
Kehidupan Felitha benar-benar berubah total saat ini, bahkan kelima lelaki itu kini mulai secara terang-terangan menunjukkan sisi gelap mereka kepada Felitha.
Dan kalian tahu, saat Felitha menuju ke arah kamar milik Adnan, lelaki itu dengan sengaja membiarkan gadis itu masuk dengan kondisi kamar yang penuh dengan darah, dan juga ada mayat perempuan di sana. Adnan baru saja memukuli salah satu pelayan yang ternyata adalah salah satu perempuan yang sempat memberikan peringatan kepada Felitha dulu.
"Ka...Kak Adnan ??"
Adnan membalik badannya dan tersenyum, "Akhirnya kau datang kemari, Feli~ sayang. Ayo kemari, dan duduklah aku ingin kau menemaniku."
Adnan kemudian mengambil sebuah lap dan mengelap bagian mulutnya, dan juga tangannya yang berdarah dengan menggunakan lap. Kemudian dia menarik Felitha yang masih terpaku dengan darah dan mayat itu, dan membuat gadis itu duduk di atas pangkuan nya.
"Ka..kak... ??"
"Sstt... Sudah ya, tenang gak usah takut."
Tidak lama, beberapa lelaki masuk ke dalam kamar milik Adnan, dan mereka mulai membereskan beberapa bercak darah dan juga mayat untuk di buang dari kamar Adnan. Setelah semua selesai, beberapa lelaki itu keluar dari kamar dan membawa sebuah kantong hitam besar yang berisikan mayat. Felitha yakin, para lelaki itu adalah anak buah Adnan, karena mereka terlihat tidak terkejut sedikitpun.
"Apa... Kau selalu melakukan ini ??"
"Selalu, sayang~" Adnan dengan perlahan mengecup bagian kening gadis itu.
Meskipun Felitha mendapatkan perlakuan lembut dan penuh sayang, seperti pelukan, pangkuan dan juga ciuman lembut di pipi atau kening, dan memang benar gadis itu blushing memerah dan malu, tapi tidak menutup kemungkinan, kalau Felitha masih merasa takut dan khawatir.
Gadis itu takut jika bertingkah yang tidak sengaja membuat mereka berlima marah dan menyakitinya. Meskipun mereka mengatakan berulang kali, jika mereka enggan untuk menyakiti Felitha, tetap saja kan itu tidak menutup kemungkinan mereka bisa menyakitinya ??
"A..Apakah Kak Damar mengetahui hal ini ??"
"Oh.. Damar ?? Dia mengenal kami, lebih dalam dari apapun. Dan kami akan selalu menganggapnya sebagai saudara kandung."
Ucapan Adnan membuat Felitha menyadari, jika dia belum membaca satu dokumen lainnya, yaitu dokumen pengadopsian. Apakah.. kelima lelaki itu adalah anak adopsi dan bukan anak kandung ?? Entahlah, Felitha mungkin harus menyelidiki dan membaca dokumen itu lagi, nanti malam.
"Feli~ Apakah bisa, jika nanti malam kau tidur disini, dikamar ku ??"
Pertanyaan itu tentu membuat Felitha menatap Adnan dengan tatapan horor, apa katanya tidur satu kamar dengannya ??
"Tapi kenapa ??"
"Aku hanya ingin tidur dengan memelukmu. Apakah tidak boleh ?? Apakah kau masih takut denganku ??"
Tentu saja !! Batin Felitha menjerit dalam hatinya, tapi dia hanya memberikan senyuman, dan bersifat tenang.
"Maaf, Kak Adnan.. Tapi, apakah boleh aku menolak permintaan yang satu ini ?? Aku.. Bukankah tidak boleh terlalu dekat ??"
Beruntung, kemarin Felitha sempat memberikan syarat lain, yaitu dia tidak ingin terlalu dekat dengan mereka berlima. Dalam artian, tidak boleh ada hubungan lebih dalam daripada ciuman dan pelukan. Karena Felitha ingat, jika psikopat memiliki nafsu yang terlampau tinggi dalam diri mereka, Felitha tidak mau kelima lelaki itu hanya memanfaatkannya sebagai pemuas nafsu belakang saja.
"Hanya pelukan saat tidur, apakah tetap tidak mau ??"
"Maaf Kak Adnan, tapi aku tidak mau."
Tanpa diduga, Adnan tertawa kecil seakan puas dengan jawaban dari Felitha, dia kemudian memuji gadis itu dengan kata-kata yang memang tidak dibuat-buat.
"Kau memang pintar Feli~ sayang. Tidak sia-sia kami memilihmu." Ujar Adnan tersenyum senang, sembari menyentuh pipi Felitha dengan lembut.
