(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketiga puluh empat



"Kau benar-benar keras kepala, ****** sialan !!"


"Ugh~ Aku tidak akan tinggal diam."


"Oh, lalu apa ?? apa yang akan kau lakukan ?? membunuh kami ?? Dalam mimpimu."


"Sialan !!"


"Oh iya, jangan pernah berfikir untuk bisa datang lagi di hadapanku, karena aku tidak akan berfikir dua kali untuk membunuhmu."


~ ~ ~


Felitha segera melangkahkan kakinya menuju ke kamar, setelah seharian ini dia sedikit lelah. Beruntung saja, dia bisa menolak ajakan untuk menemani mereka tertidur di kamar, gila !! Tentu saja, dia akan menolak dengan mentah-mentah ajakan gila itu.


Felitha tidak yakin, dirinya hanya di suruh untuk membelai rambut mereka hingga tertidur, atau membacakan dongeng hingga mereka tertidur, Felitha memang masih muda tapi dia yakin para lelaki itu memiliki otak licik untuk memperdayainya.


"Ada-ada saja.. Tunggu, apa ini ??"


Felitha sedikit terkejut mendapati sebuah kertas tulisan di bagian bawah pintu kamarnya. Gadis itu membungkukkan tubuhnya, meraih kertas itu dan kemudian membaca tulisan dalam kertas. Aneh, ada sebuah tulisan seperti peringatan kepadanya.


'Jangan membocorkan rahasia mereka, atau kau akan berakhir seperti aku.'


Hanya itu tulisan yang ada di dalam kertas, tapi siapa yang menulisnya ?? Tidak mungkin, Kak Arjun yang menulis tulisan ini. Tulisan Kak Arjun jauh lebih rapi dan bagus daripada tulisan ini, entah siapa yang menulis untuknya, tapi jelas ini ditunjukkan untuknya.


"Hey, Felitha."


"Eh, Grace ??"


"Membaca apa ??"


Felitha mengangkat bahunya acuh, dia kemudian menunjukkan tulisan itu kepada Grace, yang mana itu membuat sahabatnya sedikit kaget dan bingung.


"Eh, ini kaya tulisan dari Maid Mina deh.."


"Eh, Maid Mina ??"


Grace mengangguk, "Dia kan sama kaya Kak Arjun, jadi kalau ngomong nulis di kertas. Nah dia pernah beberapa kali, nulis ke aku, dan tulisannya tuh kaya gini."


"Tapi artinya, apa ??"


Grace mengangkat bahunya tidak tahu, "Tapi aku denger sih, katanya Maid Mina itu agak.."


"Agak.. ??" Felitha sedikit penasaran, saat Grace memotong ucapan nya sejenak, dengan ekspresi ragu-ragu.


"Agak kurang waras."


"Hush, bicara apa kamu ?! Gak baik ngomongin orang."


"Lho, aku denger sendiri sih dari Kak Damar. Memang dia orangnya agak aneh, tapi tetep boleh kerja disini, soalnya hasil pekerjaannya tuh rapi dan bersih. Cuma, aku sih gak tau pasti." Ujar Grace mengingat perkataan Kak Damar mengenai sang pelayan, bernama Mina itu.


Oh iya, terkadang mereka menyebutnya mba, atau Maid itu lebih formal. Tapi, Grace tidak terlalu dekat, jadilah dia memanggilnya dengan sebutan maid Mina.


"Ya udah deh, ntar aku tanya ke orangnya langsung." Ujar Felitha dengan sedikit penasaran dengan tulisan yang ada di kertas itu.


"Paling dia cuma iseng, atau... Mungkin dia nulis untuk diri sendiri, eh terbang ke kamarmu."


"Iya, bisa jadi sih."


"Ya udah, aku duluan ya ke kamar."


"Oke.."


Lalu Grace melangkah menjauhi Felitha dan menuju ke arah kamarnya sendiri, sementara Felitha masih terdiam bingung dengan pesan aneh di kertas itu. Apa maksudnya ?? Apakah pelayan Mina mengetahui rahasia gelap dari kelima lelaki itu ?? Dia harus mencari tahu, dia akan bertanya kepada... Kak Damar ??


Iya, dia harus bertanya kepada Kak Damar.. Tapi sekarang atau besok ?? Lebih baik sekarang, lagipula ini belum terlalu malam. Jika besok pagi, dia yakin kelima lelaki itu akan mengerubunginya, dan Felitha tidak mungkin akan bertanya langsung kepada mereka.


