(Un)Perfect Pandhawa

(Un)Perfect Pandhawa
Lima puluh empat



~ Lupa bilang kalau Chapter kemarin itu harusnya latar waktunya malam, soalnya Aarav dan lima lelaki kembar itu berantemnya pas malam hari, Nah Felitha, Tirta, Cantika, dan Grace itu ketemuan sama Daniel antara malam jam 8. disini dimulai tengah malam ya ceritanya ~


Felitha sedari tadi membolak balik tubuhnya karena tidak bisa tertidur, dia teringat akan kelima kekasihnya yang sedari tadi tidak memberikan pesan apapun, hingga tengah malam ini.


Felitha merasa begitu gelisah dan bingung, serta merasa khawatir, bagaimana jika kelima lelaki itu kalah dan berakhir penuh luka ?? Astaga pikiran Felitha semakin tidak terkendali saat ini.


kemudian tidak lama, pintu kamarnya terbuka, menampilkan Grace yang datang masuk dengan sedikit panik dan tergesa-gesa. Felitha yang melihat tingkah sahabatnya itu merasa sangat kebingungan sendiri, dia bangkit dan duduk di kasurnya melihat Grace datang sembari membawa pistol di tangan.


"Grace.. ?? Ada apa ??"


"Felitha !! Kita harus waspada, Keluarga Sarawija !! Dia mengetahui posisi kita, dan melakukan penyerangan !!"


"Kapan ?!"


"Saat ini !!"


Felitha menatap tidak percaya, jadi di luar sedang ricuh banyak tragedi ?! Astaga ini gila !! Dimana Kak Alto dan lainnya disaat mereka membutuhkannya saat ini !! Grace menyerahkan sebuah pistol lain kepada Felitha.


"Kita tidak memiliki pilihan lain selain melindungi diri kita sendiri dan Keluarga Sagara !" Ujar Grace saat Felitha menerima pistol darinya.


"Ta..tapi.. Apa kau yakin ??"


"Kita harus belajar mandiri kali ini, bukannya kita berdua juga akan menikah dengan mereka. Setidaknya kita harus berjuang, kita memang perempuan tapi jangan sampai mereka memandang lemah kita."


Felitha terdiam dengan perkataan Grace, dia tahu memang sudah seharusnya mereka juga ikutan maju dan membela sosok yang akan menjadi keluarganya juga. Tapi.. Felitha belum pernah sekalipun melukai seseorang dengan pistol, bahkan melihat darah saja dia merinding. Tapi perkataan Grace benar, mereka tidak bisa selalu bergantung dan mengandalkan orang tua mereka saja.


"Baiklah."


brak !!


Pintu kamar terbuka, di sana ternyata adalah salah satu anak buah dari Keluarga Sagara, yang memang di tugaskan untuk menjaga kedua gadis itu, lelaki itu memandang ke arah keduanya yang membawa pistol.


"Kalian membawa pistol ??"


"Y-Ya.. ?? untuk berjaga-jaga.. ??" Ujar Felitha menatap kelihatannya lelaki itu baik.


"Aku Alex, aku di tugaskan oleh Tuan Tirta untuk menjaga kalian." Ujar lelaki bernama Alex itu.


"Bisakah.. Kita ikut dalam-"


"Sebaiknya jangan, tapi kalian bisa gunakan pistol itu hanya untuk berjaga diri kalian. Aku sudah di perintahkan untuk membawa kalian kepada Tuan Alto." Alex memotong ucapan Grace, lelaki itu tahu apa yang akan di katakan atau ingin di lakukan oleh Grace. Dia tidak mau kedua gadis itu terluka, karena pertarungan di dekat mereka.


"Apakah Keluarga Sarawija juga ada ??"


Alex menggelengkan kepalanya, "Tidak, tapi mereka mengirimkan anak buah terbaik mereka untuk menyerang. Jangan khawatir, aku akan melindungi kalian, ikut aku."


Felitha dan Grace mengangguk, kedua gadis itu segera mengekor Alex dari belakang. Benar saja, Grace dan Felitha melihat Tirta dan Cantika serta beberapa anak buah lainnya sedang bertarung dengan beberapa lelaki. Kedua gadis itu terpukau akan kelihaian Nyonya Besar Sagara saat bertarung dan melindungi diri sendiri, keduanya berfikir akan meminta Nyonya Cantika untuk mengajarinya bagaimana cara bertarung dengan baik, agar mereka kelak bisa melindungi anak-anak mereka.


"Itu dia !! Tangkap mereka !!"


Beberapa musuh mengetahui keberadaan Felitha dan Grace, tapi Alex dengan cekatan langsung menghadang mereka dan memukul mereka dengan cepat.


