
"Tuan, putri anda berhasil di tangkap oleh mereka."
"Apa ?! Bagaimana bisa ?! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjaga putriku ?!"
"Maafkan aku tuan."
"Kalau begitu cepat selamatkan putriku dan lakukan apapun !!"
"Baik tuan."
Lelaki itu mengeram kesal, sepertinya rencananya akan gagal total, dan apalagi ini ?? putrinya di sandera ?? Padahal dia sudah menyerahkan tugas ini kepada Blaise, bagaimana bisa dia tidak menjaga putrinya dengan baik ?! Lelaki itu membalikkan badan dan terkejut melihat Blaise ada di belakangnya.
"Ka..kau... ?! Apa yang kau lakukan disini ??"
Blaise tersenyum, dia mengangkat senjatanya dan menodongkannya kepada Randy, "Membunuhmu." Hanya itu yang dia inginkan selama ini, mengambil kesempatan untuk bisa membunuh orang yang hampir menghancurkannya.
"Kau... ?! Pengkhianat !!"
"Hehehehehe.. sampai jumpa, keparat."
Dor !!!
…
"Bagaimana dengan semuanya ?? tiket dan lain sebagainya ??"
"Sudah tuan, aku sudah persiapkan semuanya. Besok kita bisa berangkat."
"Baguslah."
Aarav mematikan handphone nya dan memandang ke arah Felitha yang sudah sadarkan diri. Gadis itu duduk di kursi dengan kedua tangannya terikat kuat di sana, dia tidak menyangka akan kembali di tangan Aarav. Padahal dia berfikir, sudah merasa aman dengan kelima lelaki kembar itu, tapi sayang semua di luar dugaan.
Aarav benar-benar memiliki tekad kuat untuk bisa menyerbu dan merebut kembali Felitha. Hingga dia nekad, bekerja sama dengan Keluarga Sarawija, demi mengepung rumah kediaman Keluarga Sagara, mengalihkan perhatian kelima lelaki itu, dan merebut Felitha secara diam-diam.
Keluarga Sagara yang tadinya sempat di serang, juga sedikit kewalahan meskipun mereka akhirnya bisa mengalahkan anak buah Aarav, tapi tetap saja gadis mereka sudah berada di tangan Aarav lagi, dan saatnya lelaki itu membawa kabur Felitha pergi jauh dari Indonesia.
Aarav mendekati Felitha, tangannya membelai rambut gadis itu. Bisa Felitha lihat, Aarav benar-benar seperti orang yang sakit jiwanya. Dari cara tatapan Aarav kepada Felitha, terlihat benar-benar sangat terobsesi bahkan lebih berbahaya dari sosok psikopat yang terobsesi pada mangsanya. Demi Tuhan, jika Felitha benar-benar jatuh dan bahkan hingga ke jenjang pernikahan dengan Aarav, lebih baik Felitha mati bunuh diri.
"Sayangku, sebentar lagi kita akan hidup bahagia dan selalu bersama. Bagaimana menurutmu ??"
Felitha tidak bisa menjawab apapun, tidak, mulutnya tidak di sekap apapun. Sebaliknya gadis itu memandang Aarav dengan tatapan horornya, bagaimana tidak ?? Dia lebih baik satu ruangan dengan pocong daripada dengan lelaki itu. Hantu atau iblis bahkan jauh lebih baik daripada Aarav. Siapapun tolong Felitha saat ini juga !!
"Sayang, ayo jawablah. Kau senang, bukan ??"
Jika aku menjawab tidak, apa dia akan memukulku ?? Batin Felitha dengan ragu-ragu, sepertinya tidak masalah jika dia menjawab tidak. Kemungkinan besar, dia akan menerima luka pukulan.
"Ti..tidak.."
"Tidak ??"
Mampus aku !! Felitha sedikit bergetar saat Aarav mendengar jawabannya, padahal Felitha berbicara dengan nada yang sangat rendah. Lelaki itu mulai merubah nada bicara dan tatapannya, lelaki itu kemudian semakin mendekat, Felitha menyadarkan tubuhnya di kursi sofa itu, dan Aarav berada hampir menindihnya di atas.
"Kenapa tidak, Hmm ??"
Karena kau gila, dan jelek Batin Felitha dengan terkekeh pelan dalam hatinya, meskipun tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya, dimana jantungnya berdebar tidak karuan karena takut.
"A..aku tidak mencintaimu.."
"Begitu kah ??"
"I..iya..."
Aarav memandang bagian tubuh Felitha, meskipun menggunakan pakaian lengkap, tapi lelaki itu memberikan tatapan yang berbeda, padahal Felitha memakai pakaian yang sopan dan tertutup, karena Aarav sama sekali tidak mengganti pakaiannya.
"Ke..kenapa kau menatapku.. Seperti itu.. ??"
"Felitha.. Apa yang harus aku lakukan agar kau mencintaiku ??"
"E-ehh ??"
