
"Beraninya kau ?!"
"Ohh, apakah laporan ku dari pihak kepolisian sudah kau terima ?? baguslah, aku tidak sabar melihat- ah, aku lupa.. Aku tidak bisa melihat." Alto tertawa disana, tidak memperdulikan beberapa orang kini juga berada disana untuk mengajaknya bertemu secara langsung.
Alto tahu, siapa sosok yang memberikannya undangan indah dalam pertemuan ini, dialah sosok perempuan yang melahirkannya. Bagaimana Alto tahu, entahlah hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana lelaki itu mengetahui siapapun yang ada disana. Mungkin insting ??
"Ka...Kau.. Bagaimana bisa ?? Bagaimana kau bisa melihat ??"
"Ah, Anthony.. Saudara tiri ku ?? Tidak, tidak saudara yang aku miliki selain keempat adik kembar ku, hanyalah Damar." Ujar Alto seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Mendapatkan undangan untuk bertemu dengan Patmawati, dan juga Anthony tapi tidak menutup kemungkinan wanita penyihir itu membawa anak buahnya, Alto tidak bodoh tentu saja dia juga membawa anak buahnya sendiri, yang saat ini sedang bersembunyi menunggu aba-aba tuannya jika memang mereka di butuhkan.
"Kau memang bodoh datang hanya sendirian kemari."
"Well, setidaknya aku bukan seorang pecundang yang membawa ribuan anak buah saat menghadapi orang yang cacat sepertiku." Ujar Alto merendahkan dirinya sendiri meskipun secara tidak langsung dia juga menghina Patmawati.
“Kau pikir aku bodoh.. Kau tidak buta !!”
“Benarkah ?? Coba para minionmu itu untuk memastikan apakah aku seorang yang buta atau tidak ?!” Ujar Alto menyeringai dengan licik, dan sepertinya dia sengaja memancing emosi Patmawati yang akhirnya membuat wanita itu menyuruh 5 orang untuk menyerang Alto, itu pun dia sengaja menggunakan kode saat memerintah anak buahnya.
Tapi Alto tidaklah bodoh, telinganya jauh lebih peka dan kuat terhadap suara, jadilah lelaki itu bisa mendengarkan suara langkah kaki dan suara pergerakan lainnya.
Bugh !!!
Bugh !!
Bugh !!
Dengan cepat, Alto berhasil menangkis dan membalas pukulan orang-orang di sekitarnya. Menggunakan gelombang suara yang dihasilkan membuat Alto bisa membayangkan beberapa gerakan dari orang-orang sekitarnya dan membalas serta memukul mereka dengan kuat.
Melihat pergerakan lincah dan gesit dari Alto, membuat Anthony menjadi semakin percaya jika lelaki itu tidak benar-benar buta. Dia juga ingat, saat menghina Arjun sendiri, dirinya melihat bagaimana lelaki itu mampu memukulnya dan menyerangnya secara cepat dan kuat.
Bugh !!
Bugh !!
“Ah !!”
Beberapa orang terkejut dengan bagaimana bisa Alto menghabisi hampir 6 orang itu sendirian, dan keenam orang itu tergelatak tak berdaya di atas tanah.
“Hanya sekuat itu saja, minionmu itu ?! Cih !!” Alto menggerutu, dia berfikir akan menemukan sesuatu yang lebih menyenangkan lagi, padahal dia mengharapkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
“Well, katakan itu pada ibu tercintamu. Oh iya, sekali waktu seranglah rumah kami. Kau tahu, aku merindukan saat-saat musuh kuat dan hebat menyerang.” Ujar Alto seakan memberikan lampu hijau bagi musuhnya untuk menyerang, lagipula mereka terlalu lambat dalam menggunakan strategi dan apapun itu.
“Kau pikirkan dulu sebelum menghadapi musuhmu.”
“Aku sudah terlalu lama berfikir menunggu pergerakan kalian, hingga aku merasa sangat kelelahan.” Ujar Alto meledek musuhnya itu.
“Oh iya, satu lagi jangan lupa melakukan penyerangan atau apapun itu, oke ??”
Terkadang Alto memang paling serius dan dingin, tapi ketika dia merasakan sedikit gila maka dia bisa lebih tidak waras daripada saudaranya yang lain. Dan Felitha sudah mengetahui itu sendiri, bahkan gadis itu mengakui Alto paling gila disaat kewarasannya mulai menghilang.
