(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Lima puluh tiga



Pertarungan sengit terjadi hampir dua jam, di sana beberapa anak buah Aarav sudah mulai kewalahan. Belum lagi kelima lelaki dan Damar sangat pandai bertarung. Alto bertarung melawan Aarav, pertarungan sengit yang terjadi di sana benar-benar menegangkan, mendebarkan, dan seru.


Aarav sendiri tidak percaya, dia berfikir Alto yang buta akan mengandalkan pendengarannya saja akan merasa kewalahan bertarung dengannya. Apalagi keadaan di sana begitu berisik dan banyak suara gaduh, yang mungkin akan membuat fokus dari Alto terganggu. Tapi nyatanya lelaki itu mampu menghadapi nya dan bahkan menangkis serangannya dengan sangat mudah.


"Apakah hanya segitu kemampuanmu, Tuan Aarav ??" Ujar Alto dengan sinis.


"Tunggu.. Kau.. bisa melihat ?? Apakah kau berbohong mengenai penglihatan mu ?!"


"Kenapa kau berfikir seperti itu, heh ??"


"Bagaimana... Bagaimana kau bisa menangkis semua serangan ku dengan mudah ?!"


Pertanyaan itu seakan adalah sesuatu yang begitu menegangkan di tengah kondisi peperangan saat ini, Alto tidak bergeming sedikitpun dan malah tertawa geli di sana.


"Dan satu lagi, Arya...?! Bagaimana dia bisa bertarung dengan lincah dan berdiri tanpa kursi roda ?! Apakah ini semua hanya akal-akalan mu untuk menipu para musuh mu ?!" Ujar Aarav kembali menimpali dan melihat Arya yang bertarung dengan menggunakan senjata, pisau lipatnya dengan lincah dan begitu gesit.


"Well, coba lihat ini." Alto membuka kain penutup mata yang dia gunakan, dan menunjukkan sesuatu kepada Aarav, yang membuat lelaki itu terkejut bukan main melihatnya.


"Ka...kau ?!"



"Jadi, dimana ini ??"


Felitha, dan Grace merasa asing dengan tempat mereka berada saat ini, tempatnya seperti sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi tidak terlalu kecil. Bisa dikatakan sedang, tapi begitu indah dan mewah. Mereka berdua bingung, saat Tirta membawa kedua gadis itu ke lokasi yang membuat mereka merasa asing.


"Selamat datang di salah satu villa kita, oh iya kita akan bertemu dengan seseorang disini." Ujar Cantika saat melihat kebingungan kedua calon menantunya itu.


Keduanya mengangguk, mereka ingat Keluarga Sagara memang memiliki begitu banyak villa, dan mungkin yang satu ini juga termasuk dari sekian villa yang mereka miliki. Felitha terkejut, ternyata villa begitu indah dan megah meskipun tidak terlalu besar.


"Bertemu dengan seseorang ??" Grace yang sepertinya sudah terlalu lama memandangi rumah itu, akhirnya membuka suara untuk membicarakan masalah lainnya.


"Ya, ayo kita masuk."


Tirta mengajak istri dan kedua gadis itu untuk masuk ke dalam, ada beberapa pelayan yang menyambut mereka, tapi kemudian mereka melihat sosok lelaki yang duduk di kursi roda tersenyum ke arah mereka. Felitha mengetahui siapa lelaki itu.


"A..Anda.. Bukankah anda Daniel ?? Daniel Cashelito ??"


Lelaki itu, Daniel mengangguk dan tersenyum, dia juga mengingat Felitha sebagai seorang pelayan yang ramah dulunya, dan sempat berbicara kepadanya.


"Kau masih ingat aku ya ??"


"Tapi.. bukankah anda.. ??"


"Aku sudah sadar tiga hari yang lalu, tapi Tuan Tirta dan Nyonya Cantika yang membawaku kemari, dan menyelamatkanku." Ujar Daniel tersenyum kepada dua orang yang berusaha menyelamatkannya, padahal Daniel bukanlah siapapun untuk mereka, tapi kedua suami istri itu seakan bertingkah seperti orang tua yang melindungi anaknya.


"Kau benar, dia bahkan jauh lebih berisi daripada saat dia terbangun dari koma." Ujar Cantika mengamati lelaki yang berusia muda, yaitu 20 tahun tampak begitu lebih segar dan sehat dari sebelumnya.


"Nyonya.. Jangan begitu.." Ujar Daniel sedikit malu mendengarkan perkataan dari Nyonya Cantika yang sedikit menggoda dan mengatakan mengenai tubuh miliknya itu.


