
"Nah, kan !! Aduh, lama-lama mama nyewa bodyguard aja buat kalian berlima !!"
Saat sampai di rumah, Nyonya Cantika mengetahui apa yang terjadi pada Arya. Seperti dugaan, Felitha. Nyonya besar itu marah, tapi pandangannya terlihat penuh kekhawatiran yang tinggi, Felitha benar-benar salut. Siapapun tidak akan menduga, sosok nyonya besar itu adalah ibu tiri dari Arya. Reaksinya seperti melihat anaknya sendiri terluka, ada rasa khawatir tapi juga marah dan kesal.
"Gak usahlah, mah."
"Gak usah, gimana ?! Untung aja kena ke tangan, kalau yang lain, gimana ?! Perlu dipanggilin dokter ??? Masih sakit gak ??"
"Udah enggak, semua berkat Felitha, jadi lukanya udah gak ngeluarin darah lagi." Ujar Arya menunjuk kepada Felitha yang berdiri disampingnya.
"Makasih banyak ya Felitha.." Nyonya Cantika menatap dengan penuh rasa bersyukur, dia merasa tidak sia-sia memberikan pekerjaan pada gadis itu, meskipun seorang perempuan yang belum tentu bisa melindungi secara fisik, setidaknya ada yang bisa mengobati mereka disaat seperti ini.
"Iya, Nyonya saya pamit undur diri dulu." Felitha merasa sangat tidak enak, dia kemudian meninggalkan Arya dan Nyonya Cantika di ruang kumpul, dan memilih untuk pergi ke dapur bercerita dengan Grace di sana.
Sementara..
"Apakah ini ulah wanita itu ??" Tanya Nyonya Cantika menatap ke arah Arya, lelaki itu terdiam dan kemudian mengangguk, membuat Nyonya Cantika berdecih kesal.
"Kenapa dia selalu menganggu kalian ?? Bahkan disaat ayahmu sudah memberikan apa yang dia inginkan."
"Jawabannya, karena dia masih menginginkan kematian kami berlima." Ujar Arya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, sementara Cantika hanya bisa menghela nafas dengan tatapan penuh iba.
Dia bahkan tidak menyangka, seorang ibu bisa bertindak sekejam itu kepada anak kandungnya sendiri, apa sebenarnya kesalahan mereka berlima ?? Cantika berusaha keras untuk menjadi ibu yang baik bagi kelima lelaki itu, tapi sayang Patmawati selalu saja bisa menghancurkan mental kelima lelaki itu, bahkan hingga kini.
Tidak hanya menghancurkan mental, tapi seluruh rencana untuk bisa membunuh kelima anak itu terus saja terjadi.
"Jadi.. Lia Aby itu.. Sudah kalian tangani ??"
"Sudah, tapi aku yakin dia akan menggunakan rencana lain."
"Bahkan dia memanfaatkan anak-anaknya yang lain, untuk dijadikan pion dalam rencananya."
"Aku sudah menanamkan dalam hati dan pikiranku, ma."
"Apa itu ??"
"Dia bukanlah manusia, dia lebih rendah daripada hewan."
Cantika tidak bisa menyalahkan Arya atas ucapannya itu, karena kenyataannya itu adalah fakta miris mengenai Patmawati Aby, seorang wanita yang dulu adalah mantan istri dari Tirta, suaminya sendiri.
Cantika tahu, apa yang terjadi pada kelima anak itu, dan juga Patmawati. Cantika sempat memberikan sebuah treatment psikologis kepada kelima anak itu, sedikit demi sedikit mereka mulai bisa berubah menjadi lebih baik, mulai mau menerima Cantika yang notabenenya adalah ibu tiri.
Dan, Cantika merasa senang, dia berusaha untuk menjadi ibu pengganti dari kelima anak itu yang kini sudah tumbuh menjadi sosok lelaki tangguh dan hebat, meskipun dengan keterbatasan fisik.
Aku berharap dia bisa melepaskan kalian, dan membiarkan kalian bahagia tanpa teror darinya Batin Cantika, berharap seperti itu kepada Tuhan, agar kelima anak itu tidak terus menerus mendapatkan perlakuan tidak baik dari ibu kandungnya sendiri.
…
Bukannya bertemu dengan Grace, Felitha justru melihat Damar di sana, berbicara dengan Alto di sana. Dan sepertinya, Felitha lagi-lagi memiliki niat iseng nya, yaitu menguping kembali pembicaraan dari kedua lelaki yang terlihat sangat serius disana.
