
"Astaga !! Kak Arjun !! ngagetin aja !!"
Felitha mengelus bagian dadanya, menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan, saat menoleh ke belakang rupanya itu adalah Arjun yang hendak menemuinya, melihat ekspresi Felitha saat terkejut. Dalam hati Arjun tertawa geli, hanya saja di wajahnya hanya melukiskan sebuah senyuman disana.
"Kak Arjun, kenapa disini ??" Tanya Felitha setelah berhasil menenangkan dirinya, Arjun yang kebetulan membaca sebuah kertas dan pensil kemudian menulis sesuatu di sana dan menunjukkan kepada Felitha.
'Maaf, aku cuma mau bilang kalau besok, kamu ketemu sama Adnan ya.'
Duh, dari kelima lelaki itu, hanya Adnan yang sedikit ditakuti oleh Felitha. Bukan apa-apa, hanya saja lelaki itu terlihat lebih dingin, kasar, dan tampak sangat brutal. Bahkan nada bicaranya terkadang ketus, membuat Felitha takut, dan sempat berfikir kalau Adnan membenci kedatangannya. Tapi itu tidaklah benar, Damar sendiri menjelaskan kepada gadis itu mengenai perilaku Adnan yang memang seperti itu sejak kecil, barulah Felitha sedikit demi sedikit mulai mendekati lelaki itu, tapi tetap saja.
"Oh gitu, okee besok ya.. Kira-kira ketemu dimana ??"
Arjun kembali menulis lagi di kertas itu, dan kembali menunjukkan hasil tulisan itu.
'Katanya sih tunggu aja di dapur, ntar Adnan yang bakalan datang.'
Sepertinya ruangan favorit Felitha sekarang adalah dapur, karena di sanalah Felitha bisa berbicara atau bahkan membantu sahabatnya, Grace itu. Dan bersyukurnya, Felitha maupun Grace tidak mendapatkan masalah sama sekali. Bahkan Felitha saat waktu luang diijinkan untuk membantu Grace, yang memang terkadang kesulitan dengan tugasnya sendiri. Jadilah, kelima lelaki itu, kecuali Arya. Akan mencari Felitha di dapur, karena di sanalah tempat biasanya gadis itu berada.
"Oke, Kak Arjun. Aku pamit dulu.."
Arjun mengangguk dan tersenyum, kemudian pergi meninggalkannya sendiri. Disisi Felitha sendiri, gadis itu kemudian memasuki kamarnya dan mempersiapkan dirinya.
…
***bugh !!!
bugh !!!
bugh*** !!!
"Ck, seharusnya kau tunjukkan dirimu di depan Felitha, aku yakin dia pasti akan pingsan melihatmu berdiri dan meninju mereka." Ujar Adnan dengan sedikit menyindir ke arah saudaranya yang menghabisi beberapa orang di sana, hingga tubuhnya dipenuhi oleh darah, bahkan bajunya.
"Shut up !!" Ujar Arya yang di sana tengah berdiri di beberapa orang yang sudah tergelatak di bawah lantai itu, dengan dipenuhi oleh darah.
"Hah, kau ini aneh, sudah mendapatkan kaki palsu dari Anand. Kau malah memilih tetap menggunakan kursi roda mu itu." Celetuk Altan yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran dari Arya.
"Tidak terima kasih, ini menjadi kesempatanku untuk bisa lebih dekat dengan Felitha." Ujar Arya tersenyum licik di sana, dia sengaja tidak mengatakan fakta bahwa dirinya sudah mendapatkan kaki palsu.
"Tunggu sebentar, ini artinya hanya Alto dan Arjun saja yang jujur dengan kondisi fisik mereka ??" Ujar Altan dengan wajah berfikir.
"Tentu saja tidak, kita sempurna dan menjalani kehidupan juga karena alat bantu. Dan yang belum beruntung adalah Alto dan Arjun, karena mereka belum mendapatkan alat bantu." Ujar Adnan mengingatkan saudaranya akan kenyataan yang ada.
Memang benar, tanpa alat bantu dari Anand, mereka berlima belun tentu bisa menjalani kehidupan seperti sekarang ini. Semoga saja, Alto dan Arjun bisa mendapatkan alat bantu yang sama dengan mereka.
"Tapi tidak masalah, karena meskipun dengan kondisi seperti ini, kita masih bisa menyerang dan melindungi diri. Kondisi fisik kita, bisa digunakan untuk mengelabuhi musuh." Ujar Arya menyeringai licik.
