
Seperti sebelumnya, Felitha membantu kembali Alto untuk memberikan obat tetes mata yang ternyata adalah vitamin khusus bagi matanya, mengingat mata orang yang mengalami kebutaan sangatlah rentan dan sensitif jadilah mereka membutuhkan perawatan yang berbeda dari manusia pada umumnya. Dan disinilah tugas Felitha membantu meneteskan obat serta vitamin ke area mata lelaki itu.
“Sudah selesai. Apakah ada lagi yang perlu ku bantu ??” Ujar Felitha setelah selesai memberikan obat dan vitamin pada Alto. Sejenak lelaki itu berfikir sebentar, lalu kemudian memberikan perintah yang ringan.
“Bisakah kau kembalikan obat ini kembali ke laci seperti sebelumnya, dan setelah itu kembalilah kemari.”
“Baik, Kak Alto.”
Felitha segera membawa ketiga botol itu kembali ke meja nakas kayu itu, tapi ada sedikit hal berbeda disana, laci ketiga yang terbuka sedikit lebih lebar, dan gadis itu membulatkan matanya tidak percaya, karena disana terdapat sebuah pistol kecil berwarna hitam. Felitha membatin, bagaimana bisa ada pistol di dalam laci milik Alto, tapi Felitha tidak mengambil pusing, dia segera membuka laci kedua dan…
Felitha melihat botol berisikan racun Botulinum itu berada di bagian pinggir seakan ada seseorang yang baru saja mengambil dan menaruhnya kembali dalam laci itu. Bahkan beberapa cairan racun itu berlumuran di pinggir botolnya. Felitha lagi-lagi bertingkah bodoh, dengan mengabaikan dan menaruh beberapa botol obat itu ke dalam, dia juga secara perlahan mendorong botol racun itu untuk masuk, khawatir jika Alto mengambil botol racun itu. Felitha kemudian menutup laci itu, juga laci ketiga itu juga dia tutup.
“Felitha, apa kau sudah selesai ??”
“I..iya Kak Alto.”
“Kalau begitu, kemarilah.”
Felitha mencoba bertingkah dengan tenang seakan dia tidak mengetahui apapun atau melihat benda di dalamnya, meskipun dalam hatinya berdetak tak karuan. Bagaimana bisa ada pistol sekaligus racun di dalam laci Alto…?? Apakah ini berkaitan dengan mimpinya saat pertama masuk ke dalam rumah ini… atau ada seseorang yang menaruh pistol dan racun disini untuk menjebak dan membunuh Alto dengan memanfaatkan kondisi fisiknya ??
Felitha kemudian melangkah dan jaraknya sudah cukup dekat dengan Alto, tapi..
Syuutt..
“Kyaaa..”
Lantai tepat di bawah Felitha sedikit basah, jadilah gadis itu terpeleset dan kemudian jatuh ke depan tepat di dada lelaki itu, beruntung Alto termasuk kuat dan bahkan dia bisa menahan dan menangkap Felitha ke dalam pelukannya. Felitha yang menyadari posisi yang salah, kemudian hendak bangkit dan menjauh.
“Ma…maaf Kak Alto… aku..”
Tapi tangan Alto seketika menahan dan memegang pinggang Felitha, seakan menahan perempuan itu untuk bergerak menjauh, perilaku Alto membuat malu sekaligus sedikit merinding, bagaimana bisa sosok lelaki didepannya bisa menangkapnya dengan mudah ??
“Ssstt.. tenang Felitha, ada yang ingin aku pertanyakan padamu.” Ujar Alto dengan nada serius, membuat ekspresi Felitha berubah dan menjadi serius mendengarkan ucapan lelaki didepannya, hingga Alto membuka suaranya.
“Ada apa, Kak Alto..??”
“Felitha.. kau tidak melihat isi dari laci yang lain, bukan ??”
Aduh !! Felitha membeku ditempatnya, apa.. apa yang Alto katakan ?? dia.. dia tidak membahas masalah botol racun dan pistol itu, bukan ?? tidak ! tetap tenang, dan cobalah bertingkah seakan tidak melihat apapun, bertingkahlah cuek.
“Apa maksud, Kak Alto ??”
Alto tidak berkata apapun, dia mendekatkan wajahnya begitu dekat, hingga mulutnya berada tepat disamping telinga Felitha, berbisik dengan nada rendah, Alto mulai berbicara.
