(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Kesembilan belas



“Lha, Kak Arya, udah pulang ?? aku cariin dari tadi gak ada.”


“Iya, itu nyariin. Udah sana, ditungguin sama calon pacarnya juga.” Ujar Damar dengan nada bercanda.


“Gak ada !! udah ah, aku ke perpustakaan dulu. Daripada gangguin kalian pacaran.” Ujar Felitha langsung berlari keluar dari dapur sebelum Damar kembali membalas ejekannya itu.


Felitha juga cukup dekat dengan Damar, dan sering sekali bertengkar atau saling mengejek satu sama lain. Tentu saja itu sudah biasa, bahkan Grace hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat dan calon kekasihnya, entahlah apakah Damar adalah calon kekasih Grace, tapi Felitha sudah menghirup aroma cinta dari kedua insan itu. Jadilah Felitha terkadang mengejek atau menjodoh-jodohkan Grace dengan Damar.


Kembali ke cerita awal, Felitha cukup antusias jika harus pergi ke perpustakan untuk membantu Arya, daripada dengan yang lain terkadang bosan, dengan Arya dia bisa membantu membereskan buku, terkadang membantu merapikan buku dan juga dokumen disana. Biar saja pekerjaan sebagai perawat tergantikan dengan menjadi pembantu dadakan kelima lelaki kembar itu, daripada harus menjadi model lukisan dari Altan, itu bisa lebih berbahaya lagi. Entah posisi apa yang diinginkan oleh lelaki yang terlihat berbahaya itu. Tidak lama, kaki Felitha sampai di perpustakan dan benar saja Arya sudah menunggu disana. Felitha memandang sedikit aneh, karena roda dari kursi roda yang digunakan oleh Arya meninggalkan sebuah bercak merah di atas lantai.


“Felitha, akhirnya kau datang juga.” Ujar Arya senang karena, Damar benar-benar menyampaikan pesan untuk Felitha agar perempuan itu ke perpustakan, Arya mengingat Damar adalah sosok yang selalu bercanda, dia khawatir jika Damar tidak benar-benar menyampaikan pesannya. Tapi semua pikiran negatif buyar saat melihat Felitha sudah sampai disana.


“Err.. Kak Arya tadi habis darimana ?? kok rodanya kotor, ada bercak merah juga ??” Ujar Felitha bertanya menunjuk ke arah roda dari kursi milik Arya.


“Oh ini ?? iya sih, tadi aku habis dari taman. Gak sengaja lihat mayat tikus ditengah jalan. Niat awalnya sih pengen menghindari mayat tikus itu, eh malah gak sengaja bagian rodanya keinjek.” Ujar Arya dengan terkekeh pelan, membuat Felitha langsung menggelengkan kepalanya.


“Kalau kena darah tikus berarti amis, aku cuciin aja ya bagian rodanya.”


“Gak usah, mending kamu disini aja.” Arya menolak tawaran dari Felitha dengan halus, lelaki itu kemudian melambaikan tangannya seakan memberikan kode agar Felitha mendekatinya, gadis itu kemudian melangkah mendekatinya.


“Felitha, pernah belajar tentang psikolog, kan ?? nah aku kebetulan kemarin membaca buku tentang psikologis dan mental orang-orang kaya aku. Kamu bisa bantuin aku ??”


“Bisa kak. Cuma.. aku belajar dikit sih masalah psikolog gitu.”


Arya mengangguk, “Gak papa, kita belajar bareng aja, yuk.”