Lalu kelima orang itu akhirnya berbicara dengan santai, Felitha dan Grace tidak hentinya menanyakan keadaan dan kondisi Daniel seakan mengkhawatirkan keadaan lelaki itu. Memang kalau mendengar cerita sebelumnya membuat kedua gadis itu sedikit iba dan merasa kasihan, tapi disisi lain nyatanya orang di hadapan mereka kini jauh lebih terawat dan baik.


Setelah percakapan ringan antara mereka berlima, akhirnya muncul ucapan dari Daniel.


"Sekarang aku bingung dengan jalan hidupku." Ujar Daniel dengan sedih.


"Maksudku.. Kedua orang tuaku meninggal karena saudaraku, dan sekarang hidupku juga berada dalam incarannya. Apakah.. nasibku akan berakhir mati di tangannya ??"


"Itu tidak akan terjadi !" Ujar Tirta langsung dengan tegas, seakan dirinya tidak akan membiarkan Daniel mati di tangan Aarav.


"Kami tidak akan membiarkanmu meninggal begitu saja." Ujar Cantika juga dengan tegas.


"Bagaimana keadaan Keluarga Cashelito ke depannya jika kau pasrah begitu saja ?!"


"Ta..tapi Tuan Tirta, aku tidak layak dengan semua harta kekayaan dari Keluarga Cashelito."


"Siapa yang bilang ?! Daniel, bukan hanya hubungan darah saja yang pantas untuk mendapatkan warisan, tapi justru sifat dan perilaku. Dibanding dengan Aarav, kau jauh lebih pintar, cerdik dan lebih pantas mendapatkan itu semua." Tirta menjelaskan dan berusaha untuk menguatkan Daniel, agar tidak terpengaruh perkataan iblis dari Aarav.


Daniel terdiam mendengarkan perkataan Tuan Tirta, perkataan itu sama seperti yang di ucapkan oleh ayahnya dulu, Tuan Besar Cashelito juga sangat menyayangi, dan bahkan Nyonya Besar Cashelito yang bukan ibu kandungnya sangat menyayangi dirinya. Tapi Aarav, begitu membenci dan iri kepadanya.


"Apa yang dikatakan Tuan Tirta, dan Nyonya Cantika benar. Kau tidak boleh merasa rendah diri hanya karena status mu !! Kau berhak juga atas warisan dan harta Keluarga Cashelito !!" Ujar Felitha tidak kalah semangat, dan memberikan dukungan penuh kepada lelaki itu.


Melihat beberapa dukungan orang di sekitarnya, membuat Daniel merasa sedikit bersemangat. Padahal dirinya dulu sangatlah rapuh, di tambah kondisi fisiknya yang membuatnya semakin mudah di injak oleh Aarav, tapi perkataan orang-orang itu benar. Tidak seharusnya dia mengalah begitu saja dari Aarav.


Ditambah, Aarav lah yang merupakan pembunuh dari kedua orang tuanya. Seorang pembunuh tidak pantas untuk seluruh harta kekayaan dari Keluarga Cashelito.


"Kalian benar ?! Setidaknya aku harus memperjuangkan keadilan bagi kematian kedua orang tuaku !! Aku tidak boleh lemah !!"


"Itu baru yang namanya semangat !!" Celetuk Grace sepertinya mulai senang dengan semangat dan perkataan yang di kobarkan oleh Daniel.


"Lalu apa rencana mu selanjutnya, Daniel ??" Tanya Tirta.


"Mungkin aku akan meminta polisi untuk menyelidiki kasus kematian kedua orang tuaku. Tapi.. Bagaimana caranya ??"


"Begini saja, biarkan aku menyelidiki melalui anak buah ku, setelah mendapatkan hasil penyelidikan dan juga bukti. Baru kau melaporkan kepada polisi. Karena Aarav begitu cerdik, dia bisa menggunakan laporan polisi untuk menyerang mu kembali." Ujar Tirta memberikan sebuah cara alternatif untuk bisa mengalahkan Aarav.


Daniel mengangguk, mengalahkan Aarav memang tidaklah mudah. Daniel sudah terlalu lama mengalah, sehingga membuat Aarav memiliki kesempatan emas untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan bahkan melakukan tindakan licik dengan membunuh kedua orang tuanya.


Daniel menggelengkan kepalanya, dia berfikir Aarav membencinya dan menginginkan kasih sayang orang tuanya secara penuh tanpa mau berbagi dengan Daniel. Tapi nyatanya, setelah Daniel koma, lelaki itu malah membunuh kedua orang tuanya ?! Astaga !!