(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Empat puluh satu



"Hmm.. Pertemuan dengan Tuan Aarav ?? Bukankah dia adalah CEO termuda setelah kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu ?? Dia satu-satunya Anggota Keluarga Cashelito yang masih hidup dan tersisa ??"


"Iya, Tuan Tirta.. Dia bilang ingin membangun hubungan perusahaan dengan anda." Ujar salah satu sekretaris dari Tirta yang memberikan kabar mengenai adanya seseorang yang ingin membangun kerjasama dengannya.


"Dan dia berkata, akan melaksanakan makan makan bersama anda dan keluarga anda."


"Begitu kah ?? Biarkan aku telfon istriku dulu, dan memberitahu kepadanya. Baru aku akan memberikan jawaban."


Secara diam-diam, sekretaris itu mengagumi sosok bosnya sendiri, yang begitu hormat dan terbuka kepada istrinya sendiri. Dia berharap suatu ketika akan mendapatkan seorang suami yang bisa terbuka dan menaruh hormat tinggi kepadanya sebagai seorang perempuan juga. Bosnya itu tidak pernah ragu meminta pendapat dan keputusan istrinya meskipun ini mengenai kerjasama perusahaannya, tapi Tuan Tirta akan selalu mengabari istrinya itu.


"Baik, Tuan.. Saya akan menunggu jawaban dari anda."


Lalu sekretaris perempuan itu mengundurkan dirinya, dan meninggalkan Tirta yang mulai menghubungi istrinya yang kebetulan berada di rumah.



"Felitha, bagaimana menurutmu ?? Apakah kita harus mengadakan lamaran dan tunangan di bulan ini, atau bulan depan ??"


"Jangan terburu-buru, Kak Adnan.. Aku harus mengabari kedua orang tuaku di Solo." Ujar Felitha melihat kelima lelaki itu mulai membicarakan masalah serius mengenai pertunangan dan lainnya, hey dia saja belum bisa mengabari orang tuanya mengenai pertunangan ini.


Felitha yakin, orang tuanya akan shock mendengarkan kabar dari gadis itu. Karena sebelumnya, Felitha masih belum memiliki kekasih atau pacar sekalipun, tapi kemudian perempuan itu memberikan kabar mengenai pertunangan ?! Semoga orang tuanya tidak berfikiran yang negatif mengenai Felitha.


Apalagi di Jakarta pergaulan bebas begitu marak, terkadang membuat orang tua Felitha sedikit overprotektif mereka meminta atau lebih tepatnya berkenalan dengan teman dari Felitha, memastikan gadis itu mendapatkan teman yang baik. Beruntung teman-teman Felitha adalah orang yang baik dan berfikir positif, jadilah pemikiran orang tua Felitha tidak dianggap aneh bagi mereka yang sudah terbiasa tinggal di wilayah Jakarta.


"Baiklah, cepat segera hubungi orang tuamu sayang~ aku ingin segera mempersiapkan pesta dan lainnya." Celetuk Altan dan itu hampir membuat Felitha menggelengkan kepalanya, kenapa mereka berlima seakan memaksa dan menekan Felitha untuk hubungan ini ??


Sebenarnya Felitha mulai mengerti beberapa hal, seperti mereka khawatir akan ada lelaki lain yang jatuh hati pada Felitha, seperti Anthony kemarin, dan lagi beberapa musuh dari mereka mulai menyukai Felitha, dan jujur itu membuat gadis itu sedikit was-was dan takut.


Siapa yang tidak takut coba ?! Pacaran sama mafia tapi, lelaki itu memiliki banyak musuh dan belum lagi kalau musuhnya itu kejam dan jahat bisa-bisa Felitha mati di tangan musuh mereka. Tapi.. Felitha tidak bisa memandang remeh perhatian dan kasih sayang mereka, dia tidak bisa melepaskan begitu saja kelima lelaki itu dengan mudah.


"Baiklah, Kak Altan." Ujar Felitha tersenyum dengan lembut kepada Altan.


Disaat ini, kelima lelaki itu bersantai dengan Felitha, tapi kali ini Arjun yang mendekati dan membaringkan kepalanya pada atas paha Felitha sembari menikmati belaian di rambutnya. Felitha merasa sangat gemas dan senang menyentuh rambut hitam, lebat tetapi begitu lembut milik Arjun. Sementara Altan dan Adnan juga tidak mau kalah berada di samping kanan dan kiri Felitha.


