(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Empat puluh tiga



Jangan memandang sesuatu hanya dari covernya, mungkin adalah pernyataan yang bagus untuk kelima lelaki itu, terlihat tenang dan santai tapi pikiran mereka begitu kacau saat ini, bahkan mereka berlima sudah bersiap memberitahu anak buah mereka untuk mencari keberadaan Patmawati dan anaknya itu, tidak hanya itu Cantika melaporkan atas hilangnya Felitha dengan menggunakan surat yang di berikan Patmawati, mereka bahkan menemukan sebuah kain yang di duga di gunakan untuk membius Felitha.


Para polisi menemukan sidik jari dari Patmawati di kain tersebut, membuat bukti semakin mengarah kepada Patmawati. Dan keadaan semakin memperkuat suasana saat mereka masih belum bisa menemukan Patmawati.


Keadaan begitu kacau sekarang, hanya Grace yang terlihat begitu tertekan dan sedih, bagaimana jika sahabatnya terkena masalah besar, apakah dia disiksa saat ini ?? atau... Grace tidak bisa membayangkan apapun lagi, pikirannya menjadi kacau dan tidak terkendali, beruntung Damar bisa menenangkan kekasihnya itu.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, oke ??"


"Tapi.. Kita bahkan tidak bisa menemukan Felitha dimana pun." Ujar Grace dengan sedih, rasanya dia ingin putus asa, saat pencarian dilakukan hampir selama 3 hari berturut-turut.


"Hey, percayalah.. Kita akan segera menemukannya. Oke ??"


Grace terdiam sejenak, dia kemudian mengangguk secara perlahan.


Sementara Alto menelfon salah satu anak buahnya, "Bagaimana ?? Kau menemukan perempuan itu ??"


"I..iya tuan.. Tapi ini aneh."


"Aneh ?? Apa maksudmu ??"


"Saya tidak bisa menemukannya dimana pun, bahkan di markasnya sendiri, tidak ditemukan apapun."


"Itu berarti mereka sudah bergerak, sebaiknya selidiki semuanya lebih lanjut !"


"Baik, tuan."


Lalu telepon di matikan, Alto hanya bisa mengumpat dalam hatinya mendengarkan kabar yang semakin membuat nya merasa sangat gelisah untuk hari ini, apalagi mereka tidak menemukan Patmawati dimana pun, dan tidak ada petunjuk apapun disana.


Alto mengeram kesal, dia padahal sudah memberikan gelang berupa GPS rahasia yang dia serahkan dan pasang di tangan Felitha. Alto sudah menduga akan mengalami kejadian seperti ini, tapi si penculik jauh lebih cerdik, dia membuang gelang itu dan merusaknya sehingga tidak ada gelombang GPS yang bisa di jadikan petunjuk.


"Jika tidak ada cara lain, maka terpaksa menggunakan cara kekerasan kemungkinan yang akan melibatkan nyawa orang lain."



Disisi lain, Felitha hanya bisa pasrah, saat kedua tangannya terikat dengan sangat kuat begitu pula kakinya, dan matanya di tutup dengan kain gelap sehingga perempuan itu tidak bisa melihat siapa yang melakukan penculikan kepadanya.


Tapi Felitha bisa merasakan belaian lembut di bagian rambutnya, meskipun tidak mengetahui siapa yang melakukan semua itu kepadanya.


"Si..Siapa kau ??"


"Sudah terbangun sayang."


"Eh ?? Kenapa kau melakukan semua ini ??"


"Kau cantik Felitha, sebentar lagi kau akan menjadi milikku."


Sosok dengan suara lelaki terdengar dan selalu memuji serta terkadang memberikan sentuhan fisik berupa membelai rambut, pipi terkadang memaksa perempuan itu untuk mencium bibirnya. Tentu saja, hal ini membuat Felitha merasa sangat tidak nyaman dan ingin memberontak, tapi tidak bisa karena kedua tangannya diikat.


Kemudian sebuah suara handphone terdengar, lelaki itu mengangkat telepon di handphone nya, tapi tetap berada di dekat Felitha serta masih membelai mengagumi kecantikan gadis itu, dia merasa jika Felitha adalah miliknya seorang dan tidak ada yang bisa menghentikannya.


"Lakukan saja tugasmu, mereka tidak akan bisa menemukanku."


"......"


