(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Lima puluh enam



"Jadi, apa yang harus kita lakukan selanjutnya ??"


"Ayah dan Ibu masih belum memberikan kabar apapun, sepertinya masih repot mengurus di villa sana."


"Jadi, Felitha dan Grace akan dibiarkan disini saja ?? Kita harus bergerak."


"Aku tahu Damar, kita harus bergerak karena banyak yang mengincar kita, terutama Felitha sendiri."


"Ya, sangat banyak. Aarav, Keluarga Sarawija, dan Anthony." Ujar Altan menjelaskan sembari memakan kacang yang ada di depannya.


Alto, Arya, Altan, Adnan, Arjun, Damar dan Daniel sedang berbicara satu sama lain. Kondisi semakin buruk dan parah, apalagi saat ini Anthony sepertinya memiliki dendam sendiri dengan Keluarga Sagara, sepertinya dia sudah sadar jika dirinya di adu domba dengan Aarav.


"Astaga, masalah semakin rumit." Ujar Daniel memijat kepalanya, padahal dia berfikir akan bangun dari koma dengan kondisi berbeda, malah semua semakin rumit dan berantakan.


"Ini belum seberapa, kita tunggu saja saat mereka kembali menyerang kita secara bertubi-tubi." Ujar Altan dengan santai.


"Heh !! Jangan seperti itu, Felitha dan Grace ada disini, kalau doamu terkabulkan gimana ?!" Ujar Damar, dia benar-benar pusing memikirkan kedua gadis itu, mereka yang paling rentan di serang oleh para musuh.


"Santai, Tuhan gak mungkin menjawab doa orang berdosa dan pembunuh kaya aku."


Semua kemudian terdiam, meskipun Altan terkesan santai, tapi dia sebenarnya begitu bingung dan banyak pikiran dalam hatinya. Bagaimana jika musuh mereka benar-benar bersatu dan kemudian mengalahkan mereka.


"Ada berita buruk." Alto akhirnya berbicara saat seluruh orang yang ada di sana hanya menampilkan keheningan.


"Ada apa ??" Tanya Adnan.


"Patmawati telah meninggal." Ujar Alto, membuat semua terkejut, dan sebagian mulai berfikir jika-


"Jangan bilang jika.. ada yang membunuhnya ??" Tanya Arya dengan sedikit kaget.


"Ya, tapi inilah tandanya... Akan ada perang besar, bersiaplah.." Ujar Alto dengan misterius membuat semua yang ada di sana semakin bingung, hingga Alex datang berlari masuk ke dalam rumah...


"Tuan !! Ada banyak orang mengepung kita, dan berusaha untuk masuk !!"


"Sialan !! Kau sudah memanggil lainnya ??" Tanya Arya dengan kesal.


"Sudah, sebagian berjaga di luar untuk menghalangi mereka masuk ke dalam."


"Alex !! Aku minta kau ke kamar dan memeriksa Felitha dan juga Grace saat ini !!"


"Baik, Tuan Alto."


Lalu ketujuh lelaki itu bersiap mengeluarkan senjata mereka untuk bertarung, sementara Alex berlari menuju ke arah kamar kedua gadis yang berada di bagian atas. Sepertinya perang besar akan terjadi disini, ah sialan memang !! Kenapa Tuhan malah menjawab doa dari Altan sih ??



"Felitha !! Grace !! Astaga !!"


Alex membuka kamar kedua gadis itu, dan celakanya kedua gadis itu sudah tidak ada di sana, malah kamar itu begitu berantakan dengan barang-barang berjatuhan ke bawah dan pecah. Bahkan terdapat sebuah tulisan dengan noda darah.


Kali ini kedua gadis itu menjadi milikku !!


Tidak !! Alex terlambat, musuh mereka sudah mendapatkan kedua gadis itu, dia kemudian melihat ke arah jendela yang terbuka dan tidak mendapati apapun, selain kain yang terjatuh di bawah jendela. Alex mengambil kain itu, dan sudah menebak jika itu adalah kain berisikan obat bius.


Alex segera turun kembali, dan melihat di bawah kondisi begitu kacau, banyak musuh datang membawakan anak buah begitu banyak untuk mengepung sekaligus menyerang Keluarga Sagara dan Daniel di sana. Mau tidak mau, Alex terpaksa membantu tuannya terlebih dahulu, dan akan melaporkannya nanti.


"Alex !! kenapa kau disini ?!" Damar mengetahui Alex yang sedang bertarung dengan beberapa musuh di depannya.


"Mereka.. Mereka sudah menculik Felitha dan Grace ?!"


