(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Empat puluh empat



"Hey, apa-apaan itu ?! Bukan aku pelakunya !!"


Patmawati merasa kesal, sebenarnya ada apalagi ini ?! apakah ini salah satu jebakan dari Alto kepadanya ?! Dasar anak sialan !!


Tidak lama muncul sebuah suara yang cukup mengejutkan bagi Patmawati, sosok itu muncul dan berbicara dengan nada angkuh dan tegasnya itu, dia, Aarav kemudian datang di balik para polisi yang mencoba untuk menangkap Patmawati. Lelaki itu kemudian berbicara kepadanya.


"Serahkan dirimu, dan akuilah kejahatan mu, Patmawati." Ujar Aarav menyeringai licik memandang Patmawati.


"Apa urusanmu dengan semua ini ?!"


"Urusanku ?! Well, masalah Felitha memang bukan urusanku, tapi masalah pembunuhan mu terhadap kedua orang tuaku, adalah masalah besar bagimu."


"Aku tidak membunuh mereka !! Kau tidak memiliki bukti apapun !!"


"Katakan itu, di depan hakim."


Lalu para polisi itu kemudian menangkap dan memborgol kedua tangan Patmawati, perempuan itu memberontak meskipun semuanya sia-sia saja, karena para polisi jauh lebih kuat dan lebih hebat.


"Oh iya, di kantor polisi, Keluarga Sagara sudah menunggumu, semoga kau bisa menjelaskan semuanya kepada mereka." Ujar Aarav dengan sedikit menyindir dan menghina Patmawati.


"Ka-Kau... ?!"


Lalu Patmawati di bawa keluar, perempuan itu hanya bisa pasrah saja di sana, saat dirinya di bawa oleh pihak polisi. Setelah itu, keluar Anthony yang awalnya tidak tahu apapun, dan berfikir hanya ingin berbicara dengan ibunya saja.


"Hey, Mom ada sesuatu yang aku ingin katakan- Hey, ada apa ini ?!"


Aarav membalik badan menyeringai ke arah lelaki itu, sementara Anthony mengenal siapa lelaki itu, dan dia hampir tidak percaya beberapa polisi mendatangi rumahnya, dan ibunya ?? dimana ibunya itu ??


"Jangan khawatir, aku sudah mengirim ibumu ke tempat yang jauh lebih baik daripada di rumah sampah ini."


"Ka..kau ?!"


beberapa polisi yang sudah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab untuk menangkap Patmawati kemudian memohon undur diri dan ijin keluar dari rumah, Aarav mengangguk, dialah yang memberikan bukti berupa kain yang memiliki sidik jari Patmawati itu. Dia juga sudah memberikan bukti tambahan kepada polisi, sehingga Patmawati bisa langsung di tangkap dan di urus ke pengadilan.


Aarav menatap Anthony yang masih sedikit bingung dengan kondisi yang ada dan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebaiknya persiapkan dirimu, karena kemungkinan besar aku juga akan menarik mu ke penjara. Bukankah ibu dan anak, harus selalu bersama ?!"


"Kau yang merencanakan semua ini ??" Ujar Anthony dengan ketus, dan itu membuat Aarav tertawa geli.


"Merencanakan ?? heh, semua bukti sudah mengarah kepada ibumu, akui saja kesalahan kalian."


"Kalau kau merasa begitu hebat, maka akuilah.. Kau yang membunuh kedua orang tuamu, bukan ?! Kau juga yang menculik Felitha ?!" Anthony mendesis dengan kesal dan marah, dia marah karena selama ini tuduhan dari Aarav tidaklah benar, bahkan lelaki itulah yang menjebak ibunya dalam kejahatan yang tidak pernah dia lakukan.


Tapi siapa yang akan percaya, pada perempuan yang sudah menyiksa anak-anaknya sendiri, dan membuang kelima anaknya dulu ?! Kejahatan terbesar Patmawati pada kelima putranya telah membuat nama perempuan itu tercoreng dan tidak lagi dipercaya oleh siapapun. Di tambah Aarav adalah lelaki cerdik dan pintar, dia tidak akan semudah itu untuk menyerah begitu saja.


"Kau tidak memiliki bukti apapun, jadi... Ah sudah cukup membuang waktu denganmu, aku ada urusan yang lebih penting. Sampai jumpa, pecundang !"


Aarav meninggalkan Anthony dengan angkuh, dia tidak memperdulikan siapapun lagi, kecuali membuat hidup Patmawati hancur berkeping-keping, entah apa yang sebenarnya terjadi kepada Aarav sendiri yang memang memiliki dendam tersendiri kepada Patmawati.



"Kau ?!"


plak !!


