(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Kedua belas



Sepulang dari jalan-jalan, Felitha merasa sangat bersalah kepada Arjun, karena membuat hari lelaki itu menjadi buruk dengan bertemu sosok yang ternyata adalah musuh dari Arjun. Tapi dengan catatan yang dia tulis, Arjun sebenarnya tidak menyalahkan atau sedikitpun berfikir jika itu adalah kesalahan dari Felitha. Malah tulisan yang dia dapatkan adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


‘Jangan terlalu menyalahkan dirimu, justru aku senang dengan jalan-jalan hari ini. Terima kasih, Felitha.’


Gadis itu sedikit bingung, tapi Arjun mengangguk sembari tersenyum tipis seakan dia senang dengan hari ini, padahal itu tidak sesuai dengan aura kemarahan yang dia tunjukkan saat di taman. Tatapan tajam penuh emosi, yang membuat Felitha sedikit takut dengan Arjun. Tapi melihat cara Arjun menyerang Anthony, jelas jika lelaki ini mengetahui sedikit tentang bela diri dan pertarungan.


“Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, Kak Arjun. Dan terima kasih buat hari ini.” Ujar Felitha yang dibalas hanya anggukan, karena Arjun tidak mungkin hanya menulis kata singkat seperti oke, atau sama-sama. Arjun berfikir jika Felitha sebelumnya tidak mengerti bahasa isyarat, sepertinya Arjun melupakan fakta jika Felitha bekerja di rumah sakit selama 3 tahun.


Felitha kemudian berjalan menuju ke arah lain, dan entah mau kemana dia pergi. Mungkin mencari saudara lelaki lainnya, untuk ditawari bantuan darinya. Berjalan mencari beberapa orang lainnya, Felitha kemudian melihat seseorang yang berada di depannya itu, gadis itu mendekati sosok lelaki itu dan mendapati Damar yang berdiri di depannya.


“Lho, Kak Damar ??”


“Eh ?? Felitha, beneran sini.”


Felitha semakin mendekati Damar, yang ternyata sedang berbicara dengan seseorang lainnya, yaitu Altan. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas mereka sepertinya tadi sedang asyik berbicara satu sama lain, sebelum Felitha datang, apakah kedatangannya menganggu mereka ??


“Apakah kedatanganku menganggu kalian…??” Tanya Felitha dengan sedikit tidak enak saat melihat kedua lelaki itu kini beralih menatapnya.


“Tidak sama sekali !! aku dan Altan baru saja mempertanyakan keberadaanmu.” Ujar Damar ceria seperti biasanya, sementara Altan hanya memandang datar dan tidak bergeming sekalipun.


Felitha hanya terkejut, mungkinkah dia dan Arjun pergi terlalu lama saat di taman tadi ?? tapi mereka sempat bertemu dan berselisih dengan ketua preman, Anthony jadi mungkin mereka pergi terlalu lama.


“Maaf, tadi aku dan Kak Arjun sempat pergi ke taman.” Ujar Felitha dengan tidak enak, dia tidak berniat pergi dari tanggung jawabnya, tapi… Arjun juga pasiennya, bukan ??


“Waduhh.. Kak Arjun malah pdkt sama Felitha, hati-hati Fel, jangan mau sama mereka berlima, playboy soalnya.”


“Sembarangan !”


Altan memukul kepala Damar dengan kertas yang sudah digulung ditangannya, tidak sakit karena memang tujuan Altan hanya untuk bercanda saja, dan Damar yang menjadi korban hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi marah dari kakaknya itu.


Sementara Felitha hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah kedua saudara itu, mengingatkannya pada teman-teman di rumah sakit. Tapi setidaknya disini dia juga bekerja pada orang-orang yang baik dan cukup terbuka dengan kehadirannya, jadilah Felitha masih bisa bernafas lega dengan perilaku mereka yang tidak sekasar yang dia pikirkan.


“Dah, disini ada Felitha. Kamu kan yang nyari dari tadi. Nah, Fel kamu ikut sama Kak Altan ya, tenang dia gak akan gigit kok.” Ujar Damar terkekeh pelan di bagian akhirnya, ya sebenarnya dia sengaja melakukan itu semua mengingat jika Altan hampir mirip Alto, kalau bertingkah dingin dan acuh gitu. Tapi Damar mungkin tidak mengetahui perlakuan mereka berlima kepada Felitha.


Felitha akhirnya mengikuti Altan dari belakang, sebelumnya gadis itu sempat berpamitan kepada Damar dan dibalas anggukan oleh lelaki itu. Entah kemana, tapi yang jelas Felitha hanya akan mengikuti Altan sembari berfikir tugas apalagi yang akan dia lakukan disini.


