
"Itu dia mereka !!"
"Bagus !! kejar terus Alex !! Aku akan mempersiapkan senjata."
Damar kemudian mengambil senjata dari balik kursinya, sementara Alex semakin mempercepat kecepatannya untuk bisa mengejar mobil yang membawa Felitha dan juga Grace.
Beruntung saja, mobil mereka berada di jalanan yang kosong, sehingga meskipun mengebut dengan kecepatan tinggi tidak akan membuat mereka menabrak mobil atau menimbulkan kecelakaan lainnya. Alex sudah terbiasa menyetir dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga dia tidak kehilangan kendali hanya karena mengebut terlalu cepat.
"Mereka sudah lumayan dekat." Ujar Alex akhirnya bisa benar-benar di belakang mobil milik Aarav.
"Benar, sekarang !!"
Damar membuka jendela, mengeluarkan kepala dan tangannya yang memegang senjata kemudian menembak mobil di depannya. Tidak mau kalah, mobil dari Aarav juga mengeluarkan senjata dan kemudian menembak kembali mobil yang di kendarai oleh Alex dan juga Damar.
Disisi lain..
"Blaise !! Kau tembak mereka pastikan tepat pada ban mereka !!"
"Iya, nona."
Blaise yang juga berada di dalam mobil bersama dengan Aarav dan Gita hanya menuruti perintah meskipun dalam hatinya hanya berdecih kesal.
Ngapain juga terlalu nurutin mereka, mending habisin aja ini peluru. Batin Blaise sedikit tidak suka dengan perintah dari Gita. Meskipun dia adalah anak dari atasannya, Blaise sudah memiliki rencananya sendiri.
Di mobil Damar dan Alex hanya merasa bingung.
"Astaga, apakah mereka menyewa balita untuk menembak ?? Lihat saja, tembakannya bahkan hanya mengenai aspal !!" Ujar Damar sedikit menyindir tembakan dari musuh yang sedikitpun tidak mengenai mobil mereka melainkan hanya aspal.
Damar menggunakan kesempatan emas ini untuk menembak bagian ban mobil mereka, dan..
Dor !!
ciittt....
Tembakan Damar tepat mengenai bagian ban mobil dan membuat mobil musuh mulai oleh dan akhirnya menabrak pembatas jalan. Damar dan Alex tersenyum sepertinya mudah untuk merebut kembali Felitha kali ini, setelah mobil mereka mendekati mobil musuh, tiba-tiba saja Aarav keluar membawa Felitha yang masih tidak sadarkan diri itu, dengan memegang pistol mengarahkan ke kepala Felitha.
Damar dan Alex keluar dari mobil dan menatap tajam ke arah Aarav yang menyandera Felitha.
"Kau ?!"
"Heh, tidak akan ada yang bisa menghalangi jalanku untuk bersama dengan Felitha !!" Ujar Aarav dengan sinis dan menatap remeh ke arah kedua lelaki itu.
"Kau gila ?!"
"Ya, aku sangat gila kali ini. Dan kau tahu, betapa gilanya aku."
Damar dan Alex tidak tahu harus bagaimana lagi, Aarav memegang Felitha bisa saja lelaki itu membunuh Felitha saat ini juga. Tidak lama, sebuah mobil datang mendekati Aarav, mobil yang jauh lebih bagus dan tampak megah.
"Selamatkan lah tunangan mu itu, jika kau bisa." Ujar Aarav lalu masuk ke dalam mobil dan pergi dengan cepat, sementara Damar dan Alex tidak tahu harus bagaimana lagi, menyelamatkan Felitha atau Grace.
bruk !!
"Akhh !! pengkhianat.."
Pintu mobil terbuka, memperlihatkan Gita yang tersungkur dengan wajah berdarah terjatuh ke aspal, lalu Blaise muncul dan terkekeh pelan. Dialah yang menghabisi dan bahkan membuat Gita hampir tewas, saat dia dan Gita sebenarnya mendapatkan tugas untuk bisa membawa Grace dan menyanderanya.
"Well, memang... Dan sepertinya hidupmu akan berakhir disini.." Blaise menodongkan pistol ke arah kepala Gita, tapi kemudian Damar menghentikannya.
"Oh, jika kau mau tangkap saja dia. Ngomong-ngomong, kekasih mu ada di dalam mobil, jemputlah dia sebelum Keluarga Sarawija menggunakannya sebagai sandera."
"Kenapa kau.. berkhianat ??" Tanya Alex dengan nada heran, sementara Blaise memasang wajah berfikir, lalu berbicara dengan santai.