Lalu saluran telepon di tutup, dan itu membuat Felitha merasa sangat penasaran akan sosok yang berada di dekatnya itu. Dia pernah mendengarkan suaranya, tapi itu sudah lama. Dia sedikit melupakan sosok pemilik suara itu.


"Se..Sejak kapan kau menyukaiku ??"


"Sejak pertama kita bertemu, cantik. Apa kau melupakanku ??"


Felitha terdiam dan mengangguk pelan, "I..iya.. Aku tidak mengingatmu."


Lelaki itu hanya terkekeh pelan, tangannya kemudian menggerakkan dan mengarahkan wajah Felitha untuk mengarah kepadanya. Lelaki itu mendekati wajah Felitha, dan mencium bibir gadis itu secara paksa, gadis itu berusaha untuk memberontak tapi gagal. Lelaki itu begitu kuat, dan membuatnya tidak berdaya, di tambah dia memberikan obat yang membuat tubuh Felitha melemah. Seakan obat itu melemahkan tubuh Felitha, dan terikat di atas tempat tidur dengan posisi berbaring.


Setelah beberapa menit berciuman, lelaki itu melepaskan bibir Felitha dan menyeringai licik, dia sangat menyukai bibir lembut gadis itu, dan sudah lama dia menginginkan hasrat ini.


"Jika saja aku memiliki banyak waktu, aku pastikan akan menghabiskan banyak waktu untukmu sayang." Ujarnya dengan lembut, menggoda tapi itu terdengar sangat menyeramkan bagi Felitha, dan jujur itu membuatnya bergidik ngeri.


Lelaki itu mendekati bagian leher Felitha dan menghirup aroma gadis itu, membuat suasana semakin mencekam bagai Felitha, ditambah bisikan penuh hasrat itu terdengar.


"Jika waktunya tiba, kita berdua akan hidup bersama. Dan aku pastikan tidak akan ada yang menganggu kita, sayang. Aroma tubuhmu sangat harum, apakah.. aku bisa menyentuhmu lebih ??"


"Ti..Tidak, ku mohon."


Lelaki itu terkekeh licik, " Ya, kau benar. belum waktunya. Jika sudah waktunya, aku pastikan tidak akan membuang kesempatan untuk bisa menyentuhmu, putri kesayanganku."


Jujur, Felitha begitu ketakutan untuk saat ini, siapapun tolong dia segera ?! Felitha tidak yakin akan bisa hidup secara damai dan aman bersama lelaki yang begitu mesum dan bejat itu, haruskah Felitha melakukan sesuatu untuk bisa keluar dari sana ?? Mustahil.



Pihak kepolisian berhasil menerobos masuk ke sebuah rumah, dan benar saja. Sesuai dengan perkiraan para kepolisian, di sana terlihat Patmawati Aby sedang duduk sembari sibuk dengan menghitung uang di tangannya.


Merasa aneh saat para polisi malah datang ke rumahnya sembari menodongkan pistol ke arahnya, dan mana itu membuatnya sedikit bingung dan juga heran, serta merasa sangat penasaran.


"Ada apa ini ??"


"Nyonya Patmawati Aby, anda saya tahan atas penculikan yang anda lakukan kepada saudara Felitha Mishelia." Ujar salah satu polisi sembari menodongkan pistolnya, sementara yang di sebutkan namanya malah bingung di sana.


Apa katanya ?? penculikan ?? penculikan apa ?? Batin Patmawati dengan rasa bingung.


"Tunggu sebentar, kalian bilang penculikan ??"


"Benar, Nona Felitha Mishelia di culik pada hari Jum'at 17 Maret, tepatnya tiga hari yang lalu, pada restoran ******"


Informasi itu membuat Patmawati merasa semakin aneh dan curiga, dia kemudian kembali mempertanyakan perihal para polisi yang mendobrak rumahnya.


"Dan atas dasar apa, kalian berfikir akulah pelakunya ??"


Para polisi kemudian menyerahkan sebuah kertas berisikan sebuah tulisan yang menyebutkan nama Patmawati Aby di bagian bawahnya.


"Setelah hilang, pihak keluarga menemukan surat itu, serta ada bukti kain untuk membius juga memiliki sidik jari anda."


Para polisi kemudian menunjukkan kain yang digunakan untuk membius, dan itu membuat Patmawati semakin terkejut bukan main, karena kain bukti yang ditunjukkan polisi adalah...


Sapu tangannya yang hilang.