(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Ketiga puluh delapan



Benar seperti ucapan Damar, tapi kali ini Alto dan Damar yang menangani semuanya. Alto kemudian berbicara kepada kepolisian dan hal itu membuat para polisi yang mendapatkan laporan sedikit bingung. Karena sosok yang di laporkan adalah seorang disabilitas yang tidak bisa melihat. Tentu saja itu, membuat mereka aneh, kenapa ada orang yang malah membuat laporan bagi orang buta, yang bahkan tidak bisa melihat sekeliling nya ??


Dan Alto dengan lancar bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh polisi dengan mudah, tapi juga ekspresi bingung yang dia miliki.


"Aku tidak mengerti.. Kenapa ada orang yang melaporkan serta menuduhku sebagai orang yang telah melakukan pengedaran obat-obatan terlarang dan juga pembunuhan atas beberapa orang ?? Aku memang bisa melihat, tapi itu dulu saat berusia 7 tahun, dan karena kecelakaan aku kehilangan penglihatan ku." Ujar Alto dengan nada bingung dan heran.


"Aku juga tidak tahu, maafkan aku Tuan Alto. Aku tidak pernah tahu, kondisi anda secara keseluruhan, tapi kami hanya sedang dalam penyelidikan saja. Jika dalam penyelidikan tidak ditemukan bukti apapun, maka laporan akan di batalkan." Ujar salah satu kepala polisi tersebut.


"Baiklah, jujur saya bahkan berani mempersilahkan anda untuk masuk ke dalam kamar tidur, sekaligus ruangan milikku sendiri. Jika itu memang di perlukan dalam penyelidikan."


Alto mempersilahkan kepada para polisi itu untuk menggeledah seluruh isi kamar dan ruangannya, atau bahkan jika perlu menggeledah seluruh ruangan di dalam rumah. Tapi cukup dengan menggeledah kamar Alto dan ruangannya, saja sudah cukup sebagai bukti laporan yang ada. Karena memang, pihak kepolisian juga sempat melakukan penggeledahan terhadap seluruh isi rumah yang ada di dalam.


Setelah mendapatkan jawaban dan juga menyelidiki isi kamar Alto, tidak ada satu benda mencurigakan yang mereka temukan di dalam sana. Hanya benda-benda biasa yang berada di dalam kamar, juga dalam ruangan pribadi Alto. Sama sekali tidak menemukan kejanggalan apapun, sampai akhirnya para polisi itu kemudian hendak berpamitan dan pergi.


"Tidak ada sesuatu yang mencurigakan di kamar juga ruangan anda."


"Huft.. Karena memang tidak ada yang salah denganku, aneh.. Kenapa orang sekarang membuat laporan yang tidak masuk akal, oh iya boleh aku tahu siapa yang membuat laporan ini ?? Karena jujur saja, keluarga kami jarang sekali membawa seorang tamu masuk ke dalam rumah ini."


"Laporan ini atas nama, Patmawati Aby. Dia juga sempat membuat laporan atas dugaan pembunuhan yang di lakukan oleh keluarga anda, tapi kami tidak menemukan bukti apapun disini, dan juga tidak ada petunjuk yang mengarah pada keluarga anda. Lalu laporan atas pembunuhan beberapa orang, serta pengedaran obat-obatan terlarang."


Alto menganggukkan kepalanya, "Maafkan aku, jika aku boleh bertanya. Semua petunjuk yang mengarah kepadaku tidak terbukti sama sekali, dan tidak ada petunjuk jika akulah yang menyentuh putrinya. Bisakah aku membuat laporan untuk Patmawati Aby ??"


"Laporan untuk apa ??"


"Pencemaran nama baik."


Alto menyeringai licik dalam hatinya, dirinya di jebak dengan laporan tanpa terbukti, maka sekarang Alto yang akan memberikan laporan dengan bukti kebohongannya itu. Apakah bisa, tentu saja.. Dirinya sudah diberikan laporan bodoh akan kematian putrinya yang entah kemana perginya mayat itu, dan sekarang laporan bodoh mengenai pengedaran obat-obatan terlarang.


Kebodohan Patmawati adalah, dia tidak bisa memberikan bukti kuat pada dugaan dan laporannya itu. Satu-satunya bukti hanyalah mayat orang yang meninggal, serta dugaan seseorang dicekoki dengan obat-obatan terlarang. Hanya itu saja, tidak ada bukti aneh yang mengarah kepada Alto sedikitpun.


"Dan satu lagi, kenapa dia begitu keras kepala menuduhku melakukan semua kejahatan itu ?? Tidakkah anda berfikir itu terlalu mencurigakan ?? Maksudku.. Bagaimana jika dialah yang melakukan semua kejahatan itu, tapi menuduh orang lain ?? Sebaiknya anda mencari tahu semuanya, jika tidak dia bisa menuduh orang lain selain aku."


Sepertinya jiwa manipulasi dari Alto benar-benar sangat kental dan begitu kuat, perkataan yang lancar itu terucap dengan jelas tapi tetap menggunakan nada terdengar sedikit bingung dan merasa curiga. Entahlah, sepertinya perkataan Alto seperti sebuah perintah secara tidak langsung, karena siapapun yang mendengarkannya terasa seperti diberikan kritik meskipun itu adalah perintah suruhan.



"Kak Alto benar-benar akan melakukan laporan itu ??"


Felitha kini diijinkan untuk kembali bersama dengan Alto setelah urusan dengan pihak kepolisian selesai. Sebenarnya jika ada bukti atau apapun yang mengarah kepada Alto, maka pasti membutuhkan proses yang begitu lama dan penuh drama untuk bisa sampai ke pengadilan. Tapi mereka sedikitpun tidak menemukan bukti apapun, bahkan saat Lia Aby di duga menghilang secara misterius. Mereka bahkan belum menemukan mayatnya, tapi Patmawati dengan bodoh nya malah menuduh Keluarga Sagara yang telah menghilangkan dan membunuhnya tanpa ada bukti apapun.


"Dia memfitnahku, dan memberikan laporan palsu. Pihak polisi saja tidak bisa menemukan bukti apapun." Ujar Alto menghirup aroma dari rambut Felitha dengan perlahan.


"Tapi.. Bagaimana dengan pistol dan racun di laci ruangan Kak Alto ??"


"Tapi.. Laporan itu.. Apakah benar ??"


"Tidak."


Felitha menoleh membalikkan badannya menatap ke belakang, melihat ke arah Alto di belakangnya.


"Benarkah ??"


"Iya.. Ada banyak orang di dunia ini yang mengisi kejahatan, jadi jangan selalu memandangku jika itu merupakan tindakan kriminal." Ujar Alto menjelaskan.


"Tapi kenapa dia menuduh mu ?? Ini tidak hanya terjadi sekali saja."


"Memang."


"Eh ??"


"Dia memang ingin menghancurkan aku dan keempat saudaraku."


"Kenapa ??"


"Dia selalu berkata bahwa aku pembawa sial sejak lahir. Setelah aku lahir, hubungannya dan ayah menjadi buruk dan berakhir perceraian. Semenjak itu, dia menjadi gila. Menyiksaku, dan keempat saudaraku hingga kami kehilangan panca indera. Tapi itu semua tidaklah cukup, bagi dia kami harus mati."


"Sekejam itukah, seorang ibu kepada anaknya. Kenapa dia tidak mengingat bagaimana perjuangannya melahirkan kalian dulu." Felitha memandang sendu, memegang kedua pipi dari Alto dengan sedikit sedih dan iba. Alto menggenggam tangan Felitha yang berada di pipinya dan kemudian tersenyum.


"Karena itu Felitha.. Besok kalau kita menikah, kau harus menyayangi anak-anak kita. Jangan seperti dia.."


"Eh, kok malah bahas itu ??"


"Memang kamu gak mau nikah sama aku ??"


"Bu..bukannya gak mau.. Tapi.. Tapi yang lain gimana, kan aku pacar kalian berlima ?!"


"Iya juga ya.. Ya berarti, kamu nikah sama kita berlima."


"Hah ?!"


"Iya, gimana mau gak ??"


"Kak.. Kak Alto jangan bercanda ih !!"


Alto tertawa geli disana, dia bisa mengetahui kalau Felitha pasti memerah seperti kepiting rebus lagi. Astaga betapa mudahnya, dia menggoda gadis polos itu.