(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Empat puluh



“Felitha.. Kali ini kami ingin berbicara serius.” Ujar Alto kali ini.


Tidak hanya Alto, di sana juga ada Adnan, Arjun, Altan dan Arya duduk berseberangan dengan Felitha untuk membahas masalah serius. Dan sepertinya kelima lelaki ini memiliki keinginan yang cukup kuat kali ini, karena Felitha bisa merasakan aura berat yang mengelilingi mereka saat sedang duduk ini. Berharap bukan hal buruk yang mereka katakan.


“Tentang.. Apa ??”


Adnan menghela nafasnya berat, “Felitha maafkan kami.. Tapi, kami ingin kau berhenti menjadi perawat disini.”


Perkataan itu seolah menjadi bom atom baginya, tapi kenapa ?? Apakah Felitha memiliki kesalahan ?? Apakah.. Felitha pernah berbuat salah atau melakukan sesuatu yang melukai mereka ?? Jujur Felitha sudah mulai terasa betah di rumah itu, dan mulai dekat dengan orang-orang di sekitarnya, juga kelima lelaki kembar itu.


“Tapi, kenapa ??” Tanya Felitha dengan sedih.


“Maaf ini sudah keputusan kami.”


Felitha merasa kecewa, sakit hati, tapi tak apa. Memang dari awal dia disini hanya seorang perawat, bukan ?? Jika mereka sudah tidak membutuhkannya kembali maka Felitha harus kembali ke rumah sakit. Karena hanya itulah tugasnya.


“Ba..baiklah jika itu keputusan kalian.. Aku akan segera membereskan barang-barangku, dan-”


“Eh ?! Kau mau kemana ?!” Ujar Arya langsung dengan tatapan bingungnya, membuat Felitha juga ikut bingung karena perkataannya.


“Ka..kalian bilang aku sudah bukan perawat kalian lagi, tentu saja aku harus kembali ke rumah sakit.”


“Siapa yang menyuruhmu untuk pergi ?! Tidak, kau tetap disini !!” Ujar Adnan dengan tegas.


“Lha.. Terus ?? Aku ngapain disini ??”


“Jadi istri kita aja, mau gak ??”


“HAH ?!” Felitha membulatkan matanya dengan bulat mendengar perkataan dari Arya itu, apa katanya ?! Menjadi istri mereka ?!


“Gi..Gimana maksudnya ?? Maksud Kak Arya gimana ??” Felitha berfikir, dia harus pergi ke dokter THT untuk memeriksakan bagian telinganya itu agar tidak salah mendengar lagi.


Alto menghela nafasnya, “Iya.. Kami Cuma mau ngelamar kamu atau mungkin.. Nikah aja langsung, boleh gak ??”


“Hah ?! Ini.. Ini mimpi ??” Ujar Felitha menepuk pipinya dengan kuat dan bingung, karena bagaimana bisa dia di lamar oleh kelima lelaki di depannya dia itu.


“Nah, akhirnya nungguin hubungan kalian, lebih panjang daripada sinetron.” Ujar seseorang yang datang, rupanya itu adalah Nyonya Cantika. Sosok itu sebenarnya yang mengajak kelima lelaki itu untuk segera memberikan kepastian hubungan dengan Felitha.


“Nyonya ??”


Cantika tersenyum, “Aku mengetahui hubungan kalian sejak awal, tapi mereka berlima tidak segera memberikan kepastian. Karena itulah aku menyuruh mereka untuk lebih serius dan segera melamar mu.” 


Felitha membulatkan matanya tidak percaya, “Tapi... Apakah.. Nyonya.. Aku hanya.. Aku hanya seorang perawat, aku.. Tidak pantas mendapatkan status ini.”


“Siapa bilang ?! Bagaimana jika aku mengatakan kalau Felitha pantas untuk mereka ?? Felitha, aku adalah ibu mereka, aku tahu apa yang baik dan buruk. Aku tahu, Felitha adalah perempuan terbaik yang pernah mereka berlima pilih.” Ujar Cantika dengan jujur dan terbuka, memang sejak awal bertemu Cantika sudah merasakan sesuatu diantara Felitha dan kelima putranya, dan benar saja mereka menjalin hubungan sebagai kekasih di sana, jujur saja Cantika lebih menyetujui hubungan Alto serta keempat putranya dengan Felitha.