Disisi lain, Alto sendiri sibuk mendengarkan pembicaraan ketiga saudaranya sembari menghisap batang rokok di mulutnya. Oh iya, Alto terbiasa melakukan segala sesuatu tanpa penglihatan, jadilah dia bertingkah dan bertindak seperti orang normal pada umumnya.
"Hey, Alto tidakkah kita menginginkan gadis itu secepat mungkin." Ujar Adnan menatap ke arah Alto yang duduk santai di sana, di samping nya terlihat Arjun duduk dan menikmati pemandangan, saat Arya menghancurkan tulang-tulang dari musuh mereka, dan menusuk dengan sadis menggunakan pisau.
"Apa yang kalian pikirkan ?? memperkosanya, dan menunjukkan jati diri kita ??" Ujar Alto dengan sedikit acuh.
"Tidakkah itu sedikit kasar ??" Ujar Adnan sedikit berfikir di sana.
"Tapi jika tidak segera, maka itu akan menjadi masalah besar. Anthony tidak akan tinggal diam begitu saja, Patmawati juga pasti akan segera menjalankan rencana busuknya." Ujar Arya mengingatkan jika ada beberapa orang yang mungkin bisa menjadi mala bahaya bagi mereka, apalagi dengan status mereka dan Felitha yang masih belum terbukti.
"Sebaiknya kita jebak saja gadis itu, dan memaksanya untuk menjadi kekasih kita." Ujar Adnan memberikan idenya.
"Kau yakin, ini akan berhasil ??" Tanya Altan.
"Ide yang bagus, kita akan segera mulai saja rencananya." Ujar Alto memotong ucapan adiknya itu.
"Benarkah, kapan ??"
Alto menyeringai, "Malam ini."
…
Felitha menutup mulutnya menahan dirinya sendiri saat membaca dokumen terakhir yang dia bawa. Dokumen hasil pemeriksaan rumah sakit jiwa, dan semua menunjuk pada hasil tes psikologis kelima lelaki bersaudara itu. Tapi hal yang cukup mengejutkan bagi gadis itu adalah, dari kelima lelaki bersaudara mereka memiliki empati dan simpati yang sangat rendah.
Di samping itu, ada beberapa hasil tes yang menjelaskan jika gejolak emosi yang tidak stabil, empati dan simpati rendah, bahkan ada gejala yang menjerumus pada sisi psikopat. Mungkinkah ucapan Arya yang menyatakan mengenai psikopat adalah dirinya sendiri ??
Felitha ingat, Arya pernah bertanya..
"*Bagaimana jika seandainya kau satu meja dengan seorang psikopat ??"
"Apakah menurutmu seorang psikopat bisa jatuh hati ??"
"Menurut mu seperti apa psikopat itu dalam ilmu psikologis* ??"
Bodoh sekali, Felitha !! Kenapa dia tidak menyadari ucapan Arya kemarin saat di perpustakaan ?! Apa yang harus dia lakukan ?? Apakah ini dokumen palsu atau asli, Bagaimana nasibnya nanti ??
prang !!!
Sebuah suara benda keras terjatuh di depan bagian kamar Felitha, entah siapa itu. Gadis itu menutup dokumennya, dan kemudian perlahan membuka pintu kamarnya secara perlahan.
Felitha hampir tidak percaya, tidak jauh dari pintu kamarnya terdapat guci yang sudah jatuh dan pecah dilantai, juga sebuah jejak darah entah apa itu. Seperti seseorang yang berdarah atau terluka diseret hingga membuat jejak darah di sana. Feeling-nya semakin memburuk, apa yang harus dia lakukan ?? mengikuti atau tetap diam di tempat ??
Baru saja berfikir, tiba-tiba Felitha kembali mendengarkan sebuah suara yang cukup jauh, tapi masih terdengar di sana. Suara seperti seseorang merintih kesakitan dan menangis, dan suara pukulan yang dilakukan orang lain.
bugh !!!
Felitha memberanikan diri, dia harus mengikuti suara itu, kemungkinan dia bisa membantu orang yang terdengar kesakitan di sana. Dengan perlahan menutup pintu kamarnya dan melangkah mengikuti jejak darah tersebut.
~ ~ ~
**Maaf baru bisa ngasih penutupan, padahal udah 20 chapter lebih :'(
Aku masih penulis baru disini, maaf ya..
Semoga kalian suka sama cerita ini.
:D**