(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketujuh



Tap…tap…tap..


“Akhirnya…”


Felitha meraih anak tangga terakhir di atas, dan mencapai lantai 2. Gadis itu sedikit merasa aneh, padahal saat pertama menaiki tangga, dia dan Damar tidak merasakan kelelahan sedikitpun. Apakah karena aura positif yang terus dipancarkan oleh Damar ?? Ditambah lelaki itu selalu berbicara panjang lebar, sehingga membuat aktivitas apapun terasa ringan. Tapi, kali ini pikiran Felitha dipenuhi pikiran dari perkataan Adnan tadi, apa maksudnya ??


“Lebih baik aku kembali ke kamar, dan tidur. Aku akan memulai aktivitas baru besoknya.” Ujar Felitha berbicara pada dirinya sendiri


Kakinya melangkah ke arah pintu kamarnya, aneh rasanya malam hari ini terasa begitu berat dan terasa mencekam tapi dia bisa memaksa diri untuk tetap malangkah hingga sampai di depan pintu kamarnya, hingga..


“Apa kau selalu berbicara pada dirimu sendiri ??”


“Kyaa !!” Felitha membalik badan dan terkejut dengan suara yang terasa sangat berat dan terdengar sangat dingin itu. Felitha mendapati sosok bernama Alto itu berdiri sembari bersandar pada dinding dan menghadap ke arah Felitha, tanpa lupa penutup mata kain berwarna merah yang dia gunakan.


“Maaf.. Tuan Alto..”


“Hmm… Aku hanya ingin menyampaikan pesan, besok pagi datanglah ke ruanganku.”


Apakah ini tugas pertamanya ?? wah !! akhirnya salah satu dari mereka mau mengajak berbicara tanpa menggunakan nada ancaman seperti Adnan tadi, dan ini terdengar sepertinya keberadaannya diakui oleh Alto sebagai sosok perawat yang akan membantunya.


“Tentu saja, Tuan Alto.”


“Baguslah, kalau begitu, aku permisi.”


Lalu Alto pergi meninggalkan Felitha, gadis itu melirik ke arah Alto yang bisa berjalan bahkan tanpa alat bantu di tubuhnya. Rasanya Felitha ingin menanyakan masalah tentang kondisi fisik Alto secara jelas, karena ada yang aneh, Alto bisa memakan dan menikmati makanan dengan sangat mudah, dia juga bisa berjalan sendiri tanpa dituntun oleh siapapun, dan lagi bagaimana dia bisa berjalan dengan mudahnya tanpa mengalami benturan sedikitpun.


Tapi Felitha memilih menahan pertanyaannya itu, lebih baik dia ungkapkan saat sudah mendapatkan waktu dan pendekatan dari kelima lelaki itu, dan berharap bisa semakin dekat mereka untuk bisa menolong kelima lelaki kembar itu.



“Kenapa kau malah berkata seperti itu, dan menakutinya, bodoh !!”


Tuk !!


“Awh.. sakit.”


Arya memukul Adnan menggunakan gulungan kertas yang memang dia bawa di tangan kanannya itu. Disisi lain, Adnan menceritakan tentang dia yang memberikan peringatan kecil pada Felitha, dan memuat Arya kesal. Kenapa malah ditakuti, bisa-bisa dia kabur sebelum melakukan tugasnya, dan itu akan membuat posisi mereka semakin sulit lagi.


“Aku hanya iseng, lagipula ekspresinya lucu sekali.” Ujar Adnan membelai bagian kepalanya yang dipukul dengan gulungan kertas, sembari terkekeh geli mengingat ekspresi Felitha tadi.


“Gini amat.. punya saudara sengklek kek mereka, Eh Jun !! Main apaan ??” Altan beralih pada saudaranya yang duduk tidak jauh di dekatnya itu.


Arjun kemudian membalikkan handphone miliknya, menunjukkan layar handphone yang menampilkan salah satu game hamsterball. Membuat Altan hanya ternganga, kenapa seluruh saudaranya tidak ada yang waras untuk satu orang saja ?!


“Ya Tuhan, kenapa saudaraku tidak ada yang waras, kecuali Alto.” Ujar Altan dengan nada sok frustasi itu, dan membuat Arya, Adnan dan Arjun menatapnya dengan nada datar.


“Halah, kek paling waras aja. Gak inget waktu main Facebook dulu, pakai status alay, 4kU G4l4U GuY5. Siapa coba ??” Ujar Arya mengingat status yang sempat di buat oleh Altan beberapa tahun lalu.


“Heh !! ini tuh gegara tangan buatan Anand, jadi ngetiknya gak beraturan.” Elak Altan yang tidak ingin mengingat masa lalu alaynya itu, adik kembar kurang ajar !! malah ngingetin aib yang udah dilupain Altan beberapa tahun lalu.


“Ada juga yang nangis, gara-gara kursi roda Arya gak sengaja nginjek laba-laba peliharaannya.” Lanjut Adnan.


Cukup sudah !! Ini namanya penistaan atas nama Altan di seluruh dunia, Altan hanya bisa terdiam mengingat aibnya dibuka oleh kedua saudaranya dengan gampangnya. Altan bersyukur tidak ada Damar disini, bisa-bisa saudara mereka itu akan langsung ikut menistakan namanya.


“Lagian ngapain, melihara laba-laba ?! pelihara tuh anjing, kucing, kelinci ?!” Ujar Arya mengingat peristiwa di masa lalu, masa Altan masih jadi sosok yang alay nan lebay itu.


“Halah.. yang nangis gara-gara gak dibeliin kelinci sama Dad, siapa ?!” Ujar Altan tidak terima dengan ucapan dari Arya.


Memang hanya dia saja yang terlihat lebay dan alay, seluruh saudaranya itu juga sangat aneh dan lebay. Hanya Arjun yang sedikit waras, ingat !! sedikit waras. Itupun karena keterbatasannya dalam berbicara, coba Arjun bisa mengeluarkan suara kemungkinan kegilaan ketiga kakaknya pasti akan menular kepadanya.


Perang antar aib itupun akhirnya terhenti saat pintu terbuka, sosok Alto datang masuk ke dalam ruangan yang memang sudah sesuai perjanjian mereka, setelah makan malam berakhir. Sepertinya ada sesuatu yang memang harus di bahas oleh kelima saudara itu, terlebih lagi dengan kehadiran Felitha yang entah membuat posisi mereka semakin sulit atau malah mempermudah mereka dalam melaksanakan rencana mereka.


“Bagaimana ?? Apa selanjutnya yang harus kita lakukan ??” Tanya Arya yang tentu saja mempertanyakan semuanya, terlebih rencana untuk mendatangkan perawat ini merupakan rencana dadakan dari ibu mereka. Meskipun mereka sudah sempat mendapatkan clue mengenai sosok perawat yang mendampingi mereka, tapi kelima lelaki itu tidak menduga akan mendapatkan perawat muda dengan sifat polos dan lugu itu.


“Dia sangat polos.. tapi lucu..” Ujar Adnan masih tidak bisa berhenti menertawakan ekspresi Felitha tadi, benar-benar puas ternyata menggoda sosok gadis polos itu.


“Sepertinya akan mudah untuk menipunya, kita bisa tetap menjalankan rencana tanpa diketahui oleh siapapun.” Ujar Altan dengan ekspresi berfikirnya.


Alto yang duduk dan mendengarkan seluruh pendapat dari masing-masing saudaranya, mereka memang adalah anak kembar, tapi diantara kelima itu, Alto yang bertingkah seperti sosok kakak tertua dari kelima saudaranya, dan menjadi pemimpin kelimanya dengan sifat berwibawa yang dia miliki itu.


“Arjun, bagaimana dengan mu ??”


Dengan keterbatasan dalam berbicara, Arjun sering terlupakan. Tapi syukurlah saudara-saudaranya, bahkan keluarganya tidak pernah melupakan Arjun, jika lelaki itu ada sesuatu untuk diungkapkan, mereka memberikan kesempatan pada lelaki itu untuk menyampaikan melalui tulisan. Dan Arjun mulai menulis di sebuah kertas menggunakan bolpoin yang selalu dia gunakan sebagai alat komunikasi. Tidak perlu menunggu lama, Arjun menyerahkan kertas itu pada Adnan yang dekat dengannya.


“Bagaimana jika salah satu dari kita mulai mendekatinya, dan memanipulasi serta mengalihkan pandangannya sejenak, sehingga kita bisa melaksanakan rencana kita ??” Adnan membacakan tulisan milik Arjun.


Tidak bisa dipungkiri, diantara kelima lelaki itu, Arjun memiliki otak licik yang sangat-sangat berbahaya. Ide yang dilontarkan terkadang tidak terduga bahkan oleh orang normal sekalipun. Alto yang mendengarkan rencana itu, menyeringai licik.