
Setelah berlalu dari perpustakaan, Felitha kemudian dengan sukarela membantu Grace yang tampak sangat kesulitan. Temannya itu mendapatkan tugas untuk membereskan dokumen di gudang, dan sepertinya seluruh pelayan tidak ada yang bisa membantunya, Kak Damar juga kebetulan sedang pergi dengan Kak Altan, Kak Adnan dan Kak Alto. Jadilah Felitha merasa tidak memiliki tugas, dia akhirnya berniat membantu sahabatnya itu.
“Duhh, maaf Felitha, malah nambahin tugas kamu.”
“Gak sama sekali, malah aku ngerasa tugasku gak terlalu banyak, aku kasihan ngelihat kamu kewalahan gini.”
Felitha dan Grace berpencar, Felitha sebelah kanan dan Grace sebelah kiri, meskipun begitu ruangan dokumen tidak terlalu luas, jadi mereka masih bisa berbicara satu sama lain, meskipun terdapat jarak diantara mereka. Karena beberapa dokumen didalam sana tidak dipakai. Jadilah Grace mendapatkan tugas mengumpulkan dan membuang dokumen yang berada di dalam beberapa rak, dan jumlah rak yang cukup banyak dan setiap rak penuh dengan dokumen. Jadilah Felitha ikut membantu membereskan.
Setelah itu, keduanya sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak berbicara apapun disana. Mata Felitha memandang beberapa dokumen bekas yang tidak terlalu penting, hingga salah satu dokumen yang cukup membuat Felitha sedikit kaget, karena itu adalah dokumen dari rumah sakit, yang sepertinya begitu menarik untuk dia baca. Entah ada dorongan apa yang membuat Felitha memiliki niat buruk, yaitu mengambil dokumen yang sepertinya berkaitan dengan kondisi kelima lelaki kembar itu. Selain dokumen dari rumah sakit, ada juga dokumen mengenai adopsi, atau surat adopsi secara hukum, dan satu lagi yaitu surat berisikan kondisi kejiwaan yang berasal dari rumah sakit jiwa. Ketiga dokumen yang membuat Felitha bertanya-tanya, hingga tanpa disadari oleh Grace, Felitha menyimpan dan berniat untuk membaca nya di kamar. Lagipula ini adalah dokumen yang tidak terpakai, bukan ??
Dan jujur saja Felitha meskipun dekat dengan mereka. Sosok kelima itu masih belum terbuka secara jelas kepadanya. Contoh adalah penyebab mereka mengalami kondisi fisik yang bisa dikatakan tidak sempurna. Biasanya orang akan bercerita mengenai apa yang terjadi pada mereka sehingga membuat Felitha bisa memahami kondisi psikis mereka. Ada yang mengalami kecelakaan dan menjadi trauma, ada pula yang mengalami kondisi seperti itu akibat bullyan, jadilah Felitha bisa membantu mereka secara psikis juga.
“Err.. Grace.. apakah seluruh dokumen disini harus dibuang ??”
“Kalau dari perintah, Nyonya Cantika sih. Iya suruh buang, ntar di kasih ke tempat sampah di depan rumah.”
“Oh gitu..”
“Eh, Fel. Mending dokumen yang kamu kumpulin taruh aja di deket sini, biar aku yang angkat sendiri ke tempat sampah didepan.” Ujar Grace mengangkat beberapa dokumen dengan kedua tangannya, menatap ke arah Felitha dengan berdiri di dekat pintu.
“Eh, lha emang kamu kuat ngangkat semuanya ??”
“Yang dapat tugas bersihin ini semua aku. Kalau Nyonya Cantika tahu kamu bantuin, takutnya malah ada masalah. Kamu bantuin ini aja udah masalah kalau ketahuan.”
Felitha hanya terkekeh pelan, dia terbiasa membantu teman perawat lainnya. Felitha memang orang yang tidak tegaan dan selalu berusaha membantu teman-temannya. Begitu pula disini, dia tidak tega jika membiarkan Grace berada dalam lautan tugas yang begitu banyak. Ditambah pelayan lainnya malah acuh dan cuek kepada Grace seakan enggan membantu Grace.
