padanya, hingga sebuah suara seperti bolpoint yang menulis di kertas menjadi sebuah jawaban atas ucapan Felitha.


Saat gadis itu mengangkat wajahnya, terlihat sebuah catatan kertas dengan bolpoint hitam.


‘Tidak masalah :)’


Felitha baru menyadari jika yang dia tabrak adalah Arjun, pantas saja lelaki itu tidak mengeluarkan suara sama sekali, dan hanya memberikan sebuah kertas dengan tulisan. Tapi yang unik adalah, Arjun memberikan kertas dengan emoticon senyum di akhir, sementara ekspresinya begitu datar dan tidak memberikan senyuman sama sekali. Ah biarlah, lagipula Felitha sendiri tidak mempermasalahkan hal itu.


“Maaf.. sekali lagi tuan, err.. jika aku bertanya, apakah aku bisa membantumu ??” Ujar Felitha, setelah membantu Alto, dia juga harus membantu untuk saudara lainnya, sebenarnya sudah ada jadwal dari Damar, hanya saja isinya adalah untuk menemui dan bertanya apapun yang bisa dia bantu.


Cukup aneh, sebenarnya. Tapi, Felitha berfikir jika dia mungkin harus membantu kelima lelaki itu secara psikis saja, bukan secara fisik. Karena mereka berlima bahkan sudah bisa beraktivitas tanpa bantuan siapapun. Bahkan Arya yang hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda saja, bisa beraktivitas tanpa harus bantuan dari orang lain.


Arjun mengeluarkan ekspresi sedikit tidak suka, dia kemudian menulis sesuatu di kertas itu lagi, dan menunjukkan sebuah kalimat, tapi kali ini tidak menggunakan senyuman.


‘Berhenti memanggilku tuan, aku masih muda ! :( Panggil aku, Kak Arjun.’


Bolehkah Felitha tertawa, saat lelaki di depannya malah memberikan emoticon di setiap dia menulis, mungkin sebagai simbol atas ekspresi emosi yang dia lontarkan. Tapi jujur, jika Arjun bisa mengeluarkan suara atau bisa kembali berbicara maka lelaki itu mungkin tidak sedatar atau sekaku Alto.


“Baiklah.. maafkan aku, Kak Arjun. Jadi, adakah sesuatu yang bisa aku bantu ??”


Arjun terlihat terdiam sejenak sembari berfikir dengan ucapan dari Felitha, lalu tidak lama dia menuliskan sesuatu yang mungkin akan membuat Felitha merasa sedikit senang. Lalu lelaki itu menunjukkan hasil tulisannya yang sedikit lebih banyak dari sebelumnya.


‘Aku tidak membutuhkan apapun, tapi… bisakah kau menemaniku berjalan-jalan di taman ??’


Felitha yang melihat itu langsung mengeluarkan senyuman lebar, ini bisa menjadi sebuah kesempatan emas bagi Felitha untuk bisa berjalan-jalan refreshing, sekaligus mendekati pasiennya yang satu ini. Aneh juga, tidak seperti ancaman dari Adnan dan Damar yang memberikan kesan sisi gelap menyeramkan dari mereka, justru sisi ramah dan baik yang Felitha dapatkan.


Ya meskipun, Alto tidak seramah yang dia pikirkan, tapi sebuah tantangan yang diberikan lelaki itu menjadi tanda, jika dia sudah mempercayai Felitha sepenuhnya. Dan sekarang, Arjun ?? ternyata pekerjaan ini tidak seseram yang dia pikirkan. Apalagi kesan pertama yang seakan penuh penolakan, sepertinya Alto dan Arjun mulai menerimanya, semoga saja yang lainnya juga begitu.


“Tentu saja, ayo !!” Ujar Felitha dengan penuh semangat dan riang, Arjun kemudian menulis sesuatu lagi di kertasnya.


‘Jika berjalan di taman umum, apa kau keberatan ?? Kau tidak malu, kan ?? berjalan dengan lelaki sepertiku L??’


Felitha menggelengkan kepalanya, “Tidak sama sekali, justru di taman umum akan jauh lebih menyenangkan !! Kalau begitu aku akan bersiap dan kita berangkat !!” Ujar Felitha dengan riang.


‘okee ;)’