
“Kak Arya ngomong ke aku, katanya lidah Kak Arjun kalau buat ngomong sakit ya ??”
Arjun mengangguk, mata Felitha kemudian memandang dengan tatapan sendu, sejenak dia kemudian mendekati wajah Arjun.
“Kak Arjun, kalau sakit jangan dipaksain buat ngomong ya..” Ujar Felitha dengan nada yang sendu, dan itu membuat Arjun tersenyum senang karena Felitha sepertinya mulai memperlihatkan empati dan simpati kepadanya juga. Jujur, itu membuat Arjun merasa sedikit terharu, karena baru kali ini ada orang lain selain keluarga yang mulai menyayanginya.
Arjun mengangguk, dia kemudian memeluk Felitha dengan senang dan begitu dalam. Rasanya mendapatkan sosok yang mulai memahami dirinya juga, selain keluarganya itu adalah hal paling menyenangkan yang pernah Arjun alami.
“Oh iya, Kak Arjun.. Kalau aku boleh tanya, kenapa Kak Arjun bisa sampai kaya gini ?? Ini.. Bukan karena bawaan lahir, kan ??” Tanya Felitha dengan sedikit perlahan dan was-was, takut kalau Arjun akan marah kepadanya, tapi lelaki itu tidak marah sama sekali, dirinya malah mengangguk dan kemudian mencoba menjelaskan mengenai apa yang terjadi kepadanya.
Dengan kode tangannya, dia menunjuk ke arah lidahnya sendiri, dan membuat sebuah gerakan seperti... Felitha tertegun sejenak, gerakan tangan seperti memotong dan kembali menunjuk ke arah lidahnya, itu berarti...
“A..ada yang motong lidahnya Kak Arjun ??”
Arjun mengangguk.
“Ma..maaf banget kak, itu pasti sakit ya ??”
Arjun menggelengkan kepalanya, dia kembali mengeluarkan sebuah kertas dan bolpoin kemudian menuliskan sesuatu di kertas tersebut.
‘Udah gak sakit kok, gak papa.. Kalau mau tanya boleh kok, aku siap menjawab.’ Ujar Arjun tersenyum senang.
Felitha kini mulai paham, pantas saja lidahnya jika di gerakkan sakit, tapi.. Apakah untuk makan tidak sakit ?? Padahal Felitha pernah tidak sengaja tergigit dan rasanya sakit bahkan terkadang sampai sariawan. Tapi Arjun.. ?? Gila, benar-benar gila !! Ibu mereka pasti benar-benar bukan orang waras.
Tapi ada hal baik yang bisa Felitha rasakan, kelima lelaki itu mulai terbuka kepadanya. Benar kata, Damar jika mereka berlima sebenarnya sudah menganggap Felitha seperti kekasih mereka sendiri, hanya saja Felitha tentu masih merasa sedikit takut dan was-was, tapi melihat tingkah mereka yang mulai baik dan normal kepadanya.
"Arjun.. Eh-"
Seorang lelaki berambut cokelat pendek itu datang menganggu kedua kekasih yang sedang duduk berdekatan di taman itu, Arjun hanya memberikan tatapan kesal, karena waktunya dengan Felitha terpaksa harus terhenti karena muncul sosok pengganggu diantara keduanya.
"Maaf, aku gak tau kalau ada orang. Aku bisa bicara sama Arjun ??" Tanya sosok lelaki itu dengan halus dan lembut.
"Boleh-"
Ucapan Felitha terpotong dengan Arjun yang memeluknya dengan erat dan secara mendadak, seakan tidak menginginkan gadis itu pergi dari sampingnya, dan menatap tajam ke arah sosok lelaki itu.
"Hey, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu."
Arjun menggelengkan kepalanya, dan ekspresinya seakan menunjukkan jika dia tidak suka waktunya dan Felitha di ganggu saat ini.
"Huft.. ayolah, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu, oke ??"
Arjun tak bergeming, membuat sosok lelaki itu menghela nafasnya berat, "Astaga.."
"Ayolah, Kak Arjun, sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu yang penting kepadamu." Kali ini Felitha sedikit membujuknya, tapi Arjun malah memberikan tatapan memelas seakan dia tidak ingin gadis itu pergi dari sana.
"Huft.. Jika begitu, aku bisa berbicara dengan yang lain. Aku permisi dulu."