Felitha juga cukup senang bisa belajar bersama seperti ini, dia senang jika bersama Arya terkadang lelaki itu mengajaknya untuk belajar bersama. Dan jujur Felitha senang, karena Arya bisa berbicara secara terbuka dan mau dekat dengan Felitha. Memang itu adalah tugas utama dari Felitha untuk bisa lebih dekat dengan sosok pasien yang dia rawat. Dan lagi dengan ajakan Arya untuk belajar bersama, Felitha senang karena menambah wawasan dan ilmu pengetahuannya, sekalian belajar mengulang sekolah dulu, meskipun Felitha ini anak yang pintar, dia bahkan mendapatkan surat ijin untuk bekerja di rumah sakit saat berusia 21 tahun, terbilang perawat muda dengan nilai yang memuaskan, hanya saja kecerdasan Felitha terlebih dibidang dalam merawat dan mempelajari mengenai bagian tubuh manusia sedikit.


Felitha duduk berseberangan dan mulai berbicara dengan Arya. Sesekali lelaki itu memberikan pertanyaan simple dan mudah untuk menguji kecerdasan Felitha dalam bidang psikolog, hasilnya lelaki itu mulai takjub karena gadis didepannya cukup mengetahui masalah kesehatan mental dan juga penyakit psikis yang di derita oleh seseorang. Jujur membuat Arya begitu kagum dan tampak menyukai gadis itu, tapi ada rasa hatinya untuk sedikit membongkar sesuatu yang mungkin akan membuat Felitha sedikit terkejut.


“Eh ?? psikopat ??”


Arya menganggukkan kepalanya, “Iya, kalau difilm kan penggambaran sosok psikopat itu cuma orang yang suka bunuh, sama nyiksa korban. Kalau secara psikologis, penggambaran sosok psikopat itu gimana ??”


“Err.. kenapa Kak Arya tanya gitu ??” Ujar Felitha sedikit penasaran dan kaget, kenapa tiba-tiba muncul pertanyaan aneh dari lelaki itu. Ya meskipun sebelumnya mereka membicarakan mengenai penyakit psikis yang terjadi pada beberapa orang, seperti depresi dan penyakit lainnya.


“Gak papa, mau tanya aja, kenapa ?? kamu gak tau ??”


“Aku gak terlalu paham sih, cuma yang aku tahu mereka adalah sosok tanpa empati dan simpati. Kalau untuk lainnya aku gak terlalu paham sih, lagian ngeri juga kalau berhubungan sama sosok psikopat kaya gitu.” Ujar Felitha dengan rasa merinding dan ngeri membayangkan sosok jahat tanpa empati yang mungkin bisa menyiksamu hingga mati dan tertawa dengan keras diatas tubuhmu.


Arya tertawa geli melihat ekspresi Felitha yang sedikit ketakutan itu, “Cuma itu aja ya ?? menurut kamu seorang psikopat bisa jatuh cinta gak ??”


Felitha lagi-lagi terkejut dengan pertanyaan dari Arya, “Kak mending bahas yang lain aja, aku takut dan merinding kalau ngomongin tentang psikopat gitu.”


Arya kembali tertawa lepas mendengar seakan Felitha takut saat menyebut istilah psikopat.


“Semenakutkan itukah orang psikopat buat kamu ?? sampai takut kaya gitu.”


Felitha mengangguk, “Apalagi kalau difilm kan, mereka penggambarannya ngeri banget.”


“Kalau misalnya kamu satu meja sama psikopat, kayanya udah pingsan duluan ya.” Ujar Arya dengan nada menggoda, membuat Felitha semakin takut.


“Kak Arya, jangan kaya gitu !! masa iya sih, satu meja sama psikopat. Belum sempat ngomong udah di lempar pisau aku.” Ujar Felitha bergidik ngeri, tidak bisa membayangkan dirinya berdekatan atau bahkan berbicara dengan sosok kejam bernama psikopat.


“Iya..iya gak lagi deh. Lagian cuma pengen tahu aja.”


Lalu percakapan mereka kini berganti menjadi topik yang berbeda, Arya tidak mau Felitha sampai takut atau pingsan jika dirinya memberikan pertanyaan mengenai sosok psikopat itu. Dari pada perawatnya ini kabur, mending Arya berusaha membuatnya betah berada disana.