Cantika begitu marah besar saat ini, tidak hanya marah tapi dia begitu emosi. Dia bahkan menampar Patmawati secara langsung dan berteriak emosi kepadanya. Selama ini, Cantika menahan diri agar tidak emosi, dan marah seperti ini. Sejak dia menemukan kelima anak itu menderita luka yang hebat di sekujur tubuhnya, karena ulah ibu kandung mereka.


Dan sekarang perempuan itu kembali merencanakan ini semua, dengan menculik perempuan yang menjadi kekasih putranya ?! Tidakkah masa lalu, mereka berlima cukup menyedihkan ?! Hingga Patmawati kembali membuat ulah.


Disisi lain, Patmawati tidak bisa berkata apapun, membalas atau bahkan menatap Cantika. Tirta langsung mencoba menenangkan istrinya sebelum perempuan itu menghabisi mantan istrinya, di sana. Bisa-bisa terjadi kasus besar lagi, jika sampai itu terjadi.


"Tahan emosimu, oke ?? Biarkan saja." Ujar Tuan Tirta menenangkan dan mencoba mengajak istrinya untuk pergi dari sana.


"Ayo, semua." Ujar Tuan Tirta mengajak keenam anaknya yang juga berada di sana, untuk segera keluar dari kantor polisi, tapi..


"Ayah, kami berlima masih ada urusan penting dengannya." Ujar Alto menjawab dengan tegas perkataan ayahnya.


"Apa.. kalian yakin ??" Tanya Damar, berharap kelima kakaknya tidak melakukan hal bodoh apapun kepada perempuan tersebut.


"Percayalah." Ujar Adnan menanggapi, membuat Damar akhirnya mengangguk secara terpaksa, dan menuruti keinginan kakaknya.


"Kami akan menunggu di mobil." Ujar Tuan Tirta.


Akhirnya, Tirta, Cantika, dan Damar keluar dari kantor polisi dan menuju ke arah parkiran. Sementara..


"Bisakah kami berbicara sebentar dengannya." Ujar Altan berbicara kepada polisi yang menangkap Patmawati.


Polisi itu mengangguk, "Baiklah, aku harap waktu 30 menit cukup, untuk kalian semua."


"Lebih dari cukup."



"Kerja bagus, sekarang kita lihat seberapa hebat Anthony untuk bisa mengalahkan ku disini." Ujar Aarav menyeringai licik mendapati laporan dari anak buahnya.


"Selagi, mereka sibuk dengan urusan masing-masing, aku bisa dengan mudah membawa nya, dan pergi dari sini." Aarav menyeringai licik, dia tidak sabar membuat sebuah pesta besar dan segera pergi dari Jakarta membawa Felitha dengannya.


"Aku benar-benar akan menikahi gadis cantik itu, dan kemudian tinggal di negara yang berbeda. Semoga saja, Patmawati habis ditangan kelima putranya itu." Ujar Aarav terkekeh licik disana.


Dia kemudian berjalan menuju ke arah kamar tersembunyi yang lokasinya bahkan berada di lorong rahasia yang terhubung dengan jalan pintas. Untuk bisa ke ruangan tersebut, hanya Aarav dan anak buahnya saja yang mengetahui lokasi jalan pintas tersebut.


Aarav membuka pintu ruangan rahasia, di sana terlihat Felitha terikat kuat, kali ini matanya tidak lagi tertutup dan dia sudah mengetahui siapa yang menculik dirinya, dan gadis itu merasa takut serta gelisah tapi juga marah kepada Aarav.


Lelaki itu berjalan mendekati perempuan itu, dan kemudian duduk di sampingnya, tangannya membelai rambut Felitha, membuat gadis itu menatapnya dengan tajam dan was-was apalagi yang akan dilakukan lelaki itu kepadanya ?!


Belaian lembut itu berubah menjadi jambakan yang kasar, dan memaksa Felitha untuk melihat ke arah Aarav, lelaki itu mendekati wajah Felitha.


"Sebentar lagi, kita akan tinggal bersama, sayang. Bagaimana menurutmu ?? Negara mana yang harus kita tuju untuk tempat tinggal kita nanti ??"


Felitha tidak menjawab apapun, dia berfikir kelima lelaki itu adalah psikopat gila yang bengis dan kejam, ternyata ada seseorang yang jauh lebih jahat dan gila, yaitu Aarav. Astaga, hidup Felitha benar-benar dipenuhi oleh lelaki psikopat gila di sekelilingnya, dan lagi para psikopat itu seakan begitu menginginkan Felitha.


~ ~ ~


***guys.. kelihatannya cerita ini gak akan panjang, mungkin cuma sampai 60 aja, gimana menurut kalian ??


Author gak tau, harus nambah musuh lagi atau gimana 🥲🥲 bingung***..