"Nyonya.. Jangan membuat saya menjadi malu.." Ujar Felitha memerah malu karena mendapatkan pujian dari majikannya itu, yang benar saja apa yang sebenarnya dilihat mereka dari Felitha ??



Seorang lelaki tampak duduk dengan santai, meskipun sebenarnya dalam hatinya kesal dan penuh dengan emosi tapi matanya memandang ke arah gambar foto seseorang didepannya itu.


Matanya tampak menatap kagum ke arah gambar perempuan itu, hatinya menyebutkan nama dari sosok yang dia lihat saat ini, dan mengingat pertama kali dia bertemu sosok perempuan itu.


Wajah polos, rambut panjang bergelombang itu tampak indah di matanya, cara berbicara yang terlihat begitu lembut dan nadanya yang sangat rendah itu, membuat lelaki itu terkadang tertawa geli. Bagaimana dia bisa tahu ?? Lelaki ini bisa kalian katakan sebagai sosok gila yang selalu mengintai dan terkadang mengintip melalui jendelanya setiap malam. Dia benar-benar sudah tergila-gila akan sosok cantik didepannya itu.


"Tuan Aarav, apakah ada yang bisa saya bantu ??" Ujar seorang lelaki yang datang kepadanya menundukkan tubuhnya, di depan sosok lelaki bernama Aarav.


Aarav menyeringai licik di sana, "Aku ingin kau terus memberikan informasi mengenai Felitha. Oh iya, dan jangan lupa aku ingin segera melakukan pertemuan dengan Keluarga Sagara."


"Siap tuan."


Aarav menyeringai licik, "Cepat atau lambat, Felitha akan berada di tanganku. Aku akan merebut Felitha dari mereka semua."


Lelaki berusia 25 tahun itu tergila-gila akan salah satu perawat di sebuah rumah sakit, saat dia sedang memasukkan adiknya ke rumah sakit. Saat itu matanya memandang salah satu perawat cantik di sana.


Flashback


"*Hey, Felitha jangan lupa akan ada orang yang datang menjenguk keluarga mereka."


"Oh, oke baiklah." Ujar seorang perempuan yang di panggil Felitha itu. Mata Aarav saat itu memandang ke arah sang perawat, hatinya berdetak tak karuan memandangi wajah cantik nan rupawan milik Felitha. Keinginan untuk bertemu dan berkenalan dengannya, tapi terhentikan...


"Aarav, jangan lupa untuk membelikan buah apel untuk adikmu."


Aarav menghela nafasnya kesal, argh !! ayah, ibu dan adiknya benar-benar merepotkan saja. Batin Aarav dengan kesal, dia selalu saja merasa jengah saat harus mengurus adiknya itu. Katakanlah dia adalah seorang yang kejam dan jahat, dia tidak memperdulikan adiknya yang mengalami kelumpuhan, padahal itu juga karena ulahnya sendiri.


"Hmm.."


"Kau tahu, seharusnya kau bertanggung jawab lebih atas adikmu itu."


"Itu bukan salahku, salahkan saja anak sialan itu yang berjalan terlalu lama."


"Aarav !!"


Aarav hanya memutar matanya malas, sejak dulu Aarav membenci adiknya itu, entah mungkin karena asal anak itu yang lahir dari selingkuhan ayahnya. Tapi Aarav merasa heran, ibunya tahu itu adalah anak dari selingkuhan ayahnya, kenapa ibunya malah membuka lebar tangan nya dan menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri ?! Aarav tidak menyukai kehadiran sosok anak itu, sedikitpun tidak.


Aku berfikir akan membunuhnya jika mendorongnya ke jalan raya, tapi rupanya anak itu masih hidup. Batin Aarav dengan kesal dan emosi*.


Flashback Off


"Tidak lama lagi, Felitha.. adalah milikku." Ujar Aarav dengan tatapan penuh kegilaan di sana.


Dia sudah tidak memperdulikan kewarasannya sendiri, yang dia inginkan hanyalah Felitha..


~ ~ ~


***Maaf update nya agak lama, btw ada tokoh baru lagi ya guys..


Aku gak suka kalau tokoh antagonis cuma satu dan alur hanya berputar di tokoh antagonis itu doang, aku malah lebih suka nambah beberapa musuh, dan kadang antagonis yang baru lebih kuat dan hebat.


Oke segitu aja dari aku.. terimakasih semua***...