Felitha sendiri hanya bisa pasrah di sana, mau memberontak juga sulit, bahkan mungkin Adnan akan memeluknya lebih erat dan lebih kuat dari sebelumnya.
Tidak hanya sisi gelap saja yang ditunjukkan, bahkan kebohongan mereka mulai ditunjukkan secara sengaja di hadapan Felitha.
Pernah saat itu, Felitha di panggil oleh Arya untuk pergi ke perpustakaannya. Anehnya, Felitha mendapati pintu perpustakaan itu tertutup rapat. Dengan perlahan, Felitha membuka pintu perpustakaan itu dan masuk ke dalam. Tanpa diduga, Felitha mendapati Arya berdiri dari kursi rodanya, dan membaca buku berdiri di depan rak bukunya itu. Felitha terkejut bukan main melihat kejadian itu.
"Ka..Kak Arya.. ??"
Arya yang mengetahui dirinya dipergoki ternyata bisa berdiri, hanya menyeringai licik seakan di memang sengaja memperlihatkan kebohongannya itu di hadapan Felitha.
"Ada apa ,Felitha sayang ?? Ayo masuklah kemari." Ujar Arya dengan santai menggerakkan jarinya seakan memberikan kode agar Felitha mendekatinya.
Felitha menurut, dia kemudian menutup kembali pintu perpustakaan, dan mendekati ke arah Arya. Dengan perasaan dag-dig-dug takut, Felitha memberanikan dirinya sendiri mendekati. Hingga gadis itu berada tepat dihadapan Arya, tangan lelaki itu dengan perlahan membelai rambutnya dengan lembut.
"Kak.. Arya bisa berdiri ?? Kak Arya.. Apakah... ??"
"Kenapa, hmm ?? Apakah apa ?? Aku penasaran sayang." Ujar Arya menggoda, meskipun dia tahu perkataan dari Felitha dari tatapan mata indah gadis itu. Semua sudah bisa terbaca.
"Apakah kau.. menipu semua orang ??"
"Pfft.. hahahahaha..." Arya tidak tersinggung, justru dia malah tertawa geli di sana. Astaga, tidak salah memang, bahkan Damar pernah berfikiran yang sama awalnya saat mengetahui Arya bisa berjalan dengan normal menggunakan kaki palsu yang terpasang.
Tapi tak lama, Arya berusaha menahan dan menghentikan tawanya sendiri.
"Tentu saja bukan, bukankah kau sudah membaca dokumen mengenai diriku. Tidakkah di sana dijelaskan, aku mengalami kecelakaan dan membuatku kehilangan kedua kakiku." Ujar Arya dengan santai, membuat Felitha tidak terkejut, dia yakin pasti kelima lelaki itu mengetahui tindakan.
"Bagaimana kau tahu ?? Jika aku membawa dokumen itu." Tapi tetap, Felitha penasaran daripada dia mendapatkan informasi itu, berharap selama ini lima lelaki itu tidak stalker atau mengintai kamarnya secara perlahan.
"Arjun yang mengatakan semuanya, bukankah setelah mengambil dokumen itu, kau bertemu dengan Arjun ??"
Felitha bodoh, dia lupa jika sempat bertemu dengan Arjun dan menipu lelaki itu dengan tipuan murahan khas anak kecil. Tentu saja, Arjun mengetahui dan langsung mengatakan kepada para saudaranya yang lain.
"Tunggu.. Apakah itu berarti, Kak Arjun... Bisa berbicara ??" Felitha ingat, Arjun sempat menyebutkan namanya secara perlahan, meskipun nada bicaranya sangat pelan.
Arya menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia jujur dengan kondisinya sendiri. Jikapun, Arjun berbicara maka lidahnya akan terasa sangat sakit. Karena itu aku dan lain melarangnya untuk berbicara."
Felitha mengangguk, rupanya mereka berlima masih memiliki kepedulian satu sama lain, meskipun ada sisi gelap menyeramkan dalam diri mereka. Tetap saja, dalam manusia pasti memiliki dua sisi, iblis dan malaikat. Sisi iblis adalah sisi jahat biadap mereka, sementara sisi malaikat adalah sisi tulus dan baik yang ada pada diri mereka sendiri.
~ ~ ~
**Hey guys... Gimana menurut kalian cerita ini ??
kayanya setiap penutupan cerita, aku bakalan nulis kaya gini, anggap aja aku ngajak kalian ngobrol :D
Gak risih kan, membaca uneg-uneg sang penulis ini, hehehehe...
Btw, ini cerita mungkin aman ya, gak ada adegan yang berlebihan kecuali pelukan, ciuman, gitu aja.
Beda kek psikopat lainnya yang ketemu langsung r*p* gitu aja, mereka masih sedikit ada moral kalau sama Felitha.
Udah gitu aja, dari Authornya..
bye semua**...