
"Jadi.. Nyonya Cantika mengetahui semuanya ??"
Cantika mengangguk dengan polosnya, dan tersenyum ke arah Felitha yang mulai tenang daripada sebelumnya. Cantika kemudian mengajak berbicara calon menantunya itu, juga dengan Grace di sana. Anggap saja mereka menghindari pembicaraan para lelaki yang sedang menyusun rencana tersendiri.
"Sudah sejak awal, lagipula.. Suamiku sendiri bukanlah orang yang baik." Ujar Cantika dengan nada suara kecil saat membicarakan masalah mengenai suaminya itu.
Felitha terdiam, "Bukan orang baik ?? Tapi Tuan Tirta sangat baik, dan.. Dia adalah lelaki yang lembut kepada anda."
Cantika terkekeh pelan, "Karena itu, aku pastikan keenam putraku bisa merawat kalian dengan baik."
"Eh ??" Grace yang tadinya tidak terlalu memperhatikan pembicaraan kedua perempuan itu kemudian menoleh saat mendengarkan perkataan Cantika mengenai keenam putranya itu.
"Maksud anda ??" Tanya Grace dengan nada begitu penasaran dan bingung.
"Well, Damar sudah memutuskan siapa perempuan yang beruntung mendapatkannya. Dan aku merestuinya, begitu pula dengan Felitha dan kelima putraku."
"Eh.. Kak Damar.. Benar-benar serius.. ??" Ujar Grace sedikit terkejut bukan main, dan menutup mulutnya karena hampir tidak percaya. Dia tahu, jika Damar menyukainya, dan dia sendiri juga menyukai Kak Damar. Tapi.. Dia tidak pernah berfikir jika Kak Damar akan mengarah ke jenjang yang lebih serius.
"Tentu saja, jika Damar mempermainkan hatimu, maka aku sendiri yang akan meninjunya. Lagipula perempuan baik seperti kalian berdua, pantas mendapatkan lelaki yang bersungguh-sungguh dan serius." Ujar Cantika tersenyum kepada kedua perempuan itu dengan tulus dan itu membuat Felitha dan Grace merasa senang, bahagia dan sedikit terkejut.
Kenapa mereka terpilih menjadi menantu dari keluarga paling kaya dan terhormat, disaat mereka bukanlah siapa-siapa di sana. Mereka bukan berasal dari kalangan atas, atau bahkan pengusaha yang setara dengan Keluarga Sagara. Tapi mereka tidak menyangka, malah terpilih sendiri oleh putra dari Keluarga Sagara.
"Terima kasih banyak, Nyonya sebenarnya-"
Pyar !!
Kedua perempuan itu melihat ke arah jendela, di sana berdiri kedua lelaki dengan pisau besar dan senjata tajam, menatap ke arah ketiga perempuan tersebut. Felitha dan Grace merasa kaget dan bingung, sementara Cantika hanya menatap datar dan tidak suka dengan kehadiran lelaki yang malah datang begitu saja masuk ke rumahnya.
"Kalian bertiga, ikut kami !!"
"Heh, apa yang akan kau lakukan, jika aku tidak mau." Bukannya merasa takut, Cantika malah tersenyum ke arah lelaki itu, dan memberikan tatapan tajam seakan dia tidak suka di perintah.
"Jangan memaksa kami berdua, untuk melakukan tindakan kasar !!"
"Berani kalian memerintah ku ?! Seharusnya kalian melihat dulu, siapa yang sedang kalian perintah." Ujar Cantika dengan penuh penekanan.
"Heh, dengar wanita ?! Kami disini tidak ingin berdebat dan melakukan tindakan kekerasan jadi-"
"Kalian pikir kalian bisa memerintah ku begitu saja ?!" Cantika dengan tatapan penuh emosi malah berjalan mendekati kedua lelaki yang membawa senjata tajam itu, tanpa rasa takut sedikitpun.
Felitha dan Grace malah terkejut dan bingung, saat Nyonya Besar mereka sama sekali tidak merasakan takut atau gugup menghadapi kedua lelaki dengan wajah menyeramkan dan pisau besar di tangan mereka.
"Beraninya kau !!"
Lelaki itu mengayunkan pisau di tangannya, saat Cantika berdiri tepat di hadapannya. Tapi dengan kuat, Cantika mampu menahan tangan lelaki itu hingga pisaunya tidak sampai menyentuh lehernya, lalu kakinya menendang bagian perut lelaki itu dengan kuat hingga terjatuh ke belakang, mengenai dinding belakang.