“Gak papa kok, aku tinggal ke depan dulu ya. Jangan lupa, taruh deket pintu kalau udah.”
“Oke.”
Lalu Grace keluar dengan membawa beberapa dokumen lama. Sementara Felitha kemudian menaruh dokumen yang sudah dia kumpulkan untuk dibuang, sementara dokumen lainnya. Felitha sengaja membawanya secara diam-diam kelaur dari gudang, karena memang tugasnya sudah selesai. Beruntung suasana di sekitar gudang mini itu sangatlah sepi tidak ada pelayan atau siapapun disana. Felitha bisa membawa dokumen itu ke dalam kamarnya dengan mudah. Kakinya melangkah dengan perlahan, matanya secara diam-diam mengawasi sekeliling.
Aman ! batin Felitha saat dilantai bawah tidak bertemu siapapun, kakinya kemudian melangkah menaiki tangga secara perlahan, tapi sepertinya rencana tidak semulus pikiran Felitha, karena disana terlihat Arjun sedang bermain handphone, sembari mendengarkan musik menggunakan headset.
Duh !! ada Kak Arjun di depan sana !! semoga aja gak lihat. Batin Felitha saat melihat sosok lelaki itu yang berada di dekat pintu kamarnya. Berharap saja, sosok lelaki itu tidak menyadari dirinya atau mungkin tidak menyadari dokumen yang dibawa oleh Felitha. Tapi benar kata orang, jika seseorang mengalami kekurangan fisik disuatu kondisi atau suatu indera, maka indera lainnya akan berfungsi atau lebih tajam dari orang normal pada umumnya. Lihat saja Arjun, bahkan saat Felitha belum mencapai lantai atas. Lelaki itu seakan mengetahui kedatangan Felitha dan kemudian menoleh ke arah gadis itu dan melambaikan tangannya dengan senyuman riang.
“Hai Kak Arjun.” Ujar Felitha menyapa lelaki itu untuk menutupi rasa gugup dan takutnya, sembari berharap jika sosok lelaki itu tidak menyadari dokumen yang dia bawa. Tapi sepertinya itu harapan Felitha tidak terwujud, karena Arjun kemudian menujuk ke arah dokumen yang di bawa oleh Felitha dan memasang ekspresi seakan bertanya, apa yang kau bawa ??
“Err.. ini.. aku… pinjem… pinjem dokumen sama.. Grace.. iya pinjam dokumen dari Grace.. hahaha..”
Felitha bodoh, siapa yang akan percaya dengan ucapan dan perkataan gugup dari Felitha. Jika sampai Arjun penasaran dan meminjam dokumen ditangannya, habislah riwayat Felitha. Sosok lelaki itu mengetik sesuatu di handphonenya, dan itu membuat Felitha berdetak tak karuan, apakah yang ditulis sosok lelaki didepannya itu ?? tidak lama, Arjun menunjukkan layar handphonenya.
‘Baiklah kalau begitu, setelah ini apakah kau mau menemaniku jalan-jalan lagi ??’
Felitha bernafas lega saat Arjun tidak lagi mempertanyakan masalah dokumen di depannya. Mungkin Arjun bukan tipe yang suka mengurusi urusan orang lain, jadilah lelaki itu tidak memperdulika ucapan dan alasan bodoh yang diucapkan oleh Felitha itu sendiri.
“Boleh, aku taruh dokumen ini ke kamar dulu ya.”
Arjun hanya membalas anggukan saja, lalu Felitha kemudian masuk ke dalam kamarnya, dan menaruh dokumen itu di sebuah pojokan agar tidak ketahuan oleh orang lain. Gadis itu hampir saja jantungan, beruntung Arjun itu sifatnya terlalu cuek untuk mengurusi urusan orang lain. Felitha berfikir malam ini akan mendapatkan tugas tersendiri yaitu membaca dokumen.