"Apa ?!"


"Mereka berdua tidak ada di kamar !!"


Damar melihat ada kesempatan dia segera menarik Alex dari sana, dan menuju ke tempat yang bisa bersembunyi untuk sementara waktu. Kedua lelaki itu akhirnya bersembunyi di ruangan rahasia di perpustakaan Arya.


Damar mengeluarkan sebuah alat seperti sebuah pelacak, dia kemudian memeriksa alat pelacak itu dan membulatkan matanya.


"Sialan !!"


"Ada apa ??"


"Mereka sudah membawa kedua gadis itu pergi jauh dari sini."


"Apa ?! Apakah kita bisa mengejar mereka ??"


"Entahlah. Tapi yang jelas, kita harus melakukannya sekarang."


"Sekarang ??"


"Sekarang !! ayo ke garasi, ambil mobil dan kejar mereka !!"


Damar kemudian mengajak Alex untuk segera menuju ke garasi dan mengejar kedua gadis itu, jangan sampai lolos dari alat pelacak.


Beruntung di rumah itu terdapat begitu banyak jalan pintas sehingga mereka bisa dengan mudah ke garasi, mengambil salah satu mobil dan kemudian keluar dari rumah itu tanpa diketahui oleh siapapun.



"Felitha~ aku sudah menduga, kau akan kembali padaku."


"Berhentilah berbicara seperti itu, membuatku merasa jijik."


"Oh, diam lah sialan !! Jika bukan karena bantuan ku !! Ayah dan Keluarga mu hanyalah sampah bagi Keluarga Sagara !!"


Aarav berbicara ketus kepada Gita, ya gadis dari Keluarga Sarawija yang membantunya untuk menculik Felitha dan Grace. Kedua gadis itu sedang tidak sadarkan diri saat ini, dengan kondisi kedua tangannya terikat dan mulut mereka si sekap dengan kain. Aarav memandang remeh ke arah Gita yang memang membantu Aarav (secara terpaksa) karena kerjasama antara Aarav dan Keluarga Sarawija.


Perkataan Aarav begitu tajam tapi itulah kenyataannya. Tanpa bantuan dan ajakan dari Aarav Keluarga Sarawija hanyalah sampah yang tidak bisa apa-apa bahkan untuk melawan Keluarga Sagara.


"Berterimakasih lah, karena aku membantumu."


"Ralat, akulah yang membantumu dan keluargamu menyerang Keluarga Sagara. Camkan itu, ****** rendahan."


Gita hanya bisa menghela nafasnya berat, demi rencana ayahnya dia harus bekerja sama dengan lelaki gila bernama Aarav yang terus saja berbicara ketus kepadanya. Nasib seorang mafia rendahan, hanya bisa menjadi pesuruh atau pembantu bagi mafia kelas atas lainnya.


Flashback


"*Kau terlihat sangat gelisah."


"Anda.. Tuan Aarav dari Keluarga Cashelito."


Aarav menyeringai licik sebenarnya dia tahu Keluarga Sarawija adalah partner kerja dari Keluarga Sagara, hanya saja Keluarga Sarawija memiliki status yang jauh lebih rendah daripada dirinya. Tapi, lelaki itu licik dia bisa memanfaatkan keluarga lemah ini sebagai senjata baginya.


"Ya, aku kemari sebenarnya ingin mengajukan kerjasama." Ujar Aarav tanpa basa-basi dan langsung pada intinya.


Aarav tahu usia Randy jauh lebih tua daripadanya, tapi karena status kekuatan dalam bisnis mafia membuat Randy yang harus bersifat sopan kepada Aarav, kejam memang. Dunia mafia lebih mengutamakan kekuatan dan juga kemampuanmu daripada usiamu. Bahkan jika kau adalah kakek-kakek bisa saja kau harus menunduk kepada orang yang lebih muda dan berkuasa.


Randy hanya terdiam sejenak, lalu dia bertanya kepadanya, "Kerjasama... ??"


Apakah dia tidak salah dengar ??


Aarav mengangguk, "Kerjasama untuk mengalahkan Keluarga Sagara."


Randy terkejut bukan main mendengarkan perkataan dari Aarav.


"Anda ingin mengalahkan, Keluarga Sagara ??"


Aarav memutar matanya malas, "Tidak perlu berbasa-basi, aku tahu kau sakit hati karena putrimu di tolak dalam perjodohan. Kenapa tidak kita bekerja sama, untuk menghancurkan mereka ??" Ujar Aarav menyeringai dengan licik*.


flashback off