"Apalagi yang kau lihat, cepat bantu aku !!" Lelaki itu merasa kesal, saat dirinya terjatuh dan tidak berdaya temannya malah berdiam seakan terkejut dengan tindakan Cantika yang dilakukan pada temannya.
"Ayo, majulah kemari. Jangan khawatir aku perempuan, aku tidak tahu cara menggunakan pistol." Ujar Cantika dengan nada meremehkan memandang kedua lelaki itu.
Felitha dan Grace terpaku di sana, melihat tingkah atau perilaku yang berbeda dari Nyonya mereka itu, padahal kedua gadis itu berfikir nyonya besar mereka itu adalah sosok lembut dan bahkan begitu baik kepada siapapun, tapi... hari ini di depan mereka.. dia..
***Dor !!!
Dor !!!
Dor*** !!!
Ketiga tembakan mampu membunuh kedua lelaki itu dengan cepat, sementara Felitha dan Grace malah semakin membulatkan mata mereka. Nyonya Cantika menatap mereka dan tersenyum, tapi justru itu menambah kesan yang sangat menyeramkan.
"Jangan katakan pada siapapun. Ini rahasia kita, oke ??"
"Err.. I..iya tenang saja.. Nyonya.." Ujar Felitha dan Grace terkekeh dengan kaku.
brak..
"Apakah ada masalah disini- ohh.. Aku pikir ada masalah." Tirta memasuki ruangan sembari sedikit berteriak karena panik dan takut, tapi setelah melihat apa yang terjadi, dia malah tenang. Karena istrinya bisa mengatasi permasalahan yang terjadi.
"Hehehehe.. Aku meminjam pistol mu, lagipula ada dua lelaki gila yang mencoba masuk kemari." Ujar Cantika tanpa rasa berdosa, sementara Felitha dan Grace berfikir dalam pikiran mereka.. Apakah kedua gadis itu juga akan seperti nyonya mereka setelah menikah dengan keenam lelaki itu ??
Apalagi Felitha akan menghadapi kelima lelaki dengan mental gila cenderung ke psikopat, kemungkinan besar dia akan berubah menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Berdoa saja dia tidak akan menyakiti teman-temannya dengan karakter yang berbeda dan berubah.
"Kalian berdua juga, baik-baik saja bukan ??"
"I..iya Tuan.. jangan khawatir."
"Baguslah, memang terkadang ada banyak orang yang berusaha menghancurkan kami atau bahkan meneror, entah siapa lagi ini.."
"Dari Keluarga Sarawijaya." Ujar Cantika saat mengecek ke arah pakaian dan juga beberapa hal yang mungkin bisa menjadi petunjuk siapa yang memberikan perintah kali ini, rupanya terdapat sebuah tanda yang diyakini oleh Cantika berasal dari Keluarga Sarawijaya.
"Ck, sialan !! Keluarga itu lagi ?!" Ujar Tirta sedikit kesal dengan nama yang di sebutkan oleh istrinya itu, padahal sudah jelas dari awal putranya menolak perjodohan, tetap saja keluarga itu bersikeras untuk menikahkan putri mereka dengan Alto.
Apa sih, yang diinginkan keluarga itu ?!
"Tenanglah sayang, kemungkinan besar dia belum bisa menerima pernyataan dari Alto. Bagaimana jika kita menampar mereka dengan kenyataan yang ada ??"
"Apa itu ??"
Cantika tersenyum sejenak, "Setelah permasalahan ini, aku akan mengadakan lamaran besar untuk anak-anak, dan mengundang Keluarga Sarawijaya sebagai tamu terhormat di sana."
Felitha dan Grace langsung terkejut mendengarkan rencana gila dari calon ibu mertua mereka. Astaga naga, ini benar-benar gila, apakah kegilaan kelima lelaki itu sebenarnya menurun dari Cantika, atau memang karena masa lalu buruk ?? Entahlah, Felitha tidak bisa membayangkan apapun lagi, bahkan berfikir apakah ini adalah keberuntungan atau musibah berhubungan dengan keluarga yang memiliki perilaku begitu unik dan berbeda dari yang lain ??
Haruskah Felitha bersyukur ??