"Pertama, aku menyayangi istri dan anakku. Kedua, Randy Sarawija hampir memperkosa istriku dan membunuh anakku. Ketiga, aku tidak memiliki alasan khusus untuk setia kepada orang yang hampir merusak keluargaku !!" Ujar Blaise menyeringai dengan licik di bagian akhir, meskipun tatapannya masih terlihat kesal, tapi dia tampak puas bisa menghabisi Gita sekaligus merusak rencana besar Keluarga Sarawija.
"Bekerja sama ??" Tanya Damar mempertanyakan kerjasama.
"Kau terlambat, Tuan Damar. Aku sudah bekerja sama dengan Tuan Tirta Sagara, dan sudah membocorkan semuanya."
"Ka..kau membocorkan.. semua rencana.. kita ??"
"Well, iya nona muda yang bodoh !! Kau tahu betapa berharganya seorang anak buah bagi para mafia, dan kau serta keluargamu menindas ku, yang selama ini adalah tangan kanan terpercaya !!!"
"Ka..kau benar-benar.. tidak berguna.."
"Katakan itu, nanti saat aku menyiksamu, Nona bodoh !!"
bruk !!
Blaise memukul kepala Gita hingga pingsan, membuat Alex hanya terdiam di sana, sementara Damar masuk ke dalam mobil dan menggendong Grace yang masih berbaring dan tidak sadarkan diri, kemudian dia mendengarkan perkataan dari Blaise yang membocorkan masalah Aarav yang membawa Felitha.
"Oh iya, aku hanya ingin berpesan, sebaiknya kalian secepatnya saja menyelamatkan Felitha, Aarav berencana akan membawanya pergi dari Indonesia. Dia berencana akan pergi ke luar negeri dua hari lagi, di bandar udara ******"
"Dimana dia membawanya ??"
"Ke *******"
"Baiklah, terima kasih banyak."
…
"Jadi, begitu ?? Baiklah. Kita malam ini akan menyelamatkan Felitha secepatnya."
Alto dan lainnya berhasil mengalahkan anak buah dari Aarav, dan juga Keluarga Sarawija. Beruntung mereka bisa menyelesaikan semuanya. Tapi sayang, Felitha lagi-lagi jatuh ke tangan lelaki itu, dan jujur itu membuat mereka merasa gagal melindungi Felitha, kenapa sih mereka begitu ceroboh hingga membuat musuh bisa merebut Felitha ?! Tapi mereka tidak ada waktu menyalahkan diri sendiri, mereka harus melindungi gadis mereka itu.
Tidak hanya mereka, di sana Blaise juga akhirnya mengatakan semuanya. Dan mereka akhirnya menyandera Gita sebagai hukumannya, lagipula dengan hilangnya Gita akan membuat Keluarga Sarawija semakin kacau, dan itu akan menjadi kesempatan emas bagi Keluarga Sagara untuk memanfaatkan kekacauan mereka.
"Dan terima kasih untuk Blaise, aku bisa menyerahkan bukti kejahatan Keluarga Sarawija kepada polisi, untuk mengacaukan semuanya." Ujar Tirta yang menunjuk ke arah Blaise.
"Terima kasih banyak, Tuan Tirta. Tanpa perlindungan anda, aku tidak mungkin seberani ini melakukan semuanya."
"Perlindungan ??" Tanya Alex dengan sedikit penasaran.
"Yeah, mereka mengawasi istri dan anakku. Jika aku melakukan pemberontakan atau melanggar aturan mereka, maka anak atau istriku akan di sakiti oleh mereka." Ujar Blaise.
"Itu berarti kau bekerja dengan mereka, di bawah tekanan dan paksaan ??" Tanya Adnan dengan menatap curiga dan juga tajam, Blaise mengangguk.
"Yeah, seperti yang aku katakan sebelumnya. Istriku juga hampir di lecehkan, dan anakku hampir di bunuh." Ujar Blaise mengatakan apa yang menimpa keluarganya, perkataan itu membuat hampir semua yang ada di sana, bahkan Alex hanya menggelengkan kepalanya.
Dia tahu, dia bekerja pada mafia jahat dan kejam, tapi dia tidak menduga akan ada sosok yang lebih brengsek dan bejat daripada yang dia duga.
"Sebaiknya setelah ini, kau bekerja padaku. Aku pastikan tidak akan ada yang bisa menyakiti keluarga mu." Ujar Tirta dengan sedikit rasa iba, Blaise tersenyum senang
"Terima kasih Tuan Tirta, terima kasih banyak."