Felitha mengangguk dan tersenyum di sana.
…
Nyonya Cantika saat ini sedang berbelanja dan memilih beberapa bahan makanan yang berada di supermarket. Tidak sendirian, Nyonta Cantika di temani oleh Grace yang membawakan daftar belanjaan mengenai barang yang harus mereka beli, termasuk bahan makanan dan juga minuman.
Tidak seperti majikan yang kaku dan serius, Nyonya Cantika beberapa kali bertanya dan mengajak Grace berbicara seperti menanyakan dan mempertimbangkan beberapa bahan makanan atau dua produk makanan yang akan mereka beli. Niat Nyonya Grace, selain untuk mengisi suasana yang kaku, dia bisa mengenali Grace dari cara gadis itu memilih bahan makanan atau memberikan penilaian dari produk makanan.
"Nyonya, produk yang ini sepertinya jauh lebih baik, karena aku sering sekali memasak menggunakan produk ini dan masakannya sangat enak."
Selain itu juga, Grace termasuk berpengalaman dalam beberapa hal memasak, jadilah dia bisa mengetahui rasa dari suatu produk bahan makanan tersebut dengan lebih dalam.
Setelah beberapa produk makanan sudah berada di keranjang, Grace dan juga Nyonya Cantika akhirnya melangkah untuk menuju ke kasir, tapi.. Tidak disangka di tengah perjalanan mereka bertemu sosok yang sangat tidak asing, yaitu Gita, putri dari Keluarga Sarawija yang kemarin berbicara dan menempel pada Alto.
Di sana, Grace sendiri melihat Gita juga menempel dan berbicara kepada sosok perempuan yang tidak dia kenali, tapi sepertinya Nyonya Cantika mengenalinya. Sang Nyonya Besar Keluarga Sagara hanya bersifat santai, berjalan anggun tanpa memperdulikan Gita dan sosok perempuan yang sepertinya mengetahuinya juga.
"Menikmati belanja mu, Nyonya Cantika."
Ucapan ketus dari perempuan itu saat, Nyonya Cantika hendak lewat, sementara yang di sapa hanyalah membalikkan tubuh dan memberikan senyuman kepada perempuan itu.
"Oh, Anda masih mau menyapaku Nyonya Patmawati ?? Aku pikir kau tidak mau menyapa, perempuan yang telah merebut putramu." Ujar Nyonya Cantika dengan tidak kalah ketus, dan itu membuat Grace kaget, jadi itu yang di sebut sebagai Patmawati ?? Sosok perempuan yang merupakan ibu kandung Kak Alto ??
"Kau tahu, aku masih memiliki sedikit hati kepada orang-orang."
"Benarkah ?? Apakah.. kau memiliki hati, saat.. menyakiti putramu sendiri ??"
Pertanyaan itu sepertinya menjadi sebuah boom bagi Patmawati itu sendiri, disisi lain Grace bisa merasakan aura yang sangat mencekam dari keduanya. Apa yang harus dia lakukan ??
"Oh, kau cukup dekat dengan calon menantu mu. Aku berharap, pernikahannya dengan Anthony berjalan dengan lancar." Ujar Nyonya Cantika menatap ke arah Gita di sana.
"Kau tahu, cepat atau lambat, aku akan mendapatkan yang aku inginkan !"
"Bukankah kau sudah mendapatkannya ??"
"Apa maksudmu ?! Yang aku inginkan adalah putraku kembali !!"
"Bukankah.. kau berharap kelima putramu mati saat itu juga ?? Aku sudah membantumu melenyapkan mereka dari pandanganmu, dan merawat mereka berlima. Apalagi yang kurang, Nyonya Patmawati Aby ??!" Ujar Nyonya Cantika penuh penekanan dan tatapannya tampak begitu tajam, seakan dia tidak suka kenyataan bahwa Patmawati menyebut Alto sebagai putranya, sama sekali tidak suka.
Fakta jika dia adalah ibu kandung mereka, memang tidak pernah bisa di bantah oleh siapapun, tapi FAKTA jika, Cantika yang merawat dan menyayangi mereka lebih dari ibu kandung mereka itu adalah hal yang tidak pernah dilakukan oleh Patmawati.
"Kau mencoba menyentuh PUTRAKU maka aku tidak akan segan-segan bermain denganmu !" Ujar Nyonya Cantika dengan nada emosi.