***Bugh !!!


Bugh*** !!!


Pertarungan sengit Alex dan beberapa orang itu sempat membuat Felitha dan Grace teralihkan pandangan mereka, sehingga beberapa lelaki lainnya berusaha untuk melukai Felitha atau Grace, tapi kemudian..


dor !!


Suara tembakan membuat Felitha dan Grace menoleh ke belakang, terkejut melihat lelaki yang hampir saja akan menyerang mereka sudah tertembak terjatuh ke lantai.


"Kalian baik-baik saja ??"


"Ka..Kak Daniel ?! Kenapa kau malah berdiri dari kursi roda ?!" Ujar Felitha dan Grace melihat Daniel sudah berdiri tegap, dan menembak lelaki yang hendak menyerang mereka.


"Itu tidak penting, sekarang fokus dan ikut aku !!"


Grace dan Felitha mengangguk, kedua gadis itu kemudian mengikuti Daniel, Alex yang sudah selesai dengan urusannya juga mengikuti Daniel. Kedua lelaki itu melindungi dan terkadang menyerang lelaki yang menghalangi jalan mereka. Sungguh, Felitha dan Grace kaget dengan keahlian Daniel dalam bertarung juga.


Setelah sampai di garasi dan mereka berempat masuk ke dalam mobil, dan mulai mengemudi. Yang menyetir adalah Daniel yang sudah di beritahukan kemana harus membawa mereka.


Mobil mereka keluar dari villa, dan melihat begitu banyak mobil polisi yang mendekati villa.


"Itu... ??"


"Tuan Tirta sudah menelfon polisi, dan jika dia bisa membuktikan kalau yang mengirim pasukan itu adalah Keluarga Sarawija, maka habislah riwayat dari Keluarga Sarawija." Ujar Alex menjelaskan rencana dari Tuan Tirta.


Meskipun Keluarga Sagara bisa dikatakan sebagai mafia, tapi anehnya mereka mampu menelfon dan meminta bantuan para polisi dan bahkan menangkap keluarga mafia lain yang kemungkinan besar bisa di penjara dengan mudah. Tapi jujur cara Keluarga Sagara menangkap mereka cukup cerdik dan licik.


Felitha tidak tahu harus merasa kagum, atau takut karena kelicikan dari Keluarga Sagara itu, tapi dia tahu jika Keluarga itu malah menerimanya dengan tangan terbuka. Maksud Felitha, jika mereka menerima karena ingin memanfaatkan Felitha adalah hal paling mustahil. Apa yang dimiliki oleh Felitha yang bisa mereka manfaatkan ??


"Kau baik-baik saja Felitha ??" Grace memandang sahabatnya yang tampak terdiam melihat ke arah pemandangan di luar jendela itu.


"Ya, hanya khawatir... Bagaimana kondisi Kak Alto saat ini.." Ujar Felitha sedikit mengkhawatirkan kondisi lelaki itu.


"Hanya Kak Alto ??"


"Semuanya, aku khawatir pada semuanya. Apakah mereka bisa mengalahkan Aarav ??"


"Jawabannya sudah jelas bisa." Ujar Alex menanggapi pembicaraan kedua gadis itu.


"Eh ?? Benarkah ??"


Alex mengangguk, dia yang duduk di depan bersebelahan dengan Daniel, menoleh ke belakang dimana Grace dan Felitha duduk.


"Aku mendapatkan kabar, jika mereka berhasil memukul mundur Aarav. Hanya saja, sepertinya tidak akan semudah itu."


"Ya, saudaraku tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, meskipun dengan cara licik." Ujar Daniel menanggapi perkataan mereka mengenai saudaranya itu, mereka bertiga tahu betapa kesalnya Daniel kepada Aarav selama ini.


Daniel kesal dengan fakta, bahwa Aarav yang membunuh kedua orang tuanya, dan bahkan mengkambinghitamkan orang lain sebagai pelaku pembunuhan. Bagi Daniel itu sudah sangat keterlaluan.


Daniel masih merasa bersalah saat dirinya masuk di dalam Keluarga Cashelito sebagai anak haram karena hasil perselingkuhan Tuan Besar Cashelito dan membuat hancur keluarga Aarav, tapi kemudian rasa bersalah berganti menjadi emosi saat mendengar kabar pembunuhan yang dilakukan oleh Aarav sendiri. Sungguh, tahu akhirnya seperti ini. Daniel berfikir untuk merebut saja posisi Aarav sebagai anak Keluarga Cashelito dari awal, jika melihat perilaku biadab Aarav.