Felitha semakin ketakutan, apalagi tangan Aarav mulai bergerak menuju ke arah pakaian Felitha, dan seakan hendak membuka pakaian itu.
"Tu..tunggu Aarav.. itu.. itu tidak akan membantu.. Dan.. Bu..bukankah kau bilang.. Kau harus mempersiapkan sesuatu.."
"Aku bisa menunda yang itu, tapi untuk ini.. Aku tidak bisa... Aku menginginkan ini.."
"A..Aarav.. tunggu.. oke.. jangan sekarang..."
"Kenapa tidak ??"
Felitha semakin panik dan bingung, saat Aarav sepertinya berniat untuk membuka pakaiannya. Gadis itu tidak boleh, dia tidak bisa membiarkan Aarav menyentuh tubuhnya begitu saja.
"A..aku..."
"Kau sudah selesai, bukan ?? Dengan urusan haid mu ?? Bukankah.. ini saat yang tepat.. ??"
"Tidak.. Bisakah kita menundanya ?? Aku.. Aku takut jika dalam perjalanan besok, aku kelelahan." Ujar Felitha berharap saja alasan satu ini berhasil menghentikan aksi gila dari Aarav.
Lelaki itu terdiam sejenak, dan bertanya.
"Kau.. Ingin bersama denganku ??"
"I..iya.."
Tatapan Aarav berubah, dia tersenyum lebar tapi itu justru semakin membuat Felitha takut, lelaki itu membelai pipi Felitha dan berbicara dengan nada begitu menginginkan dan sangat mendambakan.
"Aku juga sangat ingin bersamamu.. Aku ingin wajahmu, tubuhmu, suaramu selalu bersama denganku Selamanya ! Bahkan kematian tidak akan bisa menghalangi kita Felitha, tidak.. Kematian tidak akan menghalangi kita."
Oh Tuhan, bahkan Kak Alto dan lainnya tidak segila ini, sekarang aku sadar jika psikopat sendiri memiliki tingkatan kegilaan tersendiri, dan sepertinya Aarav berada dalam tingkat paling tinggi Batin Felitha, dia sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa dan alasan Aarav menyukainya selama ini.
"Tapi.. Kenapa kau begitu menyukaiku ??"
Aarav tersenyum, "Kau cantik sekali, dan bahkan saat aku mengintip mu di kamar mandi, kau terlihat sangat sempurna Felitha."
Itu bukan cinta, itu hanyalah nafsu besar mu !! Dan, kenapa lelaki ini bejat sekali ?! Kak Adnan, dan lainnya saja tidak pernah melakukan hal sebejat itu !! Batin Felitha memaki Aarav tapi tetap dengan tatapan khawatir dan juga was-was.
"Aku menginginkan semuanya Felitha, wajahmu, tubuh indah mu itu, semuanya. Aku tidak rela membagi mu dengan lelaki lain, sama sekali tidak !! Aku lebih baik membunuhmu daripada harus berbagi lelaki lain."
Perkataan Aarav sepertinya serius kali ini, dia mungkin akan membunuh Felitha jika sampai dirinya tidak bisa kembali bersama dengan gadis pujaan hatinya itu. Entah bagaimana caranya dia bisa melarikan diri dari lelaki gila yang sepertinya tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Disisi lain..
"Kau masuk lewat sana, dan aku lewat pintu belakang."
"Jadi, kita berpencar ??"
"Altan, apa kau tidak lihat ?! banyak penjagaan nya, jika kita tidak berpencar kita akan kerepotan." Ujar Adnan menjelaskan.
"Aku akan langsung menghadapi Aarav." Ujar Daniel berbisik.
"Kau yakin ??" Tanya Altan dengan rasa penasaran.
Saat ini kelima lelaki itu bersembunyi di semak-semak yang lokasinya berada di dekat markas dari Aarav, tempat yang dimana sudah ditunjukkan oleh Blaise. Sialannya, banyak sekali penjaga yang berada di sekitar sana. Sepertinya Aarav benar-benar tidak ingin melepaskan Felitha dengan begitu mudahnya kali ini.
"Kenapa ??"
"Sebenarnya kami ingin menyiksanya dulu, karena telah menyentuh Felitha sebanyak 50 kali." Ujar Arya menjelaskan, membuat Daniel merasa bingung.
"Bagaimana kalian bisa tahu dia menyentuh Felitha sebanyak 50 kali ?? memang kalian menghitung nya ??"
"Tidak sih, tapi Blaise yang melaporkan kepada kami."
Daniel memukul keningnya sendiri mendengarkan penjelasan yang tidak masuk akal, mana mungkin Blaise mengatakan hal yang tidak-tidak seperti itu, yang benar saja mereka itu.
"Biarkan aku yang menyelesaikan Aarav, kalian selamatkan Felitha. Aku masih memiliki urusan penting dengan saudaraku." Daniel tampak sedikit sinis saat menyebut Aarav sebagai saudaranya.
Kelima lelaki itu mengerti emosi dan perasaan Daniel saat ini, karena itu saat inilah mereka menghabisi Aarav.