
“Oh.. satu lagi..”
Altan kemudian melangkah mendekati Felitha dan berbisik tepat dibagian telinga gadis itu dengan nada rendah dan penuh ancaman seperti suara hesisan ular yang membuat Felitha sedikit takut, dan merasa merinding ngeri.
“Jika kau sudah berniat penuh membantuku. Maka kau harus siap untuk bisa menuruti segala perintahku padamu, Feli~”
Suara itu membuat Felitha merasa merinding ngeri, gadis itu sedikit menjauh dan merasa begitu gugup, tanpa mengurangi rasa sopan, Felitha pun berpamitan sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
“Maaf, Kak.. aku permisi keluar.. aku akan memberikanmu jawabannya besok.”
Lalu Felitha keluar dari ruangan dengan sedikit terburu-buru karena rasa takutnya, sementara Altan menyeringai licik melihat ekspresi ketakutan dari Felitha, lelaki itu terkekeh pelan di dalam ruangannya membuat seseorang muncul dari tempat persembunyiannya dan sedikit menyindir ucapan saudaranya.
“Kau membuatnya takut, kau benar-benar seperti pedofil yang menggoda anak-anak dibawah umur.”
Altan memutar matanya malas, “Shut up, Arya.”
Arya, sosok itu rupanya sempat bersembunyi dan menguping pembicaraan mereka berdua. Kakak nya ini benar-benar sangat gila, bagaimana bisa dia menawarkan Felitha sebagai model lukisannya ?! astaga keracunan apa kakaknya yang satu ini, semoga saja Felitha tidak akan kabur seperti perawat lain, hanya karena di goda oleh keempat kakak laki-lakinya itu.
“Kau lihat wajahnya, sangat lucu dan imut sekali. Benar kata Adnan, andai saja Alto bisa melihat ekspresinya itu.” Ujar Altan sembari terkekeh pelan, dan membayangkan seperti apa ekspresi Alto saat melihat wajah dan tingkah dari Felitha.
Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah saudara kembarnya itu, jika sudah begini berharap saja agar Felitha tidak jantungan atau kaget dengan tingkah mereka berlima. Dan berharap jika Felitha tidak akan bertingkah macam-macam dan berakhir seperti pelayan lainnya.
Disisi lain..
Felitha yang sudah keluar dan berjalan cukup jauh hanya bisa menghela nafasnya lega sekaligus menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan saat mendengarkan ucapan dan perkataan dari Altan. Apa maksud lelaki tadi ?? tapi entah kenapa perkataan itu membuat Felitha merasa merinding dan takut, haruskah dia menceritakan kejadian kepada Grace ?? ah iya, mengingat nama temannya itu, Felitha masih belum melihat Grace.
Matanya menatap ke arah jam yang ternyata menunjukkan jam 5 sore, dia baru menyadari melewati jendela, jika langit sudah berwarna orange seperti jeruk. Ini sudah hampir malam, dan dia belum mandi ?? sebaiknya dia masuk ke dalam kamar dan segera mempersiapkan diri dan mandi. Tapi sebelum itu, dia akan mampir ke dapur untuk mengambil gelas dan meminum air. Kakinya melangkah menuju ke arah dapur.
Sampai di dapur, Felitha mendapati teman pelayannya, Grace sudah berada di dalam dapur, duduk di kursi dan bersantai tapi wajahnya terlihat sangat kelelahan. Mungkin dia baru saja selesai memasak untuk makan malam. Gadis itu menghampiri temannya.
“Grace..??”
“Oh.. hai Felitha, bagaimana tugas pertamamu ?? kau terlihat sangat kelelahan. Ambillah botol pink di dalam kulkas, itu adalah jus jambu yang aku siapkan untukmu.”
“Benarkah ?? terima kasih banyak.”
Tanpa menunggu lama, Felitha kemudian membuka kulkas, dan benar saja sebuah botol berwarna pink dengan isi yang begitu kental. Felitha meraih botol yang sudah terasa dingin, dan kemudian meminumnya dengan sangat cepat. Sepertinya Felitha menempuh perjalanan cukup panjang tanpa minum dan beristirahat hingga gadis itu terlihat kelelahan dan juga haus. Tidak butuh waktu lama, Felitha sudah menghabiskan jus jambu itu dalam sekejab. Grace menggelengkan kepalanya.
“Jika sudah, botol itu di taruh dekat wastafel, akan aku cuci nanti.”
“Hmm.. Oh iya Grace, bagaimana makan malamnya kita buat mie instant saja ??”
Grace menganggukkan kepalanya, “Yeah, aku tidak berfikir ingin makan malam bersama, aku merasa sangat sungkan untuk makan malam kemarin.”
“Untuk Grace dan Felitha, aku harap kalian tetap ikut makan malam hari ini.”