Hingga pertanyaannya tergantikan dengan sebuah ruangan yang berada di bagian lantai 1, dimana terdapat beberapa ruangan yang kemarin tidak ditunjukkan oleh Damar. Karena itu, Felitha merasa sedikit asing dan tidak menyangka, jika ada ruangan yang lokasinya cukup tersembunyi. Ruangan dengan pintu berwarna cokelat dan kuning itu sedikit lebih menonjol daripada ruangan lainnya.


Altan membuka ruangan itu, dan di dalamnya, Felitha sempat terkejut bukan main saat melihat begitu banyak lukisan indah yang tergantung di dinding, tidak terhitung berapa banyak lukisan yang berada di dalam sana. Gadis itu membatin begitu banyak hasil lukisan, disana juga terdapat sebuah kuas, cat, dan juga kayu yang digunakan untuk tempat kanvas saat akan melukis. Gadis itu menggelengkan kepalanya kaget.


“Ini semua.. hasil lukisan anda ??” Tanya Felitha dengan nada terkejut bukan main.


“Yeah, semoga kau tidak masalah dengan beberapa barang yang begitu berantakan disini.”


“Tidak masalah.. lukisan anda sangat indah.” Ujar Felitha dengan penuh rasa kagum.


Disana lukisan mengenai alam, pemandangan, dan beberapa hewan terlukis di atas kanvas dengan sangat indah, gladiasi warna yang begitu sempurna, seakan dia berfikir jika dia sedang berada dalam pameran lukisan yang berkelas. Mungkinkah semua lukisan ini akan dijual, atau hanya sekedar hobi belakang ??


“Tidak perlu terlalu formal, dan panggil saja sebagai kak.” Ujar Altan sedikit lebih ramah daripada sebelumnya, mungkinkah, Altan merasa malu untuk lebih dekat dengan Felitha dihadapan Damar ?? entahlah, Felitha juga tidak terlalu memperdulikan masalah itu semua.


“Aku tahu, kedatanganmu sebagai seorang perawat. Tapi jujur saja aku tidak terlalu membutuhkan sosok perawat, dan aku bisa melakukan apapun sendirian. Jadi, aku kemari ingin menawarimu saja..”


“Menawari apa ??”


“Kau pasti merasa jenuh dengan jadwal kosong, karena pada dasarnya aku dan seluruh saudaraku tidak membutuhkan seorang perawat. Karena itu aku menawarimu untuk membantuku, dengan menjadi model lukisanku, bagaimana ??”


Felitha membulatkan matanya, kaget mendengar ucapan dari Altan, hah ?! model untuk lukisannya, yang benar saja ?! kenapa profesinya disini tidak dihargai semestinya. Felitha terdiam sejenak, bingung harus menerimanya atau tidak.. karena tugasnya disini adalah sebagai perawat, dan bukan model atau apapun itu. Felitha hanya berfikir jika dirinya tidak membantu secara fisik (karena mereka terlihat orang yang begitu mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain) tapi gadis itu mungkin bisa membantu secara psikis dengan membantu mental mereka yang mungkin merasa tidak nyaman dan minder dengan kondisi fisik mereka, tapi semua itu ternyata sangat berbeda dari dugaan sebelumnya.


Ya, kecuali untuk Arjun, lelaki itu terlihat sangat bahagia saat Felitha mau menerima ajakannya saat ditaman. Mungkin lelaki itu merasa sangat kesepian, dan merasa tidak ada yang mau bersamanya karena kondisi fisiknya, apalagi Anthony sempat menyindir kelemahannya itu. Kasus Alto masih bisa dinalar, karena lelaki itu pasti kesulitan untuk bisa memberikan obat tetes ke area matanya, tapi untuk kasus yang ini….?? Menjadi model ?? melihat ekspresi bingung Felitha, membuat Altan kembali mengeluarkan ucapannya.


“Jika kau masih bingung, aku akan memberikanmu waktu untuk memikirkannya. Karena hanya pada tugas ini saja aku membutuhkanmu, Annand sudah memberikanku tangan palsu untuk beraktivitas, jadi aku tidak terlalu kesulitan untuk melakukan apapun.” Ujar Altan menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi fisik serta menjelaskan mengenai permintaannya pada Felitha.


“Tunggu.. tangan palsu ??”


Altan menganggukan kepalanya, itu berarti dari kelima lelaki bersaudara itu, hanya Altan yang bisa beraktivitas seperti manusia normal pada umumnya, err juga Adnan yang menggunakan alat bantu di telinganya, ketiga lainnya hanya bisa pasrah dengan kondisi fisik yang mereka jalani.