“Aku berfikir hanya menghilangkan penglihatanmu, tapi aku rasa kewarasanmu ikut menghilang.”
Alto tertawa geli mendengarkan perkataan itu, “Aku anggap itu sebagai pujian yang indah bagiku.”
...
“Bagaimana jika Alto diserang ??”
“Itu mustahil, dia membawa beberapa anak buah untuk berjaga-jaga.”
“Memang, tapi tetap saja-”
“Oh ayolah bisakah kalian tidak banyak berbicara saat seperti ini.”
Altan dan Adnan menghela nafas kesal, dan memutar mata malas saat Arya memberitahu kedua lelaki itu. Bagaimana Arya tidak kesal, mereka bertiga err berempat dengan Arjun saat ini membereskan ruangan bawah tanah yang begitu berantakan dan penuh dengan noda darah di dalam sana. Mereka berfikir akan membereskan ruangan itu untuk di pakai besoknya.
Arya sendiri kesal, di saat keduanya sedang membereskan malah asyik berbicara sendiri, padahal mereka juga hanya mendapatkan sedikit waktu untuk membereskan semua kekacauan yang mereka buat.
“Kau terlalu serius, bagaimana bisa Felitha dekat dengan lelaki yang terlalu kaku sepertimu.” Ujar Altan memutar matanya malas.
“Aku seperti mencium sesuatu.. Ya benar, aroma cemburu dari saudaraku sendiri.” Ujar Arya terkekeh geli dan berbicara dengan nada jahilnya mendengarkan sebuah perkataan yang terdengar sangat cemburu kepadanya.
“Sialan, hey kau saja kalah dengan Arjun, dia bahkan sudah berciuman bibir dengan Felitha.” Ujar Adnan dengan kesal, membuat Arjun yang mendengarkan hanya menggelengkan kepalanya sendiri, berita darimana lagi itu.. Dan sejak kapan, dia berciuman bibir dengan Felitha yang benar saja ?? Jika iya, maka Arjun pasti akan melakukannya ditempat tertutup seperti kamar.
Jangan pernah berfikir negatif, oke.. Arjun hanya tidak menyukai kencan pribadinya terganggu oleh perilaku saudaranya yang lain itu.
“Darimana kau tahu berita itu ??” Ujar Arya dengan mata menyipit kepada Adnan, tidak mungkin Arya akan bertanya kepada Arjun sendiri. Tapi melihat ekspresi yang dikeluarkan Arjun, Arya yakin ucapan Adnan hanyalah bohong semata.
“Entahlah, imajinasi ku sendiri mungkin.” Ujar Adnan mengangkat bahunya dengan sedikit acuh dan bingung.
Arya dan Arjun menatapnya dengan tatapan datar seakan berkata, 'Dasar penyebar berita hoax !' Sementara Altan berpura-pura tidak mendengarkan perkataan gila saudaranya itu, seakan tidak mendengarkan apapun disana.
"Oh iya, menurut kalian.. Gimana ya ekspresi Felitha kalau lihat kita tiap hari menyiksa orang kaya gini ??" Ujar Adnan secara tiba-tiba.
"Jangan, kasihan dia masih polos dan lugu. Bisa-bisa dia malah trauma seumur hidup kalau tahu." Ujar Arya.
"Tapi kan, dia pernah lihat Arjun habis mukulin orang sampai bajunya penuh darah. Terus juga lihat Alto menembak orang langsung didepannya." Ujar Adnan mengingatkan Arya mengenai pertama kali saat mereka menunjukkan sisi gelap mereka kepada kekasih mereka itu.
"Tetep aja, udah bagus Damar bantuin bujuk. Coba kalau gak, mungkin Felitha gak bakalan mau bicara sama kita lagi, atau lebih parahnya kita bakalan dianggap sebagai monster sama dia." Ujar Altan yang akhirnya kembali menimpali disana.
"Itu tidak mungkin, Felitha adalah gadis yang baik. Aku yakin, suatu ketika dia akan memahami dan mengerti kita." Ujar Arya dengan tegas meskipun dalam hatinya penuh kekhawatiran juga, karena bagaimanapun Felitha terlihat bukan perempuan yang jahat ataupun kejam. Malah Felitha berbanding terbalik dengan mereka, yang tidak memiliki hati nurani atau simpati dan empati.