Arya dan Alto berbicara sendiri seperti ada urusan lain, tapi tetap berada di dalam ruangan tersebut sembari menatap dari kejauhan dan melihat ketiga saudaranya bermanja dengan Felitha disana.


"Aku yakin mereka tidak akan berani macam-macam lagi."


"Aku berharap begitu.. Dan aku berharap tidak akan ada lagi yang mengincar Felitha." Ujar Arya dengan sedikit ragu dalam ucapannya entah kenapa.


"Astaga.. Kalian benar-benar romantis, padahal belum menikah tapi seperti suami istri." Celetuk Damar.


"Apakah ada sesuatu yang mendorongmu kemari, untuk menganggu hari yang indah ini ?!" Ujar Altan dengan sedikit ketus karena merasa sedikit terganggu dengan adanya kehadiran Damar.


"Santai saja, aku hanya ingin mengatakan. Kalau Tuan Aarav Cashelito dari perusahaan Casha akan mengadakan makan malam sebagai acara untuk membangun hubungan perusahaan."


Alto terdiam sejenak, lalu bertanya, "Apakah ada hubungannya dengan kami ??"


"Tentu saja, dia mengundang kita semua untuk makan malam !! Dan Felitha kau juga harus ikut, karena Grace juga ikut." Ujar Damar.


"Kau sendiri, bagaimana hubunganmu dengan Grace ??" Tanya Arya dengan rasa penasaran.


"Aku akan mengadakan acara pertunangan setelah kalian." Ujar Damar menjelaskan, membuat Felitha terkejut dan juga senang. Ternyata sahabatnya itu juga akan menyusul menjadi saudara iparnya setelah ini. Astaga informasi ini benar-benar sedikit sulit untuk di cerna bagi Felitha, karena begitu banyak dan sangat mendadak seperti ini.


"Huft.. Baiklah kalau begitu.." Ujar Alto sepertinya begitu berat untuk mengiyakan ucapan Damar mengenai makan malam.


"Ada apa ?? Kau terlihat sangat keberatan ??"


"Yeah, untuk makan malam. Bukan untuk acara pertunangan mu."


"Kenapa ??"


Alto terdiam sejenak, "Well, sebenarnya.. Aku yakin kalian berempat ingat saat masih sekolah dasar dulu, aku pulang sekolah dengan keadaan tangan terbakar tersiram air panas."


Perkataan itu membuat keempat saudaranya teringat peristiwa saat mereka masih kecil, dimana Alto pulang sekolah dengan keadaan mengenaskan karena hampir tangan dan kakinya terkena luka seperti terbakar atau.. tersiram air panas, Alto memang mengatakan ada yang menyiramnya dengan air panas, tapi dia tidak mengatakan siapa pelaku dan orang yang melakukan itu kepadanya.


Altan menatap curiga disana, "Jangan bilang pelakunya adalah..."


"Ya.. Aarav pelakunya."


Damar yang sebenarnya tidak tahu kejadian itu, tapi tetap saja terkejut bukan main. Jadi.. Aarav adalah musuh sekolah mereka dulu ?? Sementara keempat saudara lainnya memperlihatkan ekspresi kesal dan emosinya tapi mereka menahan diri untuk tidak marah di depan Felitha, khawatir mereka akan menakuti gadis itu. Jadi si brengsek Aarav lah, yang telah melakukan itu kepada saudara mereka ?! Rasanya mereka ingin membalas perbuatan Aarav saat makan malam besok.


"Maafkan aku, Kak Alto.. Aku harap bisa membatalkan acara ini." Damar sedikit tidak enak dan sedih, mendengarkan perkataan Alto yang mengatakan perbuatan tidak menyenangkan dari Aarav yang adalah penyelenggara acara makan malam nanti, di tambah Aarav lah yang menyewa restoran untuk makan malam nanti.


"Tidak perlu di batalkan, biarkan saja kita datang. Aku ingin tahu reaksi nya bertemu denganku nanti." Ujar Alto menyeringai sedikit, semoga saja makan malam nanti tidak akan berantakan hanya karena status mereka sebelumnya. Semoga saja.