A..apa ?? jadi Kak Alto mengetahui.. masalah benda itu ?? batin Felitha membeku, tubuhnya bergemetar sedikit. Tidak !! ini pasti mimpi, benar bukan ?! mimpi buruk yang dialami lagi, tidak mungkin Alto.. dia..??
“Felitha.. apakah kau tidak penasaran dengan kedua benda itu ?? aku akan dengan senang hati menjawab pertanyaanmu, apapun.. itu…” nada terakhir benar-benar membuat Felitha semakin ketakutan dan bingung. Apa sebenarnya mereka berlima, apakah Alto benar-benar buta ?? atau hanya sebuah drama yang dia buat.
Pikiran Felitha kini semakin kacau dan bingung dengan tingkah yang dibuat oleh Alto kini, ditambah tubuhnya tidak bisa dia gerakan karena ditahan oleh tangan kekar milik Alto, lelaki didepannya benar-benar sangat kuat dan kokoh, dibanding dengan dirinya yang hanya seorang gadis. Tuhan tolong aku. Batin Felitha dengan merana dan ketakutan. Hingga sebuah bantuan pun datang, suara dari luar ruangan kemudian terdengar dan masuklah sosok Damar.
“Hey, Kak Alto, ada yang ingin aku bicarakan- eh ?!”
Damar masuk ke dalam ruangan dan terkejut melihat posisi dari Felitha dan juga Alto disana, Felitha memerah malu tapi Alto tetap pada posisinya dan seakan tidak terjadi apapun disana.
“Hey, Felitha adalah perawat, bukan pacarmu !!”
“Aku hanya membantunya, karena dia hampir jatuh.” Ujar Alto dengan acuh dan kemudian melepaskan Felitha, dan gadis itu kemudian berlari keluar dari ruangan. Antara malu dan juga takut, dia khawatir jika Alto akan kembali mengejar dan bertanya hal-hal aneh kepadanya.
Damar menggelengkan kepala melihat Felitha keluar dengan cepat-cepat, dia kemudian menatap ke arah Alto yang tetap acuh dan cuek.
“Kau tidak menakutinya, lagi kan ??” Ujar Damar dengan nada malas.
“Mungkin.” Ujar Alto dengan acuh dan cuek, Damar menepuk keningnya, sudah dia duga. Felitha saja tadi terlihat sangat ketakutan dan bingung. Bahkan wajah gadis itu begitu pucat dan penuh rasa takut.
“Kali ini, apalagi yang kau lakukan ??”
“Dia melihat ke arah laciku, dan mungkin dia mengetahui barang pribadiku.” Ujar Alto dengan acuh, membuat Damar terkejut bukan main, jangan-jangan Felitha melihat.. oh tidak !! bagaimana jika dia menanyakan atau mengatakan ini semua kepada mama, dan menceritakan semuanya.
“Astaga… kenapa kau tidak menyimpan barangmu dengan benar ?! bagaimana jika Mom, tahu masalah ini semua ?!” Damar menjambak rambutnya frustasi, apalagi yang akan mereka lakukan kali ini.
“Tenang saja, itu tidak akan terjadi.”
“Kau.. tidak berniat untuk menyakiti Felitha, kan ??” Ujar Damar dengan nada curiga dan penasaran. Sementara Alto menggelengkan kepalanya.
“Tidak sama sekali, justru aku tertarik, dan ingin menahan gadis itu disini.”
Damar mengangkat aslinya, tumben sekali Alto berkata jika dia tertarik pada perawat, biasanya dia merasa perawat yang disewa adalah sosok yang menyebalkan, dan Alto serta keempat saudara lainnya akan menganggu dan membuat para perawat itu tidak betah bekerja disini.
Bahkan terburuknya, mereka berlima akan menunjukkan sisi gelap mereka, dan membuat para perawat itu ketakutan dan akhirnya keluar dari pekerjaan tanpa menunggu 1 bulan gaji. Damar sudah mengetahui semua kelakuan kelima saudaranya itu, dan tidak kaget dengan fakta gelap yang mungkin tidak akan bisa diduga oleh orang awam.
“Baiklah, asal jangan menyakitinya.”
“Tapi… aku dan keempat saudaraku boleh memiliki gadis itu, bukan ??”