“Maksudnya…??”
“Kalian berdua akan mendapatkan undangan untuk makan malam, bersama Tuan Tirta dan Nyonya Cantika.”
Ucapan itu membuat Grace dan Felitha hanya bisa saling bertatapan dengan pasrah karena sepertinya mereka lagi-lagi mendapatkan kesempatan untuk makan malam bersama dengan majikan mereka, dan itu sebenarnya membuat kedua gadis itu merasa sangat tidak nyaman. Apalagi status mereka hanyalah pembantu dan juga seorang perawat saja.
“Tapi.. kenapa hanya kami berdua, kenapa pelayan yang lain tidak ??” Tanya Grace dengan nada penasaran.
Bukannya menjawab, pelayan itu hanya bisa terdiam dengan pertanyaan itu. Felitha hanya menatap curiga melihat ekspresi penuh khawatir dan ketakutan dari pelayan yang baru mereka lihat seharian ini, apalagi Felitha merasa sangat bingung karena tidak melihat pelayan lain selain Grace, begitu pula Grace sendiri yang sangat bingung. Pelayan itu seakan tidak bisa memberikan jawaban apapun dari pertanyaan yang diajukan oleh Grace, jujur itu membuat sedikit kecurigaan yang sama pada Grace kepada pelayan itu.
“Err.. karena…” dengan sedikit gugup pelayan itu mencoba untuk menjawab pertanyaan itu.
“Karena itu perintah langsung dariku !” Ujar seseorang datang dengan sedikit nada sinis memotong ucapan pelayan itu, sosok yang bernama Adnan itu datang dan muncul dengan tatapan sinis mengarah ke pelayan perempuan itu, membuat sosok pelayan itu semakin terlihat ketakutan.
“Itu adalah perintah langsung dariku, jadi sebaiknya kalian bersiap karena hari ini kita akan makan diluar.” Ujar Adnan memberikan perintah yang mutlak seakan Grace dan Felitha tidak bisa atau bahkan boleh untuk menolak perintah itu. Tatapan tajam itu seakan memaksa kedua gadis didepannya hanya bisa menuruti dan mengiyakan perintah yang memang sangat aneh itu.
“Ba..baiklah Tuan / Kak Adnan.” Grace dan Felitha berbicara secara bersamaan, meskipun dalam hati mereka merasa sangat kebingungan dan merasa heran dengan perilaku dari sosok Adnan yang tiba-tiba saja muncul seperti sosok penampakan itu.
Tapi ya, dalam hati mereka sedikit merasa curiga dan heran. Apa sebenarnya keistimewaan dari mereka ?? kenapa hanya mereka yang diajak dalam acara makan malam keluarga, dan apa yang sebenarnya direncanakan oleh majikannya itu sendiri.
Tapi seperti apapun keduanya memang tidak memiliki kesempatan untuk menolak, mempertanyakan masalah perintah yang sebenarnya sangat tidak adil bagi para pelayan lainnya. Grace dan Felitha sangat tidak suka jika mereka terlalu diistimewakan dalam rumah itu, terutama dalam Keluarga Sagara, tapi mau bagaimana lagi ini juga perintah mereka.
Keduanya kemudian meninggalkan ruang dapur dan menuju ke kamar mereka masing-masing yang ternyata sama-sama di lantai dua dan juga jaraknya yang hampir berdekatan, dalam perjalanan mereka yang terpaku akan perintah aneh itu, tiba-tiba saja Grace teringat akan sesuatu hal.
“Tunggu.. kalau memang makan diluar, kenapa tadi aku dikasih perintah untuk memasak ??” Ujar Grace bingung dengan perintah majikannya yang benar-benar aneh itu. Awalnya dia memang diberikan perintah oleh Nyonya Cantika secara langsung untuk memasak masakan yang cukup banyak, hanya itu saja, dan Grace berfikir jika keluarga besar majikannya akan mengadakan makan malam sederhana saja.
“Memang tadi disuruh masak apa ??”
“Suruh masak makanan sederhana sih, Cuma sayur soup dikasih ayam, sama goreng tempe.” Ujar Grace mengingat masakan yang dia masak tadi.
“Apa jangan-jangan kamu disuruh masak buat pelayan lainnya ?? terus kita diajak makan diluar ??”
“Hah ?? tapi kenapa ??”
“Nah kalau masalah itu, aku juga bingung tapi emang kita bisa protes ?? kita aja tadi Cuma dibilangin perintah aja, gak dikasih alasannya.” Ujar Felitha menanggapi.
“Bener juga ya.”
Dan sepertinya sisi misterius kali ini benar-benar sangat membingungkan. Mungkin, Felitha harus mencari tahu semua sisi misteri ini.