Felitha kemudian turun lagi melewati tangga mencari di bagian bawah, dan kemudian berjalan dengan santai meskipun dalam hatinya terburu-buru dan bingung karena tidak menemukan Kak Damar dimana pun, hingga..


Matanya menangkap Kak Damar sedang duduk santai di sebuah kursi santai di halaman luar sembari memainkan handphone nya, dia kemudian melangkah perlahan mendekati Kak Damar yang ada di sana.


"Kak Damar... ??"


"Eh, Felitha ?? ada apa ??" Tanya Damar saat mengetahui Felitha mendatanginya.


"Kak Damar, apakah aku boleh bertanya mengenai.. Pelayan Mina ??"


"Eh, tentu saja, duduklah disini."


Damar menawari sebuah kursi duduk yang berada di sebelahnya, tentu dengan jarak beberapa cm dari kursi Damar. Lelaki itu tidak mau saudaranya kembali cemburu dengannya, karena terlalu dekat dengan Felitha.


"Jadi.. Aku.. mendapatkan surat ini.."


Felitha menyerahkan sebuah kertas berisikan surat peringatan kepada Damar. Lelaki itu menerima dan membacanya, tapi dia terlihat tidak terkejut sedikitpun, bahkan bisa dikatakan dia sudah mengetahui nya.


"Terus, kamu mau tanya kok dia nulis ini buat kamu ??"


"Iya."


"Hmm.. Gimana ya ngomongnya.. Kenapa gak tanya aja sendiri, sama Kak Altan atau Kak Adnan aja ??"


Felitha menggelengkan kepalanya, "Gak mau, yang ada mereka cuma godain, tapi gak ngomong secara terang-terangan."


Damar menghela nafasnya, "Mereka kaya gitu karena takut."


"Takut apa ??"


"Takut kalau Felitha ninggalin mereka." Ujar Damar menjelaskan alasan kenapa mereka berlima tidak mau terlalu terbuka kepada gadis itu.


Felitha terdiam, iya sih memang sampai sekarang ada sedikit rasa takut dalam dirinya jika berdekatan dengan mereka berlima. Ya siapa yang tidak merasa takut, berdekatan dengan sosok pembunuh kejam berdarah dingin seperti mereka. Meskipun Felitha mulai mengetahui alasan kenapa mereka membunuh, tapi tetap saja ada rasa takut dari gadis itu.


"Iya sih.." Ujar Felitha mengakui masih ada rasa takut dalam dirinya.


"Felitha, mereka gak mungkin nyakitin kamu."


"Darimana Kak Damar bisa yakin ??"


"Lha, Kak Damar masih hidup sampai sekarang gak pernah di sakitin, Mom Cantika dan Dad Tirta juga gak pernah di sakiti sama mereka."


"Itu karena mereka sayang sama Kak Damar dan keluarga lainnya."


"Bukannya mereka juga sayang sama Felitha, Hmm ??"


Ucapan itu membuat Felitha terdiam sejenak, dia lupa jika mereka berlima sudah menganggapnya sebagai kekasih. Dan Felitha masih merasa canggung dan kaku, padahal dia sudah lumayan dekat dengan mereka berlima.


"Mereka mau kok terang-terangan sama Felitha, asal kamu jangan terlalu takut sama mereka. Mereka sayang kok sama kamu." Ujar Damar meyakinkan Felitha akan kesungguhan dari kelima lelaki itu menjalin hubungan dengannya.


"Aku terlalu curiga ya sama mereka.." Ujar Felitha sedikit sedih.


"Hahahaha gak kok, wajar aja kalau kamu masih agak takut sama mereka. Cuma, aku meyakinkan kamu aja kalau ucapan mereka terutama mengenai hubungan itu gak pernah main-main. Kalau mereka gak suka, mereka akan jujur. Sama halnya pas ngomong kalau suka sama kamu."


Ucapan Damar membuat Felitha semakin yakin dan merasa jika lelaki itu memang tidak sedang mempermainkannya atau memanfaatkannya, tapi mereka benar-benar sayang kepada Felitha.


~ ~ ~


***Hey Guys... Ini cerita lambat banget ya alurnya.. Btw, aku sebenarnya ada ide buat bikin cerita baru, kemungkinan besar bakalan aku upload beberapa hari lagi..


Semoga aja aku bisa ya nyeimbangin ini cerita sama cerita baru nanti..


Oke sekian dan terima kasih***..