(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Keenam belas



Felitha berlari cukup jauh, dia kemudian mentralkan jantung dan juga pikirannya dari peristiwa yang tidak pernah dia duga, dan juga ucapan dari Alto. Ditambah lelaki itu mengetahui barang-barang berbahaya yang ada di dalam laci mejanya. Gadis itu berfikir, sebaiknya dia menenangkan dirinya sebentar sebelum kembali dan berbicara dengan Damar nantinya. Tapi apa yang harus dia lakukan ??


Felitha menyadari jika dia berlari menuju ke area belakang, dan kemudian dia menatap adanya sebuah taman mini indah yang terletak paling belakang. Gadis itu berniat untuk berjalan-jalan ditaman, melupakan kejadian sebelumnya, matanya menatap indah beberapa tanaman bunga berwarna-warni, hingga dia menangkap sosok lelaki yang duduk di sebuah kursi taman menikmati angin berhembus begitu sejuk, Felitha menatap kagum wajah lelaki yang terlihat tampan dan manis, Felitha mengenal sosok itu, Arjun.


“Kak Arjun !!!”


Arjun menoleh menatap Felitha, seketika tangan lelaki itu terangkat melambai ke arahnya sembari tersenyum. Sejak kejadian jalan-jalan di taman, Arjun mulai sedikit membuka diri dan lebih sering menunjukkan senyuman diwajahnya kepada Felitha, seakan dia mulai menerima gadis itu. Felitha segera datang menghampirinya dan kemudian duduk di sebelahnya.


“Kak Arjun ternyata suka pemandangan alam kaya gini ya ??”


Kali ini dia tidak menulis dikertas, melainkan mengetik di handphone sebagai media berkomunikasi. Arjun terkadang malas menggunakan bahasa isyarat, karena tidak banyak orang yang mengerti bahasa seperti isyarat jadilah dia lebih suka mengetik atau menulis dikertas. Tidak lama, dia menunjukkan hasil tulisannya kepada Felitha.


‘Aku selalu senang pergi di tempat alam yang sepi dan tenang, kau sendiri sedang apa disini ??’


Tiba-tiba saja, Felitha teringat akan peristiwa sebelumnya saat bersama Alto, apakah sebaiknya dia berbicara kepada Arjun mengenai Alto ?? atau dia sebaiknya membicarakan hal-hal lain ?? Tapi Felitha melihat Arjun sepertinya sedang dalam kondisi yang sangat baik, dia tidak mau menganggu kondisi baik yang dirasakan oleh lelaki itu hanya karena pertanyaan dari rasa penasarannya.  Melihat ekspresi bingung dan gelisah yang terlukis di wajah Felitha. Arjun kembali mengetik di layar handphone miliknya, dan kembali menunjukkan tulisannya kepada Felitha.


‘Ada apa ?? kau terlihat sangat bingung, kau bisa bertanya apapun kepadaku.’


Felitha kemudian berfikir untuk mungkin menceritakan kepada Arjun, mungkin tidak ada salahnya untuk berbagi rasa penasaran kepada lelaki di depannya itu. Felitha kemudian menatap ke arah Arjun dan bertanya dengan sedikit gugup.


“Err.. aku ingin.. bertanya.. mengenai Kak Alto, apakah aku boleh bertanya kepadamu ??”


Arjun tersenyum dan mengangguk, seakan dia tidak mempermasalahkan mengenai pertanyaan yang akan di ajukan oleh Felitha, gadis itu kemudian secara perlahan mengeluarkan suaranya dan bertanya dengan tatapan khawatir jika Arjun mungkin akan marah.


“Err.. tapi berjanjilah, agar tidak marah kepadaku, setelah mendengarkan pertanyaanku.”


Arjun kembali mengangguk, meskipun memberikan tatapan dengan penuh rasa penasaran dan mengangkat alisnya. Felitha akhirnya mulai bercerita dengan apa yang dia lihat dan dia alami tadi saat berada di ruangan milik Alto. Tapi dengan bahasa yang dia saring dan tidak sepenuhnya dia ceritakan semuanya.


“Jadi… Aku tadi membantu Kak Alto untuk memberikan obat dan vitamin pada kedua matanya.”


Arjun mendengarkan sepenggalan cerita Felitha, dengan sedikit rasa penasaran, tapi entah kenapa ada firasat buruk akan cerita yang akan dia lanjutkan.


“Aku.. melihat beberapa benda aneh saat mengembalikan obat itu kembali ke laci.”


Arjun membulatkan matanya dengan besar, sepertinya dia sudah bisa menebak kalimat apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh Felitha.


“A..Aku menemukan.. pistol dan botol berisikan racun.” Ujar Felitha dengan nada bergetar, Arjun terdiam dia tidak bereraksi apapun , hingga dia melihat Felitha tampak mulai ketakutan.


“A..Aku takut… Kak Arjun.. aku-“


Felitha membalas pelukan itu, seakan mencari rasa aman dari lelaki itu, tanpa menyadari jika ada sosok yang menatap mereka dari kejauhan, mengamati tingkah keduanya dan bagaimana sosok Arjun yang secara tiba-tiba memberikan sebuah pelukan hangat bagi gadis manis itu.


Arjun kemudian melepaskan pelukan itu dan tersenyum ke arah Felitha sembari membelai rambut gadis itu, membuat sensasi nyaman pada Felitha, apalagi tatapan yang memberikan kode seakan bertanya, ‘apa kau baikkan sekarang ??’


Tatapan penuh kekhawatiran dan begitu perhatian, membuat Felitha sedikit merasa malu, dia seketika menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Terimakasih, aku sudah merasa lebih baik.”


Scene romantis itu membuat kedua sosok yang menatap tingkah mereka hanya tersenyum-senyum tidak jelas, dan juga merasa bangga.


“Kak Damar.. mereka sangat romantis, bukan ??” Ujar seseorang yang tidak lain, adalah Grace. Sementara lawan bicaranya, hanya tersenyum senang tapi dalam hatinya membatin.


Kalau masalah percintaan gini, Kak Arjun bisa jago banget ya. Ah nanti minta bantuan Kak Arjun ah, biar diajarin caranya bisa ngambil hati dan perhatian cewek Batin Damar tersenyum miris dalam hatinya, padahal Arjun itu tidak pernah berpacaran, tapi lelaki itu bisa menarik perhatian dan bahkan memberikan perhatian yang lebih baik daripada Damar yang pernah berpacaran dan berakhir putus.


“Sahabatku pacaran, nanti minta PJ ah~”


“Memang mereka udah resmi pacaran ??”


“Lha, berarti pdkt, ah bantuin deketin mereka kalau gitu.” Ujar Grace mungkin dia akan menjadi guru tutor bagi Felitha akan masalah percintaan seperti ini.


Damar hanya bisa terkekeh geli dengan perkataan dari Grace, Damar sendiri tidak yakin jika ini hanyalah hubungan Felitha dan juga Arjun, pasti keempat lelaki itu tidak akan terima begitu saja. Tapi Damar heran, apa sebenarnya yang membuat sosok kelima saudaranya kini malah mulai melirik dan mulai tertarik pada Felitha, apakah karena cantik ?? Lha Kak Alto kan gak tau wajahnya, masalah kepolosannya ?? mungkin bisa jadi sih. Tapi ya… gak tau juga, Damar sendiri tidak pernah bisa membaca pikiran kelima saudaranya yang terlewat misterius dan aneh itu.


Sementara sosok lain, yang juga ikut mengintip, berekspresi berbeda.


“Lha.. cepet banget udah pada deketin, aku boro-boro berinteraksi aja belum.”


“Lha, aku ?? emang udah.”


“Gimana ya narik perhatiannya..”


“Jatuhin diri ke kolam aja, siapa tahu ditolongin.”


“Emang dia bisa berenang ?? bukannya ditolongin, malah tenggelam aku.”


“Kayanya urusan gini, mending minta saran dari Arjun aja deh.”


“Ya udah, ntar deh aku ngomong sama dia.”


Lalu beberapa sosok misterius itu akhirnya menghilang dari kegelapan meninggalkan Felitha dan Arjun yang dalam romansa begitu indah itu.