
Malamnya, Felitha berencana untuk membaca dokumen yang baru saja dia temukan di gudang tadi. Entah kenapa, seperti ada dorongan kuat dalam dirinya untuk membuka dan membaca dokumen yang dia temukan. Dengan posisi duduk di kursi sebuah meja yang sudah di sediakan dari kamar, Felitha mulai membuka salah satu dokumen yang sepertinya menarik, karena dari yang Felitha duga dalam dokumen rumah sakit.
Saat membaca halaman dokumen, dia terkejut mendapati di halaman pertama tertuliskan nama Adnan Sagara, di dokumen tertuliskan anak lelaki berusia 5 tahun yang mengalami gangguan kerusakan pendengarannya, karena sebuah kecelakaan yang dialaminya. Entah kecelakaan apa, tapi dalam dokumen itu tertuliskan penyebabnya karena sebuah kecelakaan yang cukup parah sehingga anak itu kehilangan pendengarannya.
Felitha sebenarnya tidak tega untuk membaca lebih lanjut informasi itu, karena berisikan beberapa laporan hasil pemeriksaan dan juga hasil operasi. Tercatat sudah melakukan hampir 5 kali operasi, setelah kecelakaan yang menimpanya. Felitha tidak habis pikir bagaimana bisa anak lima tahun mengalami semua itu, tapi yang namanya musibah siapa yang tahu ??
Melewati halaman pertama, Felitha beralih ke nama lainnya, yaitu Arjun Sagara. Sosok yang ramah itu ternyata juga mengalami sebuah kecelakaan cukup parah yang menimpanya. Tapi aneh, disini dia mengalami kecelakaan saat berusia 7 tahun, dan sejak saat itu dia kehilangan kemampuan berbicaranya. Itu berarti, mereka tidak cacat sejak lahir, benar-benar malang nasib mereka. Tapi anehnya, dalam laporan ini tidak ada tindakan operasi atau apapun yang tertulis. Hanya saja, terdapat obat-obatan untuk luka dalam dan penghilang rasa nyeri, itupun obat yang disuntik bukan diminum.
Beralih ke halaman berikutnya, tertulis nama Altan Sagara. Mungkin dari semua kejadian, hanya Altan yang lebih tragis dari semua itu. Bahkan disini, ditandai sebagai kecelakaan berencana. Itu artinya, dia mengalami kecelakaan yang direncanakan oleh seseorang. Felitha meneliti kembali dokumen itu dari awal, dia baru menyadari jika itu adalah laporan Rumah Sakit yang juga termasuk laporan kecelakaan yang dikeluarkan oleh pihak polisi.
Felitha berfikir, jadi inilah laporan orang-orang yang mengalami kecelakaan ?? Mereka mendapatkan sebuah laporan hasil pemeriksaan sekaligus laporan hasil dari pihak kepolisian. Felitha kembali ke halaman mengenai Altan. disana tertuliskan anak lelaki berusia 6 tahun, mengalami sebuah kecelakaan malfungsi dari mesin yang kemudian menyebabkan anak itu kehilangan kedua tangannya. Felitha meringis, seakan dia merasakan rasa sakit jika kedua tangannya terpotong oleh sebuah alat. Dia tidak bisa membayangkan anak berusia 6 tahun, kecelakaan dengan mesin yang mungkin ukurannya lebih besar dari tubuhnya.
"Astaga.. membaca laporan ini, membuatku merasa haus." Pikir Felitha saat baru membaca setengah dari dokumen itu. Bodohnya, Felitha lupa untuk membawa gelas ke kamarnya untuk meminum, agar tidak perlu bolak-balik ke dapur. Sepertinya penyakit pikun Felitha kembali menyerang gadis itu. Dengan terpaksa, gadis itu menutup dokumen yang ditangannya dan keluar untuk mengambil minum.
…
"Rasanya segar sekali~" Ujar Felitha meminum satu gelas air putih dari dispenser.
Gadis itu mengambil satu gelas air minum lagi, dan kemudian membawanya dengan tangannya. Dia berencana membawa segelas air minum untuk berjaga-jaga, khawatir jika dia harus kembali ke dapur.
Dengan perlahan melangkahkan kakinya, untuk segera kembali ke kamarnya, tapi sebelum kakinya menginjak anak tangga paling bawah, telinga Felitha mendengar sebuah suara berbisik-bisik yang tidak jauh dari sana. Lagi-lagi rasa penasaran menyelimuti dirinya, berfikir jika mungkin itu adalah Grace temannya, dia bisa mengajak temannya itu untuk naik bersama, sekaligus mencari teman dari suasana sepi yang terasa sedikit menakutkan.
Kakinya kemudian mengarah ke sumber suara yang dia dengar. Tapi bukannya menemukan Grace, dia justru melihat Damar sedang berbicara dengan Altan dengan sedikit berbisik-bisik seakan khawatir suaranya menganggu sekitar, atau mungkin khawatir jika ada yang menguping. Salahkan suasana sepi rumah ini, yang membuat suara Damar terdengar dengan jelas, meskipun Felitha sudah bersembunyi di balik dinding.
"Aku hanya ingin berharap kalian tidak mengincar Grace."
"Tentu saja tidak, lagipula gadis itu sangat polos dan lugu, kami hanya mengincar para pelayan yang berusaha untuk menghancurkan rencana kami." Ujar Altan tersenyum licik disana.
"Jangan khawatir, Grace adalah kekasihmu. Lagipula kau menyayanginya, bukan ?? Aku tidak akan mengincarnya, asalkan.."
"Asalkan apa ??"
"Itu tidak mungkin."
Felitha yang mendengarkan percakapan mereka hanya bisa terdiam, apa maksudnya mengincar ?? dan apa katanya pelayan yang berusaha menghancurkan rencana mereka ?? rencana apa ?? Apakah mereka memiliki niat buruk ?? Apakah Kak Damar bekerja sama dengan mereka ?? Banyak pertanyaan dalam pikiran Felitha, tapi gadis itu memilih untuk segera meninggalkan tempat itu secepat mungkin dan kembali ke kamar tanpa diketahui oleh orang lain.
Melangkah perlahan, dan sedikit cepat. Felitha berhasil menutupi wajah gugupnya karena telah mendengarkan sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar sejak awal, melangkah santai seakan tidak mengetahui apapun. Tanpa disadari oleh Felitha jika ada sosok bersembunyi yang mengetahui keberadaan Felitha, dan dia melihat bagaimana gadis itu menguping pembicaraan Damar dan Altan.
"Kau nakal Feli~ tapi kau beruntung, karena kami tidak menginginkan kematian mu. Kami menginginkan mu !!" Sosok itu menyeringai dalam kegelapan, dan menghilang begitu saja.
Disisi lain, Felitha berhasil memasuki kamar miliknya. gadis itu tadi berlari cukup cepat, beruntung dia masih bisa menyeimbangkan gelas air di tangannya agar tidak tumpah, jadilah Felitha bisa kembali ke kamar tanpa menimbulkan sebuah suara atau kekacauan apapun, semoga saja Kak Damar dan Kak Altan tidak mempertanyakan mengenai dirinya, atau tidak mengetahui tentang dirinya yang menguping pembicaraan tadi.
"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan ?? Apakah... Mereka membicarakan tentang Pelayan Lia yang sempat menghilang ??" Ujar Felitha mengingat saat Grace kehilangan teman partner kerjanya yang bernama Pelayan Lia. Sosok pelayan yang seharusnya membantu Grace memasak, tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Tapi apa maksud perkataannya, mengincar ??
Ah sudahlah, sebaiknya Felitha tertidur sekarang, besoknya dia mendapatkan tugas membantu Kak Altan, karena lelaki itu bilang dia membutuhkan bantuan Felitha untuk mendekorasi tempat yang akan menjadi obyek lukisannya. Dan Felitha bersyukur, lelaki itu tidak mempermasalahkan penolakan Felitha untuk menjadi modelnya, dan malah membutuhkan bantuan gadis itu untuk menata sudut ruangan untuk di lukis.
…
"Jadi dia mendengarkan semuanya ??"
"Aku mengambil kesimpulan jika dia membawa dokumen itu juga."
"Dasar anak nakal ! aku tidak sabar memberikannya hukuman."
"Sebaiknya kita bersabar, dan memilih jalan yang lebih baik, aku khawatir dia akan takut dengan kita."
"Satu-satunya cara adalah dengan memanipulasi gadis manis itu, dia masih cukup polos untuk ditipu."
"Baiklah, yang harus kita lakukan bertingkah biasa, tapi mungkin kita bisa mulai terbuka. Dan membiarkan gadis itu mengetahui sisi gelap kita."