"Aku sudah mendapatkan informasi dari Altan dan juga Adnan, mereka sudah menghabisi pelaku penembakan Arya." Ujar Alto disana berbicara pada Damar.
"Astaga.. Kenapa sih, dia tidak melepaskan kalian begitu saja ??"
"Entahlah, mungkin dia menginginkan kematian kita."
"Bahkan setelah ayah memberikan apa yang dia inginkan, wanita itu masih mengincar nyawa kalian ??! Gila !!"
Felitha tahu, siapa wanita yang dimaksud. Tidak lain adalah ibu kandung dari kelima lelaki kembar itu, ini benar-benar bahaya, kenapa ibu mereka bisa sekejam itu pada mereka.
"Astaga !!"
"Felitha~ kamu nguping lagi, ya ??"
"Eh.. enggak.. Ini cuma kebetulan lewat."
Altan memojokkan tubuh Felitha dengan dinding dibelakang perempuan itu, bisa gadis itu lihat wajah Altan yang terkena bercak darah, itu terlihat menyeramkan tapi juga menambah daya tarik tersendiri, dan membuat wajahnya semakin tampan.
"Kak Altan, wajah anda berdarah."
"Hmm ?? Gak usah khawatir, ini bukan darah aku."
Tangan gadis itu bergerak, mengelap bagian wajah Altan yang terkena cipratan darah itu, lelaki itu tidak terkejut dengan tingkah Felitha, justru senang karena sepertinya gadis itu sudah terbiasa dengan darah.
"Lain kali, cuci wajahmu. Bagaimana jika ada yang tahu ??"
"Malas, lagipula tidak akan ada yang mengetahuinya."
"Aku akan membantumu, mengelap bagian wajahmu."
Altan tersenyum di sana, dia memang sedikit cemburu saat melihat Arya mendapatkan perhatian lebih, apalagi saat melihat foto dari Damar yang memperlihatkan Arya bersama dengan Felitha. Ya meskipun tahu, jika Felitha adalah kekasih bersama, tapi tetap saja melihat Arya dan Arjun yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Felitha membuat rasa cemburu di dalam diri Altan juga.
"Baiklah sayang."
Disisi lain, dengan Alto dan Damar sendiri masih berbicara satu sama lain, membahas semua permasalahan yang terjadi.
"Mom tahu semuanya.."
"Memang, dia sudah tahu sejak lama." Ujar Alto dengan sedikit acuh, meskipun dalam hatinya sebenarnya merasa miris karena ibu tiri mereka yang sangat menyayangi mereka, ternyata secara diam-diam mengetahui sisi gelap dari mereka sendiri.
"Dia sempat berfikir, ingin mengirim pembunuh bayaran untuk menjaga kalian dari wanita gila itu."
"Sebaiknya tidak usah, biar kami yang menyelesaikan masalah kami sendiri. Maaf membuat mu dan ibumu masuk ke dalam permasalahan pribadi kami."
"Tidak sama sekali !! Aku malah senang bisa membantu kalian." Ujar Damar memotong ucapan dari Alto.
Dia dan ibunya sama sekali tidak merasa direpotkan dengan adanya permasalah dari keluarga ayah dan mantan istrinya dulu, justru Cantika sendiri yang ingin menyelamatkan kelima anak malang itu dari kematian mereka karena ulah ibu mereka.
"Tapi ini sangat berbahaya, Patmawati bisa saja melukai mu dan ibumu."
Damar menggelengkan kepalanya, "Sepertinya kau belum mengenal, Mom."
"Eh ?? Apa maksudmu ??"
"Kau akan tahu, dan akan menjadi kejutan besar bagi kita." Ujar Damar dengan sedikit nada yang terdengar aneh, karena lelaki itu adalah sosok paling konyol diantara mereka, mendengar dia berbicara dengan nada serius membuat situasi terdengar sangat serius kali ini.
Tapi lawan yang mereka hadapi, bukan lawan kaleng-kaleng. Meskipun jarang sekali melakukan penyerangan, tapi sekali membuat pergerakan maka tidak akan terpikirkan sedikitpun.
~ ~ ~
***Maaf guys, sudah tidak jaman ibu tiri itu semua jahat. hahahaha aku buat, Cantika jadi ibu tiri yang baik dan sayang sama anak-anak tirinya.
tapi beda kaya Patmawati, sang ibu kandung yang jahat banget.
Nanti bakalan ada kok, saatnya adegan actionnya